
Disebuah ruang yang penuh dengan pasangan yang sedang menunggu urutan pemeriksaan kandungan, Elang terlihat duduk sambil memegang ponselnya, sudah hampir dua jam dia bermain game sambil menunggu kekasihnya menyelesaikan pekerjaannya.
Beberapa perawat menatap kearahnya sambil berbisik, mereka penasaran untuk apa pria tampan itu duduk sendirian disana.
Sudah tiga bulan ini Ken dan Elang jadian, bahkan Elang sudah hampir mengenalkan gadis itu ke Farhan.
Ken terlihat membuka sedikit pintu ruang praktiknya, melongok sedikit meminta perawat yang baru saja keluar untuk masuk kedalam lagi karena ada yang ingin dia sampaikan. Matanya melirik sang pacar yang masih fokus memperhatikan benda pipih ditangannya.
"Apa yang diluar kekasih dokter?" tanya perawat yang dimintai tolong Kinanti untuk menuliskan beberapa jadwal operasi untuk pasiennya.
Gadis itu hanya menjawab dengan sebuah senyuman, melepas jas snelli yang dia kenakan, mengambil tas dan sebuah paparbag dari dekat mejanya, menepuk pundak sang perawat itu kemudian keluar mendekat ke arah Elang.
"Lamanya," rengek Elang saat mendapati kekasihnya akhirnya selesai dengan pekerjaannya.
Ken melingkarkan tangannya ke lengan laki-laki berkemeja putih itu sambil berucap maaf.
"Maaf, mereka sudah mendaftar sebulan sebelumnya, jadi tidak mungkin aku batalkan seenaknya," ucap Ken memberi alasan.
Mereka berdua kemudian pergi menghadiri acara aqiqah Ale dan tasyukuran rumah baru Rea. Kedua acara itu dijadikan satu dikediaman yang akan ditinggali Rea dan Arkan.
Setelah ijin ikut berganti baju dikamar Rea, Ken lalu berbaur dan bercengkerama dengan keluarga besar calon adik iparnya.
Acara malam itu hanya dihadiri oleh kerabat dekat dan anak-anak dari panti asuhan, Rea terlihat berdiri sambil menggendong adik kecilnya, sesekali mencium pipi Ale gemas membuat bayi berumur empat puluh hari itu menggeliat.
"Aku mau yang kayak gini satu," ucapnya sambil memandang ke arah calon suaminya, membuat Arkan tersenyum menahan malu karena banyak sanak keluarga mereka disana.
"Resmi dulu," timpal Andi sang calon papa mertua.
"Aku bakal kasih om cucu yang lucu secepatnya, Iya kan sayang?" Rea memandang ke arah Arkan yang semakin salah tingkah, membuat orang-orang disana semakin riuh tertawa.
Acara malam itu benar-benar terasa sangat khidmat, kehangatan keluarga jelas terasa. Namun, sampai acara itu selesai Axel sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya. Rea bertanya kepada sang papa tiri, tapi Jordan juga tidak tau kemana anaknya pergi.
Sementara itu, ternyata Axel sedang berada di club bersama teman-temannya, ia terlihat berkali-kali menenggak minuman dari gelasnya seolah-olah ingin melupakan lara hatinya dengan membuat dirinya mabuk.
__ADS_1
Hatinya masih tidak bisa menerima bahwa sebentar lagi gadis yang dicintainya akan menjadi milik orang lain.
"Yang paling aku sesalkan adalah aku tidak mendekatinya saat pertama kali kami bertemu, sial! setidaknya aku bisa mendapat kesempatan membuatnya mencintaiku," sesalnya.
Teman-temannya hanya terdiam, membiarkan laki-laki itu melampiaskan apa yang dia rasakan.
"Apa aku bunuh saja calon suaminya?"
Ucapan Axel membuat temannya yang bernama Nicholas mendelik tak percaya, menepuk pundak Axel dan miminta laki-laki yang tengah patah hati itu untuk berhenti minum.
"Jika tidak ada kesempatan untukmu dikehidupan ini, masih ada kehidupan lain, jangan melakukan perbuatan yang akan kamu sesali," saran Nic.
Pernikahan Rea dan Arkan yang hanya tinggal hitungan minggu membuat Axel semakin terpuruk meratapi perih didadanya.
Semua orang sudah pulang dari kediaman Rea, menyisakan Elang yang sedang mengobrol dengan Arkan, sementara dirinya dan Kinanti memilih berjalan keluar rumah sambil membawa kantong berisi sampah sisa acara tadi.
"Aku lihat kotak yang kamu bagikan ke anak panti isinya seperti bukan uang," tanya Ken penasaran.
"Dari seseorang?" Ken menaikkan sebelah alis matanya.
"Hem, Axel memberiku bucket bunga yang terbuat dari uang," jawab Rea sambil meletakkan kantong plastik yang dia bawa ke bak sampah.
"Apa kakak tirimu yang tidak datang tadi? Jangan-jangan dia menaruh hati padamu."
Rea memilih tersenyum untuk menjawab pertanyaan Kinanti, membuat lawan bicaranya itu melebarkan manik matanya tak percaya. Ken masih memandangi wajah Rea yang terlihat menatap kesebuah rumah yang berada tak jauh dari sana.
"Ken apa aku bisa konsultasi soal kesuburan dan program hamil?" tanya Rea kemudian.
"Kamu benar-benar ingin langsung punya anak setelah menikah?"
Gadis itu menganggukkan kepalanya mantap "Hem.. apa lagi yang aku cari." senyum Rea.
Elang dan Arkan menghampiri kedua gadis yang masih berdiri didepan gerbang rumah itu, Elang sudah memegang kunci mobil ditangannya bersiap mengajak kekasihnya pulang.
__ADS_1
Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melewati mereka, membuat keempat orang itu kaget, bahkan Elang setengah kesal bagaimana bisa dijalanan komplek perumahan ada yang membawa mobil seperti sedang berada di area balap reli.
"Emang ini jalan nenek moyangnya," gerutu Elang.
Mobil sedan mewah berwarna hitam itu berhenti dirumah yang Rea pandangi sedari tadi. Sesosok wanita yang perutnya terlihat buncit keluar dari mobil, Rea terperanjat mendapati Celine masuk kedalam rumah yang dia tau pasti milik siapa.
Gadis itu berlari kerumah Bara dan Cindy dengan masih memakai kaftan yang belum dia ganti selesai acara tadi, membuat ketiga orang yang berdiri didekatnya khawatir dengan apa yang sedang terjadi.
Benar saja terjadi perang lagi, sepertinya Cindy sedang berada dirumah sendirian, tidak ada Bara disana, Celine terlihat marah menjambak rambut gadis yang dia caci dengan sebutan pelakor. Rea berusaha melerai kedua temannya itu, suara amukan Celine membuat para tetangga komplek perumahan mereka terlihat ada yang sampai keluar rumah, beberapa hanya sekedar mengintip dari jendela tempat tinggal mereka.
"Cel, udah jangan kayak gini," bujuk Rea sambil berusaha melepas tangan Celine yang menjambak rambut Cindy.
"Loe ga tau kan Re, perempuan ini benar-benar, gue udah bilang jauhi Bara, kami sebentar lagi punya anak, kenapa dia jahat banget mau ngerampas kebahagian anak gue yang bahkan belum lahir," racau Celine dengan berapi-api.
Arkan mendekat berusaha membantu calon istrinya, tiba-tiba Celine melepas rambut Cindy membuat gadis itu jatuh terjengkang. Semua orang terdiam, hanya terdengar napas Celine yang memburu karena terbakar amarah.
"Aku juga sedang hamil anak Mas Bara," teriak Cindy.
Semua orang terkejut, bahkan Celine langsung limbung, meringis memegangi perutnya.
"Loe gapapa kan Cel?" Rea panik mendapati temannya pucat.
Ken langsung mendekat melihat Celine yang mengeluarkan keringat dingin, ia lalu menanyakan berapa umur kehamilan Celine. Mendengar jawaban Celine, Kinanti langsung meminta Elang untuk mengantar mereka kerumah sakit.
Rea bingung harus berbuat apa, kedua wanita itu sama-sama temannya, dan dia tidak ingin memihak salah satu dari mereka. Namun, melihat kondisi Celine gadis itu memutuskan ikut pergi ke rumah sakit.
Benar saja malam itu juga Ken menyarankan agar bayi Celine segera dilahirkan, karena syok yang dialami ketuban Celine pecah sebelum waktunya.
Bayi Celine selamat. Namun, masih terlalu kecil karena dilahirkan saat usia kehamilan masih tujuh bulan, sehingga bayi itu perlu perawatan intensif dibawah pengawasan dokter anak. Celine yang sudah berada diruang inap terlihat menangis, beberapa kali ia berkata menyesal kepada sang mama yang berada didekatnya.
Rea berjalan lunglai memegangi tangan Arkan, ia berbisik ketelinga sang calon suami "Apa kita sudah siap dengan drama kita sendiri?"
Arkan mengusap punggung tangan Rea lembut lalu mencium kening gadis itu penuh cinta "Asal selalu bersama semuanya pasti akan bisa kita lalui."
__ADS_1