Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 130


__ADS_3

"Ax, bangun! apa yang terjadi?Ax."


Rea berteriak sambil menangis, melihat Axel tak sadarkan diri. Gadis itu memeluk tubuh Axel erat, meminta tolong sampai beberapa orang datang untuk membawa laki-laki itu ke rumah sakit.


Dokter memeriksa kembali luka Axel, ternyata terjadi pendaharan di bawah luka jahitan operasinya, beruntung setelah melakukan beberapa prosedur luka itu bisa tertangani dengan baik.


Rea duduk di samping laki-laki yang masih terbaring tak sadarkan diri itu, menyangga kepalanya penuh dengan perasaan bersalah dan bingung.


Sementara di rumah, Arkan sudah cemas karena beberapa kali menghubungi nomor sang istri tetapi tidak diangkat. Rea memilih pindah duduk dan menyandarkan badannya ke sofa, menatap Axel yang masih belum sadarkan diri.


Selang satu jam, terdengar suara Ax lirih memanggil nama Rea.


"Re...,"


Ibunda Bening dan Embun itu terkejut, melihat Axel yang sudah sadar ia langsung mendekat, menekan tombol emergency disamping ranjang agar perawat datang untuk memeriksa keadaan kekasih gelapnya itu.


"Apa kamu merasa sakit sekali?" tanyanya sambil berlinangan air mata.


Belum sempat laki-laki itu menjawab, Dokter dan perawat terlebih dulu masuk ke dalam untuk memeriksa kondisinya.


"Semoga tidak terjadi infeksi pada lukanya, kita harus benar-benar menjaga lukanya agar segera kering dan menutup kembali," pesan sang dokter.


Setelah dokter dan perawat pergi, Rea mendekat ke ranjang kembali, menatap Axel yang juga tengah menatap dirinya dengan sorot mata teduh, sorot mata yang siap untuk memporak-porandakan pertahanan hatinya kembali.


Ax meraih tangan Rea yang masih berdiri di sampingnya, menautkan jemarinya erat ke tangan gadis itu.


"Aku tahu apa yang ingin kamu katakan, kamu ingin menyudahi hubungan kita kan?" lirihnya.


Bibir Rea kelu, memang benar alasan dirinya ingin bertemu kakak tirinya itu adalah untuk mengakhiri hubungan diantara mereka, tapi melihat kondisi Ax sekarang Rea seolah terombang-ambing kembali di dalam kubangan arus yang entah kemana akan membawanya berlabuh.


"Ax, aku...,"


"Bukankah kamu bilang setelah pernikahan Ken dan Elang?" potong Axel. "Re, setelah itu bolehkah aku membawa Embun pergi bersamaku?"


Rea membelalakkan matanya tak percaya, "Apa maksudmu? mau kamu bawa kemana Embun?"


"Menjauh darimu dan Arkan, aku berjanji tidak akan pernah muncul lagi didalam hidup kalian, tapi aku mohon biarkan Embun ikut bersamaku, setidaknya aku bisa memiliki anak itu, dan mengingat bahwa kita juga pernah memiliki kenangan."


Laki-laki itu meringis kesakitan, melihat keadaan sekaligus mendengar ucapan Axel, Rea hanya bisa menggelengkan kepalanya berkali-kali.

__ADS_1


"Sudah lah Ax kita bicarakan semuanya setelah kamu benar-benar sembuh, sekarang lebih baik kamu pikirkan kondisi kesehatanmu dulu," pinta Rea.


Ax terdiam, niat jahat di hatinya untuk membuat Rea bercerai dengan suaminya seakan masih mengusiknya, tapi hati kecil laki-laki itu terus saja berbisik lirih, menyuarakan rintihan bahwa apa yang dia lakukan sama sekali tidak benar.


"Re, aku tahu kamu sangat mencintai Arkan, tapi bukankah kamu berkata kamu juga mencintaiku? tidak bisakah kamu memilihku dan meninggalkan Arkan?" bisik Ax dalam hati.


Akhirnya malam itu Rea memutuskan menghubungi sang mama dan papa secara diam-diam untuk menemani Axel di rumah sakit, hal itu dilakukan Rea saat kakak tirinya tengah tertidur.


Lidia dan Jordan buru-buru datang ke rumah sakit dan terkejut mendengar cerita Rea tentang kondisi kakak tirinya itu.


"Bukankah dia bilang ke luar kota? kenapa jadi begini," tanya Lidia cemas.


Rea hanya terdiam, memandang ke arah laki-laki diatas ranjang pesakitan itu penuh rasa iba. Setelah memastikan Axel dijaga oleh orang yang tepat, gadis itu berjalan gontai keluar dari rumah sakit, ia masih menyempatkan diri untuk ke salon, setidaknya untuk menutupi kebohongannya ke sang suami.


Rea menelpon Arkan, meminta maaf karena tidak mengangkat telpon darinya tadi, gadis itu berkata akan langsung datang ke lokasi double date nya dengan Elang dan Kinanti. Arkan hanya mengiyakan ucapan Rea tanpa bertanya alasan kemana gadis itu pergi.


Sementara saat sang istri menghubunginya tadi, Arkan ternyata tengah duduk di ruang kerjanya, dengan hanya diterangi lampu meja mata Arkan menatap layar laptop di hadapannya, tatapan nanar nyaris tak percaya terpancar dari manik matanya, bibirnya nampak tersenyum getir saat menggeser setiap file foto dari flash disk yang beberapa saat lalu ia raih dari balik tumpukan berkas di mejanya, laki-laki itu kemudian memegangi keningnya dengan telapak tangannya saat mendengarkan rekaman audio berisi suara Rea, Arkan menunduk terdiam merasakan dadanya tiba-tiba sakit bagaikan disayat ribuan belati tajam.


****


Sebuah makan malam romantis di sebuah restoran favorite mereka telah Rea pesan, melihat sang istri yang sudah berada di sana Arkan merasa lega, Rea tersenyum berdiri dari kursinya menghampiri sang suami, memeluk pinggang Arkan, mengecupi bibirnya mesra.


Rona bahagia menghiasi wajah mereka, bahkan Rea menautkan jemarinya erat ke tangan Arkan setelah makan, laki-laki itu hanya bisa tersenyum menanggapi setiap omongan lawan bicaranya entah itu Elang, Kinanti atau istrinya.


"Kenapa kamu sepertinya hari ini menjadi pendiam? apa jatah dari Rea kurang?" canda Elang yang melihat adik iparnya bersikap tak seperti biasanya.


"Apa kamu sedang sakit?" timpal Ken yang malam itu sangat cantik dengan gaun selutut berwarna nude.


Rea terlihat khawatir dan langsung memegang kening sang suami, menatap wajah Arkan dengan penuh kecemasan, "Apa kamu tidak enak badan?"


Arkan tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, membelai pipi Rea dan berkata bahwa dirinya baik-baik saja.


Selesai menikmati makan malamnya mereka tak lantas pulang begitu saja, Kinanti spontan memberikan sebuah ide saat melihat botol wine di atas meja mereka sudah kosong.


"Bagaimana kalau kita main truth or dare?"


Ketiga orang yang diajak bicara terlihat kebingungan. Ya, meskipun mereka tahu maksud dari game yang memang tengah populer itu.


"Aku ikut." Arkan meletakkan botol wine kosong itu di tengah meja, membuat Elang menaikkan alis matanya, sedangkan Rea hanya tersenyum sambil menegakkan badannya seolah antusias dengan permainan itu.

__ADS_1


"Jika kepala botol ini menghadap ke salah satu di antara kita, orang itu harus menjawab pertanyaan dari tiga orang lainnya." Ken menjelaskan aturan dari permainan.


Arkan mulai memutar botol kosong itu, mereka terlihat santai karena beranggapan hanya sebuah permainan biasa, kepala botol itu berhenti tepat menghadap ke arah Rea, gadis itu menghembuskan napas kasar tak menyangka harus memulai permainan itu lebih dulu.


"Aku akan bertanya lebih dulu," sela Ken antusias, "Truth or dare?"


"Dare," jawab Rea cepat.


"Ah curang, aku ingin kamu memilih jujur," gerutu Kinanti.


Elang yang mendengar hanya tertawa menanggapi kekesalan sang kekasih ke adik perempuannya.


"Oke, aku ingin kamu mengucapkan kalimat cinta ke Arkan, aku ingin melihat bagaimana caranya supaya aku juga bisa belajar merayu kakakmu." Ken tertawa sambil menyangga dagunya ke atas meja.


Rea tersenyum menatap wajah Arkan, menggenggam tangan prianya itu, "Sayang, aku tahu aku bukan wanita yang baik, aku sadar banyak memiliki kekurangan, bahkan banyak kesalahan yang aku lakukan kepadamu, tapi aku benar-benar sangat mencintaimu, kamu pernah bilangkan? jika aku meminta nyawamu pasti akan kamu berikan, aku sama sekali tidak akan meminta itu karena aku ingin kita hidup berdua selamanya, jika harus mati aku juga ingin mati bersamamu."


Kalimat Rea bagaikan sebuah pengakuan ditelinga Arkan, sementara bagi Elang dan Ken ucapan Rea terdengar begitu manis.


Arkan membelai pipi istrinya, memandang manik mata Rea dalam, "Sekarang giliranku, truth or dare," lirih Arkan tanpa memberi jeda.


"Truth," jawab Rea cepat, gadis itu menghadapkan badannya ke arah sang suami.


"Kamu tahu aku pernah melakukan cinta satu malam dengan Sam bahkan memilik anak dari perbuatan itu, sekarang jawab jujur! apa dalam hatimu kamu ingin membalas perbuatanku? pernahkah terpikirkan olehmu untuk melakukan one night stand dengan pria lain atau berselingkuh di belakangku?"


Elang dan Ken terlihat kaget, bahkan anak sulung Farhan Pradipta itu hampir tersedak air mineral yang sedang dia tenggak, sementara Rea seketika merasa tubuhnya kaku, ia terdiam mendengar pertanyaan sang suami.


-


-


-


-


-


-


Jangan lupa ya kak Like, Komen, rate dan Vote

__ADS_1


terima kasih 😘


__ADS_2