
Perusahaan Megatech.
Keesokan harinya, Monica yang sejak pagi berada di ruang kerja kekasihnya. Terus-menerus menempel pada Mars, tanpa memberikan celah sedikitpun pada kekasihnya itu untuk menjauh. Setelah kejadian kemarin, saat bertemu wanita yang menjadi istri Mars. Membuat dirinya harus bertindak lebih cepat, agar Mars sesegera mungkin menikahinya. Dan kalau bisa, ia ingin sekali meminta Mars menikahinya saat ini juga.
"Sayang, jadi kapan kita menikah?" Monica membelai wajah kekasihnya, yang terlihat sibuk di meja kerjanya.
"Terserah kau," Jawab Mars. Tanpa menoleh kearah Monica. Tatapan matanya masih fokus pada berkas yang ada di tangannya.
"Kalau aku minta besok, apa kau akan mengabulkannya?"
Mars langsung terdiam, lalu menatap Monica dengan senyum tipis dibibirnya.
"Itu tidak mungkin sayang, karena kita belum melakukan persiapan apa pun. Dan aku ingin pernikahan kita diselenggarakan lebih mewah, dari acara pernikahan yang kemarin. Dan pastinya membutuhkan waktu, untuk menyiapkan semuanya." Mars berupa menjelaskan pada kekasihnya.
"Sayang, apa aku tidak salah dengar? Kau ingin mengadakan pesta pernikahan kita lebih mewah dari yang kemarin?" Monica tersenyum lebar.
"Ya, sayang. Aku ingin memberikan yang terbaik untukmu." Mars mengenggam tangan Monica.
"Ah ... terima kasih, sayang." Monica hendak mencium bibir kekasihnya. Namun jari Mars tiba-tiba menyentuh bibirnya, hingga membuat Monica menghentikan gerakan bibirnya.
"Di sini kantor, dan apa kau tidak lihat? Ada siapa di sini?" Mars berdeham dengan keras.
__ADS_1
Monica menatap seorang pria, yang sedari tadi diam berdiri di samping kursinya.
"Sayang, di sini hanya ada Tom. Biasanya juga kita berciuman di depannya." Gerutu Monica.
Tom yang mendengar jawaban dari Nona Monica, hanya bisa mengumpat dalam hati. Betapa jalangnya kekasih tuan Mars itu.
Mars hampir tertawa saat melihat reaksi wajah Tom, yang terlihat menahan kekesalan. Dengan segera Mars mendekat pada kekasihnya, lalu membisikkan sesuatu pada Monica.
Setelah mendengar penjelasan dari Mars, Monica langsung terkejut sampai menutup mulut dengan kedua tangannya. Ia tidak menyangka jika Tom, adalah mata-mata Venus dan kedua orang tua Mars. Yang tidak setuju dirinya menikah dengan Mars.
"Tapi sayang, jika kedua orang tua dan adikmu tidak setuju. Bagaimana pernikahan kita akan terlaksana?" Monica mulai merasa gelisah, takut rencana pernikahan dirinya akan gagal untuk yang kedua kalinya.
"Kau tenang saja, aku akan berusaha membuat mereka menyetujui pernikahan kita." Ucap Mars, berusaha menyakinkan kekasihnya. "Tapi, ada satu hal yang bisa kau lakukan, agar kedua orang tua aku menyetujui pernikahan kita."
"Sayang, aku takut kau tidak akan bisa." Mars menghela napasnya.
"Apa sayang? Katakan saja? Aku janji aku akan melakukannya, asal kita bisa menikah." Pinta Monica, dengan senyum dibibirnya.
"Rumah orang tua mu." Jawab Mars.
"Rumah orang tuaku? Maksudnya?" Monica mengerutkan keningnya, dengan tatapan yang bingung.
__ADS_1
"Mom Dila ingin sekali memiliki rumah mewah, di kawasan tempat tinggal kedua orang tuamu. Dan sebenarnya aku bisa saja untuk membeli tiga rumah atau empat rumah sekaligus di daerah tersebut. Tapi aku pikir, kalau kau memberikan rumah mewah orang tuamu untuk Mom Dila. Aku yakin dia pasti akan menyetujui pernikahan kita." Ucap Mars. Matanya menelisik tajam, pada raut wajah Monica yang terlihat terkejut.
"Rumah mom dan Dad, ya?" Gumam Monica, dengan suara yang pelan.
"Begini saja, jika kau keberatan. Aku akan membeli rumah orang tuamu, dan akan aku berikan pada Mom Dila."
"Tidak ... tidak, Mars. Kau tidak perlu membelinya! Aku akan memberikan rumah orang tua aku untuk Mom Dila." Monica menatap Tom, agar mata-mata keluarga kekasihnya itu tahu apa yang dilakukannya. Agar Tom bisa melaporkan pada Aunty Dila, kalau calon menantunya itu orang yang sangat baik.
"Tapi sayang, bagaimana dengan kedua orang tuamu? Mereka akan tinggal di mana?" Mars membelai rambut Monica.
"Kau tenang saja! Untuk urusan kedua orang tuaku, biar aku yang menanganinya. Lagi pula aku masih mempunyai apartemen pemberianmu. Mereka bisa tinggal di sana bersamaku, sebelum aku pindah ke apartemen milikmu setelah kita menikah." Monica mengusap wajah tampan kekasihnya.
"Terima kasih, sayang." Mars mengecup kening Monica.
"You're welcome." Monica ingin mengecup bibir kekasihnya, namun niat itu diurungkannya setelah mendengar suara Tom yang berdeham keras.
"Jadi, kapan kau akan menikahi aku?" Monica berusaha untuk memastikan terlebih dahulu, sebelum ia memberikan rumah tempat tinggal kedua orang tuannya. Karena mengingat Mom nya, dengan susah payah mengambil rumah mewah tersebut dari seseorang.
"Tujuh hari dari sekarang. Dan kau bisa mulai membeli keperluan pernikahan kita, dari baju pengantin dan keperluan lainnya. Aku yang akan membayarnya."
"Really?" Monica memeluk kekasihnya.
__ADS_1
"Kapan aku pernah berbohong padamu?" Mars membalas pelukan Monica.
Monica menggelengkan kepalanya, Mars memang tidak pernah berbohong dan mengecewakan dirinya.