
Bandara
Semua teman-teman Celine sudah berkumpul di dekat landasan pacu, ternyata dia menyewa satu buah pesawat terbang komersil untuk membawa mereka ke kota tempat acara bridal shower gadis itu.
Celine melihat Rea yang berjalan mendekat, memanggil namanya dan melaimbaikan tangan, Rea menaikkan kacamata hitam yang dia pakai keatas kepalanya, tersenyum ke arah Celine.
"Bukankah dia gadis yang menyiram jus ke kamu waktu itu," ucap teman Celine
"Yang kamu jambak rambutnya di mall kan?" seorang temannya yang lain juga tidak kalah terkejut.
Celine hanya tertawa "kami sekarang berteman"
Celine memeluk Rea, kemudian memperkenalkan teman-teman dekatnya.
"Ini Kanaya, ini Mia dan ini Rea"
Mereka saling berjabat tangan dan mencium pipi satu sama lain.
Setelah ada pemberitahuan pesawat sudah siap terbang, para gadis-gadis itu mulai berjalan menuju pesawat yang terparkir di landasan pacu.
"Kay, liat yang dipake gadis itu, semua yang menempel di badannya adalah barang branded buatan designer terkenal," ucap Mia sang pecinta barang branded sambil menyebutkan nama designer dan barang yang dikenakan Rea.
"Apa kamu mau mulai berhitung berapa ratus juta semua barang yang ada di badannya?" ejek Kanaya.
"Tidak hanya ratusan juta, aku lihat yang dia pakai lebih dari satu milyar Kay" mata gadis itu sudah melotot.
"Matamu kurang jeli" ejek Kanaya "kamu tidak lihat jam tangan mungil dan cincin ditangan kiri nya?"
Mia menatap Kanaya heran sejak kapan kemampuan menghitung barang branded dan menilai keaslian barang milik orang lain menular kepada sahabatnya itu.
"Tiga Milyar lebih jika kamu mau menghitung sampai koper yang dia bawa" Kanaya berjalan cepat meninggalkan sahabatnya, berlari mensejajari Rea.
*****
Didalam pesawat Rea duduk dengan Kanaya karena gadis itu memintanya, sementara Mia duduk disamping Celine.
"Re, apa kamu jadi mendatangkan satu yacht besok sabtu?" tanya Celine yang membuat Kanaya dan Mia makin terkejut.
"Hem.. jadi, aku pinjam dari seseorang," Jawab Rea
"Dari siapa?" tanya Mia penasaran "kalau orang itu masih single bisa ga kamu kenalin aku ke dia?" tawanya meledak.
Sontak ucapannya mendapat cibiran dari temannya yang lain.
Rea hanya tersenyum sebelum menjawab "aku pinjam dari calon kakak tiriku"
"Laki-laki atau perempuan?" Mia penasaran
"Gue sumpahin semoga perempuan biar kecewa loe," olok Kanaya
Rea menatap ke arah Mia "laki-laki"
Mia sontak menekuk lengannya dan berkata "yes" membuat Kanaya sebal, Celine yang mendengar hanya ikut tertawa.
"Siapa namanya Re? berapa umurnya?" Mia bertanya lagi antusias
"Axel, seperti nya diatas aku dikit, mungkin 29 tahun," ucap Rea sedikit ragu.
"Axel? kayaknya aku pernah dengar nama itu," Kanaya mulai berfikir
Pesawat sudah hampir take off mereka diminta mengencangkan sabuk pengaman dan menegakkan sandaran kursi.
Tiba-tiba Kanaya melonjak, membuka HPnya mengarahkan ke Rea "Axel yang ini bukan?"
Rea melihat sebuah cover majalah bisnis dengan foto Axel yang sangat tampan memakai jas berwarna brown di HP yang ditunjukkan oleh Kanaya, membaca tulisan cover majalah di layar yang dia lihat dalam hati
" Axel sky Jordan : pebisnis harus punya dedikasi untuk masyarakat"
__ADS_1
"Iya dia," ucap Rea
Sontak Mia juga ikut melonjak dari kursinya, Celine juga ikut membelalakkan mata.
"Sumpah demi apa Re, gue mau jadi kakak ipar tiri loe," ucap Kanaya
"Eh.. gue duluan yang ngincer, loe kan tau Kay semenjak dia ga jadi nikah gue udah bilang mau deketin dia, lagian bodoh banget ya tu cewek yang udah hampir jadi istrinya, cowok kayak Axel malah di tinggal kabur" Mia malah menjadi ngomel sendiri.
"Punya nomor HPnya aja ga loe mau sok ngedeketin" Kanaya megejek Mia "lagian kalau dipikir demi apa coba tu cewek kabur ninggalin cowok sesempurna Axel"
"Demi apa? Kalian ga tau aja cewek itu bilang cinta sama calon suami gue" bisik Rea dalam hati
Celine yang dari tadi cuma mendengarkan ikut membuka mulutnya "namanya Selena, ada yang bilang kalau dia jatuh cinta ke pria lain"
Rea kaget menatap ke arah Celine begitu juga Kanaya dan Mia.
"Tapi orang tuanya malah menjodohkan dia dengan laki-laki lain," lanjut Celine
"Demi apa coba dia kayak gitu, gue aja mau banget kalau bisa dijodohin sama laki-laki kayak Axel," ujar Mia
"Kamu mau jadi tumbal simbiosis mutualalisme? " Jawab Celine enteng "untung aku bukan salah satu yang bernasip seperti dia," lanjut Celine bangga.
Rea tau kalau calon suami Celine juga seorang pengusaha, mereka menikah karena sama-sama cinta, tapi yang Rea tidak tau sebenarnya mama Celine kurang suka dengan Bara, calon suami anaknya.
Pesawat sudah menembus awan, gadis-gadis disana sibuk dengan minuman, dan saling bercanda, apalagi saat co-pilot menyempatkan menyapa, semua berteriak histeris. Terkecuali Rea yang memandang hanya sebatas kagum.
"Re apa kamu punya pacar?" tanya Kanaya
"Hem.. Kurang lebih 6 bulan lagi kami menikah" cerita Rea
"Wah...Berapa lama Kalian pacaran" tanya Kanaya penasaran
" 7 tahun lebih" jawab Rea
Kanaya membelalakkan mata seolah tak percaya
"Melakukan apa?" Rea benar-benar dengan wajah polos bertanya.
"ML Re, making love"
"Belum sama sekali"
Kanaya melonjak heran "wah apa calon suamimu tidak normal?"
"Ngaco, normal lah"
"Bagaimana kamu tau normal kalau belum pernah melakukannya," Kanaya memprovokasi.
"Kami LDR, dia kuliah dan bekerja di Inggris, baru tahun ini dia kembali kesini," cerita Rea
"Apa kamu yakin 7 tahun itu dia ga ngapa-ngapain disana?"
Setiap pertanyaan yang meluncur dari bibir Kanaya seperti membuat keraguan baru di hati Rea.
"Apa kamu tidak ingin menguji kesetiannya sebelum menikah?" tanya gadis itu lagi
Rea berfikir dalam hati, seharusnya bukan calon suaminya yang perlu diuji tetapi dirinya.
Gadis itu menyandarkan punggung nya dikursi, mengehela nafas pendek. Memilih
untuk tidak menjawab Kanaya.
Setelah satu jam pesawat mendarat secara mulus di kota XX, untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun Rea kembali ke kota ini,
yang tentu saja mengingatkan dirinya pada masa lalu.
Sebuah bus berukuran tanggung sudah menunggu mereka, Rea masuk sambil memutar memorinya, dimana kali terakhir dia naik bus juga lebih dari tujuh tahun yang lalu, gadis itu memilih duduk didekat jendela, seseorang terlihat duduk disebelahnya sosok yang dia ingat dari masa lalu, tapi kemudian
__ADS_1
dia mengerjabkan matanya berkali-kali, ternyata Kanaya lagi yang duduk disebelahnya.
Rea merutuki pikirannya sendiri dalam hati.
Bus itu melaju menuju hotel yang sudah dibooking Celine, Rea tidak banyak bicara, dia memilih melihat keluar jendela, bus berhenti di lampu merah, sebuah mobil berwarna merah terlihat juga berhenti mensejajari bus yang dia naiki.
Rea melihat laki-laki sedang mengendarai mobil yang berhenti disamping bus yang dia naiki, sejenak dia menatap dalam-dalam keluar kaca, wajah cool dari masa lalunya muncul kembali, tapi tiba-tiba lampu menyala hijau, mobil itu mendahului bus rombongan Rea, gadis itu hanya bisa memandangi
mobil menjauh.
"Tidak mungkin," pikirnya
Iseng dia membuka chat terakhir yang Elang kirim kepadanya, sedikit ragu, tapi jarinya mulai mengetikkan sesuatu.
Apa kamu sudah pulang ke Indonesia? aku tidak yakin sepertinya melihat orang yang sangat mirip denganmu.
Rea gamang tapi jarinya dia gerakkan untuk menekan tombol send, kemudian dia mendekap HPnya cemas, karena tidak langsung ada balasan, Rea memilih menyimpan HPnya didalam tas.
Selang tiga puluh menit bus tiba di hotel, semua gadis menghambur menunggu pembagian kunci kamar.
"Celine memang luar biasa, Bagaimana dia membagi satu kamar hanya untuk satu orang," ucap Mia
Rea dan Kanaya yang berjalan bersama gadis itu hanya tertawa mereka kemudian masuk
ke kamar mereka masing-masing yang masih bersebelahan di lantai yang sama.
Rea meletakkan kopernya didekat pintu, kemudian merebahkan diri di kasur masih dengan tas menempel dipundaknya. Tiba-tiba HPnya berbunyi
Rea : "halo sayang"
Arkan : "apa kamu sudah sampai?"
Rea : "sudah, aku baru saja sampai hotel, bagaimana pertemuanmu dengan orang pemerintah daerah?"
Arkan memijijat dahinya sendiri disebrang sana
Arkan : "ada sedikit masalah, ternyata ijin pembuangan limbah pabrik menyalahi aturan"
Arkan mengehela nafas panjang
Rea: "are you OK honey?"
Arkan : "ya sayang, aku baik-baik saja , aku berencana membentuk tim untuk menyelasaikan masalah ini"
Rea :" jangan terlalu memikirkannya sampai membuatmu lupa makan siang, aku ga mau kalau kamu sampai sakit"
Arkan tersenyum mendengar perhatian dari kekasihnya.
Arkan : "aku sudah merindukanmu, sedih rasanya berfikir tiga hari kita tidak akan bertemu"
Rea : "dulu berapa tahun kita tidak bertemu saat kamu masih di Inggris berarti saat
itu kamu tidak merindukan aku?"
Arkan : rindu, tapi karena jauh mau tidak mau aku tahan, kalau sekarang aku sudah berfikir
ingin menyusulmu kesana"
Rea :" ini pesta khusus wanita Pak Arkan, pria tak boleh ikut"
Arkan tertawa
Arkan : "ya sudah istirahat lah, baik-baik disana, I love you"
Rea : "mcuaaaahhhhhh"
Gadis itu Mencium kekasihnya secara virtual kemudian memutus panggilan telpon dari laki-laki itu.
__ADS_1
"Apa susahnya coba bilang I love you too," gerutu Arkan sambil memandangi layar HPnya.