
Mereka menghabiskan waktu di villa Jordan sampai menjelang malam hari, Rea merasa ada yang sedikit berbeda dari ketiga orang yang ada didepannya, tapi gadis itu memilih untuk tidak bertanya karena mungkin hanya perasaannya saja.
Pukul delapan malam mereka sudah sampai dirumah Jordan, meskipun Lidia meminta mereka menginap Arkan dan Rea menolak dan langsung berpamitan untuk pulang.
Sepanjang perjalanan ke apartemen Rea , mereka mengobrol tentang keinginan Rea yang sepertinya selalu tidak berjalan sesuai rencana, pertama me time versi dirinya yang gatot alias gagal total karena kejadian Aryan yang meminta telur ceplok, kedua rencana mereka untuk pergi kulineran berdua juga gagal karena malah pergi ke villa milik Jordan.
Gadis itu menghembuskan napasnya memandang keluar jendela " sepertinya rencanaku dua hari ini tidak ada yang terlaksana."
Rea kemudian mengingat tentang makan malam yang dia rencanakan untuk membuat dekat Elang dan Ken "Semoga dinner Elang dan Ken berjalan sesuai keinginanku," ucapnya.
"Tenang saja sayang, kalau itu aku bisa pastikan berjalan sesuai rencana, coba kamu buka ponselku, pasti mereka sedang menikmati dinner romantis berdua," ucap Arkan.
Rea meraih HP kekasihnya yang tergeletak di dashboard mobil, sebuah nomor mengirim pesan ke Arkan berupa foto Elang dan Kinanti yang sedang tersenyum sambil menikmati makan malam.
"Kamu menyuruh pelayan restoran untuk mengambil foto mereka?" tanya Rea sedikit terkejut tetapi juga senang.
"Aku bahkan meminta seorang pemain biola datang dan menyiapkan satu bucket bunga karena aku pikir dinner romantis itu untuk kita tapi ternyata kamu malah memberikannya pada Ken dan Elang."
"Kita masih bisa pergi dinner dilain hari," Rea tersenyum sambil mencium pipi Arkan yang membuat laki-laki itu tersontak kaget sekaligus senang.
❤❤❤❤❤
beberapa jam yang lalu
Disebuah restoran Kinanti terlihat bingung mencari keberadaan Rea, seorang pelayan mendekat kemudian bertanya apa gadis itu sudah melakukan reservasi atau belum, Ken menyebutkan nama Rea kemudian pelayan itu mengantarnya kedalam sebuah ruangan private.
Gadis itu terkejut karena mendapati Elang yang sudah duduk disana, sementara Rea tidak kelihatan batang hidungnya, mereka kemudian tertawa , Elang berdiri sambil memberikan sebuah bucket bunga ke Ken yang masih tertawa.
"Sepertinya gadis itu sudah merencanakan hal ini untuk kita." ucap Kinanti sambil menerima bucket bunga dari tangan Elang.
Elang menggeserkan kursi untuk Kinanti duduk, kemudian mereka mulai berbincang sambil menikmati makan malam, seorang pemain biola masuk kemudian memainkan sebuah lagu cinta, entah kenapa baik Elang dan Ken merasa malu, pipi mereka merona.
"Apa kamu sudah punya calon suami?"
"Uhukkk....,"
Seketika pertanyaan Elang membuat Ken tersedak, gadis itu langsung menyambar segelas air didekatnya, sementara laki-laki didepannya tertawa melihat dirinya yang salah tingkah.
"Kenapa kaget?" tanya Elang yang dengan santai masih menikmati makanan didepannya.
"Orang biasanya menanyakan apa kamu sudah punya pacar, tapi kamu bertanya calon suami."
__ADS_1
"Sepertinya diusia kita sudah bukan masanya membicarakan pacar," jawab Elang santai.
"Aku belum punya calon suami, dan aku juga belum punya pacar," ucap Ken malu.
"Aku hanya menanyakan calon suami kenapa kamu menjawab dua-duanya," Elang berkelakar.
"Apa beda?" tanya Ken penasaran.
"Beda, pacar biasanya istilah untuk remaja yang tidak memiliki komitmen ke jenjang yang lebih serius."
"Belum Lang, aku belum memiliki calon suami," jawab Ken sambil tersenyum.
"Apa aku boleh mendaftar jadi calon suamimu?"
Elang menatap Ken dengan mimik wajah serius, gadis itu merasa jantungnya sudah hampir keluar dari rongga dadanya, bagaimana mungkin laki-laki yang dulu dia kejar-kejar dan sama sekali tidak mau menerima perasaannya sekarang berkata ingin mendaftar menjadi calon suaminya.
Ken hanya terdiam kemudian tersenyum, seperti memberikan lampu hijau kepada laki-laki itu.
❤❤❤❤❤
Sesampainya di apartemen Rea, Arkan hanya masuk sebentar kemudian pamit pulang karena melihat kekasihnya yang sudah sangat mengantuk. Sebelum Arkan pulang Rea berkata bahwa Steve meminta mereka datang untuk fitting baju yang akan dikenakan saat pernikahan mereka nanti. Mereka lalu sepakat besok saat istirahat makan siang akan pergi bersama ke butik Steve.
"Oh ya Sayang sepertinya aku besok tidak bisa menjemputmu untuk berangkat kerja karena pagi-pagi aku harus berangkat mengecek sesuatu ke lapangan, sebenarnya Elang yang harus pergi tapi dia berkata besok pagi akan berangkat ke Singapura dengan om Farhan untuk menemui pemilik salah satu perusahaan disana untuk membicarakan masalah kerjasama," cerita Arkan saat akan keluar dari pintu apartemen Rea.
"Ciye ngerasa dicuekin mantan pacarnya," Ledek Arkan yang meringis mendapatkan cubitan dilengan tangannya.
Laki-laki itu merengkuh pinggang kekasihnya, menyibakkan helaian rambut Rea kebelakang.
"Aku tidak merasa seperti itu, apa kamu masih cemburu? Aneh," Ucap Rea sambil melepaskan pelukan Arkan.
"Pulanglah, besok aku akan membawa mobil sendiri."
Arkan tersenyum kemudian mencium pipi Rea, menyuruh calon istrinya masuk kedalam sambil melambaikan tangan.
Setelah kekasihnya pergi, Rea kemudian memilih untuk mandi air hangat kemudian pergi tidur, tapi tiba-tiba bel apartemennya berbunyi, gadis itu sedikit heran siapa yang bertamu malam-malam, ia mengintip melalui peephole melihat Elang sudah berdiri didepan sana.
"Hei.." ucap Rea yang langsung mendapat sedikit pukulan dikepala dari kakaknya menggunakan paperbag yang dia bawa.
Laki-laki itu langsung masuk kedalam dan mengganti sepatunya dengan sandal rumah, Rea membuntuti kakaknya dari belakang, ini kali pertama Elang masuk ke apartemennya tapi ia seperti sudah hapal setiap lekuk ruang apartemen milik Rea.
"Ada apa malam-malam kesini?" tanya Rea penasaran melihat Elang yang sudah duduk disofanya sambil menyilangkan kaki.
__ADS_1
"Apa kamu mencoba menjebakku ha? bagaimana mungkin kamu mengajakku makan malam dan malah tidak datang?" Elang berbicara seolah-olah dirinya merasa kesal.
"Apa kamu menikmati makan malam dengan Ken?" Rea tersenyum kemudian duduk disamping kakaknya itu.
"Hem...,"
Elang memberikan paperbag yang dia bawa ke Rea, gadis itu terkejut karena sepertinya pernah melihat paperbag itu, kemudian dia ingat kali pertama bertemu dengan Elang, saat kakaknya itu berlari masuk kedalam cucian mobil dan mengambil barangnya yang ketinggalan.
"Aku sudah ingin memberikannya padamu sejak lama, tapi selalu ketinggalan."
Rea membuka paperbag itu, mengambil sebuah kotak berwarna hitam didalamnya, ia tersenyum melihat sebuah kalung dengan liontin berbentuk bola dunia disana.
"Semoga kamu suka," ucap Elang sambil berdiri dari sofa.
"Apa kamu tidak mau minum teh dulu?" tanya Rea berbasa-basi.
"Ini sudah malam lagian aku sudah kenyang, makanan yang kamu pesan untuk kami terlalu bermacam-macam." Elang berjalan kedepan pintu dan memakai sepatunya.
"Oh ya besok kata Mas Arkan ayah sama kamu mau pergi ke singapura? berapa hari?"
"Paling cepat tiga hari, paling lama tidak tau karena kami akan banyak pertemuan."
"Ciye CEO " ledek Rea yang mendapat cubitan dipipi dari kakaknya.
"Sudah sana masuk, selamat malam."
Elang menggunakan tangannya untuk menyuruh adiknya itu masuk.
"Terima kasih hadiahnya ya Mas Elang," Rea tertawa sambil memegang pintu unitnya yang sudah hampir tertutup sempurna, Elang tersenyum lebar ke arah adiknya sambil mengerlingkan sebelah matanya.
"Dasar," gerutu Rea.
❤❤❤❤❤
Next day
Pagi ini Rea berangkat ke tempat kerjanya dengan membawa mobil sendiri, dia sudah tidak sabar ingin pergi ke butik Steve siangnya.
Gadis itu menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, wajahnya terlihat berbinar sejak pagi hari, Agni sampai heran apa yang merasuki bawahannya itu.
Saat tiba jam makan siang Rea bergegas keluar dari hotel dengan hati gembira, ia membawa mobilnya sambil mendengarkan musik sesekali ikut bernyanyi. ia mengecek pesan dari Arkan yang berkata juga sedang menuju ke butik Steve, gadis itu merasa bersemangat, membawa mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali ia tersenyum sendiri membayangkan dirinya dan Arkan yang akan melakukan fitting baju pernikahan mereka, tapi tiba-tiba
__ADS_1
"BRAKKKK"