
"Aku ga mau Lang, aku disini aja."
"Kenapa? Aku ingin mengenalkan kamu sebagai calon istriku kepada kolega dan rekan bisnisku."
"Aku malu, liat sepertinya aku salah kostum."
"Tak masalah, kamu masih cantik, ayo keluar!"
Elang menarik tangan Kinanti sementara gadis itu masih berusaha untuk tetap diam ditempatnya.
Malam itu Farhan mengadakan pesta yang sebenarnya bertepatan dengan tanggal lahir almarhum sang papa Heru Pradipta. Semua kolega, rekan bisnis dan kenalan berkumpul disana, beberapa pejabat dan sosialita juga terlihat hadir.
Kinanti meratapi kebodohannya dengan datang kesana menggunakan sebuah dress yang sangat sederhana, untuk itulah dia tidak ingin keluar dari ruangan di dekat dapur kediaman calon mertuanya.
"Ayolah Ken, jangan seperti anak kecil," bujuk Elang.
"Keluarlah sendiri, aku malu." Kinanti terlihat tetap teguh pada pendiriannya, membuat Elang kesal dan meninggalkannya disana.
"Terseralah lah!" laki-laki berbalut jas hitam itu terlihat melepaskan tangan sang kekasih, pergi dengan raut wajah kesal.
Elang menghampiri Arkan dan Axel yang sedang berbincang, Ax baru saja mengajak Arkan bekerja sama seperti apa yang diminta Rea kepadanya kemarin, tiba-tiba seorang wanita mendekat bersama dengan seorang gadis, Rea yang memandang dari kejauhan terlihat tersenyum mendapati ke tiga laki-laki itu salah tingkah.
"Aku tau kamu menantu Farhan, istrinya Rea kan?" ucap wanita itu ke Arkan dengan nada gemulai.
"Selamat," bisik Arkan dalam hati sambil melempar pandang ke sang istri.
"Oh ya katanya kamu sebentar lagi akan menikah, mana calon istrimu? Apa tidak kamu ajak kesini untuk diperkenalkan ke orang-orang?" giliran Elang mendapat sebuah pertanyaan.
Elang hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, mencoba memberi jawaban yang rasional ke wanita itu, tidak mungkin ia berkata sang kekasih sedang bersembunyi di dekat dapur.
"Dia sedang pergi ke kamar mandi," jawab Elang.
Semua mata berganti tertuju ke Axel. Ax terlihat kebingungan, ia memilih melambaikan tangan ke seseorang yang entah dia kenal atau tidak untuk menghindari wanita itu.
"Maaf saya permisi dulu," ucap Axel sambil berlalu dan berpura-pura tergesa, ia sempat berbalik dan mencibir Elang dan Arkan.
Kedua laki-laki yang ia cibir terlihat kesal, namun seketika merubah ekspresi wajah mereka saat wanita itu dan anak gadisnya kembali memandang ke arah mereka.
Melihat suami dan kakaknya berada dalam situasi yang tak nyaman, Rea mendekat berkata pada wanita itu bahwa dirinya tengah ditunggu teman sosialitanya, wanita itu pun langsung pergi begitu saja meninggalkan ketiganya.
Arkan tertawa sambil memeluk pinggang sang istri, sementara Elang masih saja menekuk wajahnya.
"Bukankah Ken datang, kemana dia?" tanya Rea.
__ADS_1
"Dia bersembunyi di dekat dapur, dia bilang malu karena datang kesini dengan gaun sederhana," jelas Elang.
Rea melayangkan pukulan ke lengan sang kakak, sambil membuat ekspresi kesal diwajahnya "Dasar ga pengertian," ucapnya sambil berlalu.
"Mau kemana?" tanya Arkan.
"Menjemput calon istri Langit," jawab Rea sambil terus melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah.
Arkan tertawa mendengar jawaban istrinya, sementara Elang hanya menggelengkan kepala sambil menenggak minuman yang ada ditangannya.
***
"Kakak ipar, kamu tu lagi ngapain? Ya Tuhan!"
Kinanti yang sedang sibuk menata kue dengan beberapa orang yang mengenakan pakaian koki menoleh menatap gadis yang memanggilnya kakak ipar tadi.
Sejenak ia memandangi penampilan Rea dari ujung rambut sampai ujung kaki, meskipun tengah hamil, gaun berwarna merah yang dipakai adik kekasihnya itu terlihat begitu pas dan membuat penampilannya begitu menawan.
Ken lalu memandangi penampilannya sendiri seolah membandingkannya dengan penampilan Rea "Sudahlah nikmati pestanya, aku disini aja," ucap gadis yang sudah mengikat rambutnya dengan model ala kadarnya itu ke Rea yang merupakan adik kelasnya saat SMA.
Rea menghela napas, mendekat ke arah gadis yang beberapa bulan lagi akan menjadi anggota keluarganya, melingkarkan tangannya ke lengan Kinanti lalu menariknya untuk keluar dari sana, Ken masih bersikeras tak mau beranjak dari sana, tangannya terlihat masih memegang sepotong kue yang belum ia letakkan ke piring saji.
Dengan cepat Rea merampas kue itu dan memasukkan ke dalam mulutnya, mengunyah sambil berjalan menarik Ken menuju kamarnya yang berada di rumah papanya.
Rea mendudukkan calon kakak iparnya secara paksa di depan meja riasnya, membuka ikatan rambut Ken dan menggantinya dengan kuncir kuda. Ia lalu menatap Ken dari pantulan cermin.
"Aku tau saat SMA kamu sedikit tomboy, tapi kamu tidak bisa cuek dengan penampilanmu Ken," ucap Rea sambil mengambil beberapa alat make up dan mulai menyapukannya ke wajah Kinanti.
"Sesekali kamu harus menunjukkan kecantikanmu ke laki-laki yang kamu cintai, agar laki-laki itu sadar bahwa dirinya beruntung bisa mendapatkan kamu," lanjut Rea.
Ken hanya tersenyum, ia membiarkan sang calon adik ipar melakukan make over ke wajahnya.
"Selesai," ucap Rea sambil meletakkan kuas blush on ke meja riasnya, ia lantas memandangi wajah calon kakak iparnya yang terlihat berbeda sambil melepaskan ikatan rambut Kinanti tadi.
Mata Ken terlihat berbinar menatap hasil karya Rea di wajahnya, bibirnya tersenyum mendapati dirinya yang jauh berbeda dari biasanya.
Rea membuka lemari bajunya, mengeluarkan sebuah gaun berwarna silver yang masih terbungkus rapi.
"Gaun ini belum pernah aku pakai, cobalah semoga pas." Rea menyodorkan gantungan gaun itu ke Kinanti yang terlihat ragu.
"Kalau tidak pas aku akan meminta Steve membawakan semua koleksi gaun yang ada di butiknya ke sini sekarang juga," lanjut Rea.
Ken melebarkan manik matanya, seolah tak percaya dengan kalimat yang baru saja keluar dari bibir calon adik iparnya.
__ADS_1
"Lihat! Dirimu sudah seperti artis Hollywood," goda Rea saat dirinya dan Kinanti berdiri berdampingan di depan cermin.
Rea berjalan ke rak kaca yang berisi beberapa koleksi sepatunya, meminta Kinanti untuk mengambil sebuah kotak berwarna maroon di bagian paling atas rak. Kinanti terkejut lagi melihat isi di dalam kotak itu ternyata sepasang high heel dari brand ternama.
"Aku memang ingin memberikan sepatu itu kepadamu, tapi rencananya nanti setelah kamu resmi jadi kakak iparku, tapi sepertinya tak masalah aku berikan sekarang."
"Re...ini___,"
"Cepat pakai, aku sudah sangat ingin melihat ekspresi wajah Elang saat melihatmu," bisik Rea.
Setelah merasa sudah siap, kedua gadis itu turun menuju halaman rumah yang di sulap menjadi sebuah tempat pesta nan mewah, Kinanti agak sedikit merasa canggung, namun Rea membisikkan kata-kata penyemangat agar gadis disebelahnya lebih percaya diri.
"Satu pujian dari orang bernilai satu konsultasi gratis, OK!" bisik Rea ke telinga Ken menggoda.
Kinanti hanya menjawab dengan simbol OK menggunakan jarinya.
Benar saja saat keluar dari pintu rumah mewah milik Farhan semua mata tertuju pada sosok Kinanti, gadis itu berhenti berjalan mematung dan merasa sedikit gugup. Rea memilih berjalan menuju Elang dan suaminya, melingkarkan tangannya ke tangan Arkan, memandangi kakak laki-lakinya yang juga terlihat mematung.
"Aku membawa keluar ratumu, kamu berhutang___,"
Belum selesai Rea mengucapkan kalimatnya Elang sudah berjalan menghampiri calon istrinya, memberikan gelas yang dia pegang ke tangan adik iparnya.
"Dasar!" gerutu Arkan.
Elang berhenti di depan kekasihnya, bibirnya tersenyum lebar, matanya menunjukkan kekaguman yang tak terkira ke gadis yang benar-benar sangat dicintainya itu.
"Wow... Ken," Elang tertawa tak bisa meneruskan kata-kata untuk mengungkapkan rasa kagumnya.
"Apa aneh?" tanya Ken.
Elang menggelengkan kepala "kamu sangat cantik, aku begitu beruntung karena sebentar lagi bisa memilikimu," puji Elang sambil mengulurkan tangannya.
Mereka berdua lantas berjalan menuju ke tempat pesta, dengan bangga Elang memperkenalkan gadis di sampingnya sebagai calon istri ke para tamu yang dikenalnya, malam itu semua orang bergembira, beberapa tentu saja berpesta sambil membicarakan masalah bisnis, tak terkecuali Axel dan Arkan.
Noah datang bersama Laras dan Andi, Lidia dan Jordan pun terlihat membawa Ale, mereka bercengkerama dan sesekali bercanda, Noah berkali-kali menciumi perut mamanya, karena Rea berkata kepada anak itu bahwa sebentar lagi dia akan menjadi kakak.
Mereka larut dalam suasana hangat, sebelum tiba-tiba semua ponsel orang-orang yang ada disana berbunyi di saat yang hampir bersamaan, Rea heran karena dia memang tidak membawa ponselnya, Arkan dan Axel pun terlihat berhenti berbincang, merogoh benda pipih dari saku celana mereka masing-masing.
Mata Elang membelalak menatap layar ponselnya, begitu juga dengan Kinanti yang melihat ke arah ponsel sang kekasih.
"Ada apa?" tanya Rea bingung.
Gadis itu tiba-tiba merasa menjadi tersangka saat beberapa mata tamu undangan mengarah kepadanya.
__ADS_1