
Rea berjalan keluar dari apartemennya saat Axel mengirim pesan bahwa dirinya sudah menunggu dibawah, gadis itu tersenyum mendapati laki-laki dengan setelan jas berwarna krem berdiri bersandar pada pintu mobil sambil melipat kedua tangannya didepan dada, melihat Rea mendekat tangannya membuka pintu mobil yang dia sandari.
"Tidak lama menunggu kan?"
Axel hanya menaikkan sebelah pundaknya sambil tersenyum, Rea bergegas masuk kedalam mobil.
"Terima kasih sudah mau menerima ajakanku."
Axel mengangguk "memang kemana tunanganmu sampai kamu memintaku menemanimu pergi ke pesta pernikahan temanmu."
"Dia sedang ada Acara keluarga."
"Kasihan sekali dirimu, dia lebih menomor satukan keluarganya dari pada kamu."
Rea hanya tertawa tidak mau menanggapi serius olokan Axel.
"Setalah dari pesta aku ingin mentraktirmu sebagai ucapan terima kasih karena sudah benar-benar meminjamkan Yacht milikmu kemarin."
"Tapi ada yang lebih aku inginkan dari pada hanya sebuah traktiran darimu."
"Apa?"
"Kembalilah bekerja di Hotel."
Rea menghela nafas "Aku akan kembali jika pihak hotel memintaku kembali, tidak mungkin aku datang sendiri kesana, sudah cukup harga diriku tersakiti karena pemecatan tanpa alasan yang dilakukan hotel, aku tidak mau tersakiti lagi."
"Baik aku akan memberitahu pihak hotel untuk memintamu bekerja kembali."
Rea tidak menanggapi serius perkataan Axel.
Mereka turun dari mobil sesaat setelah sampai di hotel tempat resepsi pernikahan Celine, terlihat banyak tamu undangan yang juga sudah datang, antrian mobil masuk terlihat mengular, beruntung mereka mendapat tempat parkir dekat pintu masuk.
Axel terlihat menekuk lengannya saat Rea berdiri disampingnya, gadis itu tersenyum kemudian melingkarkan tangannya ke lengan laki-laki itu, setelah menulis nama dan memberikan hadiah pernikahan mereka masuk ikut mengantri untuk memberikan selamat pada Celine dan suaminya.
Banyak mata yang memandang ke arah Rea, beberapa orang tau kalau dia adalah anak perempuan dari keluarga Pradipta, tapi yang membuat mata orang-orang semakin tidak bisa berpaling darinya adalah laki-laki gagah yang datang bersamanya, semua orang kenal sosok Axel, pengusaha muda dengan prestasi yang patut dibanggakan.
Saat diatas panggung pelaminan papa Celine terlihat menjabat erat tangan Axel. Rea sedikit bingung karena mereka terlihat saling mengenal, apa mungkin semua pengusaha kenal satu sama lain pikir gadis itu.
"Apa dia calon kamu nak Axel?" tanya papa Celine.
"Iya om" jawabnya singkat.
“calon adik tiri,” batin Axel.
Membuat Rea yang sedang menjabat tangan suami Celine menoleh sedikit kebelakang mendengar percakapan dua orang itu, ia melihat Axel tersenyum, tapi kemudian Celine yang terlihat sangat cantik dengan gaun pengantinnya merengkuh badannya untuk memeluknya.
"Terima kasih ya udah datang,"ucap Celine.
Rea tersenyum memuji Celine yang terlihat mempesona, kemudian mereka berfoto bersama diatas pelaminan sebelum turun.
Kedatangan Rea dan Axel tidak luput dari pengamatan Kanaya dan Mia yang sedari tadi sudah mengawasi mereka dari bawah.
Mereka membiarkan Axel dan Rea menikmati beberapa hidangan sebelum mendekat dan mulai memberi Kode ke Rea untuk mengenalkan mereka ke Axel.
Ketiga gadis itu bergantian saling mencium pipi, Rea meletakkan piring makanan yang sudah selesai dia makan, memperkenalkan Kanaya dan Mia ke Axel, laki-laki itu tersenyum membuat dua orang gadis itu serasa meleleh.
Mereka sedikit berbincang, sebelum Axel berbisik ke telinga Rea akan pergi mengambil minum dan berbincang sebentar dengan orang-orang yang dia kenal.
"Ah Rea demi apa jantung gue serasa mau copot, kenapa dia bisa sekeren itu sih?" ucap Mia sambil mengehentak-hentakkan kakinya.
"Lebay banget loe ah," ucap Kanaya sambil menonyor lengan tangan Mia membuat gelas minuman yang dipegang Mia tanpa sengaja memuntahkan isinya mengenai bagian dada gaun Rea.
Sontak Kanaya merasa bersalah tak terkecuali Mia melihat Rea membelalakkan matanya melihat gaun berwarna kuning gading itu menjadi berwarna merah.
__ADS_1
Kanaya cepat-cepat mengambil tisu untuk mengelap dan membersihkan bagian baju Rea yang terkena tumpahan minuman tadi.
"Kayaknya aku harus ke kamar mandi deh, kalau Axel balik atau nyari'in aku bilang aja aku ke kamar mandi ya," pinta Rea kepada dua gadis yang terlihat sedang saling menyalahkan itu.
Rea membersihkan bagian bajunya dengan air, tapi sayangnya warna merah dari minuman soda yang tertumpah digaunnya sepertinya susah hilang.
Saat dia masih fokus didepan cermin seorang gadis yang dia kenal keluar dari kamar mandi, berjalan kedepan wash taffel, pandangan keduanya bertemu dipantulan cermin dihadapan mereka.
"Tentu saja, dia anak Gubernur pasti orang tuanya diundang," bisik Rea dalam hati.
Selena tidak berbicara satu patah katapun, begitu juga dengan Rea, baginya gadis itu bagaikan benalu pengganggu dalam wujud manusia.
Selena keluar dengan angkuhnya, tak berapa lama seorang wanita yang dia kenal dulu keluar dan mencuci tangannya didekat Rea.
"Karmila?" Sapa Rea dengan wajah sumringah.
Wanita itu melihat ke arah Rea, matanya menunjukkan dia sedang memutar otak untuk menemukan memori siapa nama gadis yang menyapanya itu.
"Rea?" jawabnya.
Rea buru-buru menarik beberapa lembar tisu untuk mengelap tangannya, menyodorkan tangan kanannya ke Karmila, wanita itu ragu tapi Rea langsung menarik tangan Karmila yang basah untuk bersalaman.
"Senang bisa ketemu teman lama," ucap Rea sambil tersenyum lebar.
"Teman?" bisik Karmila dalam hati.
"Kamu tinggal dimana? Sedang apa disini?" tanya Rea.
Namun belum sempat Karmila menjawab gadis menyebalkan tadi kembali lagi memanggil nama Karmila dengan nada sedikit meninggi.
"Mila ayo, kamu ngapain?"
"Iya Nona" jawab Karmila yang langsung melepaskan jabatan tanggannya ke Rea dan berlalu menyusul Selena.
Rea keluar dari kamar mandi menemukan Axel sudah berdiri didekat sana melipat tangannya didepan dada.
"Maaf tadi...."
Rea tidak meneruskan omongannya, Axel sudah melepas jas nya kemudian memakaikan jas itu ke badannya, membenarkan bagian depan agar menutupi dada Rea yang terlihat basah.
"Terima kasih"
"Kamu berhutang satu hal lagi padaku."
"Hem.. Apa lagi?"
"Gara-gara kamu aku bertemu dengan gadis yang paling aku benci."
"Selena?"
"Jangan sebut namanya" Axel terlihat tidak suka, membuat Rea tertawa.
"Kamu mengejekku?"
"Maaf," ucap Rea.
Mereka kemudian berjalan keluar untuk pulang karena tidak mungkin bagi Rea masuk kembali ke ruangan Pesta dengan kondisi berantakan.
“Ayo kita ke klub dulu, aku sudah berjanji untuk mentraktirmu,” ajak Rea.
“Tapi bajumu seperti itu.”
“Tidak apa-apa, ini sudah agak kering lagian kan ada jasmu yang menutupi.”
__ADS_1
Axel menyetujui ajakan Rea kemudian memutar mobilnya menuju Club yang biasa dia datangi dan juga beberapa kali didatangi Rea.
Mereka memilih duduk di bar bersebelahan, Rea terlihat menopang dagu melihat tangan bartender yang lincah meracik minuman, setelah selesai bartender itu menyodorkan dua gelas minuman dan satu piring buah potong ke depan Rea dan Axel, dengan cepat Axel mengambil dua buah strawberry dipiring dan memakannya, Rea tersenyum dia tau Axel pasti ingat soal ceritanya tentang intoleransi strawberry.
Gadis itu menenggak minumannya agak sedikit mengernyitkan mukanya, merasakan panas ditenggorokannya.
“Sejak kapan kamu mulai minum?”Tanya Axel.
“Aku hanya bisa minum sedikit tidak lebih dari dua gelas, ” ucap Rea.
“Kalau kamu kesini sendirian dan minum sampai mabuk mintalah bantuan dia,” Axel menunjuk seorang bartender dengan matanya kemudian mengangkat gelasnya ke arah laki-laki yang dimaksud, Rea melihat bartender itu tersenyum.
“Untuk apa aku datang kesini sendirian dan minum sampai mabuk? Apa aku sudah gila? Tidak ada yang perlu aku ratapi sampai harus berbuat seperti itu,” ucap Rea sambil mengambil sepotong buah melon di piring.
Axel hanya tersenyum sembari menenggak minumannya, memutar sedikit badannya ke arah Rea.
“Apa?” Tanya gadis itu.
“Kamu tau, penyesalan terbesarku adalah tidak menyapamu saat pertama kali aku melihatmu di taman Bale Residence sekitar 8 tahun yang lalu, saat itu aku melihat seorang gadis dengan earphone ditelinganya sedang berisitirahat setelah berolah raga ditaman, lalu aku melihat gadis itu disebuah akun gossip dengan dua orang cowok yang berbeda, ternyata dia anak seorang artis” Axel menenggak minumannya.
“Aku bahkan tidak tau kalau kita pernah bertemu,” ucap Rea.
Axel tersenyum “Jadi apa tunanganmu salah satu dari cowok yang bersamamu difoto akun gossip itu?”
“Hem…. iya, namanya Arkan.”
“Apa dia teman SMA mu?”
“Lebih dari itu, dia sahabatku sejak kecil.” Rea tersenyum.
“Jadi apa artinya sahabat jadi cinta?”
“Ya begitulah”
“Apa kamu yakin itu cinta? Atau hanya sekedar rasa nyaman karena sudah terbiasa?” Axel bertanya sambil menatap wajah Rea, gadis itu bingung dengan pertanyaan laki-laki didepannya.
“Tidak bisa menjawab?” ejek Axel.
“Aku mencintai laki-laki itu.” Jawab Rea sambil menatap wajah Axel, membuat hati Axel terasa tertusuk sembilu.
“Apa Om Jordan memintamu pergi ke butik untuk fitting baju?” Rea mengalihkan pembicaraan melihat wajah Axel yang terlihat menjadi tidak fokus.
“Ah ya, aku baru sadar kalau sebentar lagi akan punya mama baru,” ucap Axel sambil berpaling dari Rea menghadap meja bar dan kembali menenggak minumannya.
“Sebentar lagi aku juga akan punya satu lagi kakak laki-laki dan juga adik bayi.”
Mereka kompak menertawai kalimat Rea.
“Apa kamu punya kakak laki-laki? Aku pikir kamu anak tunggal.”
“Aku punya kakak, cowok satunya yang kamu lihat di foto akun gossip itu adalah kakak ku, namanya Langit.”
“Dia punya nama yang sama denganku meskipun beda bahasa,” Axel melambaikan tangan meminta satu gelas minuman lagi untuknya.
“Oh ya namamu kan Axel Sky Jordan,” Rea tertawa menatap ke arah calon kakak tirinya.
“Dari mana tau nama lengkapku? sepertinya aku tidak pernah memberitahumu.”
“Aku pernah melihatmu dicover sebuah majalah bisnis.”
“Aku keren kan?”
“Hem… kakak ku memang keren-keren, tapi lebih keren calon suamiku”
__ADS_1
Axel tersenyum kecut mendengar kalimat Rea.