
Suasana di ruang tamu yang tadinya hangat, langsung berubah menjadi dingin. Saat Mars duduk di atas sofa, sambil menatap tajam pada dua wanita yang ada di depannya.
"Cepat katakan! Ada keperluan apa kalian kemari?" Mars menatap Monica dan Nyonya Veronica secara bergantian.
"Kenapa? Kenapa kau lakukan ini pada kami? Kau meninggalkan putriku dihari pernikahan kalian, dan kau mengambil surat-surat rumahku?" Veronica bertanya, dengan suara yang bergetar karena menahan amarahnya.
Mars hanya terdiam, tidak menjawab pertanyaan Nyonya Veronica. Ia justru menatap Monica, yang terlihat menatap dirinya dengan tatapan penuh kekecewaan.
"Jawab pertanyaan aku, Nak Mars? Kenapa kau tega membuat kami malu, dan menipu kami?" Veronica mulai mengeluarkan air mata palsunya. Ia sangat tahu, jika menghadapi orang yang punya kekuasaan dan kekuatan. Harus dihadapi dengan kelembutan dan berpura-pura tidak berdaya.
Mars menyunggingkan senyumnya, saat melihat air mata nyonya Veronica.
"Apa anda masih belum mengerti? Aku melakukan semua ini, karena putri anda yang terlebih dahulu membuat aku malu! Dia lari dihari pernikahan kami, bersama dengan kekasihnya." Jawab Mars dengan santai, tapi penuh penekanan di setiap perkataannya.
__ADS_1
Veronica langsung menatap putrinya, dengan tatapan mata yang tajam. Ia sebenarnya tahu, akar permasalahan ini adalah putrinya sendiri.
"Sayang, bukankah kau sudah memaafkan aku?" Lirih Monica, dengan tatapan mata yang sarat akan kekecewaan. Ia sudah melakukan semuanya demi kekasihnya itu, sampai berani mengambil surat rumah milik Mommy nya secara diam-diam. Tapi yang didapatnya kini, kekasihnya itu justru meninggalkan dirinya dihari pernikahan mereka.
"Aku memang sudah memaafkanmu, tapi bukan berarti aku akan melepaskanmu begitu saja! Aku ingin kau merasakan hal yang sama, yang pernah aku rasakan. Yaitu ditinggalkan dihari pernikahan, tanpa kejelasan sama sekali." Ucap Mars, dengan seringai licik dibibirnya.
Monica menutup mulut, dengan kedua tangannya. Ia tidak menyangka Mars melakukan semua itu, untuk membalas perbuatannya. Tadinya ia pikir Mars masih sama seperti yang dulu, pria yang sangat mencintainya dan mudah untuk dibodohi. Sehingga ia tidak curiga saat Mars mengatakan, sudah memaafkannya dan akan menikahinya kembali sebagai istri kedua.
Dan bukan hanya Monica yang terkejut, tapi Veronica juga ikut terkejut mendengar penjelasan mantan calon menantunya. Tapi ada satu hal yang mengganjal pikirannya, apa hubungan ini semua dengan surat-surat rumah miliknya.
Mars menggelengkan kepalanya, lalu menghempaskan tangan Monica. Ia lalu berdiri, sambil menatap tajam pada mantan kekasihnya itu.
"Aku tidak mencintaimu lagi, atau kata yang paling tepat adalah aku memang tidak pernah mencintaimu. Aku hanya dibutakan oleh sebuah obsesi, sehingga membuat mata hatiku tertutup." Jawab Mars, dengan ekspresi wajah yang datar.
__ADS_1
"Tidak Mars, kau itu sangat mencintai aku dan aku juga sangat mencintaimu." Monica berdiri, dan langsung memeluk kekasihnya. Ia juga berusaha untuk mencium bibir Mars.
"Lepaskan ....!" Sentak Mars, sambil mendorong Monica, hingga membuat wanita itu langsung terjatuh kebelakang.
Veronica yang sedari tadi diam, dan melihat semua perlakuan Mars pada putrinya. Sudah mulai tidak bisa menahan kemarahannya.
"Cukup! Hentikan semua ini!" Bentak Veronica, sambil membantu putrinya untuk berdiri. "Dan anda tuan Mars Graham!" Veronica menunjuk mantan calon menantunya itu. "Kembalikan semua surat rumahku! Karena surat rumah itu, tidak ada hubungannya dengan permasalahan kalian!"
"Anda salah Nyonya Veronica, karena apa pun yang berhubungan dengan --" Perkataan Mars terhenti, saat melihat Kejora yang berjalan menuju tempatnya.
"Tuan, apa tamunya ...." Kejora langsung terdiam, dan napasnya tiba-tiba terasa sesak. Saat melihat sosok yang pernah menyiksa dirinya, ada di dalam ruangan tersebut.
Sementara itu Veronica dan Monica, langsung menatap tajam pada wanita yang baru saja masuk ke ruangan tersebut.
__ADS_1
"Siapa dia?" tanya Veronica, yang terus menelisik wajah wanita yang ada dihadapannya. "Ya ampun, apakah dia ....?" Veronica bermonolog dalam hatinya, sambil berusaha mengingat wajah wanita itu.