Mars Untuk Kejora

Mars Untuk Kejora
Part 76


__ADS_3

🔞 harap dibacanya pada malam hari, karena ada beberapa bacaan panasnya 🙏


Mars yang melihat itu, langsung mendorong Nyonya Veronica hingga terjatuh.


"Mommy ...." Histeris Monica, hendak membantu Mom nya. Tapi tangannya sudah dicengkeram kuat oleh pria yang ada dibelakangnya.


"Jika kau berani melukai istriku, aku akan membuat hidup kalian lebih menderita!" Ancam Mars.


Monica langsung bergidik ngeri, begitu pun dengan Nyonya Veronica.


"Cepat kalian bawa mereka keluar!" Perintah Mars.


Lalu para Bodyguard itu langsung membawa kedua wanita itu dengan paksa.


"Kejora, kau harus ingat! Ini semua belum berakhir. Aku akan membuatmu menderita! Lebih dari yang pernah aku lakukan padamu." Teriak Veronica.


Kejora yang mendengar ancaman nenek sihir itu, langsung berlari masuk kedalam kamarnya.


"Kejora ...."


Mars mengejar istrinya, dan ikut masuk ke dalam kamar. Ia melihat Kejora yang duduk dipinggiran tempat tidur sambil menangis.


"Kau tidak papa?" tanya Mars, sambil mengusap kepala Kejora.


"Aku takut ...." Lirih Kejora, dengan air mata yang menetes dikedua pipinya.

__ADS_1


"Kau tidak perlu takut! Selama ada Mars Graham, tidak akan ada yang berani menyakitimu!" Mars berkata dengan ponggah, sambil mengusap air mata Kejora.


"Ish, memang tidak akan ada orang yang menyakitiku. Tapi tuanlah yang selalu menyakitiku." Gerutu Kejora, sambil mengusap air matanya.


"Kalau itu beda cerita." Mars berkilah.


Kejora hanya bisa mengumpat dalam hati, lalu teringat sesuatu. "Tuan, sebenarnya ada apa? Kenapa mereka ada di sini? Dan rumah siapa yang kalian bicarakan?" Semua pertanyaan yang memenuhi otaknya, ia keluarkan semuanya.


"Aku akan menjelaskan semuanya padamu. Tapi berhentilah menangis! Karena wajahmu itu sudah jelek, jadi semakin jelek jika menangis." Ejek Mars.


"Tuan ..." Kejora yang kesal, langsung melayangkan pukulan di dada tuan Mars.


"Berani kau memukulku?" Mars menahan tangan Kejora.


"Maaf, tuan. Aku tadi --" Perkataan Kejora terbungkam, saat merasakan sebuah kecupan dibibirnya.


"Tapi, tuan. Aku -- " Kejora tidak bisa meneruskan perkataannya, saat dirinya didorong dengan perlahan keatas tempat tidur. Tubuhnya dikurung oleh kedua tangan kekar milik tuan Mars.


"Jangan memanggilku tuan!" Ucap Mars, didepan wajah Kejora. Menatap lekat kedua manik milik Kejora, dengan deru napas yang memburu.


"La-lu aku harus memanggilmu apa?" tanya Kejora, dengan jantung yang berdegup dengan kencang.


"Panggil namaku, Mars." Mars menyatukan kening mereka, menutup kedua matanya untuk merasakan desiran hebat dihatinya.


"Mars? Tapi tuan, aku kan ..." suara Kejora kembali tenggelam, oleh sebuah ciuman dibibirnya.

__ADS_1


Ciuman yang diberikan oleh tuan Mars begitu lembut, dan berubah semakin menuntut saat Kejora membalas ciuman tersebut. Ia juga membiarkan tuannya, melepaskan semua pakaian yang dikenakannya satu persatu satu. Hingga membuatnya polos tanpa sehelai benangpun.


Kejora juga dapat melihat saat tuan Mars melepaskan pakaian. Hingga memperlihatkan sesuatu yang tampak tegang disela kedua paha milik tuan Mars.


"Sejak kapan kau tidak malu, melihat milikku?" Goda Mars, saat melihat Kejora yang tampak berani melihat juniornya.


"Eh ...." Kejora yang baru tersadar, langsung memalingkan pandangan matanya. "Karena aku sudah terbiasa melihatnya." Cicit Kejora dengan wajah yang memerah karena malu. "Dasar otak mesum." Gumam Kejora dalam hati. Merutuki sifatnya yang satu ini, yang selalu berpikiran kotor.


"Benarkah sudah terbiasa?" Mars menarik tangan Kejora, lalu menuntunnya untuk mengelus miliknya.


"Eh, tuan. Hentikan!" Kejora ingin menarik tangannya, namun ditahan oleh tuan Mars.


"Kau harus belajar!" Bisik Mars.


"Aku ... aku tidak mau." Ucap Kejora. Tapi perkataan dan tindakan justru berbanding terbalik. Otak mesum milik Kejora, justru semakin penasaran pada milik tuan Mars yang terasa sangat keras jika dipegang. Hingga tanpa sadar, tangannya justru semakin kuat mencengkram milik tuan Mars.


Hingga membuat napas Mars semakin berlarian, karena menahan gairah yang sudah semakin memuncak.


"Tuan, kau kenapa?" tanya Kejora, saat melihat tuannya itu merem melek. Dengan deru napas yang berlarian.


"Kau jangan bicara!" Mars yang sudah tidak tahan, langsung melakukan penyatuannya. Tanpa membuat pemanasan terlebih dahulu pada Kejora.


"Aw ... sakit tuan." Pekik Kejora.


Mars yang baru tersadar, langsung menghentikan kegiatannya. Dan mulai memberikan sentuhan-sentuhan pada Istrinya, dan kembali melakukan kegiatan panas mereka.

__ADS_1


Suara desahan dan erangan memenuhi seluruh ruang kamar. Dua insan yang melebur menjadi satu, menciptakan nyanyian yang indah ditelinga mereka yang saling memberi dan menerima kenikmatan yang tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata.


__ADS_2