
Rea menelpon Elang untuk menjemputnya di tempat wisata yang sedang dia datangi bersama Celine dan teman-temannya.
Flash back on
"Cel, loe tau kan gue udah mau tunangan, dan sebentar lagi gue nikah, tapi loe tau, dalam hati gue sebenarnya masih mikirin laki-laki lain."
Celine hanya memandang heran.
"Gue mau nyelesai'in perasaan gue ke laki-laki itu, dan kebetulan gue ketemu dia lagi disini."
Celine masih terdiam.
"Gue ngerasa ada yang salah, dan gue merasa bersalah sama calon suami gue kalau terus-terusan kayak gini."
Akhirnya Celine mengijinkan Rea untuk pergi menyelesaikan urusan perasaan yang dia maksud.
Flash back off
Laki-laki itu turun dari mobil, mencari posisi dimana gadis yang memintanya datang sedang menunggu, setalah melihat gadis itu wajahnya terlihat sumringah, ia berjalan mendekat bibirnya nampak tersenyum saat pandangan matanya bertemu dengan mata gadis yang dia cari, entah kenapa tatapan mata satu sama lain masih membuat desiran dihati mereka masing-masing.
"Shit!, it's almost eight years, but my heart still fluttering" Bisik Elang dalam hati
"Sial, sudah hampir 8 tahun, tapi hatiku masih deg-degan."
Rea tersenyum, melihat Elang yang sudah berdiri didepannya.
"Jadi mau pergi kemana kita?"
"Pantai yang pernah kita kunjungi dulu," jawab Rea.
Dari lokasi mereka sekarang jarak pantai itu hanya memakan waktu satu jam perjalanan. Seperti biasa mereka berbincang didalam mobil.
"Apa mau mampir mini market untuk membeli camilan?" tanya Elang.
Rea menggelengkan kepalanya "Aku sedang diet, minggu depan aku lamaran, takut kebaya ku ga muat."
Rea tersenyum mengatakan kalimat yang dengan sengaja dia susun, padahal dia tau bisa menjawab dengan alasan yang lain.
"Setidaknya dia harus berpikir kalau aku sudah tidak punya perasaan apa-apa," bisik Rea dalam hati.
"Apa kamu ingin mencoba memberitahuku agar tidak berharap lagi" pikir Elang.
__ADS_1
"Apa kamu tidak punya kekasih?" Rea bertanya untuk mencairkan suasana canggung diantara mereka sambil memalingkan badannya ke arah Elang yang sedang fokus membawa mobilnya.
Laki-laki yang wajahnya tetap cool dari remaja itu hanya ber “hem” lumayan panjang.
"Pasti punya, tidak mungkin laki-laki sekeren dirimu belum punya kekasih” ucap Rea sambil menggeser badannya bersandar dikursi dan memandang jalan didepannya.
Laki-laki itu tersenyum "Apa kamu pikir aku keren?" tanyanya.
"Hem.. tapi lebih keren calon suamiku" jawab Rea sambil tersenyum, membuat hati Elang sedikit mencelos.
"Apa kamu begitu mencintai Arkan?" Elang menatap Rea saat menghentikan mobilnya karena ada sedikit antrian kendaraan didepannya
Rea terdiam, menatap balik Elang yang sedang menatapnya "Iya" Jawab gadis itu.
Elang memalingkan wajahnya kedepan, menjalankan mobilnya lagi "kenapa kamu sepertinya ragu mengatakan iya?" "Apa yang membuatmu ragu?" lanjutnya.
Rea hanya terdiam, ingin rasanya dia memukul kepalanya sendiri sekarang kalau tidak ada laki-laki ini disampingnya.
Akhirnya mereka sampai ke tujuan, sebuah pantai yang pernah mereka kunjungi saat masih SMA, pantai itu sekarang nampak sangat jauh berbeda, sudah benar-benar tertata selayaknya obyek wisata pada umum nya.
Pantai yang sedang ramai pengunjung itu membuat Rea dan Elang bingung, mereka ingin duduk didekat bibir pantai tapi banyak orang berjalan lalu lalang bermain ombak, sementara ingin makan di tempat pedagang kaki lima yang ada disana terlihat terlalu ramai dan dirasa tidak nyaman untuk mengobrol, akhirnya mereka memilih sedikit berjalan menjauh, didekat pantai itu terdapat sebuah Villa yang berdiri diatas bukit, diluar villa terdapat sebuah restoran, terlihat hanya beberapa orang bule yang sedang makan dan ngobrol menikmati pemandangan pantai dari sana.
Elang meminta Rea untuk duduk sementara dia masuk mencari pelayan, ia mengambil kursi kosong yang langsung bisa melihat pemandangan laut, Elang mendekat sambil meletakkan buku menu didepan adiknya, gadis itu tersenyum mulai membuka buku menu didepannya.
Elang menyandarkan punggungnya dikursi sementara Rea meletakkan kedua tangannya dimeja memandang kearah laut didepannya.
"Re apa aku boleh bertanya beberapa hal ke kamu?"
Rea menoleh, wajahnya terlihat bertanya-tanya "Apa?"
"Tapi kamu harus jawab jujur."
Rea mengangguk tetapi dihatinya merasa sedikit kawatir.
"Apa selama 7 tahun ini kamu sama sekali tidak punya perasaan rindu dan ingin bertemu dengan ku?"
Gadis itu terhenyak dengan pertanyaan laki-laki didepan nya.
"Apa aku harus benar-benar menawab jujur?”
Elang menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"2 tahun setalah kamu pergi, aku menerima perasaan Arkan, tapi apa kamu tau? 2 tahun menjalin hubungan dengan dia, aku masih memikirkan kamu."
Elang terdiam, bingung apakah dia harus merasa senang atau tidak.
"Aku sempat ingin pergi menyusulmu ke New York, tapi aku tidak seberani itu, karena aku tidak tau apakah perasaanmu masih sama, apakah kamu sudah punya kekasih disana atau belum, karena kamu jarang memberi kabar."
Elang merasa sedikit menyesal mendengar ucapan Rea.
"Tapi kemudian aku sadar, segala sesuatu yang terjadi kepada manusia adalah takdir Tuhan, aku yakin ada sesuatu didunia ini yang kadang berjalan tidak sesuai dengan kehendak kita, kamu kakak ku, dan sampai mati pun fakta itu tidak akan berubah, meskipun kita memiliki perasaan satu sama lain."
"Kamu tau? Aku pernah berfikir sampai seperti ini, kamu itu Langit dan aku Bumi, kita satu semesta, tapi tidak akan pernah bisa dekat, apalagi bersatu" lanjut Rea.
Elang masih terdiam memandang wajah gadis didepannya, Rea melanjutkan apa yang ingin dia utarakan setelah pelayan restoran meletakkan makanan dan minuman yang mereka pesan di meja.
"Aku mengajakmu bertemu karena aku ingin menyelesaikan perasaanku ke kamu, meskipun aku tidak tau kapan perasaanmu ke aku sudah selesai, tapi sampai detik ini jujur aku masih sedikit menyimpan rasa ke kamu."
Kalimat itu lancar keluar dari mulut Rea, seketika ada perasaan lega dihatinya.
"Aku sudah mau menikah, aku tidak ingin membuat Arkan kecewa karena tau bahwa aku masih menyimpan perasaan ke kamu."
"Jadi apa yang kamu inginkan?" tanya Elang setalah dari tadi hanya diam mendengar gadis didepannya berbicara.
"Katakan kalau kamu tidak lagi menganggap aku sebagai gadis yang pernah kamu cintai, tapi aku adalah adik untukmu, agar perasaanku bisa selesai sampai disini." pinta Rea.
"Aku akan melakukan apa yang kamu inginkan, menganggap kamu sebagai adik, tapi jangan pernah memintaku untuk melupakan perasaanku ke kamu," ucap Elang.
"Lang, please!" wajah Rea berubah pias.
Dari kalimat yang baru keluar dari bibir laki-laki itu mengisyaratkan bahwa mereka masih memiliki perasaan yang sama.
"Masalahmu masih menyimpan perasaan ke aku, dan perkara takut membuat Arkan kecewa bukan urusanku Re," jawab laki-laki itu dengan nada sedikit kesal.
"Jika kamu benar-benar lebih mencintai Arkan, pasti kamu tidak akan pernah goyah, dan biarkan saja aku, biarkan perasaanku hilang dengan sendirinya," ucap Elang.
"Bagaimana mungkin bisa hilang, 7 tahun saja hatiku masih belum bisa benar-benar menghapus kenangan tentang dirimu."
Rea terdiam, apa yang ingin dia selesaikan dengan Elang malah membuatnya jatuh lebih dalam.
"Minggu depan kamu lamaran kan? Aku akan kesana menghadirinya, dan aku sudah menerima tawaran untuk mengambil alih salah satu perusahaan ayah."
Rea hanya terdiam.
__ADS_1
"Ayo kita makan, nanti keburu dingin," ucap Elang sambil mengambil garpu dan sendok didepannya tanpa memperdulikan Rea yang sudah pucat mendengar kalimat yang keluar dari mulutnya.
Rea masih tertegun melihat Elang yang dengan santai menyantap makanan didepannya, masih tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi barusan, dia pikir Elang tidak akan bersikap egois, tapi ternyata dia salah, menyelesaikan perasaan apa? Elang malah secara tidak langsung mengakui masih memiliki perasaan ke dirinya. Gadis itu merasa menyesal.