
Mohon baca BAB 133 bagi yang belum mengerti 🥰
Cerita Arkan dan Rea SUDAH TAMAT, ini ending versi KEDUA untuk Axel dan jelas SUDAH BERBEDA ALUR CERITA.
_
_
_
_
_
Bangun di pagi hari, Ax menatap Rea yang masih terlelap tidur di sampingnya. Membelai pipi gadis itu, entah mengapa Axel merasa Rea terlihat sangat cantik dengan wajah polosnya.
Rea terlihat bergerak, laki-laki itu langsung memejamkan matanya kembali. Sayang, gadis di sebelahnya sudah tahu bahwa Ia hanya berpura-pura masih tidur.
Melingkarkan tangannya di pinggang laki-laki itu sambil menggeser badannya, Rea membenamkan kepalanya di dada Axel.
"Ketahuan bohong," lirih Rea.
Ax tertawa, laki-laki iku membalas memeluk Rea membuat pelukan mereka semakin erat.
"Apa hari ini kamu tidak ingin pergi jalan-jalan? untuk apa kita ke Bali kalau sama sekali tidak pergi keluar dari villa?"
"Untuk terus di kamar sambil berpelukan seperti ini," goda Rea.
Dengan sengaja Axel membenturkan kepalanya ke kening gadis itu, gemas. "Ternyata kamu nakal ya?"
"Ax..." Rea mendongakkan kepalanya sambil tertawa mendengar ucapan yang menyebutnya nakal.
"Iya, kenapa? Ada apa? Katakan!" jawab Axel sambil menggelitik hidung Rea dengan ujung hidungnya.
"Apa kita akan menikah setelah aku bercerai dengan Mas Arkan?"
Kaget, wajah Ax terlihat berubah menjadi serius, "Pasti, tapi apa kamu sudah yakin akan bercerai darinya?"
"Hem, tepat setelah pernikahan Elang aku akan meminta bercerai, meskipun ke depan aku juga tidak tahu bagaimana akhir hubungan kita, setidaknya aku harus lepas dari Mas Arkan dulu."
"Apa kamu serius? Maksudku, bagaimana jika dia bertanya alasan kenapa dirimu meminta berpisah?" Axel bangun dan memilih duduk di samping Rea.
"Sudah tidak ada kecocokkan lagi."
Axel hanya terdiam, entah mengapa ia merasa sangat bersalah, bukankah seharusnya ia bahagia jika sebentar lagi gadis yang dicintainya itu becerai? dengan begitu hubungan mereka yang haram itu bisa segera dihalalkan.
***
__ADS_1
Dengan bujukan dari Axel, Rea akhirnya mau untuk pergi jalan-jalan keluar villa. Mendudukkan Bening dan Embun di car seat mobil yang ia sewa, Ax sesekali berpaling memandang Rea yang berdiri agak manjauh dari mobil, gadis itu sedang menerima telpon dari suaminya.
"Apa dia bertanya kamu sedang berada dimana?"
"Hem, Mas Arkan juga menanyakan kabar Bening dan Embun."
Axel menoleh ke belakang, menatap kedua bayi yang tengah menggigiti mainan mereka. Entah kenapa setelah mendegar keputusan Rea untuk menceraikan Arkan, hatinya diliputi perasaan bersalah.
Membiarkan Embun dan Bening bermain dengan pasir, Rea meluruskan kakinya menghadap ke arah pantai, Ax yang baru saja dari kamar mandi langsung duduk di sebelahnya.
"Aku tidak ingin membicarakan masalah pekerjaan saat berlibur seperti ini, tapi hotel sepertinya akan menjadi tempat event pemerintah lagi."
"Event apa?"
"Penghargaan dari Kementerian Ekonomi, apa kamu tidak mendengar bahwa Arkan juga masuk nominasi?"
Menggelengkan kepala, Rea sama sakali tidak tahu. "Kapan acaranya?
"Sepertinya seminggu setelah pernikahan Elang dan Kinanti."
Menatap ke dalam mata kekasihnya, Axel seolah melihat keraguan lagi di sana.
"Haruskah aku menunda keputusanku sampai acara itu?" tanya Rea.
"Semua terserah padamu," lirih Axel.
Laki-laki itu meraih tangan Rea, menautkan jemarinya ke jemari kekasihnya, meletakkan tangan Rea yang tangah ia genggam di atas pahanya.
"Tahu apa?"
"Aku pernah dengar, ukuran jari manis perempuan sama dengan ukuran jari kelingking laki-laki jika mereka jodoh."
"Iya kah?" Mata Rea membulat karena baru kali ini dia mendengar mitos seperti itu.
"Hem, setelah urusanmu dan Arkan selesai, aku berjanji akan melamarmu secara resmi, seromantis mungkin. Aku akan berlutut untuk memintamu menikah denganku."
Rea masih saja tersenyum, sampai ia menatap wajah Axel yang terlihat sangat serius mengucapkan janjinya itu. Ax mendekatkan wajahnya, menatap bibir ranum Rea yang terlihat manis dengan lip cream berwarna merah muda. Memejamkan mata, Axel mencium bibir itu, membawa tangan Rea yang masih ia genggam dari tadi ke dadanya.
***
"Sepertinya Bening dan Embun tahu bahwa kita butuh waktu berdua," bisik Ax ditelinga Rea.
"Mereka lelah, lihatlah tadi mereka aktif bermain dan begitu senang melihat air."
Rea baru saja akan berjalan keluar saat Axel tiba-tiba mengangkat tubuhnya. Kaget, hampir saja gadis itu berteriak, beruntung dengan sigap Rea langsung menutup mulutnya.
"Ax, apa yang kamu lakukan?" Wajah gadis itu memerah mendapati kekasihnya membopong tubuhnya ala bridal style.
__ADS_1
"Ternyata tubuhmu seringan kapas," ucap Ax sambil berjalan pergi dari kamar Bening dan Embun menuju kamar mereka.
Membaringkan Rea di atas ranjang, Ax lalu melompat mensejajari tubuh gadis itu sambil menyangga kepalanya.
"Apa?" ucap Rea tanpa bersuara.
"Setelah Arkan pulang, apa kamu akan tetap bercinta dengannya jika dia meminta?"
Bingung, Rea hanya bisa terdiam. Pertanyaan Ax seketika menghujam tepat ke jantungnya, bukankah jika seperti itu sama saja ia seperti seorang pela.cur, berganti-ganti tidur dengan pria.
"Bagaimana jika kamu sampai hamil?"
"Jika aku hamil bisa aku pastikan itu adalah milikmu, karena sejak tamuku datang bulan lalu aku belum pernah berhubungan intim dengan mas Arkan lagi."
"Apa kamu menolaknya?" Membelai pipi Rea, Ax sudah sangat ingin memakan gadis itu lagi.
"Hem, dia tahu RM Jewellery akan membuka cabang lagi, aku juga bekerja di hotelmu, kalau aku langsung pergi tidur, Mas Arkan sama sekali tidak berani membangunkan aku."
"Kenapa kamu tidak memakai alat pencegah kehamilan?" Penasaran, Ax seolah tak sabar menunggu jawaban yang keluar dari bibir Rea yang selalu bisa membuatnya mabuk kepayang.
"Beberapa hari yang lalu seharusnya aku menemui Kinanti untuk membahas itu, tapi aku terlalu malas datang ke rumah sakit."
"Jadi bagaimana kalau kamu benar-benar hamil? aku mengeluarkan benih-benih yang mirip kecebong itu di dalam milikmu saat sesi kedua kita kemarin."
Rea tertawa terbahak-bahak mendengar Axel membawa-bawa nama kecebong dalam perbincangan mereka.
"Tidak semudah itu, kecebongmu juga harus cukup tangguh untuk bisa sampai bertemu jodohnya di dalam sana," ejek Rea.
Gemas, Axel menarik tubuh gadis nakal itu untuk duduk diatas pangkuannya. Mencium bibir Rea penuh nafsu.
***
"Kirimkan foto-foto perselingkuhan Axel dan anak perempuan Farhan Pradipta ke akun gosip dan media, kirim juga ke suami gadis itu dan keluarganya, jika tidak bisa menghancurkan laki-laki itu dalam urusan bisnis, maka aku akan menghancurkan kehidupan pribadinya." Adam tertawa, memberi perintah kepada sang anak buah.
"Bukankah dia juga sudah menghancurkan kehidupan pribadiku? dengan memecatku secara sepihak aku kehilangan segalanya, dia membuat istriku pergi bersama pria lain dan anak kesayanganku mati meratapi nasipnya," lanjut Adam dengan sorot mata penuh dendam.
-
-
-
-
-
-
__ADS_1
Jangan lupa mampir ke novel baru Na ya 😊