Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 91


__ADS_3

Cindy menggendong bayinya ditepian ranjang bersiap untuk pulang. Wajahnya terlihat tersenyum meskipun Rea tau batin temannya itu pasti seolah sedang teriris sekarang.


Dua jam yang lalu Rea datang untuk memberikan amplop titipan Celine ke Cindy, isinya ternyata adalah sebuah surat pernyataan bahwa dia tidak akan pernah menuntut Bara untuk mengakui anaknya, rumah dan sejumlah uang di tabungan diberikan sebagai kompensasi untuk Cindy.


Seorang laki-laki berpakaian rapi dan berjas masuk ke dalam ruangan itu, mengambil amplop yang sudah ditandatangani Cindy, Rea tahu bahwa laki-laki itu pasti salah satu pengacara keluarga Celine.


Cindy berkata bahwa sang ibu akan menemaninya untuk merawat Arga, ia berbohong bahwa sang suami pergi bertugas ke luar negeri untuk waktu yang lama, bayi mungil itu terlihat terlelap dipelukan ibundanya membuat Rea merasa sangat iba, bahkan ia berkali-kali mencoba agar tidak meneteskan air mata.


Masih di rumah sakit yang sama Rea memilih untuk memeriksakan kandungannya ke dokter yang sedang praktik di jam itu, bukan dengan Kinanti karena jadwal pemeriksaannya dengan dokter itu masih tiga minggu lagi.


Rea keluar sambil memandangi hasil USG dua dimensi yang dia pegang, bibirnya tersenyum mengetahui bahwa kedua bayi didalam kandungannya diperkirakan berjenis kelamin perempuan. Rea sudah hampir menyalakan mesin mobilnya saat ponselnya bergetar, ternyata panggilan dari Farhan, ayahnya meminta dirinya untuk datang ke rumah.


***


"Apa ayah tidak bekerja hari ini?" tanya Rea saat melihat ayahnya duduk diruang keluarga, gadis itu mendekat kemudian mencium punggung tangan Farhan.


"Ayah sedang malas," jawab Farhan enteng, ia lalu menepuk sofa disebelahnya meminta anak perempuannya untuk duduk disana.


Tangan Farhan terlihat meraih sebuah map kemudian memberikannya ke Rea. Gadis itu mengernyitkan dahi sambil membuka map yang diserahkan ayahnya tadi.


"Ayah, apa ini?" tanya Rea melihat namanya tertulis di sertifikat kepemilikan villa milik Farhan yang ada di Bali.


"Kamu ya, ayah sengaja tidak memberimu hadiah pernikahan agar kamu merengek meminta, tapi bahkan kamu sama sekali tidak menyinggungnya" Farhan melipat tangannya sambil menggelengkan kepala.


"Pergilah berlibur kesana bersama suamimu, bukankah kalian belum honeymoon?"


"Hem, karena urusan masing-masing aku dan mas Arkan memilih menunda honeymoon kami yah, lagipula setiap hari selalu terasa seperti honeymoon bagi kami." Rea terkekeh dengan kalimatnya sendiri.


Rea menutup map itu dan meletakkannya ke atas meja. Bahkan setelah mendapat hadiah sebesar itu dari Farhan, gadis itu terlihat biasa saja. Rea memilih mengeluarkan amplop dari dalam tasnya, membuka foto hasil USGnya tadi.


"Ayah, ini bentuk ucapan terima kasih aku ke ayah, bahkan mas Arkan belum aku beritahu, calon cucu ayah berjenis kelamin perempuan."


Rea menyodorkan foto USG itu ke Farhan, laki-laki itu melihat heran ke gambar dengan background hitam yang tidak jelas menurutnya, membuat Rea tertawa melihat ayahnya kebingungan.


"Lihat! Ini cucu-cucu ayah, yang ini mungkin anak Mas Arkan yang ini anak Axel." Rea menunjuk gambar difoto itu.


Farhan terlihat kebingungan, menatap heran ke arah Rea, bagaimana gadis itu bisa tersenyum bahagia menunjuk anak yang seharusnya tidak dia inginkan karena hasil dari perkosaan.

__ADS_1


"Apa kamu benar-benar bahagia?" tanya Farhan ragu.


Rea paham maksud dari pertanyaan sang ayah, gadis itu menjawab dengan anggukan kepala. Ia lalu menyandarkan kepalanya dipundak Farhan, sambil terus tersenyum menjelaskan tentang foto yang berada dalam genggaman tangan ayahnya.


***


Sore harinya di rumah Andi, Aryan terlihat kesal karena diminta mamanya untuk menemani Noah bermain, bukan karena tidak suka dengan bocah itu, tapi Aryan sama sekali tidak mengerti omongan Noah yang berbahasa Inggris.


"Loe ngomong apa sih?" gerutu Aryan saat Noah mulai merengek meminta sesuatu yang tidak dia mengerti.


"Bi...bibi, sini deh Bi!" teriak Aryan memanggil sang pembantu rumah tangga.


Wanita paruh baya itu tergopoh menghampiri Aryan dan Noah yang sedang duduk di karpet ruang tengah.


"Ada apa Mas Aryan?" tanya wanita itu.


"Ni bocah minta apa sih bi, aku ga ngerti," omel Aryan.


"Lha, mas Aryan yang sekolah aja ga ngerti gimana bibi Mas?" jawab pembantunya.


Noah masih terus merengek menggunakan bahasa Inggris. Dari arah ruang tamu terlihat Rea masuk kedalam, gadis itu terlihat heran ada anak berwajah bule di rumah mertuanya, ia menyerahkan sekantong buah ke pembantu Laras, meletakkan kunci mobilnya di meja sofa kemudian duduk memandangi Aryan dan Noah sambil mengusap perutnya.


"Anak siapa Yan? setahu mba ga ada keluarga kita yang nikah sama bule," jawab Rea.


Aryan mencebikkan bibirnya kesal "Ga tau Mas Arkan yang bawa." ia langsung pergi begitu saya meninggalkan Rea yang masih heran dan Noah yang terus merengek.


Dengan bahasa Inggris Rea mengajak Noah mengobrol, dari menanyakan namanya sampai apa yang di inginkan anak itu agar tidak merajuk lagi.


Laras yang baru pulang dari arisan dengan teman-temannya terkejut, dengan langkah cepat ia masuk kedalam rumah karena melihat mobil menantunya didepan. Laras hanya mendapati mainan Noah berserakan di ruang tengah, wanita itu cepat-cepat bertanya kepada Aryan yang dengan santai tengkurap diatas kasur sambil bermain game. Aryan berkata sang kakak ipar dan Noah sedang berada dikamar Arkan.


Laras lalu pergi ke kamar anak sulungnya, benar saja disana ia melihat Noah yang sedang tiduran dipangkuan Rea. Noah tertawa melihat video Barney and Friends dari ponsel milik Rea. Gadis itu melihat mertuanya yang sedang mengintip dari balik pintu dan tersenyum.


Rea turun kebawah sambil menggandeng Noah, melihat Laras yang sedang menyiapkan makan malam dimeja, ia berniat membantu sang mertua meskipun sudah dilarang.


"Hari ini aku mau nginep sini ya ma, aku udah kirim pesan ke Mas Arkan tapi kayaknya belum dibaca," ucap Rea.


Laras terlihat memandang ke arah Noah kemudian mendekat ke Rea yang sedang sibuk mengambil lauk dari penggorengan untuk ditata ke piring. Laras merasa bersyukur karena menantunya tidak bertanya kepada dirinya perihal Noah

__ADS_1


***.


Arkan membaca pesan dari sang istri sesaat sebelum pulang kerja, ia langsung memacu mobilnya menuju rumah orang tuanya. laki-laki itu merasa sangat cemas, saat masuk kedalam rumah Arkan melihat Noah yang tengah duduk disofa menonton televisi, ia lalu mencari keberadaan Laras. Arkan sedikit lega saat mamanya bercerita bahwa Rea sama sekali tidak menanyakan perihal Noah.


Arkan masuk ke dalam kamar masih dengan rasa cemas di hatinya. laki-laki itu tahu bahwa istrinya pasti tengah berada disana meskipun mendapati kamarnya kosong karena jelas terdengar suara gemericik air dari kamar mandi.


Rea keluar mendapati suaminya duduk diujung ranjang, bibirnya tersenyum mendekat kearah laki-laki itu, membelai pipi Arkan yang terlihat terkejut melihat Rea sudah berada didepannya. Arkan meraih tangan istrinya, menciumi telapak tangan gadis itu berulang-ulang.


"Aku siapkan baju ganti ya sayang, habis mandi kita makan, aku udah ga tahan lihat masakan mama."


Rea tersenyum berjalan menuju ke arah lemari pakaian, mengambil baju ganti untuk suaminya. Arkan mendekat memeluk pinggang sang istri dari belakang, menciumi pundak Rea penuh rasa bersalah.


"Kenapa ga makan duluan? kasihan anak-anak kita," bisik Arkan.


Rea membalikkan badan, mencium sekilas bibir suami yang sangat dicintainya itu, membawa tangan sang suami ke perutnya.


"Mereka nurut kok sama mamanya, hari ini mereka aktif banget, nendang sana sini," cerita Rea dengan wajah bahagia.


Arkan malah semakin merasakan sesak di dadanya, laki-laki itu mencium kening sang istri lalu bergegas masuk kedalam kamar mandi.


Saat turun kebawah untuk makan bersama pertanyaan yang sangat ingin Arkan hindari tiba-tiba meluncur dari bibir sang istri "Sayang, Aryan bilang yang bawa Noah kesini kamu, anak siapa sih dia?"


Bibir Arkan kelu, istrinya memandang dengan raut wajah penasaran, Rea sampai mengernyitkan dahi menunggu jawaban suaminya, Arkan hampir buka suara saat tangan mungil Noah menggenggam tangan Rea, menarik gadis itu untuk segera duduk di meja makan. Rea berpaling dari sang suami mengikuti anak itu, lupa akan pertanyaan yang jawabannya masih belum keluar dari mulut sang suami.


Perasaan bersalah menggelayuti hati dan pikiran Arkan melihat sang istri tersenyum berbicara sambil mengambilkan makanan untuk Noah. Suasana di meja makan tak seperti biasa, Andi, Laras dan Arkan terdiam saling pandang melihat Rea yang seolah menjadi ibu Noah, gadis itu meyuapi dengan telaten dan sesekali mengelap bibir anak itu.


Di malam harinya, Rea duduk bersandar diranjang sambil mengusap rambut Noah yang sudah terlelap, ia merasa mengantuk kemudian berbaring disamping anak itu, Rea memandangi wajah mahkluk kecil yang memiliki wajah sangat tampan menurutnya, ia merasa kasihan berpikir bahwa Noah dititipkan atau mungkin ditinggalkan orang tuanya disana.


Arkan menghela napas melihat istrinya dari balik pintu, pelan-pelan ia masuk untuk menyelimuti tubuh Rea dan Noah, setelah itu ia masuk kedalam ruang kerja papanya, Arkan bingung memikirkan apa yang harus dia lakukan begitu juga sang papa, Andi hanya terdiam sambil menyandarkan punggung dikursi kerjanya.


"Sebaiknya kamu jujur ke Rea," ucap Laras memecah keheningan.


"Jangan lama-lama menyimpan rahasia ini dari istrimu Ar," lanjutnya.


"Lakukan test DNA, mungkin benar kamu melakukan itu tapi belum tentu Noah adalah anakmu," saran Andi.


Suasana kembali hening, sampai pintu ruang kerja Andi terbuka dengan kasar, ketiga orang yang berada didalam sana terjingkat melihat Rea yang sudah berdiri dibaliknya.

__ADS_1


"Melakukan apa? anak siapa? sayang apa maksud papa?" Rea menatap tajam ke arah suaminya.


__ADS_2