
Rea sedang membuka lemari bajunya memilih beberapa model yang dirasa paling pas untuk dikenakan diacara temannya, saat ia tengah sibuk ponsel yang ia letakkan diatas nakas berbunyi, ternyata sebuah panggilan masuk dari Celine.
Gadis yang pernah bertengkar dengannya itu menelpon untuk memastikan apakah Rea sudah meminta ijin kepada calon suaminya,
Rea berkata bahwa Arkan mengijinkannya, suara Celine terdengar gembira lalu ia mengingatkan Rea untuk membawa bikini.
Mereka berbincang agak lama, Rea terlihat tertawa kecil sebelum mematikan ponselnya. Gadis itu kemudian mengambil dua buah bikini yang satu bermodel one piece dan yang satu bermodel two pieces.
“Entahlah mana yang mau dipakai, yang penting bawa dua model,” ucapnya.
Gadis itu melanjutkan memilih baju yang dia rasa cocok dipake di acara bridal shower Celine. Tak selang berapa lama pintu apartemennya mengeluarkan bunyi terbuka, Rea buru-buru keluar menengok meskipun dia sudah tau pasti siapa yang datang kesana.
"Kamu bawa apa?" Rea penasaran dengan kardus berbentuk persegi dan beberapa kantong plastik yang dibawa Arkan.
"Ayo kita barbeque-an ala drama yang kamu lihat disini," jawab Arkan sambil tersenyum.
Rea sontak kegirangan, kemudian mendekat melihat bawaan calon suaminya, kardus itu ternyata berisi sebuah kompor portable dan alat pemanggang, ada bermacam-macam potongan daging dan minuman kaleng di kantong plastik yang Arkan bawa.
"Aku tau kamu masih menginginkan makan ini, jadi aku bawakan sama persis seperti kalau kita makan di restoran, maaf tidak bisa memenuhinya tadi siang," laki-laki itu sudah memeluk kekasihnya dari belakang menciumi pipi dan leher wanita pujaannya yang sedang memasukkan beberapa minuman dan ice cream kedalam kulkas .
"Aku juga tau situasinya seperti apa, lalu bagimana keadaan Wika apa dia baik-baik saja?"
Tidak ada jawaban, Arkan sudah berjalan ke arah pintu balkon apartemen kemudian membukanya.
"Ayo kita makan disini saja biar asapnya tidak membuat bau ruangan," ucapnya.
Akhirnya mereka berdua memilih duduk dilantai balkon dengan meja kecil dihadapan mereka sebagai pemisah. Arkan mulai mengolesakan mentega ke panggangan, meletakkan beberapa slice daging, suara daging yang terkena mentega panas benar-benar membuat Rea menelan ludah, tangannya mengambil daging dengan sumpit kemudian meniupnya sebentar, setalah itu ia mengarahkannya ke mulut Rea.
“Enak,” ucap Rea dengan nada yang dibuat-buat sesaat setelah daging masuk ke dalam mulutnya.
Arkan tertawa melihat kelakuan calon istrinya yang ia rasa begitu imut, pantas dia tidak bisa berpaling ke wanita lain baginya Rea adalah sosok gadis sempurna, mereka menimati makanan sambil terlibat perbincangan.
“Jadi kapan kamu mau berangkat ke XX untuk acara temanmu?”
“Lusa,” jawab Rea sambil mengunyah makanan dimulutnya.
“Menginap dihotel mana?”
Rea menyebutkan salah satu nama hotel di kota yang menjadi tujuannya.
__ADS_1
“Acaranya ada jalan-jalan juga sih, Celine bilang dia menyewa satu van atau bus kalau ga salah,” terang Rea.
“Apa kamu tidak ingin ke rumah tante Maya? Siapa tau Elang sudah pulang dari New York.”
Rea meletakkan sumpitnya mendengar kalimat Arkan.
"Bagaimana kalau aku bertemu dengan Elang, pasti akan canggung, apalagi sudah 7 tahun kami tidak bertemu."
"Kenapa musti canggung? dia kan kakakmu" Arkan menyuapkan daging ke mulut Rea lagi.
"Apa kamu tidak cemburu?" tanya Rea penasaran.
Arkan ikut meletakkan sumpitnya menatap kedalam mata kekasihnya.
"Bukankah cemburu itu tanda cinta, kalau kamu tidak cemburu berarti kamu tidak benar-benar cinta sama aku," lanjut Rea sambil memegang sumpitnya kembali untuk membalik potongan daging di atas pemanggang.
"Tentu aku cemburu, tapi logikaku masih bisa diajak kompromi, Elang kakak kandungmu untuk apa aku cemburu kepada calon kakak iparku? dan apa aku boleh bertanya?" lanjut Arkan.
"Hem.. Apa?"
"Apa dulu saat menjadi pacar Elang kamu pernah bilang mencintainya?”
Rea hanya memandang Arkan sambil memasukkan daging kedalam mulutnya, lalu menggigit ujung sumpit di tangannya.
Rea cemberut, menyuapkan daging lumayan banyak ke mulut Arkan agar laki-laki itu diam.
"Sayang apa kamu mau ke dokter spesialis organ dalam bersamaku setelah aku pulang dari acara Celine?" tanya Rea tiba-tiba.
Arkan mengernyitkan dahinya “Apa kamu sakit?”
"Enggak, aku cuma ingin meminta dokter membelah dadaku untuk menunjukkan kepada kamu, kalau hatiku penuh dengan nama kamu," ucap Rea.
Sontak Arkan tertawa mendengar perkataan Rea yang sedikit gombal, sambil meneggak kaleng minuman soda didekatnya.
*****
Selesai makan mereka membiarkan balkon sedikit berantakan karena pembantu dari rumah ayah Rea akan datang untuk bersih-bersih besok. Mereka memilih bergeser ke sofa, menikmati ice cream cone yang dibawa Arkan untuk dinikmati berdua.
Rea menggigit es krim itu, menoleh ke arah Arkan untuk memawarinya, tapi mulut kekasihnya sudah mendekat menggigit ujung satunya, Rea sontak kaget.
__ADS_1
Tangan Arkan seketika menyingkirkan es krim yang menghalangi bibir mereka, kemudian menempelkan bibirnya ke bibir Rea, gadis itu merasakan dingin manisnya es krim dari bibir Arkan.
Pelan-pelan bibir Arkan mulai mencium bibir Rea, gadis itu terlihat tersenyum mengikuti hasrat dan nalurinya, entah kenapa ciuman itu terasa menggairahkan tidak seperti biasanya semenjak pagi tadi dia melihat kalau Arkan benar-benar seksi, Rea sampai memindahkan badannya duduk diatas kedua paha Arkan. Melingkarkan tangannya ke leher Arkan dengan masih memegang cone ice cream sang biang keladi ciuman mereka.
Seperti biasa mereka berhenti saat sama-sama kehabisan napas.
Rea menempelkan dahinya di dahi Arkan, mencium bibir laki-laki itu sekilas kemudian sedikit menjauhkan wajahnya berbisik ke arah Arkan.
"Aku berjanji akan mengatakan kalimat yang ingin kamu dengar, di saat suasana benar-benar romantis mungkin bisa dibawah rintik hujan atau dibawah temaram senja," ucap Rea.
Arkan hanya mengangguk kemudian mengulangi mencium bibir kekasihnya lagi, beberapa kali terlihat mereka mengubah posisi kepala, menandakan betapa mereka menikmati ciuman itu berdua.
Rea tersentak karena es krim ditangannya mencair mengenai kulitnya, membuat mereka tertawa.
Gadis itu turun dari atas Arkan, mengambil tisu untuk mengelap lelehan es krim ditangannya, memberikan ice cream ke Arkan yang langsung melahapnya.
"Oh ya bagaimana keadaan Wika? Kamu belum menjawab tadi" tanya nya setelah membuang tisu bekas ke tempat sampah
Raut wajah Arkan berubah.
"Dia kehilangan bayi nya," ucap Arkan
"Keguguran? dia benar hamil?" Rea terlihat kaget "apa karena KDRT yang dilakukan suaminya?"
"Aku sudah meminta keluarganya melapor ke pihak yang berwajib, karena ini sudah merupakan tindakan kiriminal"
"Pasti menyedihkan sekali, Wika pasti sangat terpukul, aku tidak mau sampai mengalami hal yang sama seperti yang dia alami," ucap gadis itu.
"Tidak mungkin lah sayang aku melakukan KDRT ke kamu" Arkan menarik tangan Rea yang sedari tadi masih berdiri setelah membuang sampah untuk duduk dipangkuan nya.
"Bukan itu," Jawab Rea
"Lalu apa?"
"Kehilangan bayi yang aku kandung, aku tidak akan pernah mau mengalami hal itu"
Arkan menatap mata Rea, tersenyum kemudian membelai pipi gadis itu “Aku yakin semua wanita tidak ingin kehilangan bayi yang mereka kandung, apalagi hasil buah cinta dengan orang yang mereka cintai,”
Arkan menyandarkan kepalanya ke dada Rea lalu bertanya “apa kamu ingin membuat bayi sekarang?” godanya.
__ADS_1
Rea meloncat dari pangkuan Arkan “No...No...,tunggu beberapa bulan lagi”
Arkan hanya bisa tertawa dan bergegas pergi dari apartemen calon istrinya, sebelum setan membisikkan ke telinganya untuk melakukan sesuatu yang lebih.