
"Oh yes, lebih keras!" Mata Mars, merem melek saat punggungnya di pijat.
"Tuan, aku lelah. Sudah satu jam lebih aku memijat punggungmu." Keluh Kejora, dengan mengerucutkan bibirnya. Jangan lupakan juga matanya yang terpejam, saat memijat tuan Mars. Karena wanita itu sudah tidak sanggup jika terus melihat punggung milik tuannya, yang bisa membuat otaknya traveling kemana-mana. Otaknya itu bahkan sudah blank saat dirinya, melihat tubuh tuan Mars yang bertelanjang dada. Melihat bagaimana tubuh kekar itu dibungkus dengan otot sixpack di bagian perut. Membuat semua kau hawa pasti akan berangan-angan berada di pelukan tubuh kekar tersebut.
"Kau baru memijat punggungku, tapi sudah mengeluh lelah. Ingat setelah ini kau pijat kakiku!" Ucap Mars, dengan senyum licik dibibirnya.
"Tapi tuan, sampai kapan aku harus memijat anda?"
"Sampai aku mengatakan stop." Mars kembali memejamkan matanya, menikmati pijatan gratis di Kejora. "Makanya jangan pernah macam-macam padaku! Apalagi mengatakan menikah dengan aku adalah nasib sial." Gerutu Mars, dalam hati.
Kejora hanya bisa menghela napasnya, sambil terus memijat punggung tuan Mars. Tangannya sudah sangat lelah, tapi tuan Mars belum juga menyuruhnya berhenti.
...🍀🍀🍀...
Perusahaan Megatech.
Tom yang berdiri di samping tuan Mars, menatap tuannya itu dengan wajah yang bingung bercampur ketakutan. Karena sejak masuk ke dalam ruangan, sampai dengan saat ini. Tuan Mars hanya diam dengan tatapan kosongnya. Jangan lupakan senyum yang menghias dibibir tuannya itu, membuat bulu kuduk Tom bergidik ngeri.
"Tuan ... tuan." Tom berusaha memanggil tuannya. Tapi tuan Mars, tidak menggubris panggilannya sama sekali. "Tuan ... " Tom menggebrak meja kerja tuan Mars.
"Tom ...! Kau sudah bosan hidup?" Sentak Mars, karena sangat terkejut.
__ADS_1
"Aku masih ingin hidup tuan, tapi aku juga tidak bisa membiarkan anda mati karena melamun." Sahut Tom.
"Melamun? Siapa yang melamun?" Mars berdeham dengan keras.
"Tuan, apa perlu aku perlihatkan video anda saat melamun? Bahkan bukan hanya melamun, anda juga tersenyum sendiri seperti orang .... " Tom menghentikan ucapannya, ketika mata tuan Mars menatap tajam dirinya.
"Sudahlah, sekarang katakan! Ini sudah jam berapa?" tanya Mars, menatap berkas yang ada ditangannya dengan wajah yang bingung.
"Saat ini sudah jam setengah sebelas siang tuan. Dan anda sudah melamun selama satu jam lebih." Tom menjelaskan dengan menahan tawanya.
"What? Jam setengah sebelas? Dan apa ini? Kenapa berkas ini masih ada di tanganku?" Mars yang bingung, langsung menghentikan perkataannya saat teringat ucapan Tom. Kalau dirinya melamun selama satu jam lebih.
"Sudah ... sudah. Sekarang kau pergilah!" Mars mengambil telepon yang ada di atas mejanya. "Cepat kau pergi!" Mars menatap tajam pada Tom, karena asistennya itu masih saja berada di ruang kerjanya.
Setelah melihat Tom keluar, dari ruangannya. Mars menekan nomer telepon apartemennya, dengan senyum tipis dibibirnya. Ia teringat kembali saat semalam mengerjai Kejora. Ia juga mengingat saat dirinya, menggendong tubuh Kejora dan membaringkannya di atas tempat tidur miliknya.
...🍀🍀🍀...
Apartemen Casa Grande.
Setelah menutup telepon yang ada di ruang tengah, dengan wajah yang cemberut Kejora berjalan ke ruang makan.
__ADS_1
"Semalaman dia sudah mengerjai aku sampai tanganku ini keriting. Dan sekarang dia menyuruhku, untuk membawakan makan siang." Gerutu Kejora dalam hati.
Dengan perasaan kesalnya, Kejora menyiapkan makan siang untuk tuan Mars dengan tangan yang gemetar. Bagaimana tangannya itu tidak gemetaran, karena semalam suntuk Kejora memijat kaki dan punggung tuan Mars. Jika tangannya berhenti, maka tuan Mars akan terbangun dan menyuruhnya untuk kembali memijat. Entah sampai jam berapa dirinya memijat tuan Mars, karena saat dia terbangun pagi hari. Tuan Mars sudah pergi dari apartemen.
"Tapi tunggu dulu! Kenapa aku bisa ada di tempat tidur tuan Mars?" Kejora yang bingung hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Setelah selesai menyiapkan makan siang untuk tuan Mars, Kejora mengganti pakaiannya dan bersiap untuk pergi ke perusahaan Megatech. Perusahaan milik tuan Mars, sekaligus tempat dia dulu bekerja.
"Ting ... Tong ... "
Mendengar suara bel pintu yang berbunyi, Kejora segera berjalan menuju ruang tamu dan membuka pintu apartemen.
"Tuan, cari siapa?" Kejora menatap pria yang memakai baju setelan hitam.
"Maaf nyonya, aku diperintahkan tuan Mars Untuk mengantarkan anda ke perusahaan Megatech."
"Oh, iya." Kejora teringat perkataan tuan Mars. Bahwa tuannya itu akan mengirimkan orang, untuk mengantarnya ke tempat kerja tuan? Mars. "Tunggu sebentar ya, Pak!"
"Baik, nyonya." Pria itu menundukkan kepalanya.
Kejora langsung masuk kembali ke apartemen, lalu mengambil tempat makan milik tuan Mars. Ia Bergegas keluar dari apartemen, dan pergi bersama dengan orang suruhan tuan Mars.
__ADS_1