
Rea ingin menjawab ucapan Axel, tapi urung dia lakukan melihat karyawan tokonya yang dia tahu pasti ikut mendengarkan perbincangannya dengan Axel sedari tadi, gadis itu memilih untuk diam membayar perhiasan yang dia beli kemudian keluar dari tokonya.
Bagian belakang kursi penumpang SUV milik Axel terlihat penuh dengan belanjaan Rea yang semuanya dia beli untuk hantaran lamaran kakaknya, sebuah paperbag kecil berisi kalung dari Axel juga Rea letakkan disana. Laki-laki itu bersikeras memberikannya meskipun Rea berkali-kali menolaknya.
"Kenapa kamu masih pergi naik mobil sendirian?" tanya Axel saat mereka dalam perjalanan kembali ke hotel mengingat Rea tadi pagi meninggalkan mobilnya disana.
"Apa Arkan tidak melarangmu?" cecarnya.
"Ax, ibu hamil itu bukan orang sakit untuk apa dilarang-larang, kalau aku sudah merasa tidak bisa kemana-mana sendirian pasti aku akan cari supir," jawab Rea sambil memasukkan donat yang dia beli saat akan pulang dari Mall tadi kedalam mulutnya.
Axel tertawa melihat Rea yang tersenyum sambil memejamkan matanya seolah sedang menikmati makanan paling enak sedunia, sudut bibirnya terlihat belepotan dengan krim cokelat dari donat yang dia makan, secara spontan Axel menggunakan ibu jari tangan kirinya untuk membersihkan bekas krim itu dari bibir Rea.
Laki-laki itu tiba-tiba merasa jantungnya seperti akan melompat keluar, sementara Rea hanya biasa saja mendapat perlakuan seperti itu dari Axel, gadis itu malah tertawa.
"Heran, selera makanku meningkat dan berat badanku naik drastis, sepertinya setelah melahirkan aku harus diet khusus," ucapnya masih dengan seringai senyum di bibirnya.
"Kamu masih terlihat cantik, tenang saja tidak ada ibu hamil secantik dirimu," puji Axel.
"Kalau kamu butuh supir, aku siap menjadi supirmu," lanjutnya.
Rea terbahak lalu berseloroh "Aku harus bayar berapa untuk menggajimu tiap bulan? bukankah konyol jika tiba-tiba ada berita di media masa dengan headline pengusaha muda Axel Sky Jordan menjadi supir pribadi anak perempuan Farhan Pradipta, apakah bisnisnya mengalami kebangkrutan?"
Gadis itu menutup kalimatnya dengan gelak tawa lagi. Axel pun ikut tertawa mendengar ucapan adik tirinya itu.
"Oh ya ayahku akan mengadakan pesta dalam waktu dekat, jika kamu diundang apa kamu mau datang?" tanya Rea sesaat setelah menutup bagasi mobilnya.
Axel terlihat berpikir sebelum menjawab dengan satu kata singkat "Pasti."
Setelah berpamitan Rea pergi dari hotel, sebelum pulang kerumahnya Rea berbelok mengantarkan barang-barang yang sudah dia beli tadi ke sebuah jasa tata menata bingkisan.
Malam ini dia akan menginap di rumah mertuanya bersama sang suami, tentu saja untuk membahas perihal Noah juga.
Selesai bekerja Arkan pulang hanya untuk mandi dan menjemput istrinya, kemudian mereka bergegas pergi ke rumah Andi.
Laras terlihat prihatin saat melihat Noah berlari kegirangan mendapati Rea datang, dengan menggunakan bahasa Inggris anak itu berkata merindukan Rea yang baru sekali bertemu dengannya.
Rea tersenyum ke arah Laras dan suaminya lalu mengikuti Noah yang sudah menarik-narik tangannya sedari tadi. Laras mendekat ke arah anak laki-lakinya bertanya apakah semua sudah baik-baik saja, Arkan menganggukkan kepala sambil menggenggam erat tangan sang mama.
Noah ternyata menarik Rea ke arah meja makan, disana anak itu memperlihatkan sebuah kertas gambar, ia menggambar manusia lidi kecil yang dia katakan adalah dirinya dan manusia lidi besar yang dia bilang itu adalah Rea.
__ADS_1
Rea tertawa mengusap kepala Noah, meminta anak itu duduk dikursi, tangannya meraih tas boneka kecil diatas meja makan, membuka salah satu kantong di tas itu, Ia menemukan selembar foto Noah.
"Sayang, apa kamu sudah lihat ini?" panggil Rea ke Arkan.
Suaminya mendekat melihat foto kolase Noah dengan ukuran postcard, Arkan membalik foto itu melihat ada tanggal yang tertera disana.
"Mungkin ini tanggal lahir Noah," ucap Rea.
Arkan hanya terdiam melihat foto itu, kemudian berpaling memandangi Rea yang ternyata sudah duduk di samping Noah untuk menemani anak itu menggambar manusia lidi lagi.
"Kasih tunjuk ke papa, bilang lihat Pa Noah gambar papa," perintahnya ke anak itu.
Noah turun dari kursinya, mendekat ragu ke arah Arkan, menyodorkan kertas gambarnya.
"Ini papa," ucap Noah.
Arkan tersenyum menepuk ujung kepala anak itu lembut, lalu memandang Rea yang tersenyum melihatnya.
Setelah makan malam mereka berbincang di ruang kerja Andi, Rea ingin Arkan segera mengurus dokumen untuk membuat Noah secara resmi menjadi anak mereka.
Andi sang mertua awalnya menolak, ia menyarankan anaknya agar melakukan test DNA terlebih dulu, tapi Rea menolak keras saran Andi dan mengingatkan sang suami dengan janjinya saat masih berada di Bali, akhirnya Andi menerima keputusan anak dan menantunya dengan sedikit terpaksa, tapi laki-laki itu memperingatkan keduanya, mereka harus bertanggung jawab dengan keputusan yang sudah mereka buat, jangan sampai ada pertengkaran lagi diantara mereka karena alasan yang sama.
***
"Bukankah Noah tampan? Aku tidak bisa membayangkan bagaimana cantiknya Bebe besok karena punya papa setampan dirimu," bisik Rea.
"Cantik, apa____?" Arkan terkejut sampai tidak bisa meneruskan kalimatnya, wajahnya terlihat berubah, rona bahagia terlihat jelas di wajahnya.
"Calon anak kita berjenis kelamin perempuan," ucap Rea.
Arkan hampir saja berteriak kegirangan jika tidak sadar bahwa dia masih berada di dalam kamar Noah, laki-laki itu menarik sang istri untuk keluar dari sana.
Baru sampai di depan pintu kamarnya Arkan melepaskan kebahagiannya dengan tertawa lepas, membuat Rea sampai harus mencubit dan menarik sang suami masuk ke delam kamar agar tidak ada orang yang terganggu dengan ulah sang suami.
Baru saja menutup pintu Arkan menghujani Rea dengan ciuman membabi buta, ia menarik tangan Rea dan meminta istrinya untuk duduk di ujung ranjang, Arkan terlihat membuka lemari pakaiannya dan mengambil sebuah kotak dari sana, ia lalu berlutut didepan Rea, meletakkan kotak kecil itu di pangkuan sang istri.
"Kamu mungkin tidak akan percaya, aku membeli ini saat mencarikan sarapan untukmu di hari kita tahu bahwa kita akan memiliki bayi," ucap Arkan.
Tangan Rea membuka kotak kecil itu, seketika ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya melihat sesuatu di dalam sana, matanya mulai berair mengingat hari itu. Hari dimana dia dengan sengaja meminum obat penggugur kandungan.
__ADS_1
"Aku melihat toko perlengkapan bayi yang sudah buka, awalnya aku masuk untuk sekedar melihat-lihat tapi mataku entah kenapa tiba-tiba tertuju pada sepatu ini, padahal saat itu kita juga belum tau jenis kelamin anak kita," cerita Arkan.
Rea mengambil sepasang sepatu bayi berwarna putih dengan hiasan renda dari kotak itu." Jadi saat itu kamu sudah berpikir bahwa anak kita perempuan?" tanya Rea.
Arkan menganggukkan kepala, mengusap air mata yang jatuh di pipi istrinya. "Setelah testpack menunjukkan bahwa kamu hamil, yang aku pikirkan hanya bayi kecil cantik yang sangat mirip denganmu, tapi setelah aku pikir mau laki-laki atau perempuan yang pasti dia adalah anak kita, jadi aku memilih menyembunyikan sepatu ini."
"Terima kasih." Rea terisak sambil memeluk Arkan yang masih berlutut di depannya, entah kenapa hadiah dari suaminya terasa lebih berharga dari kalung berlian yang Axel berikan kepadanya tadi.
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu," bisiknya.
"Aku juga sangat mencintaimu." Arkan merenggangkan pelukan Rea, menatap mata istrinya penuh kasih, mendaratkan ciuman di bibir sang istri berkali-kali.
***
Dengan tubuh polos dibalik selimut Arkan membelai perut istrinya. Bercinta saat masa kehamilan membuatnya selalu takut membuat bayi di dalam rahim istrinya terganggu.
"Mereka diam saja, apa mereka tidur? bukankah harusnya mereka terganggu dengan apa yang kita lakukan tadi?" tanya Arkan.
Rea yang sudah hampir memejamkan matanya tertawa geli mendengar pertanyaan suaminya. "Kamu pikir mereka paham? Suka-suka mereka, kelak jika mereka sudah besar aku ingin mereka berjiwa bebas," ucap Rea.
"Bebas tapi tidak seperti mamanya, berkata menyukai dua orang cowok disaat yang sama." Arkan mencebik kesal mengingat Rea yang dulu berkata menyukai dirinya dan Elang di waktu yang bersamaan.
Rea tertawa menahan malu, ia lantas menciumi bibir Arkan bertubi-tubi.
"oh ya Axel berkata ingin menemaniku ikut kelas hamil, apa boleh?" tanya Rea.
"Tidak boleh," ucap Arkan tegas.
"Dia boleh mengantarmu dan menungguimu tapi tidak boleh ikut seperti aku waktu itu," lanjut Arkan sambil mengingat kembali saat dirinya mengikuti kelas hamil istrinya beberapa minggu yang lalu, mungkin gerakan peluk memeluk istri dari belakang membuat Arkan tidak ingin dilakukan Axel ke Rea.
"Apa aku tidak cukup baik? aku sudah memberikan kelonggaran untuknya memberikan dia kesempatan memegang dan mencium perut istriku, dasar papi Bubu nglunjak," canda Arkan sambil mencium perut istrinya.
Tiba-tiba gelombang dari dalam muncul dengan jelas, bayi dalam perut Rea seolah bergerak mendengar ucapan Arkan.
"Nah... ini pasti Bubu nih, ga terima dia papinya diomongin," candanya lagi.
"Bukan papa, Bubu tau papa beli sepatunya cuma satu dan pasti cuma buat Bebe," ledek Rea sambil mengusap perutnya.
Arkan tertawa berbisik lagi seolah berbicara kepada mahkluk kecil didalam perut istrinya "Besok papa belikan ya sayang," ucapnya.
__ADS_1
Rea dan Arkan tertawa bahagia, keduanya seolah tak sabar menantikan kelahiran kedua bayi mereka.