Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 121


__ADS_3

Laras terlihat menyambut anak, cucu dan menantunya di depan pintu, bibirnya tersenyum melihat Rea yang mendekat ke arahnya sambil menggendong Bening, gadis itu meraih tangan mertuanya mencium punggung tangan Laras kemudian pipi wanita itu.


Sudah tak terlihat gurat kemarahan dari wajah Rea saat bertemu sang mertua, gadis itu bersikap seolah tidak pernah terjadi masalah apa-apa, Laras pun tidak ingin menanyakan alasan kenapa sang menantu selama satu bulan ini tak pernah berkunjung ke rumahnya, karena Ia sadar jangankan ke rumahnya, ke rumah Lidia sang mama kandung saja Rea seolah enggan.


Dari dalam rumah Andi nampak berjalan keluar sambil memegang kunci mobil, melihat sang mertua yang malah ingin pergi saat dirinya kesana Rea mengernyitkan dahinya, ia menatap sang suami seolah meminta sebuah jawaban. Laras yang melihat kemudian meraih Bening dari gendongannya.


"Papa sama mama mau ngajak Bening dan Embun jalan-jalan, kalian bisa jaga rumah atau pergi berkencan terserah," ucapnya sambil meraih tali baby bag berisi perlengkapan Bening dan Embun dari pundak Rea.


Andi terlihat mengulurkan tangannya kepada Embun yang berada di gendongan Arkan, bayi itu seolah tau bahwa Andi juga adalah kakeknya, ia tertawa sambil mencoba meraih tangan laki-laki itu.


Alhasil Rea hanya bisa menatap Arkan yang tersenyum dan bergegas mimandahkan baby car seat kedua bayinya dari mobil miliknya ke mobil sang papa. Ia tak bisa melakukan apa-apa selain membiarkan mertuanya pergi membawa kedua puterinya.


Rea masuk ke dalam rumah sang mertua dan langsung menuju dapur untuk mengambil satu botol air mineral dingin dari dalam kulkas, perlahan gadis itu membuka ponsel yang ada di kantong bajunya, mengecek apakah ada pesan atau panggilan dari Axel, ia menghela napasnya karena laki-laki itu sama sekali tidak menghubungi sejak mengantarnya pulang kemarin sore.


Arkan terlihat mendekat dan menyambar botol di tangan sang istri dari belakang. Kaget, Rea sampai menjatuhkan ponsel yang berada di dalam genggamannya.


"Tidak apa-apa," ucap Rea melihat sang suami yang merasa bersalah karena merasa telah mengejutkan dirinya.


Arkan memungut ponsel sang istri meletakkannya di atas meja pantry, laki-laki itu lalu menyerahkan botol air mineral yang sudah ia buka tutupnya ke tangan Rea.


"Kenapa kamu tidak bilang kalau papa sama mama akan pergi? Jika kamu bilang kita tidak usah datang kemari tadi."


"Kenapa?" Arkan terlihat heran mendengar ucapan sang istri, ia mendekat sampai membuat badan Rea terpojok membentur pintu kulkas.


"Membuat mereka repot, apa lagi?" Rea memalingkan mukanya, meneguk air dari mulut botol yang sedang ia genggam.


Mendengar hal itu Arkan tersenyum, ia lantas menggunakan kedua tangannya untuk bertumpu ke pintu kulkas dimana Rea sedang berdiri di tengahnya.


"Aku memang sengaja meminta mama untuk membantuku menjaga Embun dan Bening agar kita bisa berduaan." Arkan menempelkan keningnya ke dahi sang istri berbisik manja dengan posisi wajah mereka yang tak ada hitungan centi, "Sudah lama sepertinya kita tidak pergi kencan berdua."


Arkan menjauhkan badannya sambil tersenyum hangat, senyum yang biasanya bisa meruntuhkan pertahanan seorang Andreadina Bumi Pradipta. Namun, sepertinya separuh hati Rea untuk Arkan sudah membeku, mungkin butuh waktu yang lama untuk kembali mencairkannya, itupun jikalau hati Rea masih miliknya, sayang hati gadis itu telah sedikit bengkok, ia membelok.


Dengan senyum yang masih mengembang di bibirnya Arkan menggandeng tangan Rea untuk pergi berkencan seperti yang dia maksud tadi.


Mereka pergi ke sebuah Mall untuk menonton bioskop, karena masih ada jeda satu jam sebelum film yang mereka pilih diputar, Arkan meminta Rea menemaninya pergi mencari kemeja.


Rea menyerahkan dua buah kemeja yang dia pilih ke suaminya, membiarkan Arkan mencobanya ke kamar ganti, sambil menunggu sang suami ia memilih melihat-lihat dasi di etalase toko.


"Tolong lihat yang ini!" ucapnya.

__ADS_1


Sang pelayan menyerahkan sebuah dasi yang di pilihnya, "Ini cocok jika dipadukan dengan kemeja yang suami anda pilih tadi."


"Apa ini stocknya masih ada?"


"Masih."


"Aku ambil dua, untuk yang satu biarkan disini dulu besok pagi akan aku ambil." ucap Rea sambil menyerahkan kartu debit untuk membayar barang yang dia beli.


Sang pelayan hanya menganggukkan kepala karena tau bahwa dia dan suaminya memang sudah sering membeli baju disana.


Arkan yang selesai mencoba kemejanya keluar mendekat, meletakkan dua buah kemeja yang sudah ia coba ke atas meja kasir.


"Seharusnya tidak usah aku coba, apapun pilihanmu pasti akan terlihat baik untukku." tersenyum, Arkan melingkarkan tangannya ke bahu sang istri.


"Apapun pilihanku?" tanya Rea sambil menatap ke arah sang suami.


Arkan yang tak mengerti apa yang ada dipikiran sang istri hanya mengangguk sambil melihat pelayan toko merapikan kemeja yang dia beli, bibirnya masih saja tersenyum.


"Apa kalau aku memilih selingkuh dengan laki-laki lain juga akan masih terlihat baik untukmu?"


Seketika senyum hilang dari wajah Arkan, bahkan sang pelayan toko terlihat terkejut dan heran dengan pertanyaan Rea ke suaminya.


Arkan hanya menaikkan kedua alis matanya, mengiyakan saja omongan sang istri dan menganggapnya angin lalu, laki-laki lalu terlihat heran dengan satu buah barang yang dimasukkan sang pelayan toko ke paperbag berisi kemeja yang baru saja dia beli.


"Maaf mba itu bukan punya saya."


Sang pelayan seketika menatap ke arah Rea.


"Aku yang membelikannya untukmu." gadis itu menyambar paperbag belanjaan suaminya tadi dan langsung berjalan keluar.


Arkan mengejar langkah istrinya, meraih sebelah tangan Rea lalu mengaitkan jemari tangannya disana.


"Mana cincin pernikahan kita?" penasaran Arkan menaikkan tangan sang istri yang masih dia genggam, ia mendapati bukan cincin darinya lah yang melingkar manis di jari manis sang istri melainkan cincin lain.


"Aku simpan, terlalu banyak cincin yang aku punya, aku juga ingin sesekali memakai milikku yang lain."


"Kamu bisa memakai cincin milikmu di jari yang lain, kenapa harus melepaskan cincin pernikahan kita?"


Diam, Rea sedang berpikir bagaimana caranya agar Arkan tidak menanyakan hal itu lagi kepadanya. Padahal gadis itu sudah melepaskan cincin pernikahannya dengan Arkan semenjak pertengkarannya di hari pemakaman Noah.

__ADS_1


Namun, mungkin Arkan yang memang tidak begitu peduli dengan benda berwarna silver yang menjadi simbol ikatan pernikahannya dengan Rea sampai baru menyadarinya sekarang bahwa yang dipakai sang istri bukanlah cincin darinya.


"Besok akan aku pakai lagi," jawab Rea singkat.


***


Laras terlihat senang melihat sang anak dan menantunya pulang dari kencan mereka, bagaimanapun ada perasaan cemas satu bulan ini di dalam hatinya mendapati sang menantu dan anak bertengkar.


Wanita itu tersenyum ke arah Rea, berkata bahwa Embun dan Bening sedang tidur di kamar bersama sang kakek.


"Apa kalian bersenang-senang?" Laras menggeser badannya dari sofa agar sang menantu bisa duduk di sampingnya.


"Sering-sering ya ma." Arkan melingkarkan tangannya ke leher sang mama, tertawa sambil mencium pipi sang ibunda.


Laras menepuk punggung tangan Rea, menatap menantunya itu sambil menipiskan bibirnya.


"Anggaplah pertengkaran atau masalah dalam rumah tangga adalah penyedap hubungan kalian, ibarat kata saat ini kalian sedang berada disatu kapal ditengah samudera, ombak pasti akan silih berganti menerjang kapal kalian, dan di saat itulah kekompakan kalian sebagai pasangan akan diuji, apa kalian ingin menyelamatkan diri sendiri, selamat bersama atau tergulung ombak berdua."


"Kami berempat ma, ada Embun dan juga Bening, apa mama lupa?" canda Arkan.


"Nah apalagi sekarang kalian berempat, ada dua anak yang sekarang harus kalian pikirkan, ada dua penumpang lagi di kapal kalian." Laras mengusap tangan Arkan yang masih mengalung di lehernya.


Rea hanya terdiam, hatinya benar-benar berkabut kebimbangan, haruskah ia mengakhiri hubungannya dengan Axel yang baru berjalan satu bulan? tidak, melihat wajah Arkan entah mengapa hatinya serasa terbelah, di satu bagian dia sadar masih mencintai suaminya, tapi di satu bagian yang lain kebohongan Arkan yang bercampur rasa kecewanya seolah masih membekas, meninggalkan luka menganga dihatinya yang tidak bisa ia tutup begitu saja.


*


*


*


INFO


NA nulis novel baru rilis saat ini juga, silahkan cek di profile Na yang ini dijamin ga ada pelakor sama pebinor deh 🤭 suer!!


jangan lupa jadiin Favorite kalian dan bantu rate Bintang lima ya


Thank a Ton


pict credit Instagram (cover belum jadi)

__ADS_1



__ADS_2