Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 10


__ADS_3

Andi sudah pulang, ikut bergabung dengan istri anak dan calon menantunya di meja makan, Aryan anak bungsunya naik keatas untuk mandi.


Laras meletakkan segelas air putih untuk suaminya, kemudian Rea menyodorkan buah yang sudah dia potong kedepan Andi.


"Kalian tau, Aryan sepertinya ingin diet karena sedang menyukai seorang anak gadis," cerita Andi, semua yang mendengar tertawa.


"Lagian sama-sama anak cowok tapi beda banget dia sama kakaknya," sahut Laras


Rea menyantap buah sambil melirik Arkan yang sedang membuka pesan di Hpnya, kemudian laki-laki itu sengaja meletakkan HPnya dimeja tanpa menutup pesan yang barusan dia baca, agar kekasihnya tau dia sedang tidak berbalas pesan dengan wanita lain.


Arkan kemudian berbicara soal rencana yang sudah dia bilang ke mamanya tadi kepada papanya.


"Kamu ga ha..mil duluan kan?" tanya Andi ke Rea


"Kan.., mama tadi juga mikirnya gitu pa," timpal Laras


"Enggak om , sama sekali ga, kita ga pernah melakukan hal kayak gitu?" Rea buru-buru memberi penjelasan ke calon papa mertuanya agar tidak salah paham.


"Belum..." Rea mengganti kata ga yang dia ucapkan tadi tapi sangat pelan, bahkan Arkan yang duduk disebelahnya tidak bisa mendengarnya


"Lalu apa alasan kalian meminta mengajukan lamaran dan pernikahan?"


Arkan dan Rea saling memandang, memikirkan alasan yang tepat, kalau bilang karena Rea terlalu cemburu pasti dikira terlalu kekanak-kanakan meskipun memang iya.


Arkan menggenggam tangan Rea.


"Aku ga bisa lama-lama jauh dari gadis ini pa" jawab Arkan memberi alasan yang dia rasa paling masuk akal.


"Kalau alasannya hanya seperti itu, kenapa ingin merubah rencana? papa bisa ijinkan Rea tinggal dirumah kalau dia mau, tidak perlu mengubah rencana awal, " jawab Andi enteng


Laras sudah mendelik, suaminya tidak tau kalau anaknya sudah tiga kali tidur di apartemen Rea.


"Sudah papa mau mandi dulu ya"


Rea dan Arkan terdiam, Arkan tau kalau papanya bilang tidak, berarti mutlak tidak, Laras menyusul suaminya keatas, menatap anak dan calon menantunya dengan tatapan yang dibaca oleh mereka seperti sebuah peringatan.


"Jangan macam-macam"


***


Rea ijin tidur dikamar Arkan karena dia baru tidur sekitar empat jam tadi, Arkan meninggalkan gadis itu kemudian turun kebawah, melihat mama nya yang sedang duduk diruang tengah sambil bermain HP, menghampiri kemudian duduk disampingnya.


Laras meletakkan HP di tangannya, bertanya kepada Arkan apa yang sebenarnya terjadi sampai ingin mengajukan rencana pernikahannya, dia merasa alasan yang dikatakan Arkan tadi terdengar sangat tidak masuk akal. Arkan kemudian bercerita apa yang sebenarnya terjadi, mamanya berkali-kali menutup mulutnya yang menganga terkejut mendengar cerita anak bujangnya.


"Jadi putri Pak Gubernur?" Laras menutup mulutnya lagi


"Iya" jawab Arkan


"Kamu benar tidak memiliki perasaan sama sekali padanya kan Ar?"


"Ya ga lah mah, wanita satu-satunya yang Arkan cintai sampe mati cuma Rea"

__ADS_1


Mamanya benar-benar terkejut , dia tau betul kegemparan yang terjadi bahwa putri gubernur lari dihari pernikahannya tapi dia tidak tau kalau alasannya kabur adalah karena dijodohkan dengan laki-laki yang tidak dicintainya dan lagi gadis itu mencintai anaknya.


***


Arkan masuk kekamar, jam menunjukkan pukul 3 sore, dia melihat Rea menggeliat kemudian tersenyum.


"Sudah berapa lama aku tidur?"


"Dari jam 11 sampai sekarang jam 3, berarti kamu sudah tidur kurang lebih 4 jam"


Rea menggeliat lagi kemudian duduk bersandar di kasur.


"Aku capek banget, terutama disini" menunjuk dadanya sambil masih menahan kantuk


Arkan mendekat kemudian duduk didepan Rea "Kenapa?"


"Aku masih tidak suka mengingat kejadian kemarin, rasanya sakit disini," menundukkan kepalanya ke pundak Arkan karena masih mengumpulkan nyawanya setelah bangun tidur.


Arkan kemudian memeluknya " jangan sakit hati hanya karena aku"


Mereka terdiam cukup lama, kemudian Rea melepaskan pelukannya dari Arkan


"Oh ya kapan kasur dan sofa kita diantar?"


"Nanti jam 4, ayo siap-siap," ajak Arkan


Rea lalu melompat dari kasur untuk cuci muka, mereka kemudian turun, menyempatkan makan siang karena Laras sudah masak makanan kesukaan mereka.


Mereka sampai pukul 4 kurang, syukurlah jadi orang yang mengantar kasur dan sofa tidak perlu menunggu mereka, setelah sofa dan kasur diturunkan dan diletakkan pada tempatnya orang yang mengantar tadi pergi, Arkan dan Rea masuk kedalam lalu naik kelantai atas , Rea penasaran karena kemarin saat datang kerumah ini dia hanya melihat-lihat lantai bawah.


"Iya, masuklah! " Arkan membukakan pintu


Rea langsung menelusuri seisi ruangan yang masih kosong itu, melihat hanya ada kasur yang baru datang tadi, dia berjalan ke pintu kamar mandi membukanya, melihat washtaffel, closet , bath tub dan sebuah bilik shower yang membuatnya membayangkan hal yang tidak-tidak, bagaimana tidak shower itu hanya dikelilingi kaca tembus pandang tanpa penutup.


"Ada apa?" tanya Arkan yang sudah ikut melongok kedalam kamar mandi , mukanya berada tepat disamping pipi Rea.


"Ga ada apa-apa, siapa yang memilih design kamar mandinya?" tanya Rea penasaran


"Aku" jawab Arkan enteng


"Dapat inspirasi dari mana?"


"Film"


"Apa judulnya?" tanya Rea lagi


"Aku lupa"


"Mana mungkin aku bilang ke dia kalau aku dapat inspirasi kamar mandi dari film biru yang pernah aku tonton"


Mereka turun, kemudian duduk berdekatan disofa yang ada dilantai bawah, sofa yang baru mereka beli juga.

__ADS_1


"Ayo kita beli TV yang besar untuk disini," ucap Rea


"Terserah kamu" Arkan menciumi helaian rambut kekasihnya.


"Geli tau" Rea menggeliat mengibaskan rambutnya.


"Re, ada yang ingin kamu lakukan ga sama aku?" tanya Arkan yang sepertinya sudah bernafsu ingin menerkam gadis disampingnya itu.


"Maksudmu? pergi kesuatu tempat atau apa?" tanya Rea


"Ya semacam itu"


"Ada"


Mendengar jawaban Rea laki-laki itu melompat kegirangan.


"Katakan" wajah Arkan terlihat antusias


"Aku pengen pergi ke club malam" senyum Rea sambil sedikit mendongak ke Arkan yang berdiri didekatnya


"Maksudnya kamu pengen dugem?"


Rea menganggukan kepalanya.


"Seumur hidup aku belum pernah masuk ke tempat itu, ayolah Ar," bujuk Rea


Akhirnya mereka berdua pergi ke club malam, dengan syarat tidak boleh minum alkohol, Rea sangat antusias karena ini pertama kali untuknya, club yang mereka datangi bukanlah club malam yang sering masuk ke berita di TV kegrebek karena kasus prostitusi, club malam ini adalah club malam kusus kalangan high class yang tidak sembarang orang bisa masuk. Rea menatap kesekeliling tentu saja penampilannya sangat berbeda dengan gadis lain yang ada disana, Rea menggunakan celana jeans panjang warna abu dan atasan casual lengan panjang berwarna krem dengan ornamen pita dikrahnya, sementara kebanyakan gadis disana memakai pakaian minim.


"Kamu senang kan? aku ajak kesini, bisa melihat pemandangan gadis -gadis seksi" Rea berbicara agak berteriak karena suara musik disana memang sangat keras.


"Semua gadis disini tidak akan ada yang membuat aku tertarik," jawab Arkan setengah berteriak juga.


Musik dimatikan, seorang DJ berbicara dan menyapa semua yang ada disana, kemudian memainkan musik yang membuat semua orang disana berteriak-teriak.


"Ini yang aku tunggu," teriak Rea


"Apa?" tanya Arkan


Gadis itu sudah berdiri dan menuju lantai dansa, berjoget bersama orang-orang disana menikmati musik yang dimainkan DJ tadi.


"Gadis itu, ternyata dia tak sepolos yang aku kira, bagaimana dia terlihat seksi padahal pakaiannya tertutup seperti itu," gumam Arkan


Rea masih asik menggerakkan badannya, rambut panjangnya terlihat bergerak tergerai kekanan dan kekiri. beberapa laki-laki disana melihat kearah Rea yang memang penampilannya berbeda sendiri dengan gadis yang lain.


"Sial, apa mereka semua sedang memandangi kekasihku"


Arkan berdiri dari kursinya, mendekat, meraih pinggang gadis itu, tangan Rea yang sedang bergerak keatas, sontak memeluk leher Arkan.


"hentikan nona Rea, kamu sudah menarik perhatian semua laki-laki disini"


Arkan langsung mencium bibir Rea, ********** tanpa memperdulikan orang disekitarnya, seolah ingin memberi tahu semua laki-laki yang menatap Rea bahwa gadis yang mereka lihat sudah memiliki seorang kekasih.

__ADS_1


Rea terlihat tersenyum, kemudian meladeni ciuman kekasihnya itu.


Mereka hanyut sendiri ditengah dentuman musik club malam itu. Tanpa mereka sadari sepasang mata masih tidak mengalihkan pandangannya dari Rea sedari tadi.


__ADS_2