Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 41


__ADS_3

Rea datang ke hotel tempatnya pernah bekerja karena Agni semalam mengirim pesan kalau pemilik hotel langsung yang memintanya kembali bekerja.


Saat masuk ke hotel Rea disambut rekan kerjanya yang senang melihat gadis itu kembali.


Reza berkata bahwa tanpa Rea hotel menjadi sepi pengunjung karena bagi hotel ia adalah sang pembawa rejeki, gadis itu tertawa terbahak-bahak mendengar kalimat pujian aneh yang diucapkan temannya itu.


Mereka berkumpul disebuah ruangan tempat mereka biasa melakukan briefing pagi. Agni masuk tersenyum melihat Rea yang berdiri disamping Reza, mendekat menyapa gadis itu.


"Senang bisa melihat kamu disini lagi," ucapnya.


Wanita itu kemudian memberi tahu bahwa CEO baru sebentar lagi sampai, meminta mereka untuk tidak banyak bicara jika tidak di tanya.


Mereka membentuk barisan saling berhadapan, berdiri sambil berbincang-bincang dengan teman disebelahnya. Terdengar derap langkah sepatu mendekat, mereka diam seketika, Rea mengehela napas berusaha rileks bagaimanapun juga Agni bilang yang memintanya kembali bekerja adalah sang CEO.


Gadis itu mendongakkan wajahnya, matanya terbelalak melihat sosok yang dia kenali berjalan, kemudian berhenti didepan mereka semua.


Seorang laki-laki yang kelihatan seperti sekretaris si CEO memecahkan kesunyian ruangan itu dengan kalimat yang keluar dari mulutnya.


"Ini Pak Axel CEO baru hotel ini, dan untuk selanjutnya hotel ini akan berganti nama menjadi " Sky" Hotel".


Semua orang bertepuk tangan kecuali Rea, gadis itu bengong menatap orang yang menjadi CEO nya sekarang.


"Kenapa harus dia?"


Axel tersenyum mengejek menatap ke arah Rea.


"Mohon kerjasama nya, semoga kedepan hotel kita menjadi hotel terbaik di Negara ini," ucap Axel disambut tepuk tangan lagi dari semua orang yang ada disana. Gadis itu ikut bertepuk tangan meskipun dengan setengah hati.


Selesai berbicara Axel beranjak pergi meninggalkan ruangan itu, dia sudah punya ruang kerja pribadi di rooftop hotel.


Laki-laki itu berjalan kemudian berhenti didepan Rea.


"Apa lagi?" batin Rea


"Bu Andrea, silahkan ikut keruangan saya," ucapnya.


Rea mau tak mau hanya menggangguk mengikuti Axel dari belakang. Setelah mereka pergi Dewi mendekat ke arah Agni dan Reza.


"Bukankah CEO baru kita itu mantan calon suami anak pak Gubernur, yang ditinggal kabur saat hari pernikahannya, yang memberi Bu Rea bucket bunga yang terbuat dari uang," ucap Dewi.


Sontak Agni kaget "makanya aku merasa pernah melihat wajah orang itu."


Didalam ruangan Axel duduk dikursinya sementara Rea berdiri didepan meja kerja orang itu, mereka hanya terdiam.


"Ayo katakanlah sesuatu, berterima kasih kek,


" bisik Axel dalam hati.

__ADS_1


"Maumu apa sih?," gumam Rea juga didalam hatinya.


"Kamu...."


"Anda......"


"Silahkan kamu bisa bicara lebih dulu!" perintah Axel.


"Tidak, anda yang bicara dulu karena anda yang meminta saya untuk ikut keruangan anda, artinya anda yang harus menyampaikan sesuatu bukan saya."


Axel tersenyum mendengar kalimat gadis itu


"Apa kamu tidak mau berterima kasih kepadaku?"


Rea tersenyum mengejek "memang apa yang sudah anda lakukan sampai saya harus berterima kasih?"


"Aku sudah mengijinkanmu bekerja disini lagi."


"Apa anda bercanda? anda yang meminta saya bekerja kembali, itu artinya bukan saya yang menginginkannya tuan tapi anda, anda yang butuh saya."


Axel tertawa mendengar jawaban Rea, dia semakin merasa tertarik dengan gadis itu.


"Saya juga belum menandatangi kontrak lagi, jadi saya masih bisa menolak kalau anda berencana meminta saya bekerja disini hanya untuk menindas saya."


"Berhenti menggunakan kata saya , anda dan tuan!" perintah Axel.


"Wah.. Bu Andrea kamu memang sesuatu, aku tidak ingin apa-apa, aku hanya ingin kamu bekerja kembali, sudah itu saja, kerjakan pekerjaanmu seperti yang dulu tidak usah terpengaruh dengan aku yang sekarang menjadi atasanmu."


Rea terdiam menatap ke arah Axel dengan banyak tanda tanya dikepala.


"Kalau tidak ada yang perlu dibicarakan saya pamit," ucap Rea yang sudah hampir beranjak pergi dari ruangan itu.


"Apa kamu tidak ingin tau alasan kamu dipecat sebelumnya?"


Rea ragu, menghentikan langkahnya raut wajahnya terlihat sangat penasaran.


"Selena meminta ayahnya untuk mengancam orang pusat tentang ijin hotel ini, jika tidak mau sampai membuat hotel ditutup dia harus memecat dirimu."


"Apa?" Rea terkejut dengan cerita Axel karena dia pikir selama ini Selena sudah tidak akan mengganggu hidupnya lagi.


"Gadis itu" gumam Rea sambil mengepalkan tangannya.


"Kembalilah bekerja" ucap Axel kepada gadis yang terlihat marah itu.


Rea membungkukkan badannya kemudian keluar dari ruangan Axel.


"Dasar gadis itu, masih bisa sopan juga, benar-benar gadis yang menarik, sayang dia sudah memiliki kekasih, andai saja dulu aku mendekati dan meminta berkenalan dengan nya, setidaknya aku masih punya kesempatan untuk menjadikan dia milikku"

__ADS_1


Rea masuk keruangan nya, menyandarkan punggungnya dikursi, masih tidak percaya kalau laki-laki yang sebentar lagi menjadi kakak tirinya itu sekarang jadi pemilik hotel tempat dia bekerja, dan lagi alasan pemecatan dirinya ternyata perbuatan dari Selena.


Gadis itu memilih melihat ponselnya, mendapati pesan dari Lidia yang mengingatkan kalau dirinya harus pergi ke butik Steve untuk fitting kebaya untuk akad nikah mamanya yang akan berlangsung sebentar lagi.


Rea menghembuskan napasnya kasar "huh.. Bagaimana mungkin mama akan menikah sebelum aku," ujarnya.


Saat jam makan siang Rea meminta ijin Agni untuk keluar, dia baru berjalan menuju parkiran mobil saat Axel berjalan mensejajarinya dan mengajaknya pergi bersama, karena dia tau kemana Rea akan pergi.


"Kalau terus seperti ini orang-orang pasti berpikir kita ada hubungan apa-apa."


"Memang kenapa? Bukankah memang sebentar lagi kita punya hubungan saudara."


Rea terdiam mendengar ucapan Axel, karena omongan laki-laki itu tidak salah sama sekali, akhirnya gadis itu mengikuti kemauan calon kakak tirinya, mereka pergi ke butik Steve bersama.


Disana mereka mencoba baju yang sudah dipesan oleh Lidia, Rea mencoba sebuah kebaya berwarna nude pink, dan menurutnya lebih cantik dari kebaya yang dia pakai saat acara lamarannya kemarin.


"Ah memang selera mama selalu diatasku," bisiknya.


Mereka berdua keluar ruang ganti secara bersamaan, mata Axel memandang gadis didepannya dengan tatapan penuh kekaguman.


"Wah kalian sangat serasi sekali," puji pelayan butik.


Steve mendekat menepuk bahu anak buahnya "mereka calon kakak adik lah, pasangan macam mana" dengan logat yang dia buat-buat membuat semua orang yang mendengar tertawa.


Tak lama Steve membenarkan omongan karyawannya "Ah Iya kalian memang sangat serasi," ucap Steve setelah melihat Rea yang cantik dengan kebaya dan Axel yang gagah memakai beskap berwarna silver.


"Apa kalian bisa membantuku sebentar?" tanya Steve ke mereka, Steve sedikit memaksa mereka untuk berdiri berdekatan dan mengambil foto.


"Untuk apa?" tanya Rea.


"Untuk aku simpan dan tunjukkan ke klien lah, tenang saja aku tidak akan menyebarkan foto ini, Lihat bahkan aku mengambil foto calon suamimu," Steve menunjukkan foto Arkan di HP nya.


Rea tersenyum melihat foto calon suaminya yang sangat tampan mengenakan sebuah setelan jas berwarna navy.


" Kirim foto itu ke aku Steve," pinta Rea sambil beranjak kembali ke kamar ganti untuk melepas kebaya yang dia pakai.


Axel mendekat ke Steve berbisik ditelinganya "Kirim foto itu ke aku Steve," ucap Axel.


Laki-laki gemulai itu membelalakkan matanya


"Aiihhhh....apa kamu..?"


"Hei! bukan foto laki-laki ini, " tunjuk Axel ke benda pipih ditangan Steve.


"Tapi fotoku dengan Rea tadi, kamu pikir aku cowok yang tidak normal?" gerutu Axel.


Steve hanya tertawa memukul pundak Axel yang sudah berbalik berjalan ke kamar ganti juga.

__ADS_1


__ADS_2