Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 19


__ADS_3

"Masuk," ucap Rea


Ternyata orang suruhan dari kantor pusat yang datang, orang itu menyerahkan sepucuk surat, Rea berlahan membuka surat itu, matanya terbelalak melihat kata-kata pemecatan dirinya.


"Apa alasannya? Apa kesalahan yang saya buat?"


Tapi orang didepannya tidak bisa menjelaskan alasannya, karena dia hanya diberi perintah untuk menyampaikan. Seketika Rea merasa sangat sedih, Air matanya sudah menggenang, dia memalingkan wajah meninggalkan orang yang mengantarkan surat


Agni keluar dari ruangannya mencari keberadaan Rea, dia sendiripun kaget karena surat pemberitahuan pemecatan bawahannya itu baru saja dia terima via email, Agni masuk ke ruangan Rea tanpa mengetuk pintu orang yang dia cari tidak ada didalam ruangannya, wanita itu melihat sebuah surat dan amplop tergeletak dimeja Rea, kemudian mengambil dan membacanya


"Apa sampai harus langsung dikirim seperti ini?" ucap Agni


Dia kemudian keluar menanyakan kepada staff yang lain, ada yang bilang gadis yang dia cari tadi buru-buru pergi naik taxi.


Rea pulang ke apartment nya, kesal, sedih bercampur menjadi satu, dipecat adalah salah satu hal yang tidak ingin dia hadapi dalam hidupnya selain diselingkuhi tentunya, semua wanita didunia ini juga tidak ada yang mau.


Gadis itu merebahkan tubuhnya diranjangnya, menangis terisak sampai tertidur.


Entah berapa lama dia tertidur yang pasti hari sudah gelap, dia mengerjabkan kedua matanya, samar melihat seseorang yang dia kenal sudah berlutut disamping ranjangnya, merapikan helaian rambut yang menutupi matanya.


"Kamu kenapa bisa masuk kesini?" Tanya Rea dengan suara serak


Arkan masih sibuk merapikan rambut gadis yang terlihat sangat berantakan itu


 "Masa kamu lupa sudah memberikan password pintu apartmentmu ke aku"


Gadis itu merapikan rambutnya kemudian bangun, Arkan berdiri lalu duduk diranjang Rea.


"Aku tadi jemput kamu ke hotel, kata orang yang aku temui kamu sudah pulang dari jam 3 naik taxi"


"Kamu tidak menjawab telpon ataupun membalas pesanku," lanjut Arkan yang membuat Rea segera mengambil ponselnya, melihat ada beberapa chat dan panggilan tak terjawab dari Arkan dan Agni, gadis itu kemudian menyibakkan rambutnya, memegangi kepalanya.


"Aku dipecat Ar" air matanya jatuh lagi


Arkan mendekat kemudian memeluk gadis yang tampak kacau itu. Dia sudah tau kalau kekasihnya itu dipecat karena tadi sempat bertemu Agni yang juga cemas karena pesan dan telponnya tidak dijawab oleh Rea.


Agni bercerita bahwa ada orang dari pusat yang memberikan surat pemecatan langsung kepada Rea, padahal biasanya hanya via email. dan itupun pasti disertai surat peringatan lebih dulu.


Arkan menepuk-nepuk pundak Rea. Gadis itu kemudian melepaskan pelukannya.


"Aku kesel banget, aku ga tau salah apa, tapi tiba-tiba dipecat"


"Kalau memang aku salah aku akan mengundurkan diri sendiri, aku merasa kayak dicampakan tau ga" Rea semakin terisak, Arkan mengambil kotak tisu dimeja rias kemudian memberikannya kepada gadis itu.


"Sudah, tenang, kamu bisa cari kerjaan lain yang lebih bagus, aku yakin kamu bisa dapat kerjaan yang lebih bagus dari ini," ucap Arkan yang ingin membuat Rea menjadi sedikit lebih tenang.


Gadis itu mengambil tisu kemudian menempelkan nya dihidung, membuang ingus efek dari tangisannya. Arkan tertawa.


"Liat aku menyedihkan sekali kan sekarang? udah ga ada cantik-cantiknya, jorok lagi, liat mataku, sekarang seperti apa mukaku"


Rea meloncat turun dari ranjang menuju depan kaca melihat dirinya sendiri.


Kemudian berteriak mendapati matanya sudah bengkak dengan maskara yang luntur dimana-mana.


Arkan hanya tertawa cekikikan.


"Sumpah aku ga mau kamu liat aku dengan rupa seperti ini" Rea kembali menangis karena malu.


Arkan mendekat kemudian mencium pipi gadis itu,"mau kayak apapun kamu, aku tetep cinta"


"Mandi sana, aku cariin makan bentar, kamu pasti lapar," ucap Arkan sambil berlalu meninggalkan kamar Rea.

__ADS_1


*******


Rea keluar kamar sudah memakai baju santai, melihat Arkan yang sudah memakai kaos


oblong berwarna putih dan celana pendek.


"Kapan dia ganti baju, dan baju dari mana?" pikir Rea kemudian matanya melihat sebuah paperbag salah satu brand pakaian disofa, mendekat kemudian melongok kedalam yang isinya sudah berganti dengan kemeja dan celana kerja milik Arkan.


Rea mendekat ke Arah meja makan duduk kemudian mengambil garpu memakan daging tongseng kambing yang dibeli Arkan.


"Kamu mau nginep disini?" Tanya Rea sambil menguyah daging dimulutnya


Arkan hanya ber "hem" sambil sibuk mengambilkan nasi untuk Rea.


"Kamu bisa masak nasi Ar" Tanya Rea penasaran


Arkan meletakkan piring berisi nasi di depan Rea


 "Kamu lupa harus manggil aku apa? Panggil sayang," ucap nya


Rea tersenyum sambil mengambil daging lagi "Iya sayang, ini enak," jawabnya


"Tapi setelah ini aku harus gosok gigi lagi aku ga mau mulutku bau kalau kamu...." Rea berhenti berbicara merasa malu berharap Arkan tidak mendengar apa yang baru saja dia ucapkan.


Tapi sayang laki-laki itu tersenyum menandakan dia mendengar apa yang baru saja kekasihnya katakan.


Setelah selesai makan Rea mencuci piring, Arkan membantu merapikan meja makan, mendekat meletakkan beberapa piring dan gelas untuk dicuci sekalian oleh Rea, bibirnya tiba-tiba menyambar bibir kekasihnya.


"He'em bau kambing," ucapnya yang membuat Rea malu kemudian mencipratkan air ke arah Arkan yang sudah kabur kedepan ruang TV


Rea sudah mulai sedikit melupakan kesedihannya karena baru saja dipecat dari pekerjaan yang sangat dia cintai, disisi lain seorang gadis tersenyum senang merasa menang karena Rea dipecat dari hotel tempatnya bekerja.


Setelah selesai Rea duduk bersila didepan TV memangku ice cream yang dibeli Arkan tadi, membuka kemudian menyuapkannya ke mulut. Arkan yang keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih melingkar dilehernya tertawa melihat cara calon istrinya memakan es krim yang dia beli.


Melihat laki-laki didepannya memandanginya Rea menyuruh Arkan mendekat.


"Sudah ga sedih lagi kayak nya nih" Arkan yang duduk diatas sofa dibelakang Rea menekan ujung kepala Rea dengan dagunya.


Rea menggerakkan tangannya yang sedang memegang sendok tanda tidak setuju dengan ucapan Arkan yang bilang kalau dia sudah tidak sedih , matanya masih menatap adegan drama yang sedang dia tonton.


"Tapi aku tetep ingin tau alasan kenapa aku dipecat"


"Kamu mau tanya siapa? Mba Agni?"


"Hem" jawab Rea sambil menganggukkan kepalanya.


Arkan berpindah duduk dibawah, sudah mensejajari Rea yang masih terlihat menikmati es krim coklat vanilla nya. tiba-tiba Rea meletakkan sendoknya, memindah bucket ice cream yang dia makan ke pangkuan Arkan.


"Kita kan mau kawin ya, kenapa aku malah makan es krim sebanyak ini, ntar kalau gaun pengantinku ga muat gimana?"


Sontak Arkan tertawa mendengar omongan Rea, karena ice cream itu sudah hampir habis dia makan sendiri.


"Nikah apa kawin?" tanya Arkan


"Emang beda?"


"Beda donk, kawin bisa sekarang, nikah kan perlu ke KUA"


Rea terlihat berfikir mencerna kalimat Arkan, setelah dia tau maksud calon suaminya itu, Rea mengambil handuk Arkan yang tergeletak disofa, memukul paha laki-laki tampan itu berkali-kali.


Rea berbaring tiduran di paha kekasihnya, masih menonton drama yang sedang hits dikalangan pecinta drama, yang bercerita tentang perselingkuhan dalam sebuah hubungan rumah tangga, lupa omongannya barusan sambil asik tiduran tangannya tak berhenti menyuapkan camilan ke dalam mulutnya.

__ADS_1


"Liat tu, istri cantik gitu masih aja lakinya selingkuh, pengen nendang tuh pelakor rasa nya"


Arkan heran kenapa wanita masih suka nonton drama padahal pas nonton cuma bikin sewot sendiri, dimana sisi hiburannya kalau bikin dongkol.


Akhirnya drama yang Rea tonton habis, gadis itu bangun duduk menatap Arkan.


"Kalau kamu berani selingkuh, aku akan benar-benar menghancurkanmu" ancamnya sambil menatap Arkan


Laki-laki itu malah membelai pipi Rea, dia tau sebenarnya gadis itu sedang sedih atas kejadian yang menimpanya, tapi bukankah dari dulu Rea memang seperti ini, pandai menyembunyikan apa yang dia rasakan sebenarnya.


"Tapi aku penasaran"


"Apa?"


"Kalau aku yang selingkuh apa yang bakal kamu lakuin?"


Arkan terdiam, agak kaget dengan pertanyaan yang dilontarkan Rea


"Aku akan membiarkanmu sampai sadar" Arkan masih membelai pipi gadis itu "bahwa didunia ini tidak ada yang sangat mencintamu selain aku"


Bibirnya sudah mendarat dibibir Rea, membuat gigitan kecil supaya lidahnya bisa masuk kedalam.


Rea merasakan emosi yang selalu dia rasakan setiap Arkan menciumnya, ada rasa bahagia sekaligus sedikit ragu dihatinya.


Namun dia menikmati setiap perasaan yang muncul saat bersama Arkan, tidak bisa dipungkiri calon suaminya itu selalu memberi rasa nyaman untuknya.


Rea melepaskan bibirnya kemudian bertanya


"Sayang mulai besok aku jadi pengangguran, aku harus ngapain?"


Arkan tersenyum, mengecup bibir Rea kemudian membaringkan badannya dikarpet, diikuti Rea yang membenamkan wajahnya didada bidang Arkan.


"Kamu bisa fokus ke persiapan pernikahan kita dan melakukan hal-hal yang kamu inginkan"


"Apa termasuk hal-hal yang belum pernah aku lakuin sebelumnya?"


"He'em kecuali selingkuh dan dugem," Arkan menurunkan pandangannya ke arah Rea,


gadis itu mendongak menatap kekasihnya


"Tadi kamu bilang mau membiarkanku?"


"Apa kamu berniat selingkuh?" tanya Arkan heran


"Becanda" Rea tertawa sambil mencubit perut Arkan


"Aku pengen jalan-jalan bareng temen-temen cewek ku, aku kangen, tapi kamu tau kan


Lisa sekarang tinggal di Australia, ivy sedang hamil, sevia dan Vira sibuk dengan pekerjaan nya dan Cindy..." Rea menghentikan kalimatnya


"Apa dia masih tidak ada kabar?" tanya Arkan


"Apa kita harus ke XX mencarinya? sekalian ke rumah tante Maya, kamu pasti kangen juga kan sama suasana Kota XX?"


"Bagaimana kalau nanti bertemu Elang disana?"


"Kamu berharap bertemu dia? tidak masalah buatku, aku percaya kamu sudah tidak punya perasaan apa-apa ke dia" lanjut Arkan


Rea terdiam


Mereka berdua mengobrol sampai Arkan tertidur di karpet depan TV.

__ADS_1


__ADS_2