
Pagi itu Rea datang kerumah Andi karena Laras menelpon dan berkata anak sulungnya sedang sakit, setelah menyapa dan berbincang sebentar dengan Laras gadis itu masuk kedalam kamar Arkan.
Ia kemudian duduk disamping ranjang sambil menatap Arkan yang terlihat tertidur, wajahnya terlihat merah. Rea merasa kasihan tapi tetap berniat melanjutkan rencananya untuk mengerjai kekasihnya sampai waktu yang sudah dia putuskan.
Gadis itu memegang kening kekasihnya, sedikit terkejut merasakan panas di telapak tangannya, saat Rea akan menarik kembali tangannya Arkan terbangun membuatnya sedikit terkejut dan cepat-cepat menyembunyikan rasa cemasnya.
"Kamu bisa sakit juga?" ujar Rea.
"Ngapain kesini?"
Arkan sudah berharap kalau gadis yang dicintainya itu menjawab ia datang karena mencemaskannya, tapi lagi-lagi dia harus menelan pil pahit.
"Aku mengadakan pesta malam ini, datang ya kalau keadaanmu memungkinkan," ucap Rea sambil meletakkan sebuah undangan didekat ranjang Arkan.
"Acaranya di rooftop SKY hotel," lanjut gadis itu sambil berdiri dan membenarkan letak tali tas dipundaknya.
"Ajaklah pacarmu, aku dengar kamu sudah hampir menikah."
Sontak pertanyaan Rea membuat hati Arkan mencelos, laki-laki itu merubah posisinya dari berbaring menjadi duduk sambil memandang wajah Rea.
"Jangan memandang aku seperti itu please aku udah pengen meluk kamu sayang."
"Aku ga punya pacar," jawab Arkan yang langsung menundukkan kepalanya.
Rea terdiam, dia tau Arkan pasti sedang sakit hati, tapi permainan belum berakhir untuk mengerjai laki-laki itu.
"Biarkan aku bermain-main denganmu sebentar lagi." bisiknya dalam hati.
"Baguslah kalau gitu kamu harus datang kepestaku, disana banyak teman-temanku yang masih single, siapa tau kamu berjodoh dengan salah satunya, aku pulang ya cepat sembuh."
Rea tersenyum kemudian keluar dari kamar Arkan, sementara laki-laki itu hanya bisa memandangi punggung gadis yang dikasihinya menghilang dibalik pintu.
Saat menuruni anak tangga Rea berpapasan dengan calon mertuanya, Laras meminta gadis itu untuk segera mengakhiri dramanya karena merasa kasihan melihat kondisi anaknya.
"Seperti yang sudah aku bilang tante, sampai Mas Arkan ulang tahun, hanya tinggal empat hari lagi," ucap gadis itu sambil mencium pipi Laras, kemudian berjalan keluar untuk pulang.
❤❤❤❤❤
Malam hari
SKY hotel terlihat ramai dengan puluhan mobil yang berjajar sampai didepan lobby, Rea benar-benar membuat pesta mewah dan mengundang semua temannya yang rata-rata para sosialita.
Rooftop hotel itu benar-benar berubah, ada sebuah panggung kecil dengan lampu-lampu yang dibuat sedikit temaram, hiasan bunga-bunga segar yang elegant dan beberapa meja makanan dan minuman mahal, tapi yang paling membuat bertanya-tanya para tamu yang datang adalah sebuah kotak kado berwarna merah berukuran besar yang ada didekat panggung.
Arkan terlihat datang, matanya berkeliling mencari keberadaan Rea tapi ia belum menemukan gadis itu disana, ia malah melihat Elang dan Ken yang sedang berdiri memegang gelas sambil mengobrol. Arkan berjalan mendekat ke arah mereka, tapi belum sempat ia menyapa tiba-tiba Master ceremony mulai berbicara.
"Good night ladies and gentleman, semoga kalian menikmati pesta malam ini, kita sambut sang tuan rumah Miss Andrea." ucap sang MC membuat semua mata tertuju ke arah panggung sambil bertepuk tangan.
Rea keluar dengan menggunakan gaun panjang berwarna gold dengan bukaan punggung lebar yang mengeksplor bagian tubuhnya yang mulus itu, dengan tatanan rambut half updo ia tersenyum manis ke arah tamu-tamunya.
"Kalian pasti bertanya-tanya untuk apa aku mengadakan pesta ini, aku juga tidak tau untuk apa, aku hanya ingin berpesta, jadi nikmati malam ini karena untuk kalian yang sudah mau hadir dan beruntung aku akan memberikan sebuah hadiah untuk kalian."
Gadis itu menepuk tangannya sekali dan kotak kado besar yang menjadi pertanyaan semua tamu disana terbuka, sebuah mobil SUV keluaran terbaru berwarna merah ada didalamnya.
Party popper dan kembang api bersahutan membuat tamu undangannya berteriak-teriak tak percaya.
Rea menerima satu gelas wine dari sang master ceremony "Enjoy this party!," ucapnya sambil menenggak minuman itu.
Semua orang bertepuk tangan, suasana benar-benar riuh.
Gadis itu tersenyum sambil mengedarkan pandangannya, ia masih menenggak wine ditangannya sambil melempar pandang dengan Arkan yang bediri heran dengan apa yang sedang ia lakukan.
"Luar biasa sekali adikmu," ucap Ken ke Elang.
"Dia memang gila kalau sedang kesal."
__ADS_1
"Memang dia kesal ke siapa?" tanya Ken penasaran.
Elang menunjuk kearah Arkan dengan matanya, memberitahu gadis itu siapa yang membuat adiknya kesal.
Rea berjalan mendekat menyapa teman-temannya yang sudah datang, ia kemudian berjalan hendak menghampiri Kanaya dan Mia, tapi tiba-tiba seorang laki-laki menghadang langkahnya.
"Apa kamu sedang bermain drama?" tanya Axel.
"Apa maksudmu?"
"Aku tau kamu pura-pura amnesia."
Rea mengernyitkan dahinya.
"Bagaimana mungkin kamu lupa dengan laki-laki yang seumur hidup berada didekatmu dan mengingatku yang bahkan belum ada satu tahun mengenalmu."
Rea hanya tertawa mendengar kalimat kakak tirinya.
"Hanya orang bodoh yang percaya kalau kamu benar-benar amnesia, termasuk laki-laki itu," Axel melirik Arkan dengan sudut matanya.
"Jangan mengatai dia bodoh, dia hanya terlalu baik," ucap Rea tidak terima mendengar Axel mengatai kekasihnya itu bodoh.
"Apa kamu mau aku membantu untuk lebih memperkuat aktingmu?," ucap Axel menggoda, satu tangannya sudah merengkuh pinggang Rea menarik gadis itu menempel kebadannya, sontak gadis itu membelalakkan matanya.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" bisik Rea.
"Diam saja!" perintah Axel.
Laki-laki itu mendekatkan bibirnya ke bibir Rea, mata gadis itu makin membelalak tak percaya, sementara Arkan sudah terlihat cemburu, Axel memalingkan wajahnya membisikkan satu kalimat ke telinga Rea.
"Jika ini berhasil membuatnya datang dan mendorong badanku, kau berhutang padaku," ucapnya kemudian Axel mencium pipi Rea.
Sontak semua orang terkejut, benar saja Arkan berjalan mendekat ke arah mereka, menarik Rea dari Axel kemudian mendorong laki-laki itu menjauh dari kekasihnya.
"Apa yang kamu lakukan? "bentak Arkan.
"Apa? Aku hanya mengucapkan terima kasih kepadanya karena sudah mengundangku malam ini," jawab Axel santai.
"Apa berterima kasih dengan mencium pipinya?" sanggah Arkan sedikit emosi.
"Tadinya aku malah ingin mencium bibirnya," ucap Axel sambil mengerlingkan sebelah matanya ke arah Rea sontak Arkan makin terlihat marah dan mendorong dada laki-laki itu.
Rea memegang lengan Arkan untuk membuatnya berhenti. "Jangan membuat onar dipestaku!" titahnya sambil berlalu meninggalkan kedua pria itu.
Rea mengibaskan kedua tangannya sebagai isyarat ke orang-orang yang baru saja melihat kejadian tadi untuk kembali menikmati pesta, dia mendekat kearah temannya mencium secara bergantian pipi Kanaya dan Mia.
"Ada bekas bibir Axel disini," seloroh Mia sambil mengelus pipi Rea.
Sontak ucapan gadis itu membuat orang disekitar mereka tertawa, kemudian Rea beranjak untuk bergantian menyapa teman-temannya yang lain, dia melihat Elang dan Ken yang menatap ke arahnya gadis itu tersenyum lalu mendekat.
"And the best actress of the year goes to Andreadina Bumi Pradipta," seloroh Elang yang mendapat cubitan di lengan dari adiknya.
Rea menyapa dan kemudian mencium pipi Kinanti, Elang yang melihat kemudian sedikit menunduk menyodorkan pipi kirinya, terang saja Rea langsung merengkuh pundak kakaknya dengan sebelah tangannya untuk mencium pipi laki-laki itu, Ken yang melihat hanya tertawa.
"Arkan melihat ke arah kalian," ucap Ken.
"Biarkan saja toh dia sudah tau kalau aku dan Rea sekarang hanya sebatas kakak adik," ucap Elang enteng sambil meletakkan gelasnya kenampan saat pelayan lewat didepannya.
"Dia mendekat," ucap Ken.
"Siapa?" tanya Rea, tubuhnya belum sempurna menoleh tapi tangan Arkan sudah menariknya untuk berjalan pergi dari tempat pesta.
"Kamu mau bawa aku kemana?" tanya Rea heran.
Arkan hanya diam tidak menjawab pertanyaan gadis itu, ia membawa Rea ke parkiran dan dengan paksa mendorong badan gadis itu masuk kedalam mobilnya, ia mulai menyalakan mesin tanpa menjawab pertanyaan Rea.
__ADS_1
"Pakai sitbelt mu!" perintahnya.
"Kita mau kemana?"
Arkan masih tidak mau menjawab pertanyaan Rea, tangannya menarik sabuk pengaman kemudian memasangkannya ke badan gadis itu.
Laki-laki itu membawa mobilnya sampai keluar kota, sudah hampir satu jam mereka hanya berdiam diri berdua didalam mobil.
"Pinjam HPmu," ucap Rea.
"Untuk apa?"
"Kamu menarikku pergi dari pestaku begitu saja, pasti tamuku sekarang sedang bingung, setidaknya aku harus menghubungi salah seorang temanku untuk menjelaskan kepergianku, aku bahkan tidak membawa dompet dan ponsel," ucapnya kesal.
Arkan merogoh kantong celananya kemudian memberikan ponselnya ke Rea. Tapi baru saja dipegang, Rea langsung mengembalikannya.
"Ada passwordnya,"
"Buka saja, passwordnya tanggal lahirmu,"
Rea kemudian mengetikkan tanggal lahirnya, dia sedikit tersenyum saat lock screen menyala dan melihat foto mereka berdua menjadi wallpaper ponsel itu.
Gadis itu kemudian menghubungi Elang meminta tolong untuk berbicara kepada MC dan menjelaskan ke tamunya alasan dia pergi dari pesta, setelah itu ia meletakkan ponsel Arkan di dashboard, melipat tangannya didepan dada memalingkan wajahnya kearah jendela mobil.
Mereka sampai disebuah pantai, Arkan meminta Rea turun, sontak gadis itu merasa kedinginan karena angin yang mengenai kulitnya apalagi dia memakai gaun yang terbuka lebar dibagian punggung.
Arkan membuka pintu belakang mobil mengambil jasnya berusaha memakaikannya ke Rea tapi ditolak, ia memberikan jas itu ke tangan kekasihnya tapi dikembalikan lagi kepadanya.
"Ga perlu," ucap Rea kesal.
Arkan menghela napas.
"Apa kamu benar-benar melupakan aku? Apa kamu benar-benar tidak ingat sama sekali tentang aku? tentang kita?" tanyanya.
"Memang siapa dirimu sampai aku harus mengingatmu?" jawab Rea sinis, sekarang dia tidak sedang berakting, gadis itu benar-benar kesal karena Arkan yang tiba-tiba membawanya pergi dari pestanya.
Arkan menjatuhkan jas yang tidak mau Rea pakai tadi, membuka sepatunya melepaskan jam tangan yang dia kenakan membuangnya begitu saja diatas pasir, ia lalu menggulung kemejanya sampai diatas siku.
Arkan berjalan mundur kebelakang sambil berbicara kearah Rea "Kita lihat apa kamu masih tidak bisa mengingatku, kalau aku mencoba mati didepanmu."
Rea mengernyitkan dahi tidak mengerti akan kalimat yang diucapkan laki-laki itu.
Arkan berbalik berjalan memunggungi gadis yang dia cintai menuju bibir pantai, sementara Rea masih terdiam bingung dengan apa yang diucapkan kekasihnya tadi.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Hey Reader Support Author dengan cara Like setiap bab dan tinggalkan komen ya, add to favorite kalian juga cerita ini, jangan lupa Vote bintang lima ❤❤
__ADS_1
Thank you