
"Mars, ingatlah satu hal! Jangan pernah kau tinggalkan seseorang yang mencintaimu dengan tulus, dengan alasan apapun. Apalagi jika kau juga mencintai orang tersebut." Lirih Katie.
Deg.
Mars termenung sesaat, lalu menatap intens wajah Katie. "Kenapa kau berkata seperti itu?"
"Aku hanya tidak ingin, kau mengalami hal yang sama yang aku alami." Katie berbicara tanpa menoleh ke arah Mars.
Mars yang sedikit bingung, berpikiran jika Katie masih mencintai bajingan itu yang sudah mencampakkannya.
"Apa kau menyesal pergi dari bajingan itu? Apa kau masih mencintainya?" tanya Mars.
Seketika itu juga Katie tertawa sinis, masih dengan pandangan mata yang menerawang ke langit-langit kamar.
"Kau bertanya apa aku masih mencintainya? Apa kau tahu? Aku bahkan tidak pernah mencintainya."
"Kalau kau tidak mencintainya, kenapa kau mau berhubungan dengan bajingan itu?" Mars menautkan kedua alis matanya.
"Karena hanya Alan pria satu-satunya, yang berjanji akan menikahi aku sejak awal kita berkenalan. Itu yang membuat aku berpikiran, kalau Alan tulus mencintaiku. Tapi ternyata aku salah, dia sama saja dengan kebanyakan pria lainnya yang hanya menginginkan tubuhku. Dan yang lebih parahnya lagi, dengan teganya dia menyebarluaskan video panas kami yang berdampak pada pekerjaan aku di dunia modeling." Lirih Katie, dengan air mata yang menetes di pipinya.
Melihat Katie menangis, Mars dengan segera menenangkannya. Ia memang sudah mengetahui masalah video panas tersebut, saat Katie datang ke Apartemennya sambil menangis. Tapi Mars baru tahu, alasan Katie menerima pria brengsek itu hanya karena di janjikan sebuah ikatan pernikahan. Sebuah alasan yang mampu membuat mata Mars terbuka lebar, bahwa kehidupan Katie yang sempurna. Dengan wajah yang sangat cantik, pintar, dan kaya, ternyata tidak bisa membuatnya hidup bahagia.
"Seandainya dulu kau menerima aku, pasti saat ini kau sudah menjadi istriku." Gumam Mars, dalam hati. "Kau tenanglah, Kat! Dan jangan menangis lagi! Aku sudah membereskan mantan kekasihmu itu, dan masalah video panas kalian. Aku sudah mengeditnya, sehingga kau bisa menjelaskan pada awak media bahwa video itu hanyalah rekayasa." Terang Mars.
__ADS_1
"Benarkah?" Katie mengusap air matanya.
Mars menjawab dengan anggukan kepala.
"Terima kasih, Mars." Ucap Katie. "Kau memang seperti Dad Aiden, yang selalu bisa diandalkan." Katie menatap Mars dengan intens.
Mars pun membalas tatapan mata Katie, dan merasakan sesuatu yang lain dihatinya.
"Kau istirahatlah! " Mars memutus tatapan mereka.
Katie menganggukkan kepalanya, lalu menutup kedua matanya. Dan mars masih setia berada di samping Katie, menjaganya tanpa beranjak sedikitpun dari tempat tersebut.
...🍀🍀🍀...
"Nyonya, kita sudah sampai." Ucap Tom.
Kejora menganggukkan kepalanya, lalu turun dari mobil. Tatapan matanya langsung terbuka lebar, saat ia melihat sebuah pesawat yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Tom, ini ...."
"Saat ini juga, anda akan pergi ke Bali." Terang Tom.
"Bali?" Gumam Kejora, dengan wajah yang bingung.
__ADS_1
Tom menganggukkan kepadanya, lalu membawa Nyonya Kejora masuk kedalam pesawat.
"Nanti akan ada orang yang menjemput anda disana." Ucap Tom, setelah melihat Nyonya Kejora duduk di kursi penumpang.
"Tapi Tom, aku ...."
"Anda tenang saja! Cukup ikuti anak buahku, karena mereka yang akan membawa anda ke tempat Nona Venus."
"Tempat Venus?" lagi-lagi Kejora merasa terkejut dan bingung.
"Anda jangan banyak bertanya, aku tidak punya banyak waktu." Dengan segera Tom keluar dari pesawat.
Sementara Kejora hanya bisa menatap kepergian Tom, dengan sejuta pertanyaan. Tapi semua pertanyaan itu, ia lupakan saat ia menyadari dirinya akan pergi ke Bali.
"Ah, Bali ...." Teriak Kejora, dengan wajah yang bahagia.
Sementara itu Tom yang sudah berada di dekat mobilnya, menatap kepergian pesawat yang ditumpangi Nyonya Kejora dengan wajah yang harap-harap cemas. Tom lalu mengingat kembali kejadian beberapa menit yang lalu.
Setelah selesai memberi kabar pada Tuan Mars, ia langsung menghubungi Venus dan menceritakan semua kejadian antara Tuan Mars, Nyonya Kejora, dan Nona Katie. Dan setelah mendengarkan kabar tersebut, Venus langsung memberi perintah kepadanya untuk membawa Kejora ke Bali. Venus ingin memberikan sedikit pelajaran bagi kakaknya, dengan menyembunyikan Kejora.
Tadinya Tom sempat bingung harus mengikuti perintah Venus atau Tuan Mars. Tapi begitu mendengar suara Venus yang memohon padanya, mau tidak mau Tom akhirnya memilih mengikuti kemauan wanita yang sangat dicintainya itu. Walaupun pilihannya penuh dengan resiko, tapi Tom rela melakukan itu semua demi mengabulkan permintaan wanitanya.
Dan dengan menghela napasnya, Tom lalu pergi dari tempat tersebut. Ia harus bersiap-siap, untuk mendapatkan amukan bahkan mungkin pukulan dari Tuan Mars.
__ADS_1