Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 22


__ADS_3

Sabtu siang Rea sudah berdandan rapi memesan taxi untuk pergi ke rumah calon suaminya, menatap ke arah ponsel nya, dari kemarin Arkan sama sekali tidak mengirimkan pesan. Dia bergegas turun karena taxi yang dia pesan sudah datang.


Didalam taxi Rea mengetikkan pesan untuk Arkan, belum sempat dia kirim sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dia kenal.


"Rea ini Celine, simpan nomorku ya! " ~ Celine


Rea seketika melupakan pesan yang dia tulis untuk Arkan, lebih tertarik membalas pesan Celine.


"Baiklah, Bagaimana pre-wedding mu?" ~ Rea


"Aku bingung dengan konsep, oh ya apa kamu tau designer gaun yang recommended, aku agak ga suka sama designer ku yang sekarang" ~ Celine


"Em.. Ada nanti aku kirim kontaknya, sekarang aku lagi on the way, mau bertemu Event organizer untuk acara lamaran ku" ~ Rea


"Oke kalau gitu, semoga lancar" ~ Celine


Rea baru mau melanjutkan mengirim pesan ke Arkan, tapi dia urungkan karena sebentar lagi sampai kediaman laki-laki itu.


Sampai disana Rea hanya disambut seorang pembantu rumah tangga, dia bertanya saat melihat rumah terlihat sepi, ternyata calon mertuanya sedang pergi menghadiri pesta pernikahan kolega mereka, sementara Aryan pergi main bersama temannya, Rea naik ke atas pergi ke kamar Arkan, dia mengetuk pintu tetapi tidak ada balasan dari dalam, akhirnya dia membuka pintu kamar kekasihnya, melihat calon suaminya itu sedang tidur dengan posisi miring membelakangi dirinya yang sedang berdiri diambang pintu.


Rea mendekat, duduk diatas ranjang menyandarkan dagunya di lengan Arkan, menyentuh pipi dengan jarinya membangunkan laki-laki yang sedang tidur itu.


"Sayang.., Arkan... bangun donk, kita kan udah Janji mau pergi," ucapnya lembut


Arkan membuka matanya kaget mendapati sudah ada Rea disampingnya  "jam berapa?"


"Jam 3, kamu baru tidur ya?"


"Enggak udah tidur dari tadi, semalam aku ga bisa tidur"


"Kenapa, apa kamu sakit?" Rea menyentuh kening Arkan


"Bukan disini" Arkan memindahkan tangan Rea ke dadanya "tapi disini"


"Kenapa? dadamu sakit? Apa kita ke dokter aja?" tanya Rea Cemas


"Gapapa, nanti aku ceritain" Arkan beranjak ke kamar mandi meninggalkan Rea dengan sebuah tanda tanya di pikirannya.


Selesai Mandi Arkan turun kebawah melihat Rea yang duduk disofa, meminta nya menunggu, selang beberapa menit  dia masuk kedalam membawa helm memberikannya ke kekasihnya. Gadis itu menerima helm tetapi menatap heran ke arah Arkan.


"Katanya kemarin pengen naik motor, ayo" Arkan menarik tangan Rea.


"Iya sih, aku kira kamu ga akan inget dan aku kira cuma bercanda"


Arkan sudah naik ke atas motornya, memasang helm, kemudian membantu Rea memakai helmnya


"Sekecil apapun permintaan kamu, ga akan ada yang aku anggap bercanda," ucapnya

__ADS_1


Gadis itu tersenyum malu, kemudian naik ke motor, Arkan menyentuh tangan Rea, memintanya untuk melingkarkan tangan di pinggangnya. Rea hanya menurut bibirnya tidak berhenti tersenyum dari tadi.


Saat bertemu EO, mereka benar-benar serius berdiskusi membicarakan konsep acara lamaran, terutama Rea, Arkan sampai heran melihat gadis disampingnya sangat antusias. Meskipun dia tau gadis disebelahnya tidak mungkin kabur meninggalkan dirinya seperti Selena meninggalkan calon suaminya dihari pernikahan, tapi ada sedikit rasa tidak percaya kepada Rea dihatinya, dia masih menganggap gadis itu tidak sepenuhnya memberikan cinta kepadanya.


Rea masih serius mendengarkan teman EO nya berbicara, tapi tiba-tiba menggenggam tangan Arkan seolah-olah tau apa yang sedang laki-laki itu kawatirkan.


Teman Rea sudah beranjak pergi tapi mereka masih duduk dicafe berdua, Rea melirik jam tangan kemudian melonjak kaget.


"Sayang, ada orang yang mau anter TV sama temen-temennya kerumah, ya Ampun aku lupa"


"Jam berapa? "


"Sekarang"


Arkan geleng-geleng kepala, karena gadis disampingnya terlalu antusias membicarakan konsep lamaran sampe lupa ada janji lain, untung naik motor jadi mereka tidak begitu terkena macet dijalan, meskipun sudah buru-buru orang dari toko electronic yang mengantarkan barang sudah disana, sedikit terlihat kesal. Rea meminta maaf berkali-kali kemudian memberi uang tips agar mas-mas yang mengantar tidak marah lagi.


Arkan bengong melihat dua buah TV yang dibeli calon istrinya, dua-duanya berukuran 52 inch yang satu ditaruh diruang tengah dan yang satu di dikamar tidur.


Arkan duduk diujung kasur melihat TV besar dihadapannya.


"Sayang apa ini tidak berlebihan?" tanya nya


"Kalau kamu duduk disitu memang terlihat besar, coba dari sini, apalagi sambil tiduran," ucap Rea yang duduk didekat sandaran kasur.


"Oh ya katanya mau cerita, kenapa dadamu sakit" gadis itu sudah berdiri didepan Arkan yang duduk diujung kasur menunjuk dada Arkan dengan jarinya.


Arkan merogoh HP dari kantong celananya, memperlihatkan foto yang sontak membuat Rea kaget, tidak mungkin Arkan meminta orang mengikutinya.


"Selena" Arkan manjawab ragu


"Apa kamu masih menyimpan nomor gadis itu?" Rea terlihat kesal


"Aku lupa menghapus nomornya"


Rea sedikit tidak percaya dengan jawaban kekasihnya.


"Laki-laki ini calon suami yang ditinggal Selena kabur dihari pernikahan nya," ucap Rea


Arkan terkejut mendengar jawaban Rea.


"Aku tidak sengaja bertemu dia disana, apa ini yang membuat dadamu sakit dan tidak bisa tidur?" Rea mendecih kesal.


"Bagaimana mungkin nomor Selena masih kamu simpan, apa kamu sebenarnya punya perasaan ke gadis itu?" Rea marah bergerak menjauh dari Arkan.


"Kalau aku cerita hal lain yang laki-laki itu lakukan ke aku, mungkin kamu tidak bisa tidur lagi malam ini," ucap Rea


"Apa maksudmu?" Arkan terkejut mendengar perkataan kekasihnya, menarik tangan gadis itu untuk tidak pergi menjauh.

__ADS_1


"Dia memberiku bucket bunga yang terbuat dari uang senilai 70 juta"


Arkan benar-benar terkejut "apa dia bilang dia menyukaimu?"


"Kenapa? Apa kamu penasaran?, aku sudah bertemu dia beberapa kali"


"Ceritakan dimana dan bagaimana kalian bertemu!" pinta Arkan


"Tidak akan, aku akan membuatmu tidak bisa tidur lagi malam ini"


Rea melepas tangan Arkan, mengambil tasnya kemudian keluar kamar menuruni anak tangga, Arkan tau Rea marah, mengejar gadis itu.


"Kenapa kamu malah marah?" Arkan memegang tangan gadis itu lagi, tapi secepat kilat dihempaskan sang empunya begitu saja.


"Re...,tunggu mau kemana ini sudah malam," bujuknya


"Kamu tau ada yang bilang setiap orang yang mau menikah pasti akan mendapat cobaan dari Tuhan, mungkin Tuhan ingin tau apakah layak atau tidak mereka menjadi pasangan sehidup semati, aku sudah bilang hapus nomor Selena, lihat apa yang dia coba lakukan lagi ke kita"


Arkan terdiam


"Aku sedang memintamu untuk tidak menambah-nambahi cobaan sebelum pernikahan kita"


Rea berpaling berjalan keluar, langkahnya terhenti saat Arkan memeluk pinggang nya dari belakang.


"Maaf, please jangan marah"


"Lepas, aku mau pulang"


"Biar aku antar"


"Aku bisa naik taxi"


"Lihat lah barusan kamu bilang cobaan sebelum pernikahan , kalau kamu marah begini berarti kita sudah kalah dengan cobaan pertama"


Kata-kata Arkan membuat Rea sedikit berpikir.


"Maafkan aku, sayang maafkan aku, lihat aku, jangan marah seperti ini," bujuk Arkan


Gadis itu ternyata sudah menangis yang membuat Arkan merasa bersalah, membalikkan badan Rea kemudian memeluknya.


"Maaf," ucapnya lagi


"Lihat lah bagaimana wanita itu ingin membuatmu membenci ku, dan kamu masih saja menyimpan nomor nya"


"Namanya Axel, dia bukan siapa-siapa, kenapa sampai membuatmu tidak bisa tidur dan dadamu sakit"


"Iya maaf, sudah jangan menangis lagi" Arkan menepuk-nepuk punggung Rea.

__ADS_1


Setelah Rea sudah tenang, mereka duduk disofa bawah yang sudah dilebarkan mirip kasur, memandang televisi yang bahkan tidak menyala.


Rea akhirnya bercerita dimana saja dirinya bertemu Axel, Arkan hanya bisa mendengarkan sambil sesekali minciumi rambut gadis yang menggelayut manja di pelukannya, sedikit merasa bersalah.


__ADS_2