
Mohon baca BAB 133 bagi yang belum mengerti 🥰
Cerita Arkan dan Rea SUDAH TAMAT, ini ending versi KEDUA untuk Axel dan jelas SUDAH BERBEDA ALUR CERITA.
_
_
_
_
_
Berpamitan kepada Pak Rahmat dan keluarganya, Rea mengucapkan banyak terima kasih karena mereka mau menjaganya selama ini.
Bergandengan tangan Ax dan Rea keluar dari home stay itu, berharap bisa memulai langkah baru awal hidup mereka berdua.
Sembilan jam perjalanan tak membuat rasa lelah menyapa keduanya, yang ada hanyalah rasa bahagia yang terlihat dari wajah Rea dan Axel, keduanya sudah berjanji satu sama lain untuk menghadapi segala masalah bersama.
Membuka mata dihari berikutnya, Rea meneteskan air mata mendengar suara Bening dan Embun di apartemennya, memeluk kedua anaknya yang tenah bermain di atas karpet, Rea menangis tergugu. Ada perasaan bersalah yang besar di dalam hatinya.
Mencoba menenangkan diri, Rea semakin terkejut melihat Elang, Kinanti dan Arkan berada disana. Berdiri, Ia menghampiri ketiganya dan Ax yang juga terlihat berdiri tak jauh dari sofa.
"Gadis nakal," Elang berdiri memeluk erat adiknya, seperti anak kecil yang menyesali perbuatannya, Rea meminta maaf berkali-kali.
Melepaskan pelukannya, Ia mendekat ke arah Arkan yang juga terlihat berdiri, laki-laki itu mengangguk, seolah ingin berkata bahwa semua baik-baik saja.
Memeluk Arkan, Rea juga meminta maaf ke mantan suaminya sekaligus berterima kasih karena menjaga Bening saat dirinya pergi.
Ax yang melihat hanya terdiam sambil melipat kedua tangannya di depan dada, saling bertukar pandang dengan Arkan. Jelas Ia sangat malu dan merasa bersalah karena telah menjadi perusak rumah tangga laki-laki itu.
"Ax bilang kamu belum pernah memeriksakan kandunganmu ke dokter, temui aku malam ini," pinta kinanti sebelum dirinya pergi dari apartemen Rea.
Mengangguk, Rea mengucapkan terima kasih ke kakak iparnya itu. "Pasti aku akan datang malam ini!"
"Jaga dia!" Elang menepuk pundak Axel, laki-laki yang umurnya jauh lebih tua darinya tapi sebentar lagi malah akan menjadi adik iparnya.
Suasana apartemen hening setelah semua orang pergi karena Bening dan Embun tidur. Rea menciumi pipi dan tangan anaknya bergantian, berjanji bahwa akan memeperbaiki dirinya untuk menjadi ibu yang benar-benar pantas bagi kedua anaknya.
Menatap ke luar jendela, Rea yang cantik dengan dress berwarna peach dengan bagian perut yang sedikit menonjol malam itu melamun.
Rea terus memandangi langit yang terlihat tak berbintang, Ax yang sudah rapi mendekat ke arahnya, mengalungkan lengannya ke dada Rea.
"Apa semua akan baik-baik saja? Aku takut melihat respon mama dan papa."
"Apapun yang mereka katakan, aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi lagi, aku sudah bilang berkali-kali Re, aku bisa mengabaikan semuanya, tapi tidak denganmu," bisik Axel, setelahnya laki-laki itu menciumi pundak gadis yang sangat dicintainya itu.
__ADS_1
Mereka berdua berencana pergi ke rumah Jordan untuk meminta restu atas hubungan mereka, meskipun jelas jika mama dan papanya tak merestuipun Axel akan tetap pada pendiriannya, yang pasti mereka ingin mencoba.
Memegang keningnya, Lidia hanya bisa memejamkan mata melihat anaknya tengah berbadan dua, Ia tidak bisa berkata-kata lagi, begitu pula dengan Jordan.
"Aku akan menikahi Rea setelah anak kami lahir, aku tidak peduli papa dan mama setuju atau tidak, aku tidak butuh persetujuan kalian, aku hanya ingin papa dan mama tahu bahwa kami benar-benar saling mencintai," ucap Ax.
Menatap Axel yang duduk disampingnya, Rea terkejut dengan ucapan Ax. Bukankah kamu berkata ingin meminta restu?
Seperti bisa membaca pikiran Rea, Ax menggenggam tangan gadis itu." Maaf, sampai kemarin papa masih terus memaksaku untuk mau menikahi Mia, jika aku berkata ingin mengajakmu kesini untuk mendengar keputusanku, maka sudah pasti kamu tidak akan mau."
"Ax.... " Tajam Rea menatap manik laki-laki itu.
'Tidak, aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi," ucap Ax sambil membelai pipi Rea.
Jordan dan Lidia hanya bisa saling pandang, menghembuskan napasnya pelan, Jordan memilih menyandarkan punggungnya disofa.
"Terserah, lakukan apapun yang kalian ingin lakukan, papa dan mama hanya bisa menjadi penonton." Terdengar seperti marah, sebenarnya Jordan memberikan keputusannya, yaitu memberi restu ke mereka.
Mempererat genggaman tangannya, Axel memandang ke arah sang papa, " Terima kasih."
Mendekat ke arah sang anak yang sedang menunggu Ax keluar, Lidia membelai perut Rea. "Apa kamu benar-benar bahagia?"
Rea mengangguk menatap mamanya. "Aku bahagia ma, Ax laki-laki yang baik meskipun sepertinya tidak sesabar Arkan."
Lidia tertawa memeluk anak perempuannya," Ingat, jangan mengulangi kesalahan lagi, jadikan Ax pria terakhir di hidupmu."
"Jaga Rea Ax, jaga dia baik-baik!"
"Pasti Ma, Ax janji!"
Bergandengan tangan sepanjang perjalanan pulang, Ax menciumi punggung tangan Rea berkali-kali, tak peduli dengan apapun lagi asal dirinya bisa selalu bersama gadis yang sangat ia cintai itu.
Mereka berdua pergi ke rumah sakit, untuk memeriksakan kandungan Rea. Kinanti terlihat tersenyum bahagia saat mengetahui jenis kelamin bayi yang di kandung adik iparnya adalah laki-laki.
"Tekanan darahmu tinggi Re, ada riwayat pendarahan dan juga pernah mengandung bayi kembar, bagaimana jika kita rencanakan untuk melahirkan secara sesar?"
Saling pandang, Ax mengaitkan jemarinya ke tangan Rea. "Apapun Ken, yang pasti Rea dan bayinya sehat," jawab Ax.
***
Empat Bulan kemudian
Menyiapkan perlengkapan bayi adalah hal yang paling menyenangkan untuk dilakukan pasangan yang tengah menunggu kelahiran buah cinta mereka, begitu juga dengan Rea dan Axel. Keduanya terlihat keluar masuk toko perlengkapan bayi untuk membeli baju untuk anak mereka yang diperkirakan akan lahir dua minggu lagi.
Mengernyitkan dahi, Rea merasakan sakit dibagian perut bawahnya. Melihat gadis di sampingnya terlihat kesakitan Ax yang tengah membawa mobilnya untuk menjemput Bening dan Embun pun panik.
"Ada Apa? Kenapa Re?" memilih menepikan mobilnya, Ax menggenggam erat tangan gadis itu.
__ADS_1
"Perutku sakit Ax."
Rea mulai menangis, ia pernah melahirkan dan rasanya tak sesakit seperti apa yang tengah ia rasakan sekarang.
"Arghhhhh....sakit," erangnya sambil mencoba mencari posisi duduk yang nyaman.
Memutar mobilnya menuju rumah sakit, Ax menelpon Kinanti dan menceritakan apa yang terjadi ke Rea.
Memasukkan ke ruang observasi, Kinanti mencoba mengecek jalan lahir Rea, masih pembukaan satu tapi wajah gadis itu sangat pucat, keringatnya bercucuran, menggenggam erat tangan Rea, Ax juga terlihat panik.
"Ken, apa yang terjadi?"
Kinanti yang panik tak menjawab pertanyaan Axel, Ia meminta perawat membawakan alat CTG untuk memantau aktivitas dan denyut jantung janin.
"Re, apa yang kamu..."
Belum sampai Kinanti menyelesaikan kalimatnya, Rea terlihat muntah, dokter kandungan itu semakin panik, sebagai dokter jelas Ken tahu betul kondisi yang dialami adik iparnya itu. Berteriak ke arah perawat, Ken meminta untuk disiapkan ruang operasi.
"Ken ada apa? jawab aku Ken!" Axel semakin ketakutan.
"Ax, aku harus melakukan tindakan operasi segera."
Axel termenung mendengar ucapan Kinanti, belum selesai rasa terkejutnya, Rea berteriak dan menggapai-gapai tangannya.
"Kenapa gelap?aku tidak bisa melihat," racau Rea sambil menangis dan menahan rasa sakit yang Ia rasakan di bagian perutnya.
Menggenggam tangan Rea, Axel ikut menangis, Perawat dan Kinanti yang membawa Rea menuju ruang operasipun tak kalah panik.
"Aku tidak bisa melihat apa-apa Ax, semuanya gelap," napas Rea mulai melemah. "Aku ingin tidur," ucapnya.
"Tidak boleh, kamu tidak boleh tidur!" Pekik Kinanti yang sudah menangis mendapati keadaan adik iparnya.
"Ax jangan biarkan dia memejamkan mata," terisak, Kinanti langsung menyampaikan keadaan Rea kepada dokter lain yang dia panggil secara mendadak ke ruang operasi.
Menampar pipi Rea berkali-kali, bahkan menggigit tangan gadis itu dilakukan oleh Axel, "Jangan Re, jangan tutup matamu, aku mohon!"
_
_
_
_
_
_
__ADS_1
2 bab lagi dan Novel ini akan benar-benar tamat 🤗🥰