Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 125


__ADS_3

Anak kecil bernama Gema itu duduk sambil menatap ke arah para orang dewasa yang tengah mengelilinginya di meja makan, meskipun raut kebingungan sudah terlihat hilang dari wajahnya tetapi anak itu masih tak banyak bicara.


Rea menyodorkan segelas susu ke dapan bocah laki-laki itu, mengusap rambut Gema dan memintanya untuk segera menghabiskan susu dan sarapannya. Rea lalu duduk sambil memperhatikan anak itu, jika dilihat wajah Gema memang sedikit mirip dengan Elang.


"Apa kamu tahu dimana alamat rumahmu?" Tanya Elang tanpa basa-basi.


Gema menganggukkan kepala, menjawab pertanyaan Elang dengan sebuah alamat tempat tinggal.


"Kamu tahu siapa nama papamu?"


Anak itu mengangguk lagi, "Farhan," jawabnya sambil mengambil gelas susu yang berada di depannya kemudian menenggaknya sampai habis.


"Gema, kalau boleh tante tahu mama kemarin bilang apa pas ngajak Gema ke rumah kakak Elang?" Ken yang datang bersama kekasihnya ke rumah Rea terlihat berhati-hati untuk bertanya ke anak umur enam tahun itu.


"Mama bilang ikut papamu yang kurang ajar itu," ucapnya polos.


Ke empat orang dewasa yang berada dalam satu meja makan itu terlihat saling pandang. Bagaimana artis bernama Selomita itu bisa berkata seperi itu kepada anaknya sendiri. Arkan terlihat menggelengkan kepalanya, melarang Elang, Ken dan istrinya untuk memberikan pertanyaan lagi ke anak itu.


Selesai sarapan Rea meminta Gema untuk bermain bersama Bening dan Embun di kamarnya, sementara mereka masih duduk di meja makan dan membicarakan perihal anak itu.


"Ya Tuhan, kenapa aku harus menemui hal ini dalam hidupku lebih dari sekali?" keluh Rea setelah menenggak habis air minum untuk mendorong sarapannya masuk ke perut, menyandarkan punggungnya ke kursi meja makan sambil menatap piring sarapannya yang sudah kosong.


Elang menghembuskan napasnya berat, ia berkata tak habis pikir jika benar memiliki adik kandung yang masih berumur enam tahun.


"Coba bayangkan menjadi diriku! aku malah memiliki adik yang masih berumur dua setengah tahun," gerutu Rea.


Setelah cukup lama terdiam mereka akhirnya memutuskan untuk membiarkan Gema berada di rumah Rea hari itu bersama pengasuh Be dan Bu juga Kinanti yang membantu untuk mengawasi.


"Hanya sampai jam dua siang, setelah itu aku harus pergi ke rumah sakit," ucap Ken ke sang calon suami.


"Tenang saja! setelah berhasil aku hubungi, papa bilang malam ini beliau sudah akan sampai rumah." Elang menepuk pundak Ken dengan mimik wajah meyakinkan.


Kinanti menganggukkan kepalanya, melepaskan ketiga orang terdekatnya untuk pergi ke tempat kerja mereka masing-masing.

__ADS_1


***


"Senang bisa mengantarmu berangkat kerja lagi seperti ini." Arkan tersenyum, tapi tak ada balasan dari sang istri yang tengah sibuk dengan ponsel di tangannya.


Arkan yang merasa diabaikan oleh Rea terlihat kesal, menyambar ponsel sang istri saat mobilnya berhenti di lampu merah.


"Apa sih?" Rea kesal menatap Arkan yang tengah memegangi ponselnya. Melihat pesan Rea dengan seseorang disana alis mata laki-laki itu menjadi berkerut.


"Aku sedang membahas koleksi terbaru RM jewelry dengan Mia." Rea merebut ponselnya dengan paksa.


Arkan terpaksa melepaskan benda elektronik berbentuk pipih milik sang istri dari genggamannya, lalu kembali fokus untuk memegang kemudi dan membawa mobilnya menuju hotel tempat sang istri bekerja.


"Kenapa kamu tidak fokus saja ke bisnismu itu dari pada harus bekerja lagi seperti ini? kita bisa bekerja sama untuk memasukkan RM ke RBB market, untuk sekarang baru dua toko perhiasan yang secara official bekerja sama dengan kami."


"Nanti aku bicarakan dulu dengan Mia karena saat ini kami berniat mendirikan sebuah kantor, aku dan Mia berencana mendirikan website untuk menjual perhiasan kami secara online," sambung Rea.


"Wah apa ini artinya pinanganku mengajak bekerja sama langsung ditolak mentah-mentah olehmu?" Arkan menggeleng-gelengkan kepalanya seolah tak habis pikir, tetapi bibirnya tersenyum sambil memandang sekilas ke arah istrinya bertanda bahwa dirinya hanya bercanda.


Sesampainya di depan Sky hotel, Arkan membantu sang istri membuka sit belt nya, perlahan mendekatkan wajahnya ke muka Rea. " Kamu cantik banget sih, melihat pipimu pink seperti ini aku menjadi gemas," bisiknya sambil menunjuk pipi sang istri yang berwarna merah muda karena blush on yang dipakainya.


"Aku kan sudah bilang, aku itu memang sudah cantik dari dulu, kalau aku tidak cantik mana mungkin kamu mau sama aku," tegas Rea.


"Jangan berdandan cantik seperti ini lagi besok!"


"Kenapa?"


"Aku takut Axel akan semakin jatuh cinta padamu." Arkan mencium bibir Rea sekilas. "Lihat! apalagi kamu sampai membawakan sarapan untuknya, dia pasti akan berpikir yang tidak-tidak dengan kebaikan hatimu." Arkan melirik tas berisi beberapa kotak makan yang dibawa Rea untuk Axel di jok belakang.


"Sayang, kenapa tidak kamu carikan saja kakak tirimu itu seorang kekasih? atau jodohkan saja dia dengan Mia," ucap Arkan


"Apa kamu cemburu? apa selama ini kamu tahu bahwa Ax menyukaiku?" Rea melebarkan matanya penasaran dengan jawaban yang akan suaminya berikan.


"Cemburu, bagaimana mungkin aku tidak tahu? semua orang juga sudah tahu bahwa Ax punya perasaan lebih kepadamu, bukan sekedar rasa sayang seorang kakak laki-laki ke adik perempuannya."

__ADS_1


"Lalu kenapa kamu membiarkan aku bekerja disini? seharusnya kamu melarangku?"


"Aku tidak ingin menolak apapun yang kamu inginkan, bahkan jika suatu saat nanti kamu menginginkan nyawaku pasti akan aku berikan dengan senang hati." Dalam laki-laki itu memandang wajah sang istri.


Rea hanya bisa terdiam, memandang mata suaminya yang terlihat benar-benar hanya dipenuhi oleh rasa cinta kepadanya, tanpa sadar air matanya menetes membasahi pipinya.


"Kenapa menangis?" Arkan tertawa melihat istrinya yang tiba-tiba begitu tersentuh dengan ucapannya tadi, dengan ibu jarinya ia hapus buliran air mata di pipi istrinya lembut.


Rea merasa bersalah dan seolah semakin terjebak dengan perasaannya sendiri. Lama mereka berdua berada di dalam mobil, sampai seorang petugas keamanan hotel mendekat dan mengetuk kaca jendela Rea. Tersadar, ternyata antrian mobil di belakang mobil Arkan sudah mengular.


"Aku masuk dulu, hati-hati di jalan!" ucap Rea.


"Aku mencintaimu, selamat bekerja." Arkan tersenyum meraih tangan sang istri dan memberikan kecupan di punggung tangannya, senyum laki-laki itu semakin lebar tatkala melihat sang istri yang sudah kembali mengenakan cincin pernikahan mereka.


Rea tersenyum ke petugas keamanan, membungkukkan sedikit badannya untuk meminta maaf, di dalam ruangannya gadis itu langsung membuka ponsel, mengecek apakah ada pesan dari Axel disana. Nihil, bahkan laki-laki itu sudah beberapa hari tidak menanyakan kabar anaknya Embun.


Rea sudah hampir masuk ke dalam lift menuju lantai dimana ruangan Axel berada, tapi seorang petugas kebersihan yang baru saja dari sana berkata bahwa laki-laki itu sedang tidak berada di ruangannya.


Dengan sedikit keraguan Rea mengirim pesan menanyakan keberadaan Axel, tak ada jawaban dan entah mengapa hatinya tiba-tiba menjadi gelisah, ia mencoba menelpon sang papi Embun itu berkali-kali, sampai dipercobaan ke lima panggilannya berhasil diterima oleh sang kekasih gelap.


"Kamu sedang berada dimana Ax? aku membawakan makanan untukmu, apa kamu sudah sarapan?"


Seketika wajah Rea berubah menjadi panik mendengar suara orang lain yang menjawab panggilannya dan jelas suara itu bukan milik Axel.


"Re, ini Nic teman Ax, apa kamu ingat? syukurlah kamu menelpon."


"Hai Nic, dimana Axel?"


"Ax sedang dilarikan ke rumah sakit."


"Apa?"


Terkejut, Rea langsung berlari keruangannya untuk menyambar tasnya, gadis itu buru-buru keluar dari hotel untuk mencari taksi menuju rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2