Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 23


__ADS_3

Minggu malam


Rea sudah berdandan rapi, dia sedikit membuat bagian bawah rambutnya bergelombang, menggunakan gaun selutut berwarna merah maroon, seharian ini mamanya terus-terusan mengirim pesen agar dia tidak lupa akan janji nya untuk pergi makan malam bersama, tapi Rea heran kenapa mamanya menyuruh dia berdandan se elegan mungkin, penasaran siapa yang akan mereka temui nanti.


Lagi-lagi mamanya menelpon untuk yang kesekian kalinya hari ini.


"Mama sudah ada dibawah"


Rea kemudian keluar dari apartemen nya.


Melihat sebuah mobil SUV mewah didepan, Lidia membuka jendela kemudian anak gadisnya berjalan mendekat masuk ke mobil.


"Mama beli mobil baru?"


"Enggak, ini mobil om Jordan, dia tadi meminta sopirnya untuk menjemput mama"


Rea melirik ke arah kaca spion sopir, sang sopir terlihat tersenyum ramah kemudian menunduk, Rea membalas sapa'an sang sopir dengan gerakan yang sama.


"Om Jordan? siapa?" tanya Rea bingung


"Nanti kamu juga tau kalau sudah sampai sana"


Rea hanya terdiam mendengar penjelasan mamanya, sepanjang perjalanan mereka terlibat percakapan tentang persiapan acara lamaran Rea dan Arkan.


"Oh ya mama dengar Arkan membelikanmu sebuah rumah?"


"Iya, kemarin baru saja aku belanja beberapa perabotan untuk rumah itu"


"Bilang saja pada mama apa yang kurang, nanti mama belikan"


"Ga usah ma, Mas Arkan sama aku aja nanti yang beli pake uang kami sendiri"


"Mas...?" Lidia merasa sedikit aneh dan heran mendengar anaknya memanggil calon menantunya dengan sebutan mas untuk pertama kali didepan nya.


"Iya lah ma, "Mas" Rea kan juga harus menghormati calon suami Rea kalau menyebut namanya didepan orang lain"


Lidia tersenyum, ada rasa tenang dihatinya, selama ini dia masih ragu apakah anak semata wayangnya itu benar-benar sudah bisa dilepas kan untuk menjalani biduk rumah tangga, sekarang dia sedikit lega, apalagi tau kalau calon suami anaknya sangat mencintai Rea, setidaknya gadis itu tidak akan bernasip sama sepertinya, membuang-buang hidupnya untuk laki-laki yang sama sekali tidak mencintainya.


Setelah hampir lima belas menit mobil berhenti disebuah restoran mewah, mereka turun kemudian masuk kedalam restoran, seorang pelayan mempersilahkan mereka, mengantar sampai keruangan yang memang sudah dipesan secara private oleh Jordan.


Rea terkejut melihat seorang laki-laki yang dia kenal duduk dengan pria paruh baya, yang sudah pasti pria paruh baya itu adalah Jordan.


Melihat Rea dan Lidia masuk, kedua laki-laki tadi berdiri, Lidia mendekat ke arah Jordan, kekasihnya.


"Perkenalkan ini Rea anakku"


Laki-laki itu mengulurkan tangannya, kemudian Rea menerima uluran tangan laki-laki itu sambil tersenyum


"Lidia, Rea ini anak saya Axel"


Lidia dan Rea kemudian bergantian menyalami Axel, laki-laki itu menggenggam tangan Rea sedikit lebih lama, membuat Rea menjadi kikuk menarik-narik tangannya, sambil menatap wajah Axel memberi isyarat dengan mimik wajahnya agar laki-laki segera melepaskan genggaman tangannya.


Axel menarik kursi untuk Rea duduk, Lidia dan Jordan yang melihat dari tadi hanya bisa mengerutkan dahi.


"Apa kalian sudah saling kenal?" tanya Lidia


Axel yang akan duduk menatap ke arah Rea


"Kami kebetulan sudah pernah bertemu," jawab Axel


Lidia menatap ke arah anaknya yang mengangguk mengiyakan jawaban Axel


Makanan sudah dihidangkan oleh pelayan, mereka mulai makan sambil berbincang, kemudian Jordan berbicara tentang maksud mengundang mereka untuk makan malam.


"Kami akan menikah" pria itu menggenggam tangan Lidia diatas meja


"Uhukkkk... Uhukkkk"

__ADS_1


Sontak Rea tersedak, mengambil segelas air, meneguknya sambil memegangi dan menepuk dadanya, Axel terlihat santai memasukkan garpu dengan potongan steak menggunakan tangan kirinya, tanpa melihat ke arah Rea tangan kanannya memberikan serbet ke gadis itu.


Gadis itu menerima serbet yang diberikan Axel menatap laki-laki itu penuh tanya, kenapa bisa dia tidak terkejut sama sekali.


"Rencananya kami menikah dua bulan lagi," lanjut jordan


Rea semakin terkejut memandang ke arah mamanya.


"Mama kan tau kurang dari delapan bulan lagi aku menikah,  mama berniat menikah sebelum aku?" tanya Rea yang membuat Axel meletakkan sendok dan garpunya, Axel menatap ke arah Rea dengan tatapan penuh tanya.


"Apa? menikah 8 bulan lagi?" bisik Axel dalam hati


"Kamu kan tau Re, bagaimana kehidupan mama selama ini, mama ingin setidaknya bisa bahagia sebelum mama mati," Jawab Lidia


Jordan mempererat genggaman tangannya ke wanita itu.


Axel yang sudah bisa mengendalikan perasaan dan pikirannya ikut berbicara.


"Kenapa terburu-buru kesannya kalian seperti pasangan muda yang wanitanya sudah hamil duluan," ucap Axel


Jordan dan Lidia saling melempar pandang.


"what?" Rea membelalakkan matanya.


********


Sampai dirumah Axel tak berhenti mengucapkan kata "wah" karena menganggap papanya benar-benar luar biasa gila.


"Wah... Papa bisa menghamili tante Lidia, gila"


"Bahkan papa sudah punya 3 cucu wah luar biasa, dan papa masih akan punya anak bayi"


"Wah....Papa memang sesuatu"


"Wah....bukankah anak papa nanti lebih pantas jadi anak Axel"


Sementara dimobil Rea marah kepada mamanya, sepanjang perjalanan gadis itu tidak berhenti memarahi mamanya, dia tidak perduli dengan sopir yang bisa mendengar dengan jelas percakapan mereka.


"Mama keterlaluan, bukankah ada pengaman, mama tau kan hamil diusia mama itu beresiko, mama benar-benar membuat aku gila, bahkan aku saja tidak berani melakukan itu dengan mas Arkan sebelum kami menikah."


Karena terlalu kesal, Rea memukul paha mamanya dengan tas ditangannya, tangan Lidia terlihat memegang perutnya.


"Hati-hati ada calon adikmu disini," Ucap Lidia yang membuat mata anak gadisnya melotot, kemudian bergeser duduk menjauh, merasa sedikit bersalah ke mamanya, tapi wajahnya benar-benar terlihat kesal.


*****


Rea meminta Arkan datang ke apartemennya, pria itu membuka pintu untuk masuk kedalam, heran melihat lampu diruang tamu dan di ruang makan tidak menyala, samar dia melihat Rea yang duduk disofa menekuk kaki membenamkan wajahnya didepan televisi yang sedang menyala.


Arkan menekan saklar lampu, Rea menoleh, matanya sembab, sontak Arkan kaget dan berjalan mendekat.


"Sayang, kamu kenapa?"


Rea menghambur memeluk calon suaminya yang berdiri didepannya, ia menangis membuat Arkan semakin bingung.


"Ya sudah menangislah dulu," Arkan mengusap lembut rambut gadis itu.


Setelah tenang Rea menceritakan perihal pertemuan makan malam yang dia datangi tadi, dan pengumuman apa yang dia dengar. Arkan malah tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Rea.


"Kok malah ketawa"


"Lha masa aku harus nangis kayak kamu"


"Bayangin donk, aku bakal punya adik diumurku ini, yang lebih pantas jadi anakku," ucap Rea


"Lha terus gimana? semua udah terjadi, dan bayi dikandungan tante Lidia juga punya hak untuk hidup kan?"


"Aku ga berfikir sampai disitu, pokoknya aku cuma kesel aja, aku aja ga berani ngelakuin itu sebelum nikah, masa mama kayak gitu"

__ADS_1


"Ya kan dosa, ga boleh, ciuman sebelum nikah aja udah dosa,"  ucap Arkan sambil merapikan rambut rea yang terlihat berantakan.


"Makanya aku kesel, udah tua nyontohin hal yang baik kek sama yang muda" Rea masih bersungut-sungut


Arkan menggenggam tangan Rea "sayang dengerin aku"


Rea mantap ke arah Arkan


"Kamu tau sendiri kan selama menikah dengan ayahmu tante Lidia ga pernah merasa bahagia, mungkin ini takdir yang Tuhan kasih ke mama kamu, awal kebahagian tante Lidia, ya meskipun sebenarnya hamil diluar nikah itu dosa, tapi bisa tidak kamu coba untuk sedikit menerima kondisi mama kamu"


"Kamu mungkin tidak pernah tau, jauh didalam lubuk hatinya, dia juga ingin bahagia, memiliki orang yang bisa melindunginya, punya keluarga yang penuh kasih sayang," lanjut Arkan


Rea terdiam, mencerna kalimat calon suaminya itu.


"Aku malu," Jawabnya


"Kenapa malu? yang hamil diluar nikah kan bukan kamu"


"Tapi..."


"Tapi apa?"


"Ya masa mama mau nikah sebelum kita," Rea hampir menangis lagi


Arkan kembali tertawa dan kembali memeluk gadis itu.


"Kamu Iri ya karena tante Lidia mau nikah duluan?"


Rea mengangguk "awas aja kalau dia berani mencuri konsep pernikahan kita"


Arkan kembali tersenyum "sudah jangan sedih lagi, ga perlu kawatir, semua akan baik-baik aja"


Rea sudah tenang, tidur dipangkuan Arkan diatas sofa yang sibuk menonton pertandingan bola dimana klub favoritnya sedang berlaga.


"Sayang, kita tidak akan pernah bertengkar berebut menonton televisi atau drama kan besok kalau sudah menikah?" tanya Rea


"Tidak akan, kan kamu beli dua TV untuk rumah kita"


"Oh Iya ya" Rea merasa konyol dengan pertanyaannya sendiri tapi karena itu dia kemudian mengingat membelikan Arkan sesuatu.


"Sayang, apa kamu jadi menerima posisi sebagai general manager?" tanya Rea


"Jadi, besok aku sudah pindah posisi"


Rea bangun melirik jam, ternyata sudah hampir jam 2 pagi "lalu kenapa masih disini dan menonton bola, kalau besok terlambat gimana?, kamu kan ga kayak aku yang bebas karena sekarang jadi pengangguran"


"Aku sudah bawa baju buat ke kantor besok pagi, ada dimobil"


Rea sedikit lega karena dia tidak mau Arkan sampai terlambat ke kantor gara-gara dia, gadis itu kemudian beranjak masuk kamar, meninggalkan Arkan yang masih fokus menonton bola. Dia keluar membawa sebuah paperbag kecil meletakkannya ke pangkuan Arkan.


"Hadiah kecil untuk kenaikan jabatanmu"


"Boleh dibuka?" Arkan memegang paperbag yang diberikan Rea kepadanya


"Hem.. bukalah!"


Arkan mmengeluarkan kotak dari dalam paper bag, membukanya dan melihat ternyata isinya sebuah jam tangan, laki-laki itu kemudian mencoba memakainya.


"Kenapa bisa pas begini?" tanya nya penasaran


"Aku siapa kamu?" Rea menyandarkan dagunya dipundak Arkan "aku meminta toko langsung memotongkan beberapa strap, aku sudah hafal ukuran tangan kamu"


Arkan tersenyum senang, kemudian mencium pipi Rea.


"Terima kasih," ucapnya kemudian beralih mencium sekilas bibir gadis yang memberikannya hadiah itu.


Arkan melepaskan bibirnya kemudian berbisik "Aku mencintaimu"

__ADS_1


Rea menyentuh dahi kekasihnya dengan dahinya sampai hidung mereka menempel satu sama lain, kemudian membuat lengkungan manis di bibirnya, tersenyum.


__ADS_2