
"Tentu saja bisa, aku pria dan dia wanita kalau kami melakukannya maka dia akan hamil." Aries berdecak kesal karena ia pun masih belum percaya sudah menghamili Venus, seandainya saja tidak ada rekaman CCTV itu sudah pasti Aries akan mati-matian menyangkalnya.
"Bukan begitu maksudku, hanya saja kalian tidak pernah terlihat akur, jadi—"
"Kau masih ingat dengan tujuan kita datang ke Jakarta?" potong Aries.
Mark menganggukkan kepalanya.
"Wanita yang kita cari adalah Venus Graham." Aries lalu menceritakan semuanya pada Mark, kalau wanita yang tidur dengannya saat di Bali adalah Venus bukan wanita yang dikirim oleh teman Mark.
"Sungguh kebetulan yang sangat aneh." Gumam Mark setelah mendengar penjelasan dari tuannya. "Jadi apa yang akan Anda lakukan? Apa Anda akan bertanggung jawab dengan Nona Venus?" tanya Mark.
"Tentu saja aku akan bertanggung jawab." Jawab Aries dengan senyum di wajahnya.
Mark yang melihat bagaimana tuannya itu tersenyum, langsung menautkan kedua alisnya. "Tuan, kenapa aku merasa Anda begitu bahagia?"
"Ck ... tentu saja aku bahagia, karena sebentar lagi aku akan menjadi seorang Ayah."
Senyum di wajah Aries semakin lebar saat mengingat bagaimana rasanya menyentuh perut Venus, dan sejujurnya bukan hanya itu saja yang membuatnya bahagia, tapi karena Aries kini tahu wanita yang akan menjadi ibu dari anaknya adalah wanita baik-baik dan terhormat. Apalagi saat Aries mengetahui bahwa dirinya lah pria pertama yang memasuki Venus, Walaupun ia tidak ingat bagaimana rasanya, tapi ia masih ingat dengan jelas noda merah yang ia lihat di atas tempat tidur saat pagi hari itu.
"Tuan serius ingin bertanggung jawab pada Nona Venus?"
Aries menganggukkan kepalanya dengan pasti
__ADS_1
"Bagaimana dengan Tuan Mars? Apa Anda lupa pada ancaman tuan Mars?"
"Aku tidak takut dengannya, dan aku siap menghadapinya demi anak ku." Aries memantapkan hatinya.
"Lalu bagaimana dengan Nona Agneta, tunangan Anda?"
Deg
Aries langsung diam, karena ia lupa akan statusnya saat ini yang merupakan tunangan dari seorang wanita yang bernama Agneta Christopher.
...🍀🍀🍀...
Mansion Graham.
"Kapan kau pulang ke London?" Mars menatap adiknya yang tengah meminum segelas susu.
"Kak kau mengusir aku?" Venus balik bertanya.
"Ya aku mengusirmu, dan lebih cepat kau pergi maka lebih bagus." Ucap Mars dengan tegas karena ia tidak mau jika Aries mencoba bertanggung jawab pada adiknya, dengan kata lain Mars menutup pintu bagi manusia domba itu untuk menjadi adik iparnya.
"Kau itu jahat sekali, bukankah kita sudah lama tidak bertemu? Apa kau tidak rindu padaku?" gerutu Venus dengan mengerucutkan bibirnya.
"Tidak! Dan ingat kau sudah tiga hari di Jakarta, kasihan Mom Dila yang mengkhawatirkanmu."
__ADS_1
Deg
"Tiga hari? Itu artinya hari ini ...." Venus menelan salivanya dengan susah.
"Venus kau dengar aku?" Mars menatap adiknya yang terlihat melamun. "Venus Graham!" sentak Mars.
"Iya aku dengar." Jawab Venus malas.
"Dengar apa?" Mars menatap tajam adiknya karena ia yakin Venus tadi melamun dan tidak mendengar apa yang dikatakannya.
"Mars ini masih pagi jangan buat keributan!" Kejora yang sejak tadi diam kini menatap tajam pada suaminya.
Mars langsung terdiam dan tidak berani menyangga sedikitpun perkataan Kejora, entah mengapa sejak kejadian tiga hari yang lalu istrinya itu berubah menjadi sangat galak. Bahkan sudah tiga hari ini Kejora tidak memberinya jatah hingga membuat juniornya teras kaku.
"Tuan di luar ada tamu yang ingin bertemu." Ucap salah satu pelayan yang memasuki ruang makan.
Mars, Venus, dan Kejora saling menatap, karena tidak biasanya ada tamu yang berkunjung sepagi ini.
"Siapa?" tanya Mars.
"Namanya Tuan Gideon dan Tuan Aries."
"Apa?" Mars mengepalkan kedua tangannya dengan erat. "Berani sekali manusia domba itu datang kemari!"
__ADS_1