
Hari ini Elang diperbolehkan pulang dari rumah sakit, sebuah mobil mewah berjenis van sudah menunggu untuk mengantarnya pulang bersama mamanya ke rumah Farhan , sementara Rea memilih menemani Arkan ke kantor polisi untuk memberi keterangan dan menemui si tersangka.
Gadis itu masih tidak percaya kenapa dirinya bisa dijadikan sasaran balas dendam suami Wika, dan fakta yang paling mencengangkan adalah laki-laki itu ternyata masuk kedalam Daftar Pencarian Orang atau DPO pihak kepolisian, dari mulai kasus KDRTnya ke Wika sampai penggelapan dana ditempatnya bekerja.
"Sebaiknya anda lebih waspada dan berhati-hati karena sepertinya untuk kasus penusukan ini ada pihak lain yang memprovokasi tersangka, jadi kemungkinan orang itu masih menyimpan dendam kepada anda," ucap salah satu petugas penyelidik ke Arkan.
Arkan mengernyitkan dahi, ia bingung karena merasa sama sekali tidak memiliki musuh selama ini.
"Tapi kenapa kekasih saya yang diincar, bukan saya pak?" tanyanya dengan mimik wajah cemas sambil menggenggam tangan Rea.
"Sayangnya untuk pertanyaan itu tersangka masih tidak mau buka mulut sama sekali, tapi saya pikir orang itu mengincar orang-orang yang anda kasihi untuk membuat anda menderita, balas dendam seperti itu biasanya hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki mental psikopat."
Setelah memberikan keterangan dan mendengar penjelasan pihak kepolisian mereka pulang menuju rumah Farhan.
Arkan hanya terdiam sepanjang perjalanan, malah terkadang seperti melamun, bahkan saat lampu lalu lintas berubah warna dari merah ke hijau dia masih termenung sampai mobil-mobil yang berada dibelakangnya membunyikan klakson.
"Sayang, sudah hijau ayo jalan," ucap Rea yang membuat kekasihnya tersadar kemudian melajukan mobilnya kembali.
"Apa mau aku saja yang menyetir?" tanya Rea.
"Maaf.. Maaf," jawab laki-laki itu sambil menepikan mobilnya.
Rea keluar untuk pindah duduk didepan kemudi, bertukar tempat dengan kekasihnya.
"Apa yang membuatmu seperti kehilangan kesadaran? Apa ucapan penyelidik di kantor polisi tadi?" tanya Rea yang sekarang sudah membawa mobil kekasihnya kembali menuju rumah ayahnya.
__ADS_1
"Hem.. aku merasa tidak punya musuh sama sekali, tapi kenapa ada orang yang ingin melukai orang-orang yang aku sayangi?" ucap Arkan sedikit frustrasi.
"Sudahlah sayang tidak usah dipikirkan!"
"Bagaimana mungkin aku tidak kepikiran, ini melibatkan orang-orang yang aku sayangi, aku tidak ingin orang yang aku sayangi terancam nyawanya hanya karena aku, terutama kamu, aku ga mau terjadi apa-apa ke kamu."
Gadis itu tersenyum, sambil menurunkan sun visor karena cahaya matahari membuat matanya silau.
"Makanya aku bilang, lebih baik kita menikah bulan depan," ucap Rea.
Arkan terlihat tertawa "Apa kamu benar-benar sudah tidak sabar?"
"Entahlah rasanya aku ingin buru-buru menjadikan kamu milikku, semoga hanya perasaanku saja, aku takut sesuatu yang buruk terjadi."
"Tidak akan terjadi apa-apa, percaya padaku," Arkan menenangkan Rea sambil membelai lembut rambut gadis itu.
"Tante sudah memastikan ada kalian yang bisa menjaga Elang, jadi tante tenang," jawabnya ketika Rea bertanya kenapa harus buru-buru pulang hari itu juga.
Saat ditawarkan untuk diantar wanita itu juga menolak dan memilih pergi ke bandara naik taxi. Akhirnya mereka melepas kepergian Maya hanya dari depan pintu rumah Farhan.
Elang dan Arkan duduk bersama diruang makan, Arkan bercerita tentang informasi yang dia dapat dari kepolisian kepada calon kakak Iparnya, nampak Elang juga heran dan merasa kawatir mendengar cerita Arkan, mereka diam seketika saat Rea turun dari lantai atas membawa sebuah kantong plastik yang berisi obat untuk Elang, gadis itu mengambil segelas air kemudian duduk disamping kakaknya dan dengan telaten membuka bungkus obat satu persatu.
"Kalau dilihat seperti ini kalian seperti pasangan," ucap Arkan yang membuat Elang yang hampir menelan obatnya menoleh ke arah calon adik Iparnya.
"Apa loe lagi cemburu sama orang sakit?" jawab Elang ketus.
__ADS_1
Rea hanya tersenyum menatap kekasihnya sambil memberikan obat lagi ketangan kakaknya.
"Hem, karena loe satu-satunya orang yang bisa buat gue cemburu buta, meskipun gue tau loe kakaknya, dan meskipun adik loe juga udah bilang cinta ke gue, tapi tetep aja gue agak ga suka kalau dia terlalu perhatian sama loe," ucap Arkan jujur.
"Dan apa gue boleh nanya sesuatu ke loe?" lanjutnya.
"Tanya apa?" jawab Elang yang sudah saling melempar pandang dengan Rea mendengar ucapan Arkan tadi.
"Tapi loe harus janji jawab jujur," pinta Arkan sambil melihat ke arah Rea membuat gadis itu sedikit cemas dengan apa yang ingin di tanyakan kekasihnya itu ke kakaknya.
"Janji! Kayak apa'an aja," jawab Elang malas.
"Berapa kali Rea ngomong cinta sama loe pas kalian masih pacaran?"
Sontak Elang dan Rea melebarkan bola mata mereka mendengar pertanyaan dari Arkan, terutama Rea wajahnya sudah benar-benar terlihat semakin cemas.
"Ga kehitung, soalnya tiap berbalas pesan dia juga bilang cinta sama gue," jawab Elang
Rea semakin melebarkan bola matanya "Enggak ya," ucapnya menolak jawaban Elang.
"Enggak sayang dia bohong," gadis yang menjadi obyek pembicaraan itu mulai membela diri merasa dirinya seperti dijadikan tersangka oleh kakaknya sendiri.
"Iya kok, masa loe ga mau jujur sama calon suami sendiri," goda Elang.
Gadis itu memukul lengan tangan kakaknya sambil mengomel.
__ADS_1
Sang pelempar pertanyaan menggelengkan kepalanya sambil melipat kedua tangannya didepan dada, melihat kakak adik itu berdebat didepannya.
"Sepertinya Rea memang sudah tidak memiliki perasaan apa-apa ke Elang," batin Arkan.