
Setelah turun dari lantai atas Rea langsung di sambut dengan senyuman orang-orang yang sedang duduk di meja makan, gadis itu langsung mendekati sang kakak, memukul lengan Elang yang sedang menyesap secangkir teh, membuat laki-laki itu sedikit kaget dan hampir saja teh di dalam cangkirnya tumpah.
"Aduh! datang-datang ngegampar, sakit tau," protes Elang.
"Kalau loe berani nyakitin kakak ipar gue, gue pastiin abis loe sama gue," ancam Rea.
Semua orang yang mendengar ucapan Rea tertawa, Elang meletakkan cangkirnya menggunakan tangannya untuk mengusap lembut perut adiknya.
"Banyak yang sayang kalian, tapi uncle mohon besok jangan kayak emak kalian ya, galaknya ga ketulungan."
Lagi-lagi Elang mendapat pukulan di lengannya. Rea memandang Kinanti yang terlihat duduk di dekat Noah, mereka saling beradu pandang dan melempar senyum.
"Keluarga kita berhutang budi padamu Ken."
Laras yang datang dari arah dapur menepuk pundak Ken dengan kedua tangannya, perempuan itu menghembuskan napas lega, ketegangan beberapa hari ini sudah mulai memudar.
Kinanti memegang punggung tangan Laras dengan sebelah tangannya, sambil mendongak tersenyum menatap wajah mertua adik iparnya itu, ia lalu memandang ke arah orang-orang yang berada satu meja dengannya secara bergantian.
"Tidak ada hutang budi dalam keluarga tante, aku melakukannya karena aku menyayangi kalian semua," ucap Ken.
Semua orang yang ada disana terharu mendengar ucapan gadis itu, terutama Rea.
***
Dua minggu setelah klarifikasi mengejutkan itu, Kinanti keluar dari ruangan direktur rumah sakit tempat ia bekerja, memasukkan kedua tangannya ke saku jas snelli yang merupakan kebanggaan seorang dokter.
Bibirnya masih bisa membalas senyum dari perawat dan para staff rumah sakit yang berpapasan dengannya di koridor.
"Mempertimbangkan karena anda merupakan salah satu dokter terbaik di rumah sakit ini, kami berniat memberi anda kesempatan kedua, kami percaya tidak ada manusia yang luput dari kesalahan, kesalahan anda cukup fatal, namun karena pihak pasien tidak menuntut rumah sakit, saya pikir kami masih bisa mempertahankan anda disini."
"Sebagai hukuman sebenarnya kami ingin mencabut jadwal praktik rutin anda, tetapi sepertinya ibu-ibu fans berat anda terlalu banyak, dua minggu kami menghentikan jadwal ptaktik anda mereka sudah mulai protes dan meminta agar kami mempertahankan dokter idola mereka."
"Lagipula kami yakin, jika melepas anda begitu saja sudah banyak rumah sakit yang menunggu kesempatan untuk merekrut anda."
__ADS_1
Ken terlihat begitu lega, meskipun satu hal masih mengganjal benaknya, tentang siapa yang menyebarkan rekaman suaranya.
Gadis itu terlihat berhenti dan mengobrol di ruang jaga perawat, mencoba mencari tiga orang perawat yang bisa dikatakan dekat dengannya karena bekerja sebagai asistennya saat ia melakukan praktik, namun hanya dua yang bisa ia temui dan diajak bicara, sementara yang satu sedang mendapatkan jatah liburnya.
Disisi lain Axel malah semakin dikejar-kejar banyak wanita, kebanyakan dari mereka berkata bersedia menjadi ibu pengganti jika laki-laki itu menginginkan anak dengan cara bayi tabung lagi.
Axel memijat keningnya sendiri saat berada di sebuah ruangan meeting, ponselnya tak henti-hentinya berdering, teror yang sama dua minggu ini telah mengusik hidupnya, wartawan masih ingin tau siapa sosok wanita yang seharusnya mengandung benihnya.
Arkan terlihat datang dan masuk ke dalam, menjabat tangan Axel kemudian duduk di hadapan laki-laki itu, hari itu mereka bertemu untuk menandatangani kesepakatan awal bisnis yang akan Arkan bangun.
Kedua laki-laki itu mengambil sebuah pena dari kantong jas masing-masing, Axel dan Arkan terlihat terkejut, mereka tertawa saat mengetahui tangah memegang pena yang sama persis.
"Rea?" tanya Arkan.
Axel menganggukan kepala, "Dia memberiku pena ini sebagai hadiah, Rea sepertinya ingin berterima kasih karena aku sudah memberitahu keberadaan dirinya waktu di Bali kepadamu."
"Berkatmu kami bisa berbaikan," ucap Arkan.
Axel hanya tersenyum sambil menyodorkan berkas yang secara bergantian harus mereka tanda tangani.
Keduanya lalu berdiri dan saling berjabat tangan. Sebelum pergi Arkan sempat membaca sebuah pesan dari seseorang, namun isi pesan itu seolah tidak begitu penting baginya.
***
Akibat berita yang sempat heboh mau tak mau Rea menjadi pusat perhatian, masyarakat menjadi antusias menantikan kelahiran bayi kembar beda ayah milik Rea, bahkan sudah banyak brand perlengkapan bayi yang mengiriminya kebutuhan bayi dari mulai baju, stroller, baby box sampai toiletries bayi. Beberapa tabloit dan media online yang fokus kepada masalah ibu dan anak mengantri untuk bisa melakukan wawancara dengannya.
Gadis itu kualahan sampai harus berdiam diri di rumah sang mertua untuk menghindari kejaran orang-orang yang semakin ingin tahu tentang kehidupannya. seperti hari itu dirinya memilih menemani Noah belajar dari pada keluar untuk menghadiri sebuah acara amal yang mana RM jewelry menjadi salah satu sponsornya.
Anak laki-laki kesayangannya itu sudah bisa menggunakan bahasa Indonesia meskipun belum begitu lancar, di sela kegiatannya mengajari Noah Rea juga terlihat sibuk membalas beberapa pesan di aplikasi chat miliknya.
[ Dia masih mencarinya, tapi sampai sekarang belum bisa menemukannya ]
Rea membaca pesan itu kemudian membalasnya.
__ADS_1
[ Tolong tetap awasi, dan beri tahu aku jika ada info terbaru ]
Gadis itu menghela napasnya, berusaha untuk tetap berpikir positif tentang orang-orang yang ia sayangi.
***
Hari berganti hari, bulan berganti bulan tak terasa kandungan Rea menginjak usia sembilan bulan, meskipun sudah berada di trimester akhir kehamilan, gadis itu masih aktif berkatifitas seperti biasa, seperti hari itu ia sedang sibuk menemani Noah melakukan orientasi siswa baru.
Rea mandaftarkan sang anak ke sebuah sekolah internasional meskipun belum waktunya, ia ingin Noah bisa bersosialisasi dan cepat berbaur dengan teman-temannya. Benar saja anak itu terlihat begitu bahagia saat sang guru dan teman-temannya mengajak dirinya berbicara.
Dengan kecepatan sedang Rea membawa mobilnya pulang ke rumah setelah menjemput Noah di hari ketiganya bersekolah, gadis itu berencana tinggal di rumah sang mertua sampai melahirkan kedua bayinya, setelahnya untuk beberapa bulan Rea dan Arkan sudah memutuskan tinggal di rumah Jordan, bagaimanapun mereka ingin Axel juga ikut mengurus anaknya meskipun Rea tetap berencana mencari pengasuh untuk kedua anaknya nanti.
"Mama."
Panggilan dari Noah yang duduk di sampingnya sedikit membuat Rea kaget dan menoleh untuk melihat anak berseragam biru putih itu sekilas.
"Yes honey, what's going on?"
"Iya sayang, ada apa?" tanya Rea.
"Mam, I know that I am not your own child."
"Ma, Noah tahu kalau Noah bukan anak kandung mama."
"What do you say Noah? you know that you're my kid."
"Noah, kamu ngomong apa sih? kamu kan tau kamu anak mama."
Rea terkejut dengan ucapan anak itu kepadanya, kening gadis itu terlihat mengkerut karena heran.
"No, my real mom's name is Sam, not Rea, and I know she threw me away."
"Tidak, ibu kandungku namanya Sam, bukan Rea, dan aku tau dia sudah membuangku."
__ADS_1
Rea menepikan mobilnya, menatap penuh rasa sedih ke arah anak laki-laki yang beberapa bulan ini sudah dia anggap seperti anak kandungnya sendiri, hatinya sakit mendengar kalimat seperti itu keluar dari bibir anak yang masih berusia empat tahun.