
Seperti biasa setelah mengantar Rea, Arkan berangkat ke pabrik tempatnya bekerja, hari itu dia dipanggil keruang atasannya. Arkan masuk kedalam ruangan general manager kemudian dia dipersilahkan untuk duduk, GM nya berkata bahwa dia akan dipindahkan ke cabang lain dengan posisi yang lebih tinggi, dia diminta untuk mencari pengganti sebagai GM ditempatnya bekerja sekarang, dan ingin menunjuk Arkan secara langsung untuk posisi itu.
Arkan kawatir sekaligus senang, kawatir kalau dia nanti dianggap melakukan praktik nepotisme karena ini perusahaan milik calon mertuanya, tapi dia juga senang karena ditawari jabatan yang lebih tinggi, itu artinya dia dipercaya dan kinerjanya selama ini diakui atasannya.
"Apa saya boleh berfikir dulu baru memutuskan Pak?" tanya Arkan
"Silahkan, aku harap besok sudah bisa mendapat jawaban dari kamu," jawab GM Arkan
Arkan keluar ruangan sembari berfikir, berpapasan dengan Wika salah satu staffnya di lift , sekilas Arkan melirik ada memar biru Pipi kanan anak buahnya itu. Arkan memanggil Irvan masuk ke ruangannya kemudian bertanya apakah Wika sudah menikah? Irvan menjawab dengan aggukan kepala.
"Kamu tau dia memiliki lebam dipipinya"
Irvan terkejut karena atasannya begitu perhatian sampai melihat luka lebam dipipi anak buahnya.
"Wika bilang tadi dia tidak sengaja membentur mesin foto copy saat berjongkok mengambil kertas yang jatuh diruang ATK Pak"
"Kamu yakin?"
Tanya Arkan melihat Irvan, raut mukanya seperti dirinya yang juga tidak percaya dengan alasan Wika.
"Sebenarnya tidak pak, saya takut bilang begini sebenarnya, tapi sepertinya itu perbuatan suaminya pak"
"Baiklah, segera kembali bekerja, tolong kamu awasi Wika, jika memang itu perbuatan suaminya, kita sebagai rekan kerja harus membantu dia"
"Baik Pak" Irvan lalu keluar dari ruangan Arkan
"Aku paling tidak suka dengan laki-laki yang main tangan kepada perempuan,apalagi istrinya,"bisik Arkan dalam hati
Jam menunjukan pukul satu siang, Rea tanpa memberi tahu calon suaminya datang ke pabrik untuk mengajaknya makan siang, dia bertanya ke satpam kemudian naik ke lantai atas dimana kantor orang yang ingin dia temui itu berada. Arkan sudah ingin turun untuk makan dikantin, tapi tiba-tiba HPnya berbunyi, sebuah panggilan masuk dari kekasihnya.
"Apa anda sudah makan siang Pak Arkan?" tanya Rea
__ADS_1
"Hampir, ini aku baru mau pergi ke kantin, apa kamu juga sudah....ma...kan" Arkan berbicara sambil membuka pintu ruangannya, melihat Rea sudah berdiri tak jauh darinya sambil memegang ponsel ditelinganya. Laki-laki itu kemudian mematikan Ponsel nya mendekat ke arah calon istrinya yang tengah tersenyum manis kepadanya.
"Kenapa tidak bilang mau kesini, naik apa kamu tadi?"
"Naik ojek"
"Hah serius?"
"Iya serius"
"kamu megang pinggang abangnya ga tadi pas bonceng"
"Iya aku pegang seperti ini" Rea memberi contohnya dengan memegang pinggang Arkan yang berdiri didepannya, menggoda
"Berani ya?" Arkan tau kalau Rea hanya bercanda
"Ayo sesekali besok kita pergi berdua naik motor aku kangen dibonceng kamu," ucap Rea manja
Di kantin Arkan dan Rea duduk berhadapan, mereka menikmati makan siang dengan santai, bahkan beberapa kali Rea mengambil nasi dengan sendoknya dari piring Arkan, sebaliknya Arkan juga dengan santai mengambil kuah dan bakso dimangkok Rea.
"Jangan yang itu" Rea memukul sendok Arkan dengan punggung sendoknya saat Arkan mau mengambil bakso urat di mangkok nya.
"Yang ini aja" sambil meletakkan bakso halus biasa ke sendok Arkan
"Pelit" protes Arkan tapi tetap memasukkan bakso yang ada disendoknya kedalam mulut
Rea tersenyum kemudian mengedarkan pandangannya ke kantin yang sedang ramai karena jam istirahat, tiba-tiba dia melihat sesosok wajah yang dia kenali.
"Ar..Arkan" Rea memanggil Arkan masih menatap wajah yang dia lihat tadi, kemudian menoleh ternyata Arkan sudah tidak ada dikursinya.
Arkan datang membawa satu mangkok bakso meletakkannya didepan Rea.
__ADS_1
"Nih aku minta bakso urat semua"
"Ishhh kamu ya, hei apa kamu kenal wanita itu?" tanya Rea sambil membuat tanda menunjuk wanita yang di maksud dengan matanya.
"Wanita berkemeja merah itu?"
"Iya"
"Dia Wika, staff ku, ada apa?"
"Ga, aku cuma penasaran aja"
Rea memakan bakso yang diberikan Arkan tadi, sesekali kepalanya menoleh ke arah wanita bernama Wika, memastikan apa dia wanita yang sama.
Setelah makan Rea pamit untuk kembali ke hotel , karena dia hanya ijin keluar sebentar untuk makan siang, Arkan menemani Rea menunggu taxi online yang di pesannya datang, menggenggam tangan gadis itu, Rea menggoyang-goyangkan tangannya seperti anak kecil, Arkan pun tertawa kemudian mengacak-acak rambut gadis itu.
"Jadi besok Sabtu jam berapa kita ketemu orang EO?"
"Oh ya hampir aku lupa, jam 4 sore, biar aku saja yang datang kerumahmu, lebih dekat jaraknya dari pada nanti kamu bolak-balik harus jemput ke apartemenku dulu"
"Naik taxi saja, nanti pulangnya aku antar" jawab Arkan sambil membantu Rea merapikan rambut yang diacak-acaknya tadi.
Taxi Rea sudah datang dia ingin bergegas masuk kedalam, tapi Arkan tidak melepaskan tangannya. Laki-laki itu malah mengedipkan matanya ke Rea.
"Apa? sudah nanti saja" jawab Rea sambil melepaskan tangannya dari genggaman Arkan, dan berlari masuk ke mobil kemudian melambaikan tangan.
"Memang kamu tau maksudku?" ucap Arkan sambil tertawa
"Pasti tadi dia mau minta cium," gumam Rea didalam mobil taxi yang membawanya kembali ke hotel
Ternyata mereka memiliki ikatan batin yang kuat.
__ADS_1