
Hi Reader, terima kasih sudah mampir Ini bab terpanjang yang aku tulis 😁 hampir 2000 kata, semoga gak ngantuk bacanya ❤❤❤❤
-
-
-
-
-
-
-
Pagi-pagi Rea mengetuk pintu kamar Axel, mendapati gadis itu didepan pintu kamarnya membuat Axel terlihat sedikit kaget.
"Makasih ya semalam kata mama kamu jemput aku di club," ucap gadis itu saat melihat kakak tirinya berdiri membukakan pintu kamarnya.
"Jangan pergi sendirian lagi, apalagi sampai mabuk, kamu tidak tau banyak lelaki hidung belang disana."
Rea mengangguk sambil tersenyum mendengar larangan dan nasihat Axel.
"Apa aku boleh minta sesuatu?"
"Katakan!"
"Aku ingin cuti bekerja, maksudku untuk sementara aku minta ijin untuk tidak datang ke hotel, biar berkas-berkas yang perlu aku kerjakan dikirim, aku ingin bekerja dari rumah dulu."
"Apa kamu sudah minta ijin Agni?" tanya Axel.
"Untuk apa ijin mba Agni kalau yang punya hotel ada didepanku," canda Rea.
Hati Axel sedikit lega melihat Rea sudah bisa tersenyum.
"Hari ini apa kamu ada acara?" tanya Axel saat mereka berjalan bersama menuruni anak tangga.
"Ga ada, kenapa?"
"Aku ingin mengajakmu pergi kesuatu tempat." Axel melompati satu anak tangga kemudian berbalik menatap Rea, gadis itu mengerjabkan matanya kaget dengan kelakuan laki-laki itu.
"Kemana?"
Axel tersenyum melihat ekspresi wajah gadis itu "Rahasia, kamu mau kan?"
Rea menggangguk, kemudian mereka menghampiri Jordan dan Lidia yang duduk dimeja makan. Gadis itu memeluk mamanya kemudian mencium pipi Lidia sambil berbisik
"Maaf selalu bikin mama kuatir."
Lidia mengusap lengan anaknya yang melingkar di lehernya "Ayo sarapan."
Rea tersenyum kemudian duduk disamping mamanya.
"Apa adik bayi sudah menendang mama hari ini?" tanya Rea penasaran dengan wajah penuh senyum sambil melahap roti selai miliknya.
"Sudah berkali-kali, papa pikir adikmu sedang main bola didalam sana" jawab Jordan sambil tekekeh.
Rea terlihat tertawa, menatap ke arah Axel yang sedari tadi melihatnya, wajah laki-laki itu terlihat bahagia karena gadis didepannya sudah bisa tertawa, padahal gadis itu hanya sedang berusaha menyembunyikan luka hatinya dari orang-orang.
Axel bersandar dipembatas tangga didepan kamar, tangannya memainkan kunci mobil yang sedang dia pegang, Rea keluar kamar mendapati kakak tirinya tersenyum dan mendekat ke arahnya.
"Ayo!" Axel menggenggam tangan Rea, menggandengnya menuruni anak tangga.
Axel ternyata mengajak Rea pergi ke taman hiburan, mereka bahkan belum masuk kedalam tapi mata gadis itu sudah berbinar melihat berbagai macam wahana permainan dari tempatnya berdiri.
Axel kembali menggenggam tangan Rea mengajaknya untuk mengantri tiket, setelah tiket didapat mereka kemudian berjalan masuk ke area taman hiburan seperti pengunjung yang lain. Rea berjalan cepat sampai tidak sadar meninggalkan Axel dibelakang, gadis itu berbalik menarik lengan kakak tirinya untuk cepat berjalan seperti dirinya.
Beberapa kali Axel menemani Rea naik wahana permainan, tapi beberapa kali juga laki-laki itu menolak untuk ikut menaiki wahana yang terlihat begitu sangat kekanak-kanakan bagi seorang laki-laki.
"Aku mau naik itu" tunjuk Rea ke sebuah wahana roller coaster.
Axel menggaruk tengkuk kepalanya "apa kamu tidak mau naik yang lain?"
"Ayolah Ax," Rea menarik tangan laki-laki itu untuk mengantri naik.
Rea sangat senang karena bisa berteriak dengan keras saat menaiki wahana itu sementara Axel dengan sok cool menutupi ketegangannya, hanya dua menit waktu yang di butuhkan roller coaster itu bergerak dari start sampai finish, tapi bagi Axel dua menit itu terasa lama.
"Aku mau naik lagi," ucap Rea.
__ADS_1
"Lagi?" Axel membelalakkan matanya.
Gadis itu mengangguk sambil menarik ujung kaus kakak tirinya seperti anak kecil.
Akhirnya mereka naik untuk kedua kalinya, setelah turun Rea berkata ingin naik lagi, Axel membungkuk memegangi perutnya, mengatur napasnya sepertinya dia mual.
"Naik sendiri, aku sudah tidak sanggup," ucapnya.
"Ish..., masa gitu aja takut,"cibir Rea.
"Aku tidak takut tau, bukannya aku sudah menemanimu dua kali naik."
Rea sudah pergi meninggalkan Axel untuk kembali mengantri, sementara laki-laki itu memilih membeli minuman dan makanan kemudian duduk didekat sana sambil menunggu adiknya.
Tak lama gadis itu terlihat berjalan keluar sambil cemberut mendekat ke arah Axel yang menyodorkan kaleng minuman ke dirinya.
"Kenapa?"
"Maksimal hanya boleh dua kali naik," gadis itu mendengus kesal.
"Sudahlah, besok-besok kita kesini lagi, atau kamu mau aku bookingkan roller coaster itu untuk kamu naiki sendiri seharian?"
"Apa bisa?" tanya Rea polos.
"Apa yang tidak bisa aku lakukan?" ucap Axel sombong.
Rea hanya tersenyum melirik ke arah Axel sambil menenggak minumannya.
Setelah puas bermain mereka berjalan menuju parkiran mobil untuk pulang, Axel melihat wajah Rea yang terlihat lebih sumringah daripada tadi pagi, ia senang berarti usahanya mengajak Rea pergi ke taman hiburan tidak sia-sia.
❤❤❤❤❤
Sesampainya dirumah mereka berpisah diujung atas anak tangga untuk masuk ke kamar masing-masing.
"Terima kasih, hari ini aku senang sekali " ucap Rea.
Axel tersenyum mengucapkan selamat malam tapi tetap berdiri diposisinya untuk memastikan Rea masuk ke dalam kamarnya terlebih dulu. Baru saja Axel memegang gagang pintu kamarnya terdengar Rea membanting pintu, derap langkah kakinya terdengar berlari menuruni anak tangga.
Sontak Axel berbalik ingin mengejar tetapi gadis itu sudah menghilang dari anak tangga.
Rea berlari keluar menghentikan sebuah taxi kemudian pergi ke peternakan kuda dimana kuda kesayangannya berada disana.
Rea berjalan gontai saat melihat kuda kesayangannya yang baru saja dia berikan ke Elang terlihat tersungkur di lantai kandang, kuda itu terlihat hampir mati.
Gadis itu masuk kemudian duduk dibawah memegang kepala kuda itu sanbil menangis tersedu-sedu.
"Thomas loe ga boleh mati, sumpah demi apa loe ga boleh mati" ucap Rea sambil berurai air mata.
Terlihat mata kuda itu berair kemudian terpejam.
"THOMASSSSSS....," teriak Rea sambil terisak.
Seseorang terdengar berlari kemudian masuk kedalam kandang, memeluk Rea dari belakang. Rea berbalik menatap siapa yang memeluknya, ternyata Elang.
Dia sedang dalam perjalanan pulang kerumah dari bandara saat penjaga Thomas juga mengirimkan pesan kepadanya perihal keadaan Thomas. Rea meledakkan tangisnya di pelukan Elang, laki-laki itu hanya bisa mengusap punggung adiknya sambil sesekali menepuknya lembut.
Elang langsung pulang setelah Lidia bisa menghubunginya dan memberi tahu tentang kejadian yang menimpa Rea, wanita itu juga bercerita tentang hubungan anak gadisnya dengan Arkan, Elang merasa sangat cemas terlebih sekarang gadis ini mendapati kuda kenang-kenangan dari kakeknya mati.
Rea berdiri didepan gundukan tanah dimana Thomas dikubur, Elang memeluk gadis itu, mata Rea terlihat sembab.
"Ayo kita pulang!" ajak Elang.
Rea hanya terdiam mengikuti kakanya yang mengajak ia pergi dari sana.
"Kamu mau pulang kemana? apartemen, rumah ayah, apa rumah om Jordan?" tanya Elang.
Rea hanya terdiam
"Re.." ucap Elang lembut.
"Ke apartemenku aja" ucapnya.
Elang kemudian meminta sang sopir untuk mengantar mereka pergi ke apartemen Rea.
Gadis itu membuka pintu apartemennya mempersilahkan kakaknya masuk, Elang meminta sopirnya pulang terlebih dulu dan berkata akan pulang naik taxi nanti, Elang ingin menemani adiknya sebentar karena dia tau Rea sedang butuh teman.
Rea berjalan gontai duduk di sofa, kemudian merebahkan badannya, Elang duduk dibawah memandangi wajah adiknya yang terlihat sangat sedih, mengangkat kedua kaki adiknya naik ke sofa, lalu kembali duduk disamping Rea. Tangannya menyibak rambut Rea yang terlihat berantakan, menyelipkannya kebelakang telinga Rea.
"Tidurlah, aku akan disini sampai kamu tertidur" bisik Elang.
__ADS_1
Rea terdiam dengan wajah kuyu.
Elang benar-benar menunggui adiknya sampai tertidur, kemudian menggendong adiknya masuk ke dalam kamar, memakaikan selimut kemudian keluar untuk duduk disofa depan TV.
Ponsel Rea berbunyi beberapa kali, Elang tidak berniat lancang mengangkat telpon itu karena melihat nama mama Lidia tertulis di layar.
"Rea , kamu dimana kenapa tidak membalas pesan dan angkat telpon mama, ada apa Nak?" ucap Lidia panik.
"Tante, ini Elang."
Lidia sedikit terkejut "dimana Rea Lang?"
"Dia sekarang sedang tidur di apartemennya tante, tadi dia pergi ke peternakan kuda karena mendapat kabar Thomas hampir mati."
Lidia tercengang
"Tolong jaga dia Lang , dia benar-benar dalam kondisi yang sedang tidak baik," pinta Lidia.
"Tante mohon bantu tante buat dia melupakan masalah nya Lang," Lidia terdengar menangis terisak
"Tante tidak tega melihat dia seperti itu, kamu tau kan dia bisa tersenyum didepan orang tapi dia bisa menangis sendiri nanti."
"Iya tante aku pasti akan jagain Rea," Elang mencoba menenangkan wanita itu.
Lidia mematikan telpon, Elang kemudian meletakkan HP Rea diatas meja, merebahkan badannya menatap langit-langit disana. Tiba-tiba HP Rea berbunyi lagi ternyata panggilan itu dari Arkan.
"Halo."
"Kenapa kamu yang mengangkat, dimana Rea?," tanya Arkan saat mendengar suara Elang.
"Apa kamu pikir masih berhak bertanya seperti itu?"
"Aku serius, ada yang ingin aku sampaikan ke dia."
"Bukannya kalian sudah selesai saat kamu memutuskan menikahi anak gubernur, tidak ada dua minggu lagi kalian akan menikah kan? "
"Bukan urusanmu," jawab Arkan ketus.
"Urusanku, karena kamu tau pasti arti Rea buatku."
"Kamu ada dimana ayo kita bertemu!" Arkan terdengar sedikit kesal.
"Aku sedang berada di apartemen Rea, apa kamu mau kesini? aku tunggu!"
Arkan mematikan HPnya berlari keluar rumah membawa mobilnya ke apartemen Rea.
Elang menunggu Arkan yang datang sambil memejamkan mata disofa, beberapa kali terdengar suara alarm dari pintu yang menunjukkan bahwa seseorang dari luar mencoba masuk dan beberapa kali salah memasukkan password pintu itu.
Elang mendekat membuka pintu melihat Arkan yang sudah berdiri disana yang langsung menerobos masuk. Arkan berbalik menghadap Elang kemudian bertanya apakah dirinya yang mengganti password pintu.
Arkan tidak mendapat jawaban, dirinya langsung terdiam dan jatuh tersungkur karena tiba-tiba Elang melayangkan pukulan ke wajahnya.
Elang berlutut dengan satu kakinya memegang kerah baju Arkan "Apa yang kamu lakukan?"
Arkan memegang tangan Elang yang sedang mencengkeram kerah bajunya kemudian berbalik memukul wajah Elang sampai laki-laki itu terjengkang.
Mereka berdua berdiri saling mencengkeram kerah baju satu sama lain, tanpa meraka sadari perbuatan mereka membuat sang pemilik apartemen terganggu dan keluar dari kamar. Rea buru-buru melerai perkelahian dua orang laki-laki itu.
"Kalian apa-apaan sih?" bentak Rea yang membuat mereka melepaskan cengkeraman satu sama lain, Rea menatap ke arah Arkan melihat memar dipipinya, kemudian beralih ke Elang yang ujung bibirnya terlihat berdarah, Rea mengusap darah diujung bibir kakaknya.
"Ngapain kamu kesini? aku sudah bilang aku ga mau ketemu kamu lagi" Rea menatap wajah Arkan, mencoba menahan air matanya yang hampir terjatuh.
"Pergi dari sini!" Rea menunjuk pintu kemudian berbalik menuju kamarnya lagi.
"Ada yang mau aku jelasin ke kamu Re."
Rea menghapus air matanya yang sudah menetes kemudian berbalik menatap ke arah orang yang sangat dicintainya itu.
"Kita udah selesai Ar, saat kamu mengambil keputusan sepihak menikahi Selena demi aku, sekarang lebih baik kamu pergi atau aku akan panggil security kemari" Ancam Rea.
Elang sudah membuka pintu meminta Arkan untuk menuruti perintah Rea, laki-laki itu hanya terdiam mendapat perlakuan seperti itu dari orang yang dia cintai.
Akhirnya Arkan memilih keluar, dia membenturkan kepalanya ke pintu apartemen Rea yang sudah ditutup mantan calon kakak iparnya.
Elang masuk kedalam kamar Rea, melihat gadis itu duduk diujung ranjang menunduk menangis terisak sambil memukul-mukul dada dengan tangan kanannya, Elang meraih tangan Rea agar tidak terus memukuli dadanya sendiri.
"Menangislah, ada aku disini," bisik Elang yang kemudian memeluk gadis itu erat.
Rea memeluk pinggang kakaknya dengan kedua tangannya, membenamkan kepalanya diperut Elang sambil masih terus menangis.
__ADS_1