Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 52


__ADS_3

Elang hanya terdiam didalam mobil sepanjang perjalanan sambil berpikir kemana sang adik akan membawanya pergi, ia baru mendapat jawaban saat Rea menghentikan mobil SUV miliknya didepan sebuah peternakan.


Gadis itu turun dan masih mendapati sang kakak duduk sambil memandang sekeliling dari dalam mobil, dengan sedikit gemas Rea membuka pintu dimana kakaknya duduk kemudian menarik lengan laki-laki itu agar cepat keluar. Elang hanya menuruti terikan lengan sang adik sambil mengulas senyum dibibirnya.


Seorang penjaga yang merangkap sebagai tukang kuda terlihat mendekat ke arah mereka dan menyapa Rea.


"Udah dibukain ya mba, saya balik kepos dulu," ucap laki-laki itu.


Sebelum berangkat ke sana Rea memang sempat mengirim pesan kepada sang penjaga bahwa dirinya ingin melihat Thomas. Sementara Elang yang tadi sempat bingung sekarang sudah bisa menerka apa yang akan dilakukan adiknya itu.


Rea melepaskan tangannya dari lengan Elang saat mereka sampai didepan sebuah kandang dengan papan ukiran didepannya bertuliskan "Thomas".


Rea menarik kakaknya untuk masuk, Elang melihat sebuah kuda Jerman hitam terikat didalam, matanya terpejam sepertinya kuda itu sedang beristirahat.


"Ini Thomas," ucap Rea sambil membelai punggung kuda itu.


"Thomas apa kau merindukanku?" gadis itu berbicara kepada kudanya, memperlakukan hewan itu layaknya manusia.


"Aku kemari membawa tuan barumu, kamu ingat Langit yang aku ceritakan, sekarang kamu menjadi miliknya, Oke," ucapnya sambil masih membelai punggung Thomas.


Elang mendekat kemudian ikut membelai kuda milik Rea yang dengan jelas ia dengar baru saja gadis itu berikan kepadanya.


"Apa kamu menceritakan diriku ke Thomas?" tanya Elang.


"Hem.. Aku bercerita banyak tentangmu ke Thomas, Ketika aku merasa hanya butuh didengarkan aku bercerita ke Thomas, karena dia bukan manusia dia tidak bisa menjawabku."


"Sekarang aku berikan Thomas kepadamu seperti janjiku dulu," gadis itu tersenyum sambil menatap wajah Elang.


"Kamu bahkan masih mengingatnya, Apa dengan menyerahkan Thomas kepadaku mengartikan bahwa hubungan perasaan diantara kita sudah benar-benar selesai?" tanya Elang sambil menatap lekat mata Rea.


"Tidak, aku masih menyayangimu dan aku akan tetap mencintamu, tapi hanya sebatas adik ke kakak, dan aku berharap kamu juga bisa melakukannya, karena aku yakin cinta sejatimu sedang menunggumu," Rea meraih sebelah tangan Elang.


Laki-laki itu tersenyum, melepaskan genggaman tangan Rea untuk menyentuh pipi adiknya, sementara tangan yang satunya masih ia gunakan untuk memegang punggung Thomas.


"Terima kasih, terima kasih sudah hadir dihidupku dan memberikan kenangan manis untukku, Andreadina Bumi adikku sayang," ucapnya.


Bibir Rea tersenyum tapi buliran bening jatuh dipipinya, ia terharu dengan kalimat yang baru saja diucapkan kakaknya, ada beban dihatinya yang sepertinya lepas dan terbang bebas malam itu. Ya.., mereka sama-sama sudah bisa menyelesaikan perasaan rumit yang membelenggu mereka selama ini.

__ADS_1


Akhirnya Rea bisa melepaskan rasa kepada laki-laki yang pernah mengisi penuh relung jiwanya. Mereka masih terdiam, saling menatap dan melempar senyum.


Setelah mampir untuk makan malam, Rea pulang ke apartemennya diantar sang kakak.


"Sebenarnya aku juga punya sesuatu untukmu," ucap Elang sambil membantu gadis itu melepaskan sabuk pengaman dari badannya.


"Apa?"


"Besok akan aku berikan kepadamu, masuklah sudah malam! sekali lagi terima kasih untuk hadiahnya," Elang tertawa sambil mengacak-ngacak rambut gadis disampingnya.


Rea tersenyum keluar dari mobil tidak lupa ia melambaikan tangan ke Elang dan menunggu sampai mobil kakaknya berbelok kejalan raya.


Saat masuk kedalam unitnya Rea mencium bau mi instant, ia buru-buru melepas sepatunya mengganti dengan sandal rumah berjalan kearah dapur, benar saja laki-laki yang dia cintai sedang berdiri dengan posisi membelakanginya, tangannya terlihat mengaduk-aduk mi didalam panci. Rea mendekat kemudian memeluk tubuh kekar kekasihnya dari belakang, menciumi punggung laki-laki itu.


"Sudah pulang? Apa kamu mau mi instant? Aku hanya membuat satu," ucapnya.


Rea melepaskan pelukannya melihat Arkan mengangkat panci dari kompor lalu menuangkan mi yang dia masak kedalam mangkuk.


"Aku sudah makan tadi sebelum pulang."


Arkan meletakkan mi ke atas meja makan kemudian menggeser kursi untuk segera menikmati mi buatannya sementara Rea memilih meraih sebuah gelas untuk mengambilkan laki-laki itu minum.


"Iya, kami ke peternakan kuda kemudian mampir makan malam."


"Untuk apa ke peternakan malam-malam?" tanya Arkan sambil sesekali meniup mi yang baru dia buat sebelum memasukkannya kedalam mulut.


"Aku memberikan Thomas ke Elang," jawab Rea sambil menerima mangkuk berisi mi yang disodorkan kekasihnya.


"Apa? Serius, lalu apa kamu akan membeli kuda baru?" Arkan sudah membelalakkan matanya, sambil membantu memegangi rambut kekasihnya yang terjuntai hampir masuk kedalam mangkuk mi yang sedang ia makan.


Gadis itu buru-buru mengangkat kepalanya kemudian meraih ikat rambut disaku blazernya.


"Belum tau, aku hanya menepati janjiku ke Elang, aku pernah berjanji akan memberikan Thomas kepadanya," cerita gadis itu sambil mengikat rambutnya dan mengunyah mi didalam mulutnya, dia berdiri kemudian mengambil jus didalam kulkas.


"Kapan kamu berjanji seperti itu ke Elang?"


Rea menatap kearah calon suaminya sambil menenggak jus yang baru saja dia tuang kedalam gelas.

__ADS_1


"Saat SMA," Rea kembali duduk disamping Arkan setelah mengembalikan jus kedalam lemari pendingin, gadis itu menggunakan satu tangannya untuk menumpu pipinya.


"Saat aku baru keluar dari rumah sakit dan pergi ke pantai bersama dia," lanjutnya.


"Wah luar biasa, kamu memberikan kuda Jerman seharga tiga ratus ribu euro ke orang secara cuma-cuma," Arkan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil masih menikmati makanannya.


"Dia bukan orang sembarangan sayang, dia kakakku," ucap Rea dengan nada suara yang sedikit dibuat-buat.


"Apa kamu sedang iri?" tanya nya lagi sambil mengambil selembar tisu dan mengusap sedikit cipratan kuah mi dibibir kekasihnya.


Arkan meraih tisu yang dipegang kekasihnya lalu dia gunakan sendiri untuk membersihkan mulutnya, menyingkirkan agak jauh mangkuk mi yang sudah habis, kemudian meletakkan tangannya diatas meja.


Untuk apa aku iri? Aku sudah punya Zoro, apa kamu tadi juga melihat keadaan Zoro disana?," tanya Arkan sambil menenggak air minum didekatnya.


"Hem... Dia baik-baik saja, Apa kamu juga ingin kuda dariku? Aku bisa membelikanmu, pilih saja kamu ingin kuda jingkrak atau kuda liar?" tanya Rea menggoda.


Arkan hampir saja tersedak air yang dia minum mendengar ucapan calon istrinya.


"Apa kamu sedang memintaku memilih antara Mustang atau Ferrari?" tanyanya dengan ekspresi tidak percaya sambil memandang kearah Rea yang sudah berdiri dari kursinya.


"Pilihlah, aku memang berniat membelikanmu salah satunya," ucap gadis itu sambil masuk kedalam kamarnya untuk mandi.


-


-


-


-


-


-


-


Terima kasih sudah membaca Don't forget to LIKE 👍 VOTE dan tambah ke Favorite kalian 💗

__ADS_1


__ADS_2