Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 87


__ADS_3

Di sebuah Mall terlihat para wanita dengan dress code berwarna putih berkumpul didepan sebuah toko perhiasan, mereka adalah para tamu undangan dari Rea dan Mia. Hari itu mereka akan meresmikan pembukaan cabang kedua toko perhiasan mereka.


Berbalut dress putih ketat dengan crop blazer warna senada, Perut Rea terlihat menonjol, seakan memberi tahu teman-temannya tanpa perlu berkata bahwa dia tengah mengandung.


Arkan yang meluangkan waktu pergi ke acara istrinya terlihat mengobrol dengan para suami teman Rea. Sesekali melirik ke arah sang istri, yang masih bisa memberinya servis yang memuaskan tadi pagi meskipun berkata merasakan morning sickness lagi.


Tepuk tangan riuh menggema saat Rea dan Mia secara simbolis memotong rangkaian pita berbunga yang menjadi tanda resmi dibukanya toko mereka yang diberi nama "RM Jawelry". Mereka juga sudah membooking sebuah restoran oriental di mall itu untuk memanjakan lidah para tamunya.


Ucapan selamat dari para tamu undangan silih berganti diterima Rea dan Mia, Mereka dan para tamu kemudian masuk untuk melihat-melihat berbagai macam perhiasan yang RM Jawelry tawarkan. Tak tanggung- tanggung mereka memberikan souvenir berupa giwang ke para tamunya yang sudah menyempatkan datang.


Rea merasa sesak, wajahnya terlihat sedikit pucat, ia memilih keluar dari toko untuk mengambil udara bebas. Arkan yang melihat istrinya mengibas-ngibaskan tangannya didepan wajah memilih mendekat.


"Kenapa?" Tanyanya khawatir.


"Sayang, bisa carikan aku aromatherapy, aku mual," pinta Rea.


Arkan kemudian bergegas pergi mencari apotik yang biasanya ada dilantai dua.


Rea memilih menjauh dari kerumunan, berjalan sedikit terhuyung menuju kamar mandi, ia melihat Axel mendekat dengan jas berwarna coklat yang dia kenakan, potongan rambut laki-laki itu terlihat baru.


"Sial! kenapa dimataku dia terlihat begitu tampan," gumam Rea.


Axel berdiri tepat didepan Rea, bibirnya yang semula tersenyum seketika berubah masam, saat gadis itu menarik jas yang dia kenakan lalu mengeluarkan isi perutnya disana.


Mulut Axel menganga, Rea masih menunduk tapi tangannya bergerak merogoh saputangan dikantong jas Axel yang ada didepannya untuk mengelap bibirnya, ia merasa lega setelah muntah dijas Axel, wajahnya terlihat mulai normal tidak sepucat tadi.


Axel berada dalam bilik ruang ganti sebuah toko baju kerja pria, menatap pantulan dirinya didepan cermin sambil mengancingkan kemeja yang tengah ia pakai. Bibirnya tersenyum mengingat ucapan Rea setelah mengotori jasnya tadi.


"Maaf Ax, aku sudah tidak tahan tapi sepertinya Bubu tau papinya akan datang menyelamatkan ibunya, aku muntah di waktu yang tepat," ucap Rea.


"Bubu? Papi?" Axel mengernyitkan dahi.

__ADS_1


"Hem, Aku memberi nama panggilan untuk anakmu, aku panggil dia Bubu." Rea tersenyum, Axel sudah tidak bisa menahan perasaan yang ada didalam hatinya, ia lantas tertawa terbahak-bahak.


"Lalu apa tadi? papi?" tanya Axel heran.


"Iya, aku sudah memutuskan kelak Bubu akan memanggilmu papi, karena panggilan papa sudah menjadi milik mas Arkan."


"Bahkan kamu sudah memberi nama mereka sebelum lahir?" Axel masih tak percaya karena Rea ternyata mengakui keberadaan anak darinya.


"Iya bayi mas Arkan Bebe dan bayimu Bubu," ucap Rea sambil membuat satu garis manis dibibirnya.


Axel keluar dari toko, membawa paper bag berisi baju kotornya, setelah berjalan lima langkah ia mendapati Arkan berdiri didepan toko seperti sedang menunggunya. Mereka kemudian berbincang disebuah coffee shop yang masih berada di Mall itu.


"Rea sepertinya sudah mau menerima anakku yang ada di kandungannya," ucap Axel.


"Ia menyayangi keduanya, mungkin dia berkata Bubu bayimu dan Bebe bayiku tapi percayalah dia tidak membedakan antara anakmu dan anakku." Arkan menyesap secangkir kopi yang ada didepannya.


"Yang harus kita pikirkan sekarang adalah membuat Rea bahagia sampai melahirkan anaknya, tapi aku ingin membahas ini dari awal denganmu," lanjut Arkan.


"Membahas apa?" Axel menegakkan badannya, ia menebak Arkan pasti ingin mengatakan sesuatu yang serius.


Axel melebarkan manik matanya, tidak percaya dengan apa yang laki-laki didepannya ucapkan.


"Maksudmu kamu ingin menjadikan anakku sebagai anak kandungmu?" tanya Axel.


"Benar, bagaimanapun anakmu dan Rea adalah anak hasil diluar hubungan sah suami istri, alangkah lebih baik jika dia menjadi anak kami agar kedepannya tidak ada yang mempertanyakan statusnya. aku tidak akan menghalangi dirimu untuk menemui anakmu nanti, aku juga akan memberitahunya bahwa kamu adalah ayah kandungnya." Arkan menatap wajah Axel dengan pandangan tegas.


Axel sejenak berpikir sebelum menjawab.


"Baiklah, tapi ijinkan aku sesekali ikut menemani Rea kedokter kandungan untuk melihat keadaan bayiku juga," ucap Axel.


Arkan menganggukkan kepala, bertanda menerima permintaan laki-laki itu.

__ADS_1


❤❤❤❤❤


Rea tengah berbaring sambil melihat layar monitor yang menunjukkan kedua bayi kembarnya. Namun, Kinanti terlihat mengernyitkan dahi.


"Re, detak jantung satu bayimu lemah," ucap Ken.


Arkan yang menemani sang istri terlihat terkejut "Apa ada masalah?" Wajahnya terlihat khawatir.


"Apa kamu sudah merasakan gerakan bayimu?" tanya Kinanti.


"Tadi pagi saat Mas Arkan menciumi perutku aku merasakan dia bergerak, tapi aku tidak tau apakah Bebe atau Bubu," ucap Rea cemas. Ia tidak ingin sesuatu terjadi pada bayinya dan Arkan.


"Aku sebenarnya tidak ingin menyarankan ini, karena pasti mungkin berat untuk kalian, tapi libatkanlah Axel, sesekali mintalah dia mengajak bayimu berbicara, seperti yang Arkan lakukan, karena kita tidak tau apakah Bubu atau Bebe yang sering merespon." Saran dari Kinanti membuat Rea menggenggam erat tangan Arkan.


Setelah memeriksakan kandungannya, Rea dan Arkan memilih pergi ke rumah Jordan dan memutuskan untuk menginap disana. Semua keluarga inti sudah mengetahui perihal masalah mereka, baik Andi Laras maupun Lidia Jordan memilih untuk menghormarti keputusan anak-anak mereka.


Rea menggoda Ale yang sedang duduk di high chair nya sambil menikmati makanan pendamping ASI yang disuapkan oleh Lidia. Axel terlihat baru pulang , Ia kaget melihat Rea yang berada disana.


"Arkan mana?" tanya laki-laki itu.


"Mas Arkan sedang keluar membeli susu untukku, kami akan menginap disini malam ini," jawab Rea sambil terus sibuk mengajak Ale bercanda agar mau membuka mulutnya.


Saat malam datang Mereka berkumpul di ruang keluarga, Rea duduk sambil memangku buah yang belakangan seolah menjadi makanan pokoknya. Arkan kemudian menjelaskan hasil pemeriksaan kandungan Rea tadi, meminta Axel untuk mengajak bicara bayi di kandungan istrinya.


Arkan berdiri agar Axel bisa duduk disebelah Rea tapi laki-laki itu memilih untuk duduk dibawah. Rea memposisikan badannya senyaman mungkin.Axel memandang ke arah Arkan ragu.


"Tidak apa-apa," ucap Arkan sambil duduk kembali disamping sang istri, melingkarkan tangannya dipundak Rea.


Perlahan Axel membelai perut Rea, mendekatkan bibirnya ke perut gadis itu, menciumnya lembut lalu berbisik "Hey Bubu dan Bebe ini Papi."


Hening, tidak ada respon dari janin didalam sana. Semua orang terlihat harap-harap cemas. Axel kembali berbisik "Papi sayang kalian."

__ADS_1


Sebuah gerakan membuat Rea tersentak "Apa kalian lihat?" tanya Rea sambil tertawa bahagia, memandang ke arah suaminya yang langsung memberikan kecupan penuh cinta dikeningnya.


Axel hanya terdiam, Ia tiba-tiba merasakan hangat dihatinya. Ada sebuah harapan yang agak serakah dihatinya, Ia benar-benar berharap andai saja Rea adalah istrinya.


__ADS_2