
Melihat bagaimana tertekannya seorang Mars Graham, Boy dan Agam segera merangkul pundak Mars untuk memberikan dukungan moril padanya.
"Ck, aku datang kesini untuk bersenang-senang! Tapi kalian justru membuat air mata ku yang mahal ini keluar." Gerutu Mars sambil mengusap sudut matanya, tapi kini perasaannya sedikit lega setelah menceritakan semua beban dihatinya pada Boy dan Agam.
"Apa kau sudah pernah melacak siapa bajingan itu?" tanya Boy dengan wajah yang serius.
Mars menganggukkan kepalanya, "Aku sempat menelusuri kegiatan Venus melalui Eva, selama satu bulan terakhir sebelum Venus dinyatakan hamil terutama saat Venus berada di Bali. Aku juga sudah bertanya pada Tom apa saja yang dilakukan mereka di pulau Dewata itu, dan aku juga meminta rekaman CCTV di hotel tempat Venus menginap." Jelas Mars panjang lebar.
"Di Bali?" Agam mengerutkan keningnya.
Mars kembali menganggukkan kepalanya, dan menceritakan lebih detail pada Boy dan Agam kenapa dirinya bisa berasumsi kejadian itu terjadi di Bali. Karena Venus diketahui sedang mengandung tepat satu bulan kepulangannya dari Bali. Mars juga menceritakan pada Boy dan Agam tentang firasatnya yang merasakan adiknya sedang dalam bahaya.
Boy yang mendengar cerita Mars memijat hidungnya dengan kening yang berkerut, sementara Agam mencoba serius mendengarkan cerita Mars di saat otaknya kembali memikirkan ponselnya yang ada di saku pakaiannya.
"Apa kau mendapatkan rekaman CCTV nya?" selidik Boy sambil terus berpikir.
"Tentu saja aku mendapatkannya, tapi ada satu rekaman CCTV di hotel tersebut yang hilang! Dan rekaman yang hilang itu tepat sekali dengan hari di mana aku merasakan sesuatu yang tidak enak terjadi pada Venus, tapi yang membuat aku bingung rekaman CCTV yang hilang itu bukan berada dilantai kamar Venus, melainkan yang ada di lantai tiga di hotel tersebut."
__ADS_1
Mars, Boy, dan Agam kembali terdiam dengan segala pemikiran yang ada di benak mereka masing-masing.
"Apa kau sudah menyelidiki kenapa rekaman itu bisa hilang?" tanya Agam.
"A kau itu pura-pura bodoh? Atau bodoh beneran? Rekaman itu menghilang karena ada yang mengambilnya." Mars menghela napasnya dengan kasar, bagaimana bisa seorang Agam Mateo bertanya sesuatu yang sudah pasti jawabannya.
"Kenapa kau bisa yakin rekaman itu menghilang karena ada yang mengambilnya? Siapa tahu—" perkataan Agam terhenti saat melihat kedua sepupunya menatap dirinya dengan tajam.
"Karena aku sudah mengetahui siapa yang mengambilnya." Ucap Mars.
"Kalian pasti tahu siapa orang itu tanpa aku menjawabnya." Sahut Mars menatap kedua sepupunya secara bergantian.
"Venus." Jawab Boy dan Agam secara bersamaan.
"Kalian pintar!" Mars mengambil gelas yang ada di atas meja lalu meneguk minuman tersebut untuk kesekian kalinya. "Itulah mengapa aku menghentikan penyelidikannya, karena Venus benar-benar tidak ingin kami mengetahui siapa bajingan itu." Ucap Mars dengan senyum getir dibibirnya.
"Kau tadi cerita Tom ikut ke Bali? Apa ada kemungkinan asisten mu yang melakukannya?" tanya Boy.
__ADS_1
"Tom tidak mungkin melakukannya karena Venus tidak mencintai pria itu, dan kalau pun Tom memaksa melakukan hal itu pada Venus, adikku pasti bisa mengalahkan Tom dengan ilmu beladirinya." Mars berkata seperti itu bukan berarti membela Tom, tapi karena Mars yakin Venus tidak akan pernah melakukan hal tersebut dengan pria yang tidak dicintainya.
"Tidak mungkin, bukan berarti Tom bebas dari label tersangka! Karena bagaimana pun pria itu ada di Bali, dan menginap di tempat yang sama dengan Venus. Dan ada banyak kemungkinan-kemungkinan yang bisa membuat hal itu terjadi." Sahut Boy yang mencoba mengurutkan semua yang diceritakan oleh Mars. "Apa Tom tahu keadaan Venus yang sedang hamil?"
"Tidak." Jawab Mars dengan singkat.
Boy dan Agam terdiam begitu pun dengan Mars, suasana di ruangan luas itu terasa hening dan mencekam.
Brak
Boy menggebrak meja dengan keras, hingga membuat Mars dan Agam terkejut setengah mati.
"A kita ke markas sekarang!" Boy berdiri dari tempat duduknya.
"Kau mau apa?" Mars menarik tangan sepupunya.
"Tentu saja mencari bajingan itu!" Boy menyeringai dengan sorot mata yang tajam.
__ADS_1