Mars Untuk Kejora

Mars Untuk Kejora
Part 67


__ADS_3

"Cepat kita susul!" Mars langsung berjalan keluar dari ballroom hotel, dengan langkah terburu-buru. Ia tidak bisa membiarkan Kejora, berlama-lama dengan mantan kekasihnya.


Sementara itu Tom, yang masih berada di belakang Tuan Mars. Diam berdiri, sambil menghela napasnya. Baru saja ia sampai, dan sekarang harus kembali mengejar tuan Mars.


"Nasib menjadi seorang bawahan." Gerutu Tom, sambil mengusap sudut bibirnya yang pecah karena dipukul oleh pengawal pribadi tuan Aries. "Akan aku cari, orang yang sudah memukul wajah tampanku ini." Gumam Tom, dalam hati.


"Tom ....!" Teriak Mars.


"Siap, tuan." Tom segera berlari, menyusul tuannya.


...🍀🍀🍀...


Hotel Ritz-Carlton.


"Monica, di mana Mars? Dan dimana calon mertuamu?" Veronica menatap pintu masuk ballroom dengan wajah yang panik. Karena acara pernikahan putrinya, sebentar lagi akan dimulai. Tapi pengantin pria dan keluarganya, belum ada yang datang sama sekali.


"Mom, aku tidak tahu." Monica yang juga panik, berusaha menghubungi nomer ponsel kekasihnya. "Ayo Mars, angkat teleponnya." Gumam Monica, dengan harap-harap cemas.


"Bagaimana, sayang?" Veronica berjalan mondar-mandir dengan sangat gelisah.


"Tidak diangkat, Mom." Jawab Monica.


"Coba kau telepon lagi!"

__ADS_1


Monica langsung menghubungi kembali ponsel kekasihnya. Namun lagi-lagi telepon darinya tidak diangkat.


"Mom, bagaimana ini? Teleponnya tidak diangkat juga." Monica menatap sendu pada mommy nya.


Veronica yang mulai emosi, menatap suaminya yang sedari tadi diam saja.


"Sayang, lakukan sesuatu! Cepat kau cari calon menantu kita."


"Aku harus cari dimana, sayang?" Sahut Ferdy, pada Istrinya.


"Ya, tuhan." Gumam Veronica, dengan emosi yang sudah tidak bisa ditahan lagi. "Kau cari di mana saja! Bahkan kalau perlu, di lubang tikus sekalipun!" Sentak Veronica, pada suami bodohnya itu.


"Baik, sayang." Ferdy pun bergegas pergi. Namun baru dua langkah ia berjalan, Ferdy kembali menuju Istrinya. "Sayang, kunci mobil aku ditaruh di mana?"


"Ferdy ....!" Bentak Veronica, dengan wajah yang sudah memerah karena marah.


Sementara itu Veronica, menatap punggung suaminya dengan menghela napasnya. Bagaimana bisa ia mencintai pria yang tidak berguna itu, bahkan sampai harus mengorbankan dirinya. Menikah dengan seorang duda yang tidak ia cintai, hanya demi merebut hartanya.


"Mom, aku harus bagaimana? Sudah banyak wartawan, dan juga para tamu undangan." Monica menatap orang-orang yang ada di dalam ballroom, yang terlihat sedang berbisik-bisik.


"Mom juga tidak tahu, sayang." Veronica yang bingung, sudah tidak tahu harus berbuat apa.


Disaat Ibu dan anak itu sedang kebingungan dan panik. Ada seorang pria yang menghampiri mereka.

__ADS_1


"Maaf, apa benar ada Nona Monica?" Tanya Pria itu.


"Ya, aku Monica. Anda siapa?" Monica menatap pria di depannya, lalu menatap Mommy nya.


"Aku ingin menyampaikan surat ini." Pria itu menyerahkan sebuah amplop putih pada wanita yang ada didepannya. Lalu bergegas pergi dari tempat tersebut.


"Buka sayang!" Ucap Veronica, dengan penasaran.


Monica menganggukkan kepalanya, lalu membuka amplop tersebut. Tangannya langsung bergetar hebat, dan wajahnya pucat pasi setelah membaca isi surat tersebut.


Veronica yang melihat wajah putrinya terkejut. Langsung mengambil surat tersebut lalu membacanya.


"Monica! Apa-apaan ini?" Veronica melempar surat tersebut pada putrinya. "Apa yang sudah kau lakukan pada rumahku?" Dengan geram, Veronica menampar putrinya.


"Mom, aku ...." Monica menangis, sambil memegang pipinya. Ia tidak menyangka jika Mars membalas perbuatannya, ditambah dengan memperalat dirinya untuk menguasai rumah mommy nya.


Veronica yang sangat marah, bahkan tidak mempedulikan orang-orang yang ada di dalam ballroom yang sedang menatap mereka. Yang ada di dalam pikiran Veronica saat ini adalah, menemukan Mars Graham dan mengambil kembali rumah mewah milikinya.


"Ikut Mommy! Kita datangi mereka!" Veronica menarik tangan putrinya dengan sangat kasar.


"Mom ...." Lirih Monica, dengan isak tangis dibibirnya.


Veronica tidak mempedulikan tangis putrinya, dan gagalnya pernikahan putrinya itu untuk yang kedua kalinya. Ia berjalan cepat menuju pintu Ballroom.

__ADS_1


"Nyonya Veronica, tunggu!" Seorang wanita dari Wedding Organizer, menghentikan langkah ibu dan anak tersebut. "Kalian mau kemana? Acara pernikahannya belum dimulai?"


"Acara pernikahannya dibatalkan, dan kalian semua boleh pergi!" Veronica berjalan cepat, dengan menarik tangan putrinya. Ia sangat malu, pada seluruh tamu undangan. Harga diri dan kehormatannya, hancur begitu saja untuk yang kedua kalinya. Yang pertama putrinya itu kabur dihari pernikahannya, dan yang kedua menantunya yang tidak hadir dan ditambah dengan rumah mewahnya yang sudah berpindah tangan.


__ADS_2