Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Bab 154 EndVer2 MBYDL : 09


__ADS_3

Mohon baca BAB 133 bagi yang belum mengerti 🥰


Cerita Arkan dan Rea SUDAH TAMAT, ini ending versi KEDUA untuk Axel dan jelas SUDAH BERBEDA ALUR CERITA.


_


_


_


_


_


Duduk bersandar di kepala ranjang, Rea membiarkan Axel menjadikan pangkuannya sebagai bantal. Ada rasa bahagia sekaligus takut di dalam hatinya.Bahagia karena laki-laki yang dicintainya sekarang hanya berjarak beberapa centi darinya. Takut, Rea takut jika pada akhirnya harus terluka.


Membuka matanya, Ax tersenyum menatap Rea, lalu memiringkan badannya untuk menciumi perut gadis itu.


"Apa kamu sudah tahu dia laki-laki atau perempuan?"


Menggeleng, Rea mengusap rambut Axel, laki-laki itu meraih telapak tangannya, menciuminya penuh kerinduan.


"Aku belum pernah memeriksakan kandungan ke dokter," ucap Rea.


"Kenapa?" Mengernyitkan dahi, Axel mengusap pipi Rea.


"Aku takut kalian menemukanku, jujur aku tidak ingin bertemu sama sekali dengan mama,Elang, Ken, Arkan bahkan dirimu, aku berniat menyembunyikan anak ini dari kalian."


"Kenapa harus disembunyikan?"


"Aku takut anak ini dibenci Ax, aku tidak mau sampai itu terjadi."


Ax memandangi manik mata Rea yang mulai berkaca-kaca, menegakkan badannya laki-laki itu mengusap air mata Rea yang mulai menetes.


"Ayo pulang, kamu bisa tinggal di apartemen yang aku beli untuk kita, pikirkan Bening dan Embun, mereka butuh dirimu." Berucap lembut, tulusnya perlakuan Axel kepadanya membuat Rea hampir luluh.


"Bagaimana dengan perjodohanmu dan Mia? Ax, Mia sangat menyukaimu, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika dia tahu kita menjalin hubungan."


"Berhenti memikirkan orang lain Re! Apa kamu sadar? hubungan kita sudah egois sedari awal, jadi biarkan seperti itu juga untuk kali ini."


Menyebut hubungan yang egois, Rea tahu betul maksud dari ucapan Axel.


"Aku bisa melepaskan semuanya, jika kamu ingin kita tinggal dan hidup sederhana di sini pasti akan aku turuti, tapi sebelum itu kita harus menikah dulu, dan itu akan aku lakukan setelah anak kita lahir." Menggenggam tangan gadis yang dicintainya Ax seolah ingin meyakinkan Rea bahwa semua baik-baik saja.


"Soal papa dan mama, serahkan saja padaku," lanjut Axel.


Rea hanya terdiam, Ia masih takut dengan pandangan orang jika tahu dirinya hamil tanpa memiliki suami.

__ADS_1


"Aku takut dengan pandangan orang-orang," lirih Rea.


"Jika kamu memang ingin bersembunyi dari orang-orang sampai bayi kita lahir silahkan, tapi bersembunyilah di tempat yang masih ada dalam jangkauanku. Ayo kita pulang! dan turuti perkataanku, percayalah padaku Re! aku berjanji tidak akan pernah membiarkanmu terluka atau kecewa karena memilihku."


Mengangguk pasrah, jauh di dalam lubuk hatinya Rea ingin sekali menyandarkan hidupnya di pundak Axel, Ia merasa memang mencintai laki-laki itu, mungkin awalnya hanya cinta semu, tapi perlahan Ia mulai nyaman, karena pada hakikatnya semua wanita butuh kenyamanan.


***


Masuk ke dalam kamar setelah mandi, Rea tertawa geli mendapati Ax memakai celana milik suami Anisa, karena postur tubuhnya yang tinggi, celana itu seperti kekurangan bahan saat Axel memakainya.


"Apa tidak ada mall di dekat sini? aku ingin membeli beberapa baju." Axel merasa malu dengan penampilannya.


"Mall jauh butuh waktu setengah jam sampai kesana, salah siapa tidak bawa baju ganti," omel Rea.


"Setelah Elang menelpon dan memberitahu kamu ada disini aku langsung tancap gas, aku tak sempat berpikir untuk pulang ke rumah apalagi membawa baju ganti."


Rea memilih meninggalkan Axel di kamar seorang diri, gadis itu tidak bisa menyembunyikan tawanya.


"Re, aku mau keluar sebentar, apa mau ikut? atau ada yang ingin kamu beli? biar sekalian," Tanya Ax.


Papi Embun itu ternyata memilih memakai kembali bajunya kemarin dari pada memakai baju milik suami Anisa dan terlihat aneh.


Rea yang sibuk membantu menyiapkan makan siang di dapur menggeleng, memilih menjawab pertanyaan laki-laki itu dengan sebuah gerakan tangan mengusir Ax. Ia sedang sibuk belajar memasak dengan Bi Ulfa, mungkin untuk yang terkakhir kali karena Ia berencana pulang bersama Axel besok.


"Ibu, apa ada yang ingin dibeli?" pertanyaan Ax mengagetkan Bi Ulfa.


Axel kembali setelah tiga jam pergi dari home stay, membawa banyak barang dan Ia bongkar di joglo bersama anak-anak Anisa, laki-laki itu ternyata pergi ke Mall, membeli baju ganti dan membelikan beberapa barang sebagai pengganti oleh-oleh karena Ia tidak membawa apa-apa saat datang.


Mendekat, Rea duduk di kursi yang terbuat dari anyaman rotan, melihat kedua anak Anisa yang terlihat senang mendapat mainan, sepasang sepatu dan sebuah tas dari Axel.


"Apa kalian jadi pulang besok? apa kamu tidak lelah Ax?" tanya Anisa yang terlihat membantu sang anak mencoba sepatu yang dibelikan Axel.


"Kami bisa berhenti di jalan untuk istirahat Mba," jawab laki-laki itu sambil memandang ke arah Rea.


"Tidak ingin jalan-jalan dulu mumpung ada di Jogja?" goda Anisa.


Menatap Rea, jelas Ax ingin menjawab pertanyaan Anisa dengan kata ingin, apalagi bisa jalan berdua dengan gadis yang sangat Ia cintai.


***


Ax dan Rea saling berhadapan berbaring di atas ranjang, jelas mereka belum akan tidur karena jam baru menunjukkan pukul tujuh malam.


"Ax, tiba-tiba aku ingin makan gudeg."


Ucapan Rea membuat Ax melebarkan manik matanya, ia tahu betul gadis itu sudah makan malam tadi.


"Mau aku carikan?"

__ADS_1


"Hem, bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan?"


"Mba Anisa cerita kalau beberapa kali kamu harus ke bidan karena pendarahan, apa tidak apa-apa? aku takut kamu capek." Mengusap pipi Rea, Ax mencium kening gadis itu sekilas.


"Tidak apa-apa, sebenarnya ada hal yang ingin aku lakukan bersamamu," ucap Rea.


Menempuh perjalanan hampir setengah jam karena padatnya lalu lintas kota Jogja, Ax mengernyitkan dahi saat Rea mengajaknya ke alun-alun utara, dimana disana terdapat dua buah pohon beringin besar yang berdiri kokoh.


Axel semakin penasaran karena orang-orang sampai menyewa sebuah penutup mata kemudian berjalan dan berupaya melewati jalan yang berada diantara pohon besar itu.


Memutar kepalanya ke sana kemari, Ax mencari keberadaan Rea. Ia tersenyum saat gadis itu berjalan kembali mendekat ke arahnya sambil mengibarkan penutup mata yang Ia sewa seharga lima ribu.


"Aku ingin kamu mencobanya," ucap Rea.


"Tidak, aku malu. Bagaimana kalau aku tersesat seperti orang-orang itu."


Menunjuk ke beberapa orang yang tiba-tiba berbelok dan berjalan tak sesuai arah dan ditertawakan orang-orang, Ia tidak ingin terlihat konyol.


"Ayolah Ax, kamu bisa berjalan sambil mengucapkan harapanmu, aku akan berjalan di belakangmu." Tanpa menunggu persetujuan Axel, Rea menarik pundak Ax agar mau sedikit menunduk agar dia bisa memakaikan penutup mata itu.


"Jalan!" Rea mendorong tubuh Ax dan laki-laki itu mulai berjalan, berusaha melewati dua pohon beringin tua itu sambil mengucapkan harapannya di dalam hati.


Semua orang yang berada disana terlihat memandang ke arah Axel, sementara Rea tersenyum sambil terus mengikuti langkah kaki laki-laki itu yang tiba-tiba berbelok saat tepat hampir sampai masuk ke jalan diantara dua pohon itu.


Ax membuka penutup matanya, melihat wajah Rea yang sedikit kecewa.


"Apa artinya permohonanku tidak akan terkabul?" tanya Ax penasaran.


Rea terkekeh, tak menyangka Ax akan begitu sangat percaya dengan mitos.


"Apa permohonanmu?" Rea masih tersenyum, merapatkan diri ke arah Axel.


"Aku ingin kita hidup bahagia bersama anak kita."


_


_


_


_


_


_


__ADS_1


__ADS_2