
Rea masih disibukkan dengan sketsa-sketsa gambar perhiasan yang dia buat, ia baru sadar bahwa dirinya memiliki sebuah bakat terpendam dalam hal menggambar, satu bulan ini pelanggan yang membeli perhiasan dengan design khusus meningkat pesat, kebanyakan adalah para pasangan yang akan melangsungkan pernikahan.
Besok brand perhiasannya mendapat kesempatan untuk ikut mengisi sebuah acara pameran yang diadakan di hotel yang sama dengan acara penghargaan pengusaha muda dari kementrian ekonomi, dimana Arkan sudah dipastikan mendapat penghargaan di kategori pengusaha muda terkreatif.
Rea masih berada di dalam ruang kerjanya, lelah menggambar ia lantas berdiri untuk sekedar melemaskan otot-ototnya, dari balik jendela Rea memandangi gedung perusahaan milik suaminya.
"Bu Rea, ibu jadi ikut datang ke stand RM Jewelry kan besok?" tanya sang sekretaris dari balik pintu.
Gadis itu tersenyum sambil mendekat ke arah meja kerjanya untuk mengemasi barang-barangnya, "Pastikan semua tim siap, aku tidak ingin melihat mereka masih sibuk dengan tatanan stand saat aku sampai."
"Sesuai perintah ibu, mereka akan siap sebelum jam pengunjung dibuka."
Rea tersenyum, berjalan keluar dari ruangannya dengan wajah sumringah, "Kalian ingat janjiku kan? jika dari event besok kita mendapat pemasukan lebih dari sepuluh miliar, aku akan membawa kalian semua berlibur ke Bali."
Sang sekretaris tertawa, sambil berjalan mengekor Rea dari belakang.
***
Keesokan paginya suasana Sky hotel terlihat ramai, bahkan banyak security tambahan yang dikerahkan untuk mempelancar jalannya acara, Rea turun dari mobilnya, menatap kembali hotel dimana dirinya pernah bekerja, bersama sekretarisnya gadis itu melangkahkan kaki masuk untuk melihat stand milik RM Jewelry.
Rea tengah sibuk mengarahkan staffnya saat sebuah tangan menepuk pundaknya dua kali. Mendapati Axel tangah tersenyum kepadanya, Rea tak kuasa untuk tidak membalas laki-laki itu dengan sebuah senyuman manis juga.
"Apa anda punya perhiasan yang bisa dipakai oleh seorang pria?" canda Axel.
"Maaf pak, kami sama sekali tidak berniat untuk mengembangkan bisnis ke ranah perhiasan pria." Rea terkekeh merespon candaan mantan selingkuhannya itu.
"Oh ya Re, kamu pasti sudah tahu kalau Arkan menjadi pemenang di kategori pengusaha muda terkreatif, aku yang akan membawakan kategori itu nanti."
"Benarkah? berarti dirimu akan satu panggung bersamanya." Rea masih saja tertawa, ia sampai tak melihat ekspresi wajah Axel yang terlihat berubah.
"Apa kamu akan masuk ke ruang acara saat Arkan menerima penghargaan itu?" tanya Axel penasaran.
"Mas Arkan tidak memintanya, dia bahkan sama sekali tidak mengajakku untuk menemaninya di acara ini." Raut kecewa jelas tergambar di wajah Rea.
"Tapi kamu istrinya jelas kamu bebas masuk ke dalam sana."
"Em... meskipun begitu aku tidak yakin apakah bisa karena aku harus menjadi pembicara juga di sini nanti, apa kamu tidak lihat banner itu?" Rea menunjuk banner di panggung kecil yang masih berada di ruang pameran itu, dimana foto dan sedikit keterangan tentang dirinya tertulis di sana. "Harusnya Mia yang mengisi, tapi dia bilang sedang tidak enak badan, hah... pembohong jelas dia takut berbicara di muka umum."
__ADS_1
Axel tertawa mendengar Rea mengeluh, setelah memastikan apa yang ingin dia pastikan, laki-laki itu pergi meninggalkan lokasi pameran menuju lobby hotel. Mendapati Arkan sudah datang, Ax langsung menghubungi ponsel laki-laki itu, memintanya untuk naik lift menuju ke ruang kerjanya.
Arkan membuka jas dan kemejanya, memakai sebuah rompi anti peluru ke badannya, "Gila, apa kita sedang bermain film laga?" laki-laki itu tak habis pikir dengan rencana Adam.
"Aku tidak ingin mengambil resiko, ini hanya antisipasi tambahan dariku saja, meskipun Johan berkata Adam ingin membunuhku dan menjadikanmu tersangka, masih ada kemungkinan dia membalik rencananya, menjadikanmu korban dan aku tersangka."
Arkan menghentikan tangannya yang tengah mengancingkan kemejanya kembali "lalu bagaimana kalau Adam malah mengincar Rea? kenpa tidak terpikirkan oleh kita?"
"Tidak mungkin, yang dia incar adalah aku," jawab Axel penuh keyakinan. "Aku sudah memastikan Rea tidak akan keluar lokasi pameran sampai acara hari ini selesai."
"Kamu benar-benar yakin Adam akan melakukan aksinya saat kita berada di atas panggung?" memastikan lagi, Arkan ingin semua berjalan sesuai rencana mereka.
"Yakin, info dari orang suruhanku sangat akurat, bahkan dia mengirim rekaman suara Adam yang sedang berbicara dengan Johan terkait rencananya," beber Axel. "Beberapa polisi yang menyamar juga sepertinya sudah datang karena Adam ternyata berbisnis senjata api ilegal dan narkotika."
Arkan menganggukkan kepalanya, merapikan jas berwarna hitam yang ia kenakan, laki-laki itu mendekat ke arah Ax, menatap dasi di leher laki-laki itu.
"Apa dasi itu dari Rea?" tanya Arkan penasaran.
Sadar, Ax tersenyum menyadari ternyata dasi Arkan sama persis seperti yang sedang ia kenakan, Ax malah berniat menggoda adik iparnya itu. " Iya, asal kamu tahu Rea tak hanya memberikannya, ia langsung memasangkannya ke leherku."
"Kau.... " Melotot, Arkan terlihat cemburu.
"Kau.... " Marah, Arkan hampir melayangkan tangannya untuk memukul Axel yang langsung berlari keluar sambil menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya.
***
Semua tamu undangan satu persatu mulai berdatangan, melihat ketatnya pengamanan tiba-tiba Arkan berpikir bahwa tidak mungkin senjata tajam apalagi pistol akan lolos dari pemeriksaan. Benar saja sampai ia naik ke atas panggung tidak ada tanda-tanda Adam akan menyerang baik dirinya maupun Axel.
Arkan dan Ax terlihat sedikit khawatir, masih dengan wajah yang dibuat bahagia di depan tamu undangan acara itu keduanya saling memberi kode untuk berbicara di belakang. Panik, Arkan mencoba menghubungi nomor Rea. Axel yang tak sabar langsung berlari ke ruang pameran. Ia tak menadapati Rea di sana.
"Dimana Ibu Rea?" tanya Ax panik disusul oleh Arkan.
"Em... itu." Staff Rea terlihat ragu untuk menjelaskan.
"Ada apa? cepat jawab!" bentak Arkan.
"Setelah mengisi acara tadi ternyata Ibu Rea datang bulan, tembus sampai rok yang dikenakan jadi beliau sekarang ada di toilet sambil menunggu teman kami yang diminta membelikan...."
__ADS_1
Tak sabar menunggu cerita staff itu sampai selesai, Arkan dan Axel langsung berlari keluar dari sana.
"Ada berapa toilet yang ada dihotelmu Ax?" tanya Arkan panik.
"Yang pasti lebih dari sepuluh," jawab Ax tak kalah panik.
Arkan masih berusaha menghubungi Rea, sampai ia terlihat langsung menghentikan langkahnya dan memegangi ponsel yang berada di telinganya dengan gemetar.
"Kamu ada dimana?" tanya Arkan. Ax yang melihat langsung berbalik arah mendekat ke Arkan yang terlihat panik.
"Aku menuju parkiran, aku mau pulang karena bajuku kotor, apa kamu ingin bertemu? aku pulang dulu nanti aku kembali ke situ," ucap Rea yang nampak tersenyum karena merasa sang suami ingin bertemu dengannya setelah menerima penghargaan, gadis itu juga berharap Arkan bisa mengajaknya kembali bersama karena ia sungguh menginginkan hal itu.
"Cepat masuk mobil, matikan telpon setelah kamu benar-benar masuk ke dalam mobil!" perintah Arkan ke sang istri.
Axel dan Arkan langsung berlari menuju parkiran Sky hotel, Ax bergegas menelpon orangnya untuk segera menuju parkiran bersama polisi.
Benar saja kekhawatiran mereka, dari arah samping mereka mendapati Adam tengah merogoh sesuatu dari dalam kantongnya sambil berjalan mendekat ke arah Rea, baik Arkan dan Axel terlihat panik saat Adam mulai mengeluarkan benda yang ternyata sebuah pistol, laki-laki itu menarik pelatuk pistol di tangannya, dan seketika suara tembakan menggema di parkiran yang sepi.
"TIDAK"
"REA"
Arkan dan Axel sama-sama berteriak, wajah mereka memucat seketika.
-
-
-
-
-
-
-
__ADS_1
Axel ga mati 🤧 yang kemarin suudzon sama Na kudu komen sebanyak-banyaknya.