
Aiden dan Mars saat ini tengah duduk di kursi yang ada di depan ruang rawat Venus, mereka saling terdiam dengan segala pemikiran yang ada dibenak masing-masing.
Setelah mendengar semua ungkapan hati Venus, rasa amarah dan kebencian yang ada di hati mereka bercampur menjadi satu dengan perasaan sedih di hati Ayah dan anak tersebut.
"Kau mau kemana?" Aiden menatap tajam pada putranya, saat melihat Mars berdiri dari tempat duduk.
"Aku akan mencari bajingan itu!" Mars hendak melangkahkan kakinya.
"Berhenti! Aku melarangmu mencari bajingan itu!" perintah Aiden.
"What?" pekik Mars dengan wajah yang terkejut. "Bagaimana bisa Dad berkata seperti itu?" geram Mars.
"Tentu saja aku bisa!" Aiden menghela napasnya dengan kasar. "Apa kau tidak mendengar permintaan Venus?" Aiden menatap tajam pada putranya.
"Aku mendengarnya dengan sangat jelas, tapi aku tidak bisa membiarkan bajingan itu hidup dengan tenang! Sedangkan adikku harus menanggung semuanya sendirian?" ucap Mars dengan penuh emosi.
__ADS_1
Aiden terdiam dengan wajah yang bingung, karena apa yang dikatakan oleh Mars memang benar. Di satu sisi Aiden sangat marah dan rasanya ingin sekali mencincang habis bajingan itu. Tapi di sudut hati yang lainnya Aiden tidak tega, jika harus kembali menyakiti Venus dengan mengabaikan keinginannya.
"Aku tetap akan mencari bajingan itu dengan atau tanpa ijin dari Dad!" Mars berkata dengan tegas lalu segera pergi, namun langkahnya terhenti saat tangannya ditarik dengan sangat kencang.
Plak
Suara tamparan yang begitu keras menggema di seluruh ruangan, hingga membuat dua orang perawat yang berjalan tidak jauh dari tempat tersebut terkejut. Bahkan Kejora yang baru kembali dari kantin, ikut terkejut dengan apa yang dilihatnya.
"Mom ....!" Mars mengusap pipinya yang terasa panas.
"Aku tidak mau! Aku akan tetap mencari bajingan itu." Sahut Mars.
"Mars Graham!" Bentak Dila dengan sangat emosi. "Kau tahu kenapa semua ini terjadi? Ini semua karena keegoisan kalian!" Dila menatap suami dan putranya bergantian. "Mars, kau melupakan tanggung jawabmu sebagai anak tertua di keluarga Graham, demi mewujudkan cita-citamu dengan mengorbankan cita-cita adikmu!"
Deg
__ADS_1
Jantung Mars terasa sakit seperti di tusuk oleh ribuan benda yang tajam, saat mendengar perkataan Mom Dila.
"Dan kau Aiden! Kau terlalu keras mendidik Venus untuk menjadi seorang pemimpin di Perusahaan Genereeg, bahkan kau melupakan kalau Venus itu seorang wanita yang memiliki keinginan dan cita-citanya sendiri." Jerit Dila dengan tangis yang semakin kencang.
"Sayang aku.... " Aiden memeluk istrinya dengan perasaan bersalah yang teramat dalam.
"Dan aku bukanlah Mommy yang baik bagi kedua anak kembar ku, sehingga aku tidak tahu kalau salah satu dari mereka hidup dengan rasa tertekan." Lirih Dila.
"Tidak sayang kau tidak bersalah, di sini aku lah yang bersalah!" ucap Aiden penuh dengan penyesalan.
"Ya, kau lah yang bersalah! Kenapa kau tidak bisa menjaga putri kita?" Dila memukul dada bidang suaminya. "Kenapa kau tidak bisa seperti Dad Dimitri yang menjaga aku dengan sangat baik?" Dila semakin keras memukul dada suaminya.
Aiden yang merasa sangat bersalah hanya bisa menerima semua pukulan dari istrinya, sementara Mars yang sejak tadi mendengar semua perkataan kedua orang tuanya bergegas pergi dari tempat tersebut dengan sejuta rasa penyesalan di dalam hatinya.
"Mars kau mau kemana?" Kejora yang sejak tadi hanya diam melihat semua perdebatan itu, kini berjalan cepat saat melihat suaminya pergi dari tempat tersebut. "Mars kau dengar aku! Kau mau kemana?" Kejora sedikit berlari mengejar suaminya, namun langkah kaki Mars yang panjang membuat Kejora akhirnya menyerah dan membiarkan Mars pergi.
__ADS_1
Kejora lebih memilih untuk memberikan ruang bagi Mars menyendiri, karena Kejora tahu Mars saat ini pasti sangat terpukul dan merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Venus.