
Kejora pun membalas dengan senyuman, dan pembicaraan antara Katie dan Kejora berlanjut. Mereka mengobrol dari hati ke hati, tanpa ada rasa canggung. Sementara Venus yang ada di samping Kejora, memilih untuk beranjak dari dari ruangan tersebut. Ia memberikan ruang bagi Kejora dan Katie untuk menyelesaikan kesalahpahaman yang sempat terjadi diantara mereka.
"Terima kasih, Ve." Kejora memberikan ponsel adik iparnya, setelah selesai berbicara dengan Kak Katie. Lalu ikut duduk di samping Venus, di ruang makan.
"Sama-sama kakak ipar," Venus tersenyum dengan tulus. "Aku juga berterima kasih padamu, karena sudah mau kembali pada kakakku yang bodoh itu. Aku tidak bisa membayangkan, jika diriku ini dipecat sebagai adik kandung selamanya, karena sudah membuatmu menghilang." Seloroh Venus, sambil tertawa.
Kejora pun ikut tertawa sambil mengelus perutnya yang masih datar, dan semua gerakan itu terlihat oleh mata Venus.
"Oh ya, aku sampai lupa menanyakan keadaan keponakan aku ini." Venus ikut mengusap perut Kejora.
"Keadaannya baik, Aunty." Jawab Kejora, menirukan suara anak kecil.
Mendengar suara Kejora yang seperti anak kecil, sontak membuat Venus tertawa cekikikan.
"Kau tahu Kakak ipar? Nasibmu itu sungguh beruntung. Kau sudah memiliki seorang suami yang bisa dikatakan cukup lumayanlah, dan sebentar lagi kau akan memiliki baby. Kehidupanmu itu sangat sempurna." Ucap Venus, dengan tatapan sendu.
"Hey, kau juga bisa sepertiku. Kau tinggal menikah dengan kekasihmu, lalu kalian memiliki anak." Sahut Kejora dengan tersenyum.
"Tapi bagiku tidak semudah itu, karena aku tidak punya banyak waktu untuk mengurusi kehidupan pribadiku." Gumam Venus. "Kau tahu? Bahkan kekasih pun aku tidak punya." Venus menghela napasnya.
"Tidak punya? Bukankah Tom itu kekasihmu?" tanya Kejora dengan mengerutkan keningnya.
"Tom...?" Venus lalu tertawa terbahak-bahak. "Dia itu sahabat aku, tidak lebih dan tidak kurang." Venus menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Oh.... " Kejora beroho ria dengan wajah yang bingung.
Ting... tong
Kejora dan Venus saling menatap saat mendengar bel pintu yang berbunyi.
"Aku buka pintu dulu," ucap Kejora.
"Biar aku saja," Venus lalu bangkit dari tempat duduknya, berjalan menuju pintu. Dan saat Venus membuka pintunya, betapa terkejutnya Venus saat mengetahui siapa yang datang.
"Kau...!" pekik Venus dengan wajah yang terkejut.
Mendengar pekikan Venus, Kejora memutuskan untuk melihat siapa yang datang.
"Siapa Ve?" tanya Kejora, lalu wajahnya ikut terkejut saat tahu siapa yang datang.
Sementara itu Mars yang sedang meneliti semua berkas yang diberikan oleh Tom, kini meremas rambutnya dengan kasar. Tujuannya menyibukkan diri, agar dirinya bisa melupakan sejenak tentang Kejora, sama sekali tidak berhasil. Yang ada kini kepalanya semakin pusing, saat melihat sederetan angka di setiap berkas yang ia baca.
Dan di saat kepalanya itu sedang pusing, tiba-tiba saja ia melihat dari arah pintu masuk, Tom berjalan dengan tergesa-gesa.
"Tom, kau itu punya etika tidak? Main masuk ruangan tanpa mengetuk pintu." Sentak Mars.
"Maaf tuan, tapi aku sedang terburu-buru. Aku -"
__ADS_1
"Keluar! Dan masuklah dengan cara yang benar!" Perintah Mars.
"Tapi tuan, aku --"
"Keluar!" bentak Mars.
Tom yang dibentak langsung berlari keluar ruangan dengan wajah yang kesal, kalau saja ia tidak ingat sedang membawa kabar yang sangat penting, Tom pasti lebih memilih untuk kembali ke ruangannya.
"Masuk!" seru Mars, setelah mendengar suara pintu yang diketuk dari luar.
Tom lalu bergegas masuk dengan wajah yang sedikit kesal.
"Tuan, aku ingin memberitahukan pada Anda, kalau saat ini di apartemen Anda ada-"
"Venus? Aku sudah tahu itu, karena tadi dia memberitahu akan datang ke apartemen." Jawab Mars dengan santai.
"Bukan Nona Venus, tuan. Eh maksud aku Nona Venus juga datang, tapi ada orang lain yang saat ini juga ada di apartemen." Terang Tom.
"Orang lain? Siapa?" Mars menautkan kedua alis matanya.
"Tuan Aries."
"What? Domba itu ada di apartemenku?" Mars yang terkejut sampai berdiri dari tempat duduknya.
__ADS_1
"Iya tuan." Jawab Tom.
"Berani sekali dia datang ke apartemen ku!" geram Mars dengan wajah yang memerah karena marah, dengan segera ia berjalan keluar dari ruangannya.