
Rea masih santai keluar masuk toko yang ada di mall, melihat sebuah toko jam tangan dia masuk kemudian melihat-lihat jam yang tertata rapi dietalase.
"Bisa lihat yang ini?" ucap Rea bersamaan dengan seorang wanita yang tangannya juga sama menunjuk ke arah jam tangan pria yang Rea maksud.
Rea menoleh melihat wanita disampingnya.
"Kamu?" Rea terkejut melihat orang yang pernah menyiram air ke mukanya.
Celine tidak kalah kaget.
"Sudahlah untuk apa bertengkar seperti anak kecil" ucapnya
Rea tersenyum mengejek "seperti nya kamu sudah sadar"
Mereka berdua kemudian berbicara bersamaan sekali lagi
"Saya ambil ini!" sontak mereka saling pandang
"Saya duluan ya mba"
"Ga bisa saya yang nunjuk duluan"
"Eh..tangan gue yang nempel duluan kok"
"Ga bisa pokoknya saya yang duluan liat ni jam"
"Ga mba saya pokoknya"
Mba penjaga toko bingung mendengar kedua wanita didepannya itu bertengkar memperebutkan sebuah jam tangan, ia sudah ingin menyela perdebatan mereka, tapi takut kena marah dua gadis yang nampak bermusuhan itu, tapi akhirnya penjaga toko itu memberanikan diri.
"Tenang mba, kami masih ada stok untuk model ini"
"Tapi saya ga mau warna yang lain, saya mau persis kayak gini," ucap Rea
Celine tak mau kalah dia juga ingin yang sama persis.
Akhirnya pelayan toko menelpon kesalah satu cabang di mall lain, meminta untuk diantarkan jam yang sama.
"Udahlah ini buat gue, loe nunggu jam yang lagi on the way , gue harus buru-buru balik," ucap Rea
"Ogah, emang yang sibuk cuma loe?" balas Celine
Akhirnya manager toko datang membantu melerai, dengan sopan meminta mereka duduk dan menunggu jam yang sedang diantar datang, agar bisa di packing bersamaan, jadi tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Kedua gadis itu akhirnya menurut.
Mereka duduk disofa saling berjauhan, Celine sibuk melihat-lihat sebuah katalog, sementara Rea membuka HPnya, melihat pesan dari Arkan.
"Kamu lagi dimana?" ~ Arkan
"Di mall, belanja, kenapa? Apa Ingin ditemani makan?" ~ Rea
"Enggak, aku ada meeting, mungkin lembur" ~ Arkan
__ADS_1
"Jangan lupa besok jam 4 kita ada janji" ~ Rea
"Oke" ~ Arkan
"Tumben dia cuma Jawab oke."
Rea berbicara sendiri tapi terdengar sampai telinga gadis yang sama-sama berada disana.
"Apa kekasihmu sedang marah? makanya kamu belikan dia hadiah," tanya Celine
"Itu kamu, aku hanya ingin membelikan kekasihku hadiah tidak ada alasan apa-apa," jawab Rea ketus
"Iya aku harus baik-baikin dia, takut kalau dia marah terus batalin pernikahan yang tidak lama lagi, uh... Jangan sampai terjadi" Celine merasa merinding, meletakkan katalog yang dia pegang kemudian mengusap-usap lengan nya.
"Apa kalian sudah dapat hotel?" tanya Rea
"Sudah" jawab Celine
"Baguslah, apa persiapan pernikahan kalian lancar?" tanya Rea
"Ya begitulah pasti ada drama nya, Oma ku bilang kalau orang yang akan menikah pasti punya cobaan masing-masing sebelum pernikahan, tinggal pasangan yang mau menikah itu sanggup atau tidak menghadapi cobaan itu," ucap Celine
Seorang penjaga toko meletakkan secangkir teh didepan mereka berdua, Celine mengambil miliknya.
Rea tertegun mendengar omongan Celine, mereka kemudian mengobrol layaknya teman, penjaga toko sampai heran kenapa tadi diawal mereka harus bertengkar kalau sekarang bisa seakrab itu.
Selang dua puluh menit jam yang diantar datang, selesai membayar Rea dan Celine keluar toko bersama.
"Seperti nya kamu orang yang baik," ucap Celine.
"Bagaimana kalau kita jadi teman? berikan nomor HPmu!" Celine memberikan HPnya ke Rea.
Rea mengetikkan nomor nya di HP milik Celine, dia merasa de Javu ada gadis yang meminta nomor HPnya seperti ini, tiba-tiba dia teringat Kinanti.
Selesai dari mall Rea pergi ke sekolah model milik ibunya, dia naik ke studio atas, na'as bukan cogan dan brondong yang dia dapat, tetapi anak-anak yang masih imut berumur sekitar 5 sampai 8 tahun, Rea tertawa geli sendiri, dia melihat mamanya menggunakan tank top berwarna pink dan celana trainning panjang berwarna hitam, sedang menginstruksikan sesuatu ke pelatih, mamanya masih terlihat begitu seksi untuk ukuran wanita seusianya,
Rea berjalan masuk ke ruangan yang biasa dipake untuk kantor, melihat mantan manager mama nya dulu, yang sekarang menjadi manager sekolah model itu.
"Tante Dona," Sapa Rea ke wanita yang tengah sibuk menghadapi laptop nya.
"Hai..." Dona berdiri mencium pipi Rea kemudian memeluknya.
"Tumben banget kesini, lama tante ga lihat kamu"
Rea hanya tersenyum kemudian duduk disofa yang ada disana.
"Oh ya tante sibuk ga? "
"Enggak kok, kenapa?"
"Kalau gitu bentar ya tante" Rea berlari keluar ruangan berpapasan dengan mamanya.
__ADS_1
"Heh.. belum juga ketemu udah mau pergi lagi" hardik Lidia
"Bentar ma, mau ambil barang bentar" Rea sudah berlalu menuruni anak tangga
Rea kembali ke ruangan mendapati mamanya sudah ada disana, Lidia dan Dona melotot melihat apa yang Rea letakkan di atas meja.
"Ini duit?" tanya Dona
Rea hanya menganggukkan kepala.
"Dapat dari mana kamu Re, dari Arkan?" tanya Lidia penasaran
Anaknya hanya menggelengkan kepala "dari orang gila," jawabnya
"Orang gila mana yang bisa ngasih bucket duit kayak gini?" Lidia penasaran mendekat menyentuh bucket itu "eh.. bener lho Don duit"
Dona kemudian ikut mendekat memastikan yang dikatakan Lidia.
"Nah ini harus nya ada tujuh puluh juta, aku mau minta tolong tante Dona sama mama buat bukain ini bunga satu-satu, buat dihitung bener ada tujuh puluh Juta ga"
Lidia dan Dona saling pandang.
"Duh PR banget sih Re, terus duit nya mau dipake buat apa kalau udah dibuka?" tanya mamanya
"Buat besok pas ada acara pengajian dirumah ma, buat dikasih ke adik-adik panti"
"Kalau kayak gitu kenapa sih harus dibuka satu-satu, kamu beli aja kotak souvenir, terus tinggal diambil aja ni bunga duit nya, masukin kotak, kasihin deh" Dona memberikan ide yang menurut Rea sangat cerdas.
"Iya ya tante, bener juga"
Lidia sudah mengambil satu bunga kemudian dia buka, dia lihat, dia raba, dia terawang.
"Eh duit asli lho Don, bener" sambil memperlihatkan uang yang sudah dibuka itu kepada Dona.
"Kalau ga asli gue gampar lah yang ngasih ma"
"Emang siapa yang ngasih sih?" Lidia masih penasaran
"Orang gila, udah dibilang juga"
Rea mengambil bucket bunga dari meja.
"Yawdah Kalau gitu aku balik aja ya"
"Lha cuma buat gini aja kemari?" tanya Lidia
"Iya lah ma, emang mama pikir buat apa?"
Rea mencium pipi Dona kemudian mamanya, Rea mendorong pintu kemudian keluar, mamanya yang hampir kelupaan akan sesuatu mengejar dan mengeraskan volume suaranya.
"Jangan lupa minggu kita makan malam bersama, kamu sudah janji"
__ADS_1
Rea berbalik kebelakang, bucket yang dia bawa agak menutupi wajahnya, gadis itu menjulurkan lidah ke arah mamanya.
"Dasar anak kurang ajar," gumam Lidia