
Senin Malam
Axel duduk diruangan bersama papanya, wajahnya datar terkesan kesal, dia sebenarnya tidak ingin pergi menghadari jamuan makan malam ini, tapi dia sudah berjanji kepada papanya kemarin sebagai balasan bisa pergi makan malam bersama Rea.
Seorang pelayan membuka pintu, tiga orang yang sudah sangat dikenal Axel masuk.
"Maafkan pak Jordan, kami malah datang terlambat," ucap bekas calon besan Jordan sambil menyalaminya.
Axel hanya tersenyum sinis, apalagi melihat wanita yang meninggalkan nya saat hari pernikahan tersenyum padanya, Axel memalingkan wajahnya.
"Silahkah duduk," ucap Jordan
"Bagaimana kabarmu Nak Axel?" tanya mama Selena
"Baik" ucap Axel sambil menundukkan sedikit kepalanya, sebenci apapun dirinya harus tetap menunjukkan rasa hormat kepada orang yang lebih tua.
Mereka menyantap hidangan tanpa banyak berbicara, sampai Jordan bertanya apa tujuan mereka mengundang dia dan anaknya makan malam.
Seketika pasangan suami istri yang ditanya menoleh ke arah anaknya. Selena meletakkan sendok kemudian membersihkan mulutnya.
"Om, mas Axel, saya ingin minta maaf karena kebodohan saya membuat om dan mas Axel merasa sangat dipermalukan, jika dimungkinkan saya ingin memperbaiki sikap agar kelurga kita bisa kembali berhubungan baik"
Axel masih cuek dengan apa yang dikatakan Selena.
"Lalu maumu apa nak Selin?" tanya Jordan
"Saya ingin menikah dengan Mas Axel, dan kali ini saya tidak akan melakukan hal bodoh lagi"
Suasana hening ruangan pecah karena hentakan sendok dan garpu yang diletakkan Axel dengan kasar di piringnya, sontak semua orang terkejut.
"Saya sudah tidak berselera dengan jamuan makan malam ini, dan sepertinya tidak ada yang perlu dibicarakan lagi" Axel bangun dari kursinya membungkuk ke arah papa dan mama selena
Pergi keluar ruangan sambil melonggarkan dasinya.
Karena anaknya sudah pergi, Jordan pun meminta maaf dan meminta membicarakan hal ini nanti saja setelah situasi membaik.
Selena hanya terdiam menunduk, melihat Jordan berdiri akan beranjak pergi pasangan suami istri itu ikut berdiri. Tidak bisa berbicara satu katapun, hanya bisa menatap laki-laki itu keluar pintu.
"Papa sudah menuruti permintaanmu untuk mengancam hotel XX dengan dalih ijin dan sebagainya, sebagai gantinya agar dia mau memecat gadis yang kamu maksud itu, kalau sampai kamu tidak bisa menikah dengan Axel, papa tidak akan memaafkan kamu"
Laki-laki itu membanting serbet dimeja makan kedepan anaknya, lalu keluar dengan muka merah padam, disusul istrinya yang tidak bisa melakukan apa-apa.
Selena mengehela nafas, raut wajah takut di mukanya tiba-tiba hilang, gadis itu tersenyum sinis, berdiri dari kursinya berbalik menuju pintu, tapi dia terlonjak kaget mendapati Axel yang sudah berdiri menatapnya dengan pandangan menusuk.
Axel mendekat, entah kenapa Selena takut dan mundur kebelakang sampai tubuhnya membentur meja makan.
"Apa yang papamu maksud Rea? apa yang coba kamu lakukan ke gadis itu?"
Tanpa sengaja Axel mendengar apa yang dikatakan papa Selena tadi.
Selana hanya bisa gemetar, kaget karena Axel mengenal gadis yang entah sejak kapan dia benci itu. Sementara Axel mengganggap Selena melakukan hal itu karena tau dia menyukai Rea.
__ADS_1
"Jawab!" bentaknya
Selana melonjak kaget, tapi hanya bisa diam, Axel mendekat mencengkeram rahang gadis yang sudah sangat ketakutan itu dengan tangan kanannya.
"Jangan pernah menyentuh gadis itu meskipun hanya seujung rambutnya, kalau kamu tidak ingin berurusan denganku," Axel menghempaskan cengkramannya lalu memyambar ponselnya yang ternyata tertinggal diatas meja.
Selana hanya bisa tertegun, berpikir kenapa Axel dan Arkan bisa manaruh hati ke gadis yang sama, dia merasa benar-benar benci ke Rea.
Axel berjalan keluar menuju mobilnya sambil menelpon seseorang.
"Cari tau siapa pemilik hotel XX, cari info segera"
****
Rea mengantar mamanya pulang, wajah mereka terlihat lelah tapi bahagia, bahkan mereka membeli beberapa barang yang sama, Lidia meminta anaknya untuk menginap, tapi Rea memilih pulang karena takut mereka malah akan begadang semalaman untuk mengobrol.
Sesampainya di apartemen Rea melirik jam tangannya, sudah hampir jam sembilan malam, dia masuk belum sempat menutup pintu, lampu ruang tamu sudah menyala.
Rea terkejut apalagi melihat kekasihnya sudah berdiri menyandar ditembok disamping saklar lampu, wajahnya terlihat masam.
"Sayang,sejak kapan disini?" tanya nya sambil melepas sepatu yang dia pakai
"Aku sudah menunggumu hampir 2 jam"
"Maaf HP ku mati, batrenya habis," ucap Rea sambil menunjukkan HPnya yang mati kepada Arkan.
"Itu bunga dari siapa?" Arkan menunjuk bucket bunga dimeja dengan menggerakkan dagunya.
"Itu duit lho, dari kemarin sudah disitu, apa kamu ga liat?"
Rea mencium pipi Arkan sekilas lalu duduk selonjoran disofa.
Arkan mendekat menyentuh bunga yang dimaksud "dari siapa?" tanya nya penasaran
"Axel,orang yang bersamaku di foto yang Selena kirim ke kamu, aku kan sudah cerita" Rea duduk kemudian meletakkan dagunya dipundak Arkan.
"Harusnya kamu cerita dari awal," ucap Arkan
"Aku pikir tidak penting untuk diceritakan"
Arkan menoleh ke arah Rea, gadis itu mengangkat dagunya.
"Mulai sekarang hal sekecil apapun harus kamu ceritakan ke aku, kalau tidak ingin membuatku salah paham, mengerti?" Arkan menyentuh dagu Rea dengan jari telunjuknya
"Wanna kiss my lip?" tanya Rea menggoda
"Sure" Arkan menyambar bibir gadis didepannya.
Entah sejak kapan, berciuman dengan Arkan membuat dia merasa ketagihan seperti ini.
Arkan melepaskan bibirnya, mebenturkan dahinya lembut ke dahi Rea, jika tidak berhenti dia takut terjadi hal-hal yang diinginkan, seperti yang kekasihnya pernah bilang.
__ADS_1
Masih dengan wajah yang begitu dekat "aku punya sesuatu," ucap Arkan yang berdiri menyambar sesuatu yang diletakkan nya dimeja kamar Rea.
"Kamu tadi tidur dikamarku?" tanya Rea heran
Arkan menganggukkan kepalanya "apa yang bisa aku lakukan? menunggumu lama sekali"
Arkan menghampiri Rea, membuka sebuah kotak berwarna merah yang dia pegang memperlihatkan nya kepada Rea sebuah kalung dengan bentuk rantai tipis berwarna silver, dengan liontin huruf R lambang cinta dan A yang menyatu.
"Apa huruf E nya habis saat kamu membelinya?" tanya Rea
Mereka tertawa mengingat gelang yang dulu pernah dibelikan Arkan untuk Rea saat masih duduk dibangku SMA.
"Tidak, aku memang ingin membuatnya seperti ini," jawab Arkan
Rea sudah menyibakkan rambutnya, Arkan mengambil kalung itu lalu membantu memakaikannya ke leher kekasihnya. Rea berbalik setelah kalung itu terpasang manis di lehernya.
Rea tersenyum sambil memegang dan memandangi liontin di lehernya
"Terima kasih sayang, ini cantik"
"Aku senang kalau kamu suka" Arkan menggenggam tangan Rea "oh ya ngomong-ngomong apa kamu tidak penasaran dengan jawaban untuk pertanyaanmu tadi pagi?" lanjutnya
Rea kemudian ingat pertanyaan yang belum dijawab kekasihnya saat dia menelpon tadi pagi.
"Penasaran, jadi kamu ingin kita punya anak langsung setelah menikah atau menundanya?" Rea memandang wajah Arkan terlihat antusias menunggu jawaban
Arkan menatap mata gadis yang sangat dicintainya itu.
"Aku tidak ingin menundanya, tapi bukankah memberi anak kepada pasangan yang sudah menikah adalah hak Tuhan, Tuhan tau kapan waktu yang tepat memberikan keturunan untuk setiap pasangan yang sudah menikah"
Rea terdiam mendengar jawaban dari Arkan "sejak kapan dia sedewasa ini" pikirnya
"Yang penting terus berusaha membuat adonannya setiap hari" lanjut Arkan
Sontak pikiran Rea tentang Arkan yang dewasa hancur seketika.
"Emang membuat anak sama seperti membuat kue" reflek gadis itu memukul badan Arkan dengan bantal sofa. Pukulannya berhenti saat Arkan memeluk dengan kedua tangannya membuat Rea tidak bisa bergerak.
"Oh ya apa Aryan tadi pagi ikut ke kantor dan tidur disana? Kenapa kamu bilang adikmu bangun?" tanyanya tepat didepan muka Arkan
Arkan mencoba menahan tawa, melepaskan pelukannya ke Rea, membenamkan mukanya ke bantal sofa yang sekarang sudah ada di pangkuan kekasihnya, meledakkan tawanya disana. Rea bingung melihat Arkan tertawa seperti itu.
“Masa kamu ga ngerti?” tanya arkan yang masih membenamkan mukanya dbalik bantal.
“Aryan ikut ke kantor? ga sekolah dia? bolos?” tanya Rea polos.
Arkan kembali tertawa terbahak-bahak.
"Adikku yang dibawah sayang, yang selalu aku bawa kemana-mana, ya Tuhan aku malu mengatakan ini," ucap Arkan.
Rea yang baru mengerti apa yang di maksud laki-laki itu ikut tertawa terbahak-bahak memeluk kekasihnya yang masih membenamkan mukanya ke bantal sofa dipangkuannya.
__ADS_1