Mars Untuk Kejora

Mars Untuk Kejora
Part 62


__ADS_3

Kejora yang di sentak oleh dua orang pria sekaligus, langsung terdiam dengan kepala yang tertunduk.


"Berani sekali kau menyentuh istriku!" Mars menatap tajam Aries.


Darahnya seakan mendidih saat melihat pria itu mengecup kening Kejora. Di tambah saat ini, pria itu tidak mau melepaskan tangan Istrinya. Membuat emosi Mars kian menaik. Dan tanpa basa-basi, ia melayangkan pukulan kearah pria itu.


Bug


Aries yang mendapatkan pukulan mendadak, tidak sempat menghindar. Sehingga ia jatuh telak ke belakang.


"Kak Aries ...." pekik Kejora, ingin menghampiri dan membantu kak Aries. Namun tangannya dicengkeram dengan erat, oleh Tuan Mars.


"Sekali lagi, aku lihat kau menyentuh istriku. Mati kau!" Ancam Mars, dengan tatapan membunuhnya.


Aries hanya tersenyum sinis, lalu berdiri sambil mengusap luka disudut bibirnya. Dan tanpa banyak bicara, Aries membalas pukulan pria tadi.


Bug

__ADS_1


Badan Mars limbung kesamping, saat sebuah pukulan telak mendarat diwajahnya.


"Kau harus ingat! Sebelum dia menjadi istrimu, Kejora adalah kekasihku!" Sentak Aries, dan melayangkan kembali pukulannya.


Namun dengan sigap Mars menahan pukulan itu, dan terjadilah baku hantam antara dua pria yang memperebutkan seorang wanita yang bernama Kejora.


Sedangkan wanita yang diperebutkan oleh mereka, hanya diam berdiri dengan wajah yang kebingungan.


"Mars ...!" teriak seorang wanita. Berlari menuju kekasihnya, yang sedang baku hantam dengan seorang pria yang tidak dikenalnya. "Hentikan!" Monica menarik Mars, namun ia justru terjatuh kebelakang.


"Kau tidak papa?" Kejora mengulurkan tangannya mencoba membantu kekasih tuan Mars.


Kejora hanya menggelengkan kepalanya, melihat dua pria yang baku hantam. Dan ditambah dengan satu wanita gila, yang bukannya melerai pertikaian mereka tapi justru ikut memukul kak Aries dengan tas yang dipegangnya.


Karena merasa kesal dengan ketiga orang yang tidak juga berhenti berkelahi, akhirnya Kejora berlari dan meminta bantuan pada petugas keamanan.


...🍀🍀🍀...

__ADS_1


Setengah jam kemudian.


Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, oleh petugas keamanan. Mars dan Aries di ijinkan untuk pulang, setelah menandatangani surat perjanjian damai dan tidak akan berseteru lagi.


"Sayang, kau tidak papa kan?" Monica mengusap wajah tampan calon suaminya, dengan tatapan sendu bercampur dengan kesal. Kesal karena wajah tampan itu berubah menjadi tidak karuan, karena banyaknya luka lebam di wajah Mars.


Mars tidak menjawab pertanyaan Monica. Karena matanya sibuk menatap tajam pada Kejora, yang terlihat sedang membantu mantan kekasihnya. Hatinya merasa sakit melihat wanita yang dicintainya itu, justru khawatir pada pria lain bukan khawatir kepadanya. Hingga ego dan harga dirinya, merasa sangat terinjak melihat istrinya justru membantu pria lain, dari pada membantunya. Dengan segera Mars menggandeng tangan Monica, dan berlalu dari tempat tersebut tanpa sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya.


Kejora yang melihat kepergian tuan Mars bersama dengan Monica, hanya bisa terdiam dengan hati yang tiba-tiba terasa sakit. Ingin rasanya Kejora mengejar tuan Mars, dan membantu merawat lukanya. Tapi niat itu di kuburnya dalam-dalam, saat menyadari sudah ada Monica yang membantu tuan Mars.


"Kejora, kau tidak papa?" Aries menatap Kejora, yang terlihat bersedih.


"Aku tidak papa." Kejora mengalihkan pandangannya, lalu tersenyum menatap kak Aries.


Aries membalas senyuman Kejora, lalu melihat kearah Tuan Mars yang pergi dengan seorang wanita.


"Apa Kejora bersedih karena suaminya? Apa mungkin wanitaku sudah mencintai pria itu?" Aries bertanya pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Aries yang mengetahui dari anak buahnya, kalau pernikahan antara Kejora dan tuan Mars bukan atas dasar saling mencintai. Tapi mereka menikah terpaksa, karena pada saat itu calon wanitanya kabur di hari pernikahan tersebut. Dan entah bagaimana caranya, Kejora lah yang menggantikan mempelai wanitanya.


"Mudah-mudahan aku belum terlambat, untuk mengambil hatimu kembali." Gumam Aries, yang mulai merasa khawatir saat melihat kesedihan di mata Kejora, dan kemarahan di mata Tuan Mars Graham.


__ADS_2