
"Kenapa Noah bisa pingsan miss?"
Rea panik, mencoba menerobos pintu IGD namun dihadang oleh perawat yang ada disana, guru Noah yang berada disana juga terlihat tak kalah panik.
"Tadi Noah main prosotan saat jam istirahat lalu jatuh, setelah itu dia muntah-muntah, tak lama Noah jatuh pingsan, kami panik dan langsung membawa Noah kesini mom."
Rea memegangi kepalanya bingung, ia lalu menghubungi Arkan dan menceritakan apa yang terjadi ke sang anak.
Perawat terlihat keluar sambil memanggil keluarga pasien atas nama Noah, Rea langsung berdiri menghampiri wanita berbaju merah muda yang mencari keberadaan keluarga anaknya itu.
"Saya mamanya sus."
"Kami ingin meminta persetujuan untuk melakukan CT scan dan MRI atas nama pasien Noah."
Rea menatap bingung ke arah sang perawat, tangannya menerima pulpen dan memberikan tanda tangan di bagian yang ditandai sang perawat.
"CT scan? MRI? memang anak saya kenapa suster?" Rea semakin panik.
"Dokter belum tau pasti, untuk itu kami butuh dua hasil pemeriksaan ini segera."
Perawat itu meninggalkan Rea dengan banyak tanda tanya di pikirannya. Gadis itu terduduk dan menunduk sambil memegangi dua sisi kepalanya.
Arkan terlihat datang dengan tergesa, ia kemudian terlihat berbincang dengan guru Noah yang mengantar anaknya sampai ke rumah sakit, sang guru lalu berpamitan untuk pergi dari sana setelah menjelaskan bagaimana awal mula sampai Noah bisa dibawa ke rumah sakit.
Rea melihat sebuah bayangan berdiri tepat didepannya, ia mendongak menatap Arkan,air matanya sudah membanjiri kedua pipinya, laki-laki itu hanya bisa memeluk sang istri untuk menenangkan.
Sebuah brankar keluar dari IGD dan betapa terkejutnya kedua orang itu melihat sang anak terbaring dengan selang infus dan selang oksigen di hidungnya.
Seorang dokter mengikuti mereka sampai ke kamar inap lalu menanyakan sesuatu yang membuat Arkan dan Rea sama-sama terkejut.
"Apa Noah punya tumor?"
__ADS_1
Seperti disambar petir mereka syok dengan pertanyaan sang dokter.
"Tumor? ga dok, anak saya sehat-sehat saja kok, tadi pagi dia masih makan sarapannya, saya masih mengantar dia sampai ke sekolah, lalu saya ditelpon dan tiba-tiba anak saya tidak sadarkan diri, sekarang dokter menanyakan soal tumor ke kami?"
Dokter itu terlihat terdiam, jelas sangat berat untuk menjelaskan masalah ini ke seorang ibu yang begitu menyayangi anaknya.
"Kita tunggu saja hasil CT scan dan MRI Noah," ucap dokter sambil sedikit membungkukkan badannya ke Arkan dan keluar dari kamar. Sementara itu Rea masih saja tidak terima dengan keadaan Noah yang tiba-tiba tak sadarkan diri dan diduga memiliki tumor.
Rea duduk disamping sang anak, menggenggam tangan mahkluk kecil yang terlihat tak berdaya itu, air matanya tak henti-hentinya menetes.
"Noah, Noah cepet bangun ya sayang," lirih Rea.
Laras terlihat datang dan masuk ke dalam kamar rawat sang cucu, wanita itu juga terlihat begitu syok, tangannya bergetar memegangi telapak kaki Noah.
"Kenapa dia Ar?"
Arkan hanya menggeleng "Kami sedang menunggu hasil pemeriksaannya ma," lirih Arkan yang juga begitu terpukul melihat kondisi sang anak.
"Sebelumnya saya ingin bertanya apakah Noah menunjukkan gejala kurang konsentrasi atau aspek motoriknya terganggu beberapa bulan belakangan ini?" tanya sang dokter.
Rea dan Arkan sama-sama menggelengkan kepala, "Dia baik-baik saja dok," lirih Rea.
"Lalu apa dia sering muntah-muntah?"
Rea menggelengkan kepala lagi, "Baru tadi dok dia muntah-muntah saat gurunya bilang dia jatuh." Rea menatap hasil CT scan Noah yang berada diatas meja sang dokter.
"Hasil pemeriksaannya cukup mengejutkan, CT scan menunjukkan ada tumor di otak Noah." Ucapan sang dokter bagaikan peluru tajam yang menghujam ke kepala dan hati Rea, untuk sesaat ia merasa baru saja dijatuhkan dari tempat yang teramat sangat tinggi.
"Apa dok?" Arkan terlihat begitu terkejut.
"Saya akan menyerahkan kasus Noah ke dokter yang lebih berkompeten yaitu dokter onkologi."
__ADS_1
Rea meremas kedua pahanya, jika tidak sedang berada diruang dokter sudah pasti gadis itu akan menangis meraung sejadi-jadinya bagaimana mungkin tiba-tiba dia harus mendengar nama penyakit yang begitu mengerikan dan sampai harus ditangani oleh seorang dokter spesialis kanker.
***
Rea berjalan tertatih menuju kamar Noah, ia bahkan sama sekali tak memikirkan keadaan dua bayinya, yang ada di dalam pikirannya sekarang hanyalah ucapan dokter spesialis kanker yang baru saja memberi kesimpulan tentang kondisi sang anak.
"Tumor otak ini disebut medulloblastoma dan merupakan jenis tumor otak ganas yang paling sering ditemukan pada anak usia tiga sampai delapan tahun, penyebabnya juga belum diketahui secara pasti sampai saat ini, kemungkinan bisa juga karena kelainan kromosom bawaan."
"Dan saya mohon maaf untuk kasus Noah, ini berat, karena sekarang kondisi anak anda tak sadarkan diri, saya bisa bilang bahwa Noah dalam keadaan koma."
"Saya juga heran jika anda bilang Noah tidak memiliki gejala, karena biasanya anak yang mengidap medulloblastoma perlahan akan kehilangan kemampuan motoriknya."
Rea masih tak percaya dengan penjelasan dokter, karena selama hampir satu tahun ia merawat Noah, ia tau pasti anak itu baik-baik saja dan tidak mengalami gejala seperti yang disebutkan dokter tadi.
Melihat sang menantu yang pucat laras semakin cemas, ia memegang kedua lengan Rea, meminta gadis itu untuk menjelaskan apa yang dikatakan dokter, namun menantunya hanya diam seperti orang yang kehilangan kesadaran, tak memperdulikan Laras, Rea berjalan ke sisi ranjang sang anak, ia terlihat kacau.
Arkan akhirnya yang bercerita ke sang mama tentang kondisi sang anak, laki-laki itu juga terlihat berantakan.
"Noah, Noah ga boleh kayak gini, ingat kan tadi pagi Noah minta cupcake sama mama, mama udah beliin buat Noah, Noah bangun ya sayang," lirih Rea sambil menahan isakan tangisnya.
"Mama pengen ngajak jalan-jalan Noah ke pantai lagi, Noah suka kan main istana pasir, mama ga akan ngelarang Noah main sepuasnya kalau Noah bangun."
"Noah juga belum lihat kamar Noah yang baru di rumah, mama udah siapin kamar dengan ranjang Barney kesukaan Noah, jadi Noah ga boleh lama-lama bobok disini, Noah harus bangun kita pulang, Noah bisa bobok di kasur Noah sendiri."
Laras yang mendengar ucapan sang menantu hanya bisa memeluk Arkan dan menangis di dalam dekapan sang anak.
"Noah bangun nak!" lirih Rea lagi.
Gadis itu menatap ke arah Arkan, menghapus air mata yang seolah tak mau berhenti keluar dari matanya.
"Sayang ayo kita bawa Noah keluar negeri, bagaimanapun caranya kita harus membuat dia bangun, meskipun harus sampai ke ujung dunia ayo kita bawa dia." Rea kembali menangis meraung seperti orang gila.
__ADS_1
Arkan mendekat mendekap erat sang istri, air matanya juga mengalir deras, ada perasaan menyesal di dalam lubuk hatinya, sebelum mengetahui bahwa Noah benar-benar darah dagingnya Arkan hanya menganggap anak itu layaknya saudara, tak seperti Rea yang benar-benar menganggap Noah seperti anak kandungnya sendiri. Laki-laki itu menyesal dan penyesalannya seolah sia-sia melihat kondisi sang anak sekarang.