
Sembab, begitu yang dilihat Laras saat menatap mata anak dan menantunya ketika mereka berkumpul untuk sarapan, tetapi wanita itu sama sekali tidak berniat bertanya ada masalah apa baik kepada Rea maupun ke anak sulungnya.
Masih seperti biasa, Rea dengan telaten mengambilkan sarapan untuk sang suami yang terlihat sedang memangku sang anak Bening, sementara Embun tangah nyaman bermain di pangkuan Andi. Rea hampir mengambil Bening dari pangkuan Arkan bermaksud agar suaminya itu bisa sarapan. Namun, Arkan menolak, Ia meminta Rea untuk menikmati sarapannya lebih dulu. Memang setiap hari minggu pengasuh kedua bayi itu libur, maka mereka berdua harus menjaga Bening dan Embun sendiri, termasuk makan mereka juga harus bergantian.
Di meja makan itu, Andi terlihat menggoda Embun, menggelitik perut bayi itu dengan kepalanya sampai bayi itu tertawa terpingkal-pingkal, "mana papimu? kenapa sudah lama kakek tidak lihat papimu?" ucap Andi sambil masih terus menggoda cucunya.
Rea mengehentikan tangannya yang tengah menyendok sarapannya, saling melempar pandang dengan sang suami yang duduk disebelahnya.
"Ax sedang sakit, hari ini aku berencana untuk menjenguknya," ucap Arkan santai. Rea hanya bisa diam menatap sarapannya, sebenarnya dia sama sekali tidak berselera makan.
"Oh ya nanti malam titip Embun dan Bening lagi ya Ma, aku dan Rea harus pergi ke acara peluncuran aplikasi digital pendidikan milik teman," lanjut Arkan.
Laras menganggukkan kepalanya, "Tenang saja, mama sama papa tidak masalah untuk menjaga Bening dan Embun, mereka berdua manis dan tidak pernah rewel." Laras memegang pundak sang menantu, seolah ingin berkata bahwa jika ada masalah ceritakan padanya.
***
"Apa kamu benar ingin ke rumah sakit untuk menemui Axel?" ragu Rea bertanya ke sang suami yang sedang mengganti bajunya.
"Apa kamu mau ikut?"
"Apa yang ingin kamu lakukan?"
"Tenang saja aku tidak mungkin memukul orang yang sedang sakit, aku tidak segila itu, apalagi memukul laki-laki yang dicintai istriku," sindir Arkan.
Ia lantas tersenyum getir sambil membelai pipi Rea, berlalu pergi meninggalkan istrinya yang masih terdiam mematung, Rea hanya bisa memandangi punggung sang suami sampai menghilang dari balik pintu kamarnya tanpa bisa melakukan apa-apa.
Arkan terlihat kecewa setibanya di rumah sakit karena mendapati orang yang dia cari ternyata sudah keluar dari sana, laki-laki itu lantas menghubungi ponsel Axel, menanyakan dimana dirinya berada sekarang.
Ragu, Arkan datang ke rumah sang mertua. Lidia merasa ada sesuatu yang tidak beres telah terjadi saat mendapati menantunya datang seorang diri dan lagi mencari keberadaan sang anak tiri.
Lidia menanyakan ada keperluan apa sampai menatunya itu datang. Namun, Arkan tetap pada pendiriannya, ia tidak akan membeberkan masalah rumah tangganya ke orang lain meskipun itu orang tua dan mertuanya.
"Apa kamu mengenal laki-laki bernama Adam? apa kamu memintanya untuk sengaja datang kepadaku dan menyerahkan bukti perselingkuhanmu dengan istriku?"
__ADS_1
Axel yang sedang dalam kondisi kurang sehat itu terlihat semakin pucat dengan tembakan pertanyaan dari Arkan yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya.
"Apa kamu sudah tahu, tidak inginkah kamu menceraikan Rea?" jawab Ax enteng.
"Kau...." Arkan mendekat dan mencengkeram kerah baju laki-laki di hadapannya.
"Aku akan berterima kasih jika kamu bisa melepaskan Rea untukku." tajam Ax menatap lawan bicaranya.
"Ax, sepertinya selama ini aku sudah terlalu bersikap baik kepadamu, meskipun kamu sudah memperkosa istriku dan membuatnya harus mengandung anakmu aku dengan besar hati memaafkanmu, bahkan aku menganggap anakmu seperti anakku sendiri, tapi sepertinya kamu memang sudah berniat jahat kepadaku sejak awal." Penuh amarah, Arkan mengepalkan tangannya masih mencoba untuk tidak memukul Axel.
"Bercerai dengan Rea? itu kah yang kamu inginkan? itu kah niatanmu selama ini? bermimpilah! karena aku tidak akan membiarkan kamu mendapatkan apa yang kamu mau." Arkan melepaskan cengkeramannya dengan cara mendorong tubuh Axel ke belakang secara kasar.
Setelah hanya diam untuk sesaat, Axel mulai buka suara mendapati Arkan berbalik untuk pergi meninggalkan kamarnya.
"Kami sudah tidur bersama," ucap Axel.
"Tidak, aku tidak berbohong kami memang sudah pernah tidur berdua, meskipun aku dan Rea tidak melakukan hubungan badan, semoga dirimu salah paham," gumam Ax dalam hati.
"Banggakah dirimu berhasil tidur dengan wanita yang sudah bersuami?" sinis Arkan "Ax, aku akan menghukum istriku dengan caraku sendiri, aku juga akan membuat perhitungan denganmu," ancam Arkan sambil berlalu meninggalkan kamar kakak iparnya itu.
Laras mengetuk pintu kamar anak dan menantunya, Arkan hanya membuka sedikit pintu kamar itu agar mamanya tidak tahu bahwa istrinya sedang menangis lagi di dalam kamar.
"Mama sama papa mau ngajak Bening dan Embun pergi, mungkin sampai malam, nikmati pesta kalian dan tidak perlu khawatir."
Arkan hanya mengangguk, Laras yang mencium gelagat aneh dari tingkah anaknya sejak pagi nampak mengernyitkan dahinya. "Semua baik-baik saja kan?" tanyanya ke sang anak.
"Iya ma, memang ada apa?"
Laras menatap anaknya, jelas sekali ada kebohongan dan amarah yang bisa dia baca di mata Arkan. Wanita itu menepuk pundak anaknya sambil berucap lirih," Mama tidak tahu apa yang terjadi ke kalian, mama juga tidak ingin bertanya jika kalian tidak mau bercerita, tapi jangan berkata kasar atau mengambil keputusan apapun saat sedang marah!"
Setelah berpesan kepada sang anak Laras lantas pergi dari sana, meninggalkan Arkan yang terdiam mencerna dalam-dalam ucapan dari sang mama. Namun, terlambat. Dirinya sudah mengucapkan kalimat yang sangat menyakitkan sampai Rea meneteskan air matanya kembali.
"Sekarang kamu pilih, mempertahankan rumah tangga kita atau pergi ke pelukan Axel."
__ADS_1
Ucapan Arkan bagaikan sambaran petir di siang bolong di telinga Rea, nanar matanya menatap wajah sang suami.
"Kamu seharusnya sadar bahwa kita sudah bukan anak kecil atau remaja lagi, putuskanlah! karena aku sama sekali tidak bisa berbagi hati dengan laki-laki lain, katakan saja jika kamu memang ingin berpisah, tapi sebelum kamu memutuskan aku akan memberimu waktu untuk memikirkannya lebih dulu," Lanjut Arkan.
"Aku tidak perlu berpikir, aku tidak ingin kita...." Belum sempat Rea meneruskan kalimatnya Arkan sudah memotongnya terlebih dulu.
"Jangan menyela! pikirkan saja dulu! aku tidak ingin terlalu keras padamu karena aku tahu benar bagaimana sifatmu, aku bahkan mungkin lebih paham karaktermu melebihi dirimu sendiri."
Rea menunduk terdiam di tepian ranjang, buliran krytal bening semakin membanjiri indera penglihatannya, sementara Arkan masih berdiri menatapnya yang tengah berkubang dalam kepiluan, tak ada niatan di dalam hati Arkan untuk memeluk atau menenangkan pujaan hatinya itu, yang Arkan pikirkan sekarang hanya memberi sang istri pelajaran.
"Sudah jangan menangis lagi! kecuali kamu ingin semua orang tahu bahwa kita sedang ada masalah dengan melihat matamu yang bengkak."
Rea malah semakin terisak, tak ada lagi Arkan yang hangat, Arkan yang biasanya langsung memeluk dirinya saat ia tengah bersedih, menyadari perubahan sikap sang suami hatinya benar-benar sakit, ia sadar bahwa selama ini dirinya terlalu menganggap remeh sikap hangat suaminya.
Arkan keluar dari kamarnya meninggalkan Rea seorang diri, memilih pergi ke bawah dan menghempaskan badannya untuk duduk senyaman mungkin di sofa ruang keluarga.
Laki-laki itu mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya, membuka halaman peramban yang biasa dia gunakan, jemarinya mulai mengetikkan sebuah kata kunci di kolom pencarian, mata Arkan mulai menyapu setiap tulisan di layar ponselnya yang ternyata didominasi dengan kata talak dan perceraian.
Ia menghayati setiap kalimat yang dibacanya sambil menimbang segala sesuatunya baik-baik, karena bagaimanapun Rea adalah tulang rusuk baginya, sungguh sangat menyakitkan mendapati tulang rusuknya telah bengkok, sekarang hanya dua pilihan yang terpikirkan oleh Arkan, meluruskan dengan paksa tulang rusuknya atau membiarkannya melurus dengan sendirinya.Arkan membanting ponselnya di sofa, mendongakkan kepalanya menatap kosong langit-langit ruang keluarga.
-
-
-
-
-
-
-
__ADS_1
Maunya sok produktif double up tapi setelah dipikir-pikir ga jadi 🤣 jangan lupa LIKE KOMEN RATE dan VOTE nya ya kakak ❤