
Setalah kejadian tadi pagi saat Aries membicarakan tentang keinginannya membawa Venus ke Jerman, dan langsung mendapatkan penolakan keras dari Dad Aiden dan juga Mars. Aries pun memilih untuk pergi ke rumah mewah milik keluarganya yang terletak di kawasan elite Pondok Indah, Jakarta Selatan. Ia lebih memilih menyibukkan diri dengan berkas-berkas pekerjaannya yang sudah lama terabaikan semenjak Aries datang ke Jakarta, dari pada harus berada di dalam Mansion Graham.
"Bagaimana Tuan? Apa semua berjalan sesuai dengan rencana?" Mark yang membantu pekerjaan tuannya, ingin tahu apakah sebentar lagi mereka bisa kembali ke Jerman.
"Seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya, sangat susah meyakinkan keluarga Graham untuk mengijinkan Venus pergi, ditambah Venus pun ternyata tidak mau ikut." Aries menutup berkas yang sedang ditandangani lalu memberikan semuanya pada Mark.
"Lalu sampai kapan kita tinggal di Jakarta? Anda tahu sendiri Perusahaan Avago Technologies tidak bisa ditinggal terlalu lama, apalagi Black Shadow pun sedang menangani banyak kasus yang membutuhkan keberadaan kita." Jelas Mark.
"Kalau untuk masalah Perusahaan ada Agneta yang menjalankannya, tapi untuk Black Shadow seperti yang kau katakan mereka membutuhkan kita." Aries menatap langit-langit ruangannya sambil memijat keningnya yang terasa pusing.
"Tuan apa tidak sebaiknya kau batalkan niat Anda? Maksudku sebelum semuanya terlambat." Mark masih berusaha mengingatkan tuannya, agar tidak jatuh terlalu dalam pada rencananya yang menurut Mark sangat konyol.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak bisa mundur setelah berjalan terlalu jauh, aku harus menepati janjiku untuk bertanggung jawab pada Venus sampai anak kami lahir dan —"
"Dan Anda akan menceraikannya, lalu menikahi Nona Agneta?" sinis Mark, ia benar-benar tidak habis pikir pada tuan Aries yang menjalin hubungan dengan dua wanita sekaligus.
Aries terdiam dan memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Mark, andai ia bisa melarikan diri dari semua masalah ini pasti sudah lama Aries lakukan. Dari pada harus terjebak dalam situasi yang rumit seperti saat ini.
Sejak tahu Venus mengandung anaknya ada perasaan bahagia di hati Aries, tapi di satu sisi lainnya ia tidak bisa meninggalkan Agneta setelah pengorbanan yang dilakukan wanita itu. Terlebih lagi saat ini Aries juga mencintai Agneta.
"Mark seandainya saja wanita yang aku hamili itu bukan Venus, maka masalahnya tidak akan sesulit ini. Aku bisa bertanggung jawab tanpa harus menikahi wanita itu, dan membawa bayinya setelah wanita itu melahirkan lalu menikah dengan Agneta. Tapi kenyataan yang harus aku hadapi benar-benar membuat aku pusing." Aries menggebrak meja kerjanya saat teringat sosok Agneta.
"Lalu sekarang apa yang akan Anda lakukan agar Nyonya Venus mau ikut ke kota Munich?"
__ADS_1
"Nyonya Venus?" Aries mengerutkan keningnya.
"Tentu saja Nyonya, bukankah beliau sudah menikah dengan Anda?" Mark mengingatkan posisi Nyonya Venus pada tuannya, entah mengapa Mark lebih suka jika tuannya itu bersama dengan nyonya Venus dari pada Nona Agneta Christopher.
"Oh iya aku lupa." Aries tertawa sinis.
"Tapi Anda tidak lupa dengan janji yang Anda katakan bukan?"
"Janji?"
"Janji bahwa Anda tidak akan pernah jatuh cinta pada Nyonya Venus?" Mark mengingatkan tuannya.
__ADS_1
"Oh yang itu, tentu saja aku tidak akan lupa." Aries masih tertawa dengan sinis.
"Baguslah Tuan." Mark menatap intens tuan Aries. "Tapi aku yakin cepat atau lambat Anda akan menjilat ludah Anda sendiri, karena ikatan diantara kalian bukan main-main yaitu nyawa kecil yang ada di dalam kandungan Nyonya Venus. Dan mungkin tanpa Anda sadari sejak awal Anda sudah tertarik dengan Nyonya Venus." Gumam Mark dalam hati. "Dan aku hanya bisa berdoa agar Anda menyadari perasaan itu secepatnya sebelum semuanya terlambat."