
Sore hari
Arkan menjemput Rea setelah pulang kerja. Didalam mobil Arkan melirik wajah Rea yang cemberut, melepaskan tangan kirinya dari kemudi kemudian mencubit pipi gadis itu.
"Kenapa sih cemberut aja?"
"Aku dengar mamaku sedang pacaran, apa dia berniat menikah sebelum aku," ucap Rea sedikit kesal.
"Dari mana kamu tau?"
"Dari anak pacar mama"
"Apa kamu sudah menanyakan langsung ke tante Lidia?"
Rea hanya menggelengkan kepalanya, Arkan kemudian mengacak-acak rambut gadis itu gemas.
"Nona Rea, jangan percaya suatu informasi kalau belum bertanya langsung ke yang bersangkutan, karena bisa saja informasi itu tidak benar"
"Begitukah?" tanya Rea
"Iya, itu juga berlaku untuk kita berdua nanti nya, kalau kamu dengar sesuatu tentang aku dari orang lain, lebih baik bertanya langsung, jangan kamu simpan terus cemberut kayak gini" Arkan menunjuk pipi Rea dengan jarinya
"Itu juga berlaku buat aku, kalau suatu saat nanti ada orang yang berkata yang tidak-tidak tentang dirimu, aku pasti akan bertanya dulu," imbuhnya
Gadis itu hanya tersenyum, ternyata calon suaminya sedewasa ini, padahal umur mereka tidak terpaut jauh, bahkan hampir sama, atau mungkin dirinya yang memang masih kekanak-kanakan.
Arkan mengantar Rea sampai depan pintu seperti biasa
"Bukalah" Rea menyuruh Arkan untuk membuka pintu apartemen miliknya.
"Apa?"
gadis itu menyilangkan kedua tangannya didepan dadanya.
__ADS_1
"Password nya tanggal jadian kita"
Arkan tersenyum senang mendengar kalau kode pintu rumah kekasihnya adalah tanggal, bulan, dan dua digit tahun jadian mereka.
"Kalau sampai gagal dalam sekali coba, habis kamu," ancam Rea
Tapi bukan masalah bagi Arkan, dia begitu mencintai calon istrinya tidak mungkin sampai lupa tanggal jadian mereka. Laki-laki itu menekan nomor kombinasi yang disebutkan kekasihnya sebagai password pintu itu.
Terdengar bunyi tanda pintu terbuka, Arkan memegang gagang pintu sambil membuat gerakan mempersilahkan Rea masuk, gadis itu tersenyum lebar.
Rea meletakkan tasnya di meja makan, mengambil gelas untuk minum, tangannya memegang tuas dispenser air, ketika Arkan memeluknya dari belakang.
"Apa tidak bau?" tanya Rea
"Kamu masih wangi meskipun belum mandi" Arkan mencium leher gadis itu
"Re..,"
"Hem"
Rea tersenyum mendengar cerita Arkan, bukan karena jika Arkan naik pangkat dia akan menjadi istri seorang general manager, tapi karena hal seperti ini yang bisa saja dia putuskan sendiri , laki-laki itu masih mau meminta pendapatnya.
Gadis itu membalikkan badannya, bersandar pada pantry meletakkan gelas lalu memeluk pinggang Arkan yang berdiri didepannya.
"Ambil saja kalau kamu memang berminat dengan posisi itu, aku pasti akan selalu mendukungmu"
Arkan tersenyum, menatap mata kekasihnya, membelai pipi gadis itu
"Kamu sadar ga kita masih memanggil nama satu sama lain, aku dan kamu, apa kamu tidak ingin memberikanku panggilan sayang?"
"Iya ya, aku ga sadar" gadis tertawa sambil melonggarkan pelukannya, tapi kemudian tangannya dipaksa kembali ke posisinya oleh laki-laki didepannya.
"Jadi kamu minta dipanggil apa?" tanya Rea
__ADS_1
"sayang, baby, honey atau apa?"
"Terserah , asal kamu yang manggil, aku pasti suka, panggil yang juga boleh"
"Oke, kalau kita sedang berdua aku akan memanggilmu sayang, tapi kalau didepan orang lain mulai sekarang aku akan memanggilmu dengan imbuhan mas, mas Arkan," ucap Rea sambil memainkan kancing kemeja Arkan
Arkan tersenyum "Kenapa mas?" tanya nya
"Karena aku harus menghormatimu sebagai calon suamiku didepan orang lain"
Ada perasaan yang tidak bisa digambarkan Arkan karena ucapan gadis yang dicintainya itu, sekarang yang bisa dia lakukan mencondongkan badannya ke arah gadis didepannya, kedua tangannya bertumpu diantara badan Rea yang sedang berdiri bersandar pada pantry , mencium bibir gadis itu dengan lembut.
"Coba panggil aku," ucapnya setelah melepaskan bibirnya dari bibir Rea
"Sayangku mas Arkan," ucap Rea sambil mengusap bibir laki-laki didepannya yang terlihat sedikit basah
Arkan tersenyum mendapat apa yang dia minta, kemudian mengulangi apa yang dia lakukan tadi, tapi kali ini dengan sedikit gigitan dibibir kekasihnya.
******
Axel masuk kedalam rumahnya, seorang pelayan mendekat menanyakan apa ingin disiapkan makan malam untuknya , laki-laki itu hanya menolak menggunakan tangannya, dia bergegas masuk ke ruang kerja papanya tanpa mengetuk pintu, melihat papanya sedang senyum-senyum sambil melihat ke arah ponsel yang sedang dipegangnya.
"Kekasih papa bernama Lidia kan?" tanya Axel tiba-tiba , membuat sang papa melihat ke arahnya dengan tatapan heran.
Axel adalah anak ketiga dari tiga bersaudara dari Jordan dan Almarhumah istrinya, kedua kakak perempuan Axel tinggal diluar negeri bersama suami mereka, satu orang diplomat dan satu orang bekerja disebuah perusahaan minyak, sebagai satu-satunya anak laki-laki dia terpaksa menuruti perintah papanya untuk bekerja di perusahaan keluarga, sampai perjodohan yang tidak dia inginkan pun sebenarnya didasari agar semua urusan perusahaan berjalan lancar, sayang pernikahan dengan putri gubernur gagal, mungkin bagi Jordan seperti kehilangan kesempatan emas, tapi untuk Axel dia sangat merasa bersyukur ditinggal calon istrinya kabur dihari pernikahan mereka.
"Panggil dia tante, tidak sopan memanggil orang yang lebih tua seperti itu Axel," ucap Jordan
"Papa bilang ingin mengajak aku bertemu tante Lidia untuk makan malam kan?" Axel sudah membenarkan panggilan nama ke kekasih papanya itu "tapi minta dia datang dengan anak perempuannya, setelah itu aku akan memenuhi permintaan papa kemarin"
Jordan menatap ke arah Axel penuh tanda tanya, kemarin dia memang meminta Axel ikut pergi makan malam untuk mengenalkan Lidia sebagai kekasihnya secara resmi, dan juga meminta Axel untuk memenuhi undangan makan malam orang tua Selena, mereka berkata ingin meminta maaf atas kelakuan anaknya dan juga ingin mendekatkan kembali Axel dan Selena, kedua orang tua egois yang masih saja memikirkan kepentingannya sendiri, namun permintaan itu di tolak mentah-mentah oleh Axel
"Untuk apa bertemu mereka lagi?, membuatku muak "
__ADS_1
Jordan mengingat kembali kata-kata anaknya, tapi kenapa dia bisa berubah pikiran sekarang, lalu apa maksud harus mengajak anak perempuan Lidia, belum sempat Jordan bertanya Axel sudah keluar dari ruangan itu, pria itu hanya bisa terheran-heran kemudian lanjut menatap ke arah ponselnya menulis sebuah pesan
"Maaf anak bujang yang gagal kawin datang mengganggu, oh ya besok kita makan malam bersama ya, ajak anak perempuanmu"