
Mohon baca BAB 133 bagi yang belum mengerti 🥰
Cerita Arkan dan Rea SUDAH TAMAT, ini ending versi KEDUA untuk Axel dan jelas SUDAH BERBEDA ALUR CERITA.
_
_
_
_
_
Keluar dari taksi, Rea menatap pagar home stay milik keluarga Pak Rahmat dan Bi Ulfa, mantan sopir dan pembantu yang pernah bertahun-tahun nenemaninya dulu.
"Rea!" Panggilan dari sang mantan guru sewaktu SMA membuyarkan pikiran gadis itu.
"Mba Nisa."
Senyum Rea mengembang, ia langsung memeluk Anisa yang baru saja memarkirkan motornya setelah pulang kerja dan menjemput anaknya dari sekolah.
Melihat Rea membawa dua buah koper, Anisa mengernyitkan dahi. Rea yang sadar bahwa wanita itu pasti heran mendapati dirinya tengah berada disana sambil membawa koper bermaksud menjelaskan. Namun urung Ia lakukan saat melihat Pak Rahmat mantan sopirnya keluar dari dalam dan menyambutnya dengan ramah.
"Bapak!" Terharu, Rea memeluk pria tua itu erat.
Dengan wajah penuh penyesalan Rea menceritakan bahwa dirinya sudah bercerai dari Arkan. Berkata ingin menenangkan diri, Rea bermaksud menyewa home stay selama kurang lebih satu tahun.
Home stay milik keluarga Pak Rahmat memiliki taman bunga nan menyejukkan mata, apalagi bangunan joglo di depan kamarnya, membuat Rea merasa nyaman dan betah untuk berlama-lama membaca buku atau menggambar di sana.
Selama hampir tiga minggu setiap harinya Rea selalu menghabiskan waktu paginya dengan berjalan-jalan, bahkan ikut Bi Ulfa ke pasar tradisional menjadi kesenangan tersendiri untuk Rea sekarang.
Semua orang belum menyadari Rea tengah berbadan dua, sampai disuatu pagi Ia mual karena mencium bau ikan, gadis itu bolak balik ke belakang.
"Re, apa kamu hamil?"
Suara Anisa mengagetkan Rea yang tengah memuntahkan isi perutnya ke wastafel. Menyeka mulutnya dengan tissue, gadis itu hanya bisa mengangguk lalu menangis.
Memeluk Rea yang sudah seperti adiknya sendiri, Anisa menepuk punggung Rea yang masih terus menangis, mencoba menenangkan gadis itu.
"Jadi bukan anak Arkan?"
Menggeleng, Rea mencengkeram bagian dada bajunya setelah menceritakan semuanya ke Anisa, entah mengapa Ia merasakan sesak di bagian sana.
Terdiam mendengar dan melihat Rea seperti itu, Anisa juga bingung harus berbuat apa, yang bisa ia lakukan hanya menepuk-nepuk bahu Rea mencoba menenangkan.
"Jadi maksudmu kamu sedang bersembunyi dari orang-orang agar tidak ada yang tahu kamu sedang hamil?"
__ADS_1
Mengangguk kemudian menghapus air matanya, Rea mencoba mengatur napasnya untuk kembali berbicara kepada Anisa.
"Aku takut orang-orang membenci bayi ini Mba," lirihnya.
"Kenapa kamu tidak bercerita kepada Axel? bukankah dia berhak tahu bahwa kamu sedang mengandung darah dagingnya?"
"Aku takut jika bayi ini menghalangi kebahagiaan Axel, dari awal aku yang salah Mba, aku merasa layak menanggung semua ini sendiri." Rea semakin terisak.
Sementara itu Ax seperti orang yang kehilangan arah, perginya sang pujaan hati begitu saja membuat hatinya benar-benar terluka, alangkah lebih baik bagi Ax jika tidak bisa memiliki Rea tapi masih bisa melihat wajah gadis itu, sekarang melihat wajah Rea pun ia tak bisa.
Berniat pergi ke Perancis mencari gadis itu Ax takut jika usahanya bagaikan mencari jarum ditumpukan jerami, hiburan baginya hanyalah melihat senyuman Embun.
"Hei, maaf karena papi mama pergi menjauh darimu Bu, maaf," lirihnya sambil menciumi punggung tangan Embun.
***
Pagi itu, setelah cuti menikahnya habis digunakan untuk pergi honeymoon keliling Eropa bersama Elang, Kinanti kembali bekerja di rumah sakit. Meregangkan punggungnya setelah memeriksa beberap pasien, Ken menghembuskan napas lelah, bukan karena pekerjaan, Ia juga merasa sangat rindu ke adik iparnya, Rea.
Sudah tiga minggu dan gadis itu sama sekali tidak menghubunginya atau sekedar memberi kabar. Berjalan menuju kantin untuk makan, langkah kaki Kinanti terhenti saat rekan kerjanya sesama dokter kandungan menyapa dirinya.
Mereka mengobrol tentang pekerjaan, gosip sampai dimana teman Ken itu menggodanya karena baru saja menikah.
"Wah, adik iparmu saja hampir memiliki tiga anak, jadi aku berharap kamu segera menyusul Ken."
"Adik iparku?" Tanya Kinanti terkejut.
Kinanti menelan salivanya, mendapatkan informasi seperti itu Ken lantas memberi tahu sang suami.
"Dasar anak itu." Elang bersungut kesal, marah. Namun, sebenarnya Ia khawatir dengan keadaan adiknya.
"Lalu bayi siapa yang di kandung Rea? jika milik Arkan, dia harus tahu bahwa Rea tengah mengandung," ucap Ken.
"Jika Arkan, bagaimana jika bayi itu anak Axel?"
Terdiam, Kinanti hanya bisa menyandarkan punggungnya sambil menghela napas panjang.
"Gadis bodoh, aku tahu dia ingin menanggung semuanya sendiri." Geram, Elang memukul kemudi mobilnya sendiri.
"Apa?" Arkan membelalakkan matanya lebar saat Elang memberitahu kepadanya bahwa Rea tengah hamil.
"Apa kamu ingat kapan terakhir kali melakukannya dengan Rea?" Tanya Kinanti yang sedang mencoba menghitung kemungkinan dari usia kandungan Rea yang Ia dengar dari temannya tadi.
"Aku lupa Ken, sepertinya sudah lama." Arkan terlihat frustrasi. "Dia pernah berkata akan menemuimu untuk memasang alat pencegah kehamilan."
"Dia tidak pernah benar-benar menemuiku Ar," ungkap Ken.
"Aku yakin bayi itu pasti milik Ax, jika itu anakku Rea tidak mungkin pergi seperti ini, bukankah dia berkata satu tahun? satu tahun cukup untuk dirinya bersembunyi sampai melahirkan bayinya," terka Arkan.
__ADS_1
"Apa kita harus bertanya pada Ax?" Tanya Elang, Ia terlihat ragu, memandang bergantian istri dan mantan adik iparnya.
Saat mereka tengah sibuk memikirkan segala kemungkinan tentang dirinya, Rea malah terlihat bersenang-senang, menikmati jalan-jalan bersama dengan Anisa dan kedua anaknya ke sebuah acara kebudayaan.
Menyantap makanan-makanan jaman dulu, Rea benar-benar merasa bahagia. Ya dia harus bahagia, Bidan yang memeriksa kandungannya berkata bahwa tekanan darahnya tinggi, stress tidak baik untuk dirinya dan juga kandungannya.
Ditengah antrian makanan yang lumayan sesak, Rea memilih mundur kebelakang, tersenyum lebar, gadis itu membiarkan Anisa berebut semangkok bakmi goreng dengan pembeli lain.
Tanpa Rea sadari, Bumi dari tadi mengamati gadis itu. Menarik-narik baju sang mama, adik perempuan Elang itu menunjuk ke arah Rea berdiri.
"Ma, bukankah itu Mba Rea? untuk apa dia di Jogja? apa sedang liburan bersama Mas Elang?"
Maya melihat ke arah yang Bumi maksud, menajamkan mata, wanita itu langsung menyapa Rea.
"Re... Rea!"
Menoleh, Rea tiba-tiba merasa ketakutan, Ia menarik Anisa dan kedua anak mantan gurunya itu untuk pergi dari sana.
"Kenapa? Ada apa Re?" Tanya Anisa yang kebingungan.
"Mba aku tiba-tiba pusing, ayo kita pulang!" pintanya sambil memelas.
Merasa khawatir, Anisa langsung memesan sebuah taksi online. Sementara Maya dan Bumi terlihat bingung dengan tingkah Rea.
Menjauh dari kerumunan, Maya menghubungi Elang, bertanya apakah sang adik sedang liburan ke Jogja.
Elang yang masih bersama Arkan dan Ken terlihat terkejut sekaligus senang. Masih dengan ponsel yang berada ditelinganya Ia menyampaikan apa yang baru saja Ia dengar dari sang mama.
"Rea tidak berada di Perancis, dia di Jogja."
_
_
_
_
_
_
_
_
yuhuuu di part ini aku buka kartu ya, kalau setting lokasi cerita di novelku sebelumnya yaitu MENCARI LANGIT BIRU itu Jogja. Jadi di bab awal novel ini lokasi dimana Celine teman Rea melakukan Bridal shower, asal Kota Kinanti dan Elang, pantai dimana Rea jalan-jalan sama Elang itu semua di Jogjakarta. 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1
Salam dari Bakpia hihihi