
Dengan posisi Bening dan Embun yang berada di tengah-tengah mereka, Rea menatap dalam wajah Axel yang terlelap, sudah hampir pukul tiga pagi. Namun, mata gadis itu masih enggan untuk terpejam.
Pikirannya sungguh tengah diliputi berbagai macam pertanyaan, haruskah menceraikan sang suami dan setelahnya ia bisa menjalin hubungan terbuka dengan Axel, tapi apakah benar hatinya sudah berpaling dari Arkan ke laki-laki itu? apa dia mencintai Axel atau hanya pelampiasan sesaat, lama Rea berpikir sampai akhirnya ia lelah dan terlelap sendiri.
***
Keesokan paginya Rea terkejut mendapati ketiga orang yang tidur bersamanya sudah tidak ada di sampingnya. Samar terdengar suara tawa menggemaskan Bening dan Embun dari luar.
Rea bermaksud melangkahkan kakinya keluar kamar, tapi sejenak ia kembali untuk melihat ponselnya yang berada di atas nakas.
[ Aku menyelesaikan urusanku lebih cepat jadi aku akan pulang sore ini, aku sudah merindukan kalian, aku mencintaimu sayang ]
Rea menghela napas kemudian mengusap wajahnya kasar, tangannya mulai mengetikkan pesan balasan untuk Arkan.
[ Apa ada yang ingin kamu makan? Aku akan menyiapkannya untukmu ]
[ Ada, aku ingin memakanmu ]
Rea melempar benda pipih di tangannya ke atas kasur, bingung.
"Kenapa?" tanya Axel saat melihat wajah Rea tertekuk.
"Mas Arkan pulang sore ini, sebaiknya kita berkemas untuk segera pulang ke rumah," jawabnya.
Axel terdiam mendengar ucapan Rea, ia seolah disadarkan dimana posisinya berada. Ax bisa saja menolak dan menuntut hal yang lebih ke gadis yang sangat dicintainya itu. Namun, dari awal menerima tawaran Rea untuk menjalin hubungan spesial, laki-laki itu sudah berjanji pada dirinya sendiri akan membiarkan Rea melakukan apapun sesuai keinginannya karena bagi Ax bisa sedekat itu dengan Rea sudah membuatnya sangat bahagia.
Sesampainya di rumah Axel hanya membantu Rea menurunkan barang dan menggendong Embun sampai ke kamar, tak lama setelah itu ia berpamitan untuk bergegas pulang.
"Terima kasih Ax untuk dua hari ini."
"Tak masalah, aku senang bisa menghabiskan waktu bersama kalian." Axel menepuk lengan Rea, tersenyum sambil melambaikan tangan dan membawa pergi mobilnya dari rumah sang selingkuhan.
Benar saja selang dua puluh menit dari kepergian Axel, Rea mendengar suara mobil sang suami masuk ke dalam halaman rumah, ia tidak segera bergegas menyambut Arkan, toh pintu rumah tidak dia kunci begitu pikirnya, gadis itu memilih untuk sibuk menemani kedua bayinya bermain di kamar karena ia terlanjur memberikan pengasuh Bening dan Embun libur tiga hari.
Arkan membuka kamar bayi kembarnya, tersenyum hangat mendapati sang istri tercinta sedang bercanda dengan kedua anaknya.
"Papa pulang." Senyum Arkan sambil merebahkan dirinya tengkurap di atas karpet dimana ketiga orang perempuan yang dicintainya sedang duduk.
"Apa kalian merindukan papa?" tanyanya sambil memegang sebelah tangan Embun dan Bening, Arkan kemudian menciumi tangan mungil itu gemas.
"Istirahatlah kamu pasti lelah, aku tidak sempat memasak jadi kita pesan layanan food delivery aja ya, kamu mau makan apa?" tanya Rea.
Arkan tersenyum membiarkan Bening dan Embun kembali bermain dengan buku bantal dan boneka mereka, ia merebahkan badannya lalu meluruskan kaki memakai paha sang istri sebagai bantalan kepalanya, netranya memandang jauh ke dalam mata Rea.
"Apa kamu masih marah? dua hari ini apa kamu tidak merindukanku? aku sangat merindukanmu." Arkan memiringkan badannya, membenamkan kepalanya di perut sang istri.
"Aku tidak marah," lirih Rea.
"Kamu masih marah, aku tau, lihat kamu masih tidak mau menyentuhku."
Merasa bersalah dan ragu, Rea perlahan membelai rambut sang suami, membuat Arkan semakin menenggelamkan kepalanya ke perut sang istri.
__ADS_1
"Nyaman," lirih Arkan yang membuat Rea semakin merasa ada sesuatu yang salah di dalam hatinya.
Rea dan Arkan masuk ke dalam kamar mereka sendiri setelah kedua bayi mereka tertidur, belum sampai pintu kamar tertutup sempurna Arkan memeluk Rea, menciumi dan menyesap ceruk leher gadis itu, Rea hanya bisa menggeliat menahan geli, tak menyangka sentuhan Arkan masih membuatnya bergairah.
"Kamu pasti belum makan, aku pesankan makanan dulu." Rea mencoba menghindar sadar dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Masih bergelayut dengan bibir yang mejelajahi leher sang istri, Arkan menggelengkan kepalanya," Aku tidak lapar, aku bilang akan memakanmu," bisiknya manja.
Arkan membalikkan badan istrinya, menangkup pipi gadis yang sudah mencuri hatinya sejak masih remaja itu, mencium benda kenyal ranum sang istri penuh kehangatan. Rea memejamkan matanya, seketika perasaan aneh kembali menjalar di hatinya, ia sadar benar bahwa dirinya masih begitu mencintai Arkan, tapi ada rasa sakit juga yang masih membekas di hatinya.
Bagi Rea mungkin marah akan selesai dengan kata maaf, tapi ia kecewa dan jika manusia telah dikecewakan meskipun bibirnya sudah berkata memaafkan namun rasa sakitnya masih akan terus membekas. Diam, air mata Rea jatuh berlinang.
"Kenapa?" tanya Arkan.
Rea menggelengkan kepalanya," Tidak apa-apa, hanya ingin menangis saja," ucapnya.
"Dasar masih saja kebiasaan anehmu," canda Arkan yang tahu pasti kebiasaan Rea, dimana gadis itu bisa menangis saat terlalu sedih atau bahagia, dan tentu saja Arkan berpikir bahwa sekarang istrinya sedang terlalu bahagia.
Laki-laki itu memeluk istrinya, mengajak gadis itu untuk melakukan ritual yang satu bulan belakangan sama sekali tidak mereka lakukan. Pasrah, bukankah memang begitu seharusnya. Rea membiarkan bibir Arkan bermain dengan leher dan dadanya. Namun, melihat sang istri yang tak seperti biasanya Arkan memilih berhenti, ia lantas berdiri.
"Aku tidak akan melakukan itu jika kamu memang tidak mau." Kecewa, Arkan memilih duduk di ujung ranjang membelakangi Rea yang masih terbaring di atas ranjang dengan kondisi sudah setengah telanjang, terlihat frustrasi Arkan menangkup kepalanya sendiri.
"Tanyakan padaku Re apa yang ingin kamu tahu, jangan lantas terus bersikap dingin seperti ini," ucapnya.
Rea terdiam, sama sekali tidak ingin membalas ucapan sang suami, ia merasa yang diinginkan Arkan saat ini hanyalah bercinta dengannya, gadis itu meringsek, memeluk tubuh Arkan yang masih duduk di tepi ranjang dari belakang.
"Aku hanya sangat merindukanmu tapi aku masih sedikit marah untuk mengakuinya," ucapnya sambil meraih kancing kemeja Arkan untuk melepasnya satu persatu, Rea memejamkan matanya dan mulai menciumi tengkuk sang suami.
"Aku mencintaimu." Rea melonggarkan pelukannya, membiarkan suaminya berbalik untuk melihat ke arahnya.
Tanpa aba-aba Arkan menindih tubuh Rea, jelas ada napsu yang tertahan begitu lama di sana, laki-laki itu menjelajahi setiap inci tubuh gadisnya, meninggalkan bekas merah keunguan yang seolah ingin ia jadikan tanda bahwa gadis itu hanyalah miliknya.
Rea memejamkan mata, merasakan kenikmatan saat milik sang suami bermain-main dengan inti tubuhnya, ia masih sangat menikmati setiap detik pergerakan Arkan di atas tubuhnya, sampai di ujung klimaks tubuh mereka menegang dan melemas bersama, Arkan berbisik mengucapkan kata cinta berkali-kali untuknya.
Ada dua tubuh polos di bawah satu selimut yang sama, Arkan masih mendekap erat tubuh Rea, menciumi pucuk kepala gadis yang tengah memejamkan mata di dalam pelukannya itu.
"Berarti besok Dewi dan Sari masih libur kan?" tanya Arkan yang hanya mendapatkan jawaban berupa anggukkan kepala dari Rea.
"Apa kamu mau pergi ke rumah papa besok?"
Rea menganggukkan kepalanya lagi meskipun sedikit terpaksa karena bagaimanapun rumah Andi akan selalu mengingatkannya pada Noah.
Arkan tersenyum sambil terus menciumi rambut istrinya, sesekali menghirup dalam-dalam aroma manis dari rambut Rea, "mama bilang sudah sangat merindukan Bening dan Embun," jawabnya.
_
_
_
_
__ADS_1
_
_
_
Q : tanya
A : Jawab
Q : Na na na, ini gimana sih si Rea, masa perempuan kek gini nemplok sana sini.
A : Ya emang ceritanya gitu guys, coba baca sinopsis, jelas ada kata Affair, apalagi judulnya Menikahi Bumi yang dicintai Langit.
Q : yang menikahi Bumi siapa?
A : Mas Arkan lah Rea kan namanya Andreadina Bumi Pradipta.
Q : terus langitnya siapa?
A : babang Axel lah kan namanya Axel Sky Jordan. Sky itu bahasa Inggris dari Langit
Q : Kukira Elang, kan Elang namanya Langit Biru
A : Mas Elang udah move on, dia mau kewong sama mba Kinanti.
Q : Terus gimana nih? loe ga ada ahklak bikin perempuan selingkuhin lakinya
A : Eleh ini kan cuma novel, Na bosen tau sama Pelakor, jadi Na bikin aja Pebinor
Q : Cerita loe bikin kesel aja deh ah
A : Kalau loe kesel Na malah bahagia, berarti yang Na tulis berhasil mengaduk-aduk emosi kalian
Q : Berapa lama lagi cerita novel loe ini? kapan tamat?
A : Pokoknya ini udah masuk konflik terakhir si Rea selengki sama Axel, Na panjangin bisa Na tamatin bisa, semau Na aja lah ya.
Q : Terus ni ntar ada adegan Rea ena-ena sama babang Axel ga?
A : Em.... gimana ya? kasih tau ga ya??
Q : tumben loe ngember di Novel loe biasanya cuma di GC
A : iya karena Alhamdullilah udah sampai Bab 120 novelnya
Jangan lupa Like ❤ Komen dan Vote ya, Suer Na ga dapat banyak duit dari NT/MT guys, novel ini cuma level 3 yang baca 1000 Na cuma dapat 300 perak, beli yupi dua biji aja ga dapet guys apalagi ngelirik kinderjoy di depan kasir alpa Na ga berani wkwkwkwkw.
Jadi support Na terus ya kalau bisa share cerita halu ini ke medsos kalian, semakin naik popularity nya Na udah bahagia.
Terima kasih
__ADS_1