Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 124


__ADS_3

"Re, bisa kerumah ayah sekarang? ada sesuatu yang penting."


Setelah mendapat telpon mendadak dari sang kakak, Rea bergegas pergi ke rumah sang ayah.


"Apa ada yang gawat?" tanya Arkan yang memaksa mengantar istrinya karena sang kakak ipar menelpon Rea di waktu yang hampir menunjukkan pukul sebelas malam.


"Aku tidak tahu, apa mungkin ada hubungannya dengan persiapan pernikahannya dengan Ken? hari ini aku tidak jadi konsultasi karena jadwalnya diundur dan aku malas untuk menunggu lama-lama, jadi aku tidak bertemu Ken."


"Sudahlah sayang, sepertinya tidak perlu untukmu memakai alat pencegah kehamilan, meskipun harus bekerja lebih keras aku akan melakukannya dengan bahagia dan tanpa beban, semua demi kamu dan anak-anak kita." Arkan tertawa, membelai pipi istrinya kemudian mencubitnya gemas.


Rea menggenggam tangan Arkan sambil mencebikkan bibirnya kesal," sakit tau!" protesnya.


Mama Be dan Bu itu lantas memandang ke arah sang suami yang terlihat fokus menyetir. Sesekali Arkan memandang ke arahnya dengan senyuman hangat. Gemas, Arkan mengacak-acak rambut sang istri yang masih terlihat cemberut.


***


"Ada apa?" tanya Rea sesaat setelah masuk ke dalam kediaman ayahnya, Elang yang melipat kedua tangan di depan dadanya terlihat menunjuk ke arah sofa dengan matanya.


Rea dan Arkan berjalan mendekat untuk melihat apa yang ditunjuk laki-laki itu, keduanya heran dengan kelakuan Elang yang sampai membuat mereka harus datang ke rumah Farhan malam-malam. Pasangan suami istri itu mengernyitkan dahi mereka mendapati seorang bocah laki-laki berumur sekitar enam tahun tengah tidur meringkuk di sofa.


"Siapa anak ini?" Takut, Rea seolah trauma dengan kedatangan anak yang tiba-tiba.


"Dia anak penyanyi Selomita Wafiq."


"Lalu kenapa dia ada disini?" kening Rea berkerut matanya menyipit heran.


"Ibunya meninggalkannya begitu saja tadi."


Rea memundurkan badannya, ia terlihat benar-benar takut, Arkan yang melihat istrinya bertingkah seperti itu sadar bahwa masih ada trauma pada diri Rea karena kejadian dari masa lalu yang disebabkan olehnya.


"Lalu anak siapa dia? anakmu?" Tajam, Rea menatap Elang.


"Heleh Re, anak ini berumur sekitar enam tahun, pikir saja! aku masih di Amerika saat itu."


"Apa kamu tidak lihat Mas Arkan, dia di Indonesia dan punya anak di Inggris dan sudah berumur empat tahun."


"Lha kan aku jadi dibawa-bawa," gerutu Arkan.


"Selomita datang kemari dan marah-marah, saat itu aku belum pulang ke rumah, kata pelayan dia meninggalkan anak ini begitu saja" beber Elang.

__ADS_1


"Lalu kenapa Selomita meninggalkan anak ini begitu saja?" Rea semakin heran.


"Apalagi jelas ini anak Elang," jawab Arkan sok tahu.


"Heh, emang gue kayak loe yang diem-diem ternyata fu*k boy," balas Elang.


Rea secara bergantian memandang ke arah Arkan kemudian sang kakak. Elang terlihat bersungut kesal karena candaan sang adik ipar kepadanya.


"Jangan berani ngatain Mas Arkan!" Membela, Rea tidak terima suaminya dicibir dengan sebutan laki-laki brengsek oleh sang kakak.


"Wanita itu bilang bocah ini anak ayah," ucap Elang.


"Apa?" Rea dan Arkan melotot secara bersamaan.


***


Elang, Rea dan Arkan duduk di seberang sofa dimana bocah laki-laki itu masih tertidur lelap. Mereka bingung mencari jalan keluar apalagi posisi Farhan sekarang sedang berada di luar negeri dan susah untuk dihubungi.


"Aku sudah menduga, tidak mungkin ayah bisa tahan hidup sendirian bertahun-tahun, meskipun aku tau mudah bagi ayah untuk berganti perempuan setiap malam," cicit Rea.


"Apa mungkin ayah sudah memiliki hubungan dengan Selomita sejak lama?" Arkan menatap sang istri penasaran.


Arkan hanya bisa terdiam mendapatkan serangan mematikan dari sang istri tercinta.


"Lalu kita harus bagaimana?" tanya Elang.


"Kita? Loe aja kali!" Rea berdiri meraih tangan Arkan untuk meninggalkan rumah sang ayah.


Arkan terkekeh melihat kelakuan istrinya yang langsung menariknya pergi dari sana, Elang yang panik langsung berdiri mengejar sang adik.


"Nanti kalau dia bangun terus nangis gimana Re? Ayah baru akan pulang tiga hari lagi." Elang memelas.


"Minta saja ayah pulang sekarang, aku tidak bisa membantumu, aku harus mengurus anakku sendiri."


"Mana bisa aku?" Elang hampir menangis.


"Belajar! Bukannya sebentar lagi kamu akan menikah dan pasti akan jadi seorang ayah!"


"Kamu bisa meminta Ken untuk membantumu, minta dia menginap disini!" Saran Arkan.

__ADS_1


"Ken pasti masih praktik, sudah aku bilang jadwalnya diundur hari ini, baru mulai jam delapan malam dan bisa aku pastikan selesai besok pagi buta," ucap Rea.


"Lagipula dia pasti capek Re kalau aku minta membantuku." Elang masih saja memelas.


"Kalau Ken capek loe pikir istri gue ga?" Arkan berbalik membela sang istri.


Belum selesai mereka bertiga berdebat, anak laki-laki itu terlihat bangun dan berdiri di belakang Elang. Kaget, Elang sampai melompat ketakutan.


Marasa tak tega Rea memilih mengajak anak itu untuk ke rumahnya, lagipula di rumahnya ada kamar yang tak sempat mendiang Noah tempati.


"Aku akan membantumu malam ini, tapi besok pagi kamu harus datang menjemputnya karena aku dan mas Arkan harus pergi bekerja," titah Rea kepada sang kakak sebelum meninggalkan rumah ayahnya.


Anak laki-laki itu terdiam di kursi penumpang mobil Arkan, dan jelas raut wajahnya menunjukkan ekspresi kebingungan.


"Seperti ini yang membuat aku selalu tak tega dan tak habis pikir, bagaimana mungkin ibunya begitu egois meninggalkan anaknya begitu saja."


Rea berkomentar di dalam kamarnya sambil berganti baju, setelah memastikan bocah laki-laki bernama Gema itu merasa nyaman di kamar Noah. Arkan hanya tersenyum melihat istrinya sedikit emosi lagi, karena baginya Rea terlihat begitu lucu dan manis saat kesal.


"Mungkin ibunya sedang bertengkar dengan ayahmu, kesal lalu meninggalkan anaknya begitu saja," sambung Arkan.


Rea merebahkan badannya di atas ranjang, menarik selimut sampai ke pinggangnya, menatap Arkan yang masih duduk bersandar di kepala ranjang.


"Kalau benar seperti itu menurutmu apa si Selomita itu tidak merasa kasihan kepada anaknya?"


Arkan menarik selimut sang istri sampai sebatas dada, membaringkan tubuhnya masuk ke dalam selimut yang sama dengan Rea, perlahan tangannya mengusap pipi sang istri mesra.


"Sama seperti halnya jika seorang wanita memilih berselingkuh dari suaminya, jika mereka sudah memiliki anak bukankah menurutmu wanita itu juga tidak merasa kasihan kepada anaknya?"


Berasa tersindir dan seolah tersengat aliran listrik di hatinya, Rea hanya bisa menelan salivanya mendengar ucapan Arkan barusan. Namun, bukan Rea jika hanya diam dan tak membalas ucapan sang suami.


"Lalu bagaimana jika laki-laki yang melakukan perselingkuhan? sama saja kan?" berarti dia juga tidak memikirkan anaknya, jadi kenapa selalu wanita yang disalahkan? seolah jika laki-laki selingkuh adalah hal yang wajar, sementara jika wanita hal itu dianggap tabu dan kurang ajar," ucap Rea dengan nada kesal.


Arkan malah tertawa mendapati sang istri yang semakin kesal, laki-laki itu menarik tubuh Rea merapat ke tubuhnya, membenamkan kepala istrinya agar jatuh ke dalam dada bidang miliknya.


"Karena wanita itu mahkluk mulia, jadi tak seharusnya berbuat hal seperti itu, kamu tau kan selingkuhnya orang dewasa seperti apa, mereka pasti akan melakukan hubungan badan layaknya pasangan suami istri," bisik Arkan.


"Ya, aku tau seperti dirimu dan Sam," sindirnya lagi.


Mendengar sindiran sang istri Arkan malah semakin mempererat pelukannya, meskipun dia melakukannya dengan Sam saat sama-sama masih lajang, tapi ia sadar melakukan itu saat berpacaran dengan Rea.

__ADS_1


"Kamu masih tidak percaya bahwa itu hanya one night stand kan?" bisik Arkan dalam hati.


__ADS_2