
Tengah malam Elang kembali bersama Ken dan hanya membawakan obat juga salep penghilang rasa gatal untuk Arkan. Semantara air kelapa yang Rea minta tidak mereka dapatkan.
"Lagian udah jam dua belas malam Re, penjualnya juga pasti mikir siapa yang mau minum kelapa malam-malam begini? pocong?" ucap Elang.
Rea cemberut mendengar jawaban Elang saat menanyakan kenapa kakaknya tidak membawa air kelapa yang dia pesan, ia merasa kesal tapi setelahnya mengucapkan terima kasih kepada Ken dan Elang yang sudah mau membantu mencari obat untuk suaminya.
Rea terlebih dulu mengambil segelas air dari dapur dan beberapa apel sebelum ke kamar karena ia tiba-tiba merasa lapar. Gadis itu memandangi suaminya yang terlihat berbaring sambil mengusap-ngusap lengannya karena rasa gatal yang membuatnya tidak nyaman dari dekat pintu.
"Bangun! minum obat dulu," ucap Rea sambil masuk kedalam kamar.
Mata Arkan terlihat terbuka lebar mendengar Rea memanggilnya. Ia lalu duduk menyandarkan punggungnya ke ranjang. Arkan menerima obat dan air dari tangan istrinya, dengan ibu jarinya Rea tanpa sadar mengusap lembut sisa air dari bibir Arkan. Laki-laki itu tidak ingin kehilangan kesempatan, Ia meraih tangan Rea, meletakkan punggung tangan gadis itu ke pipi lalu bibirnya, menciuminya penuh cinta.
"Apa kamu tidak bisa memberikan aku kesempatan kedua? maaf aku benar-benar menyesal," ucap Arkan.
Rea terkejut, karena masih kesal ia menarik tangannya sampai ke belakang pinggang, membuat hati Arkan menecelos melihat apa yang dia lakukan.
"Tidurlah, jangan membicarakan hal itu, lihat kamu mulai demam," ucap Rea merasakan panas tubuh Arkan saat mencium tangannya tadi.
"Aku tidak bisa tidur nyenyak kalau kamu tidak Ada disampingku, bahkan tiga hari ini aku hanya bisa tidur tidak lebih dari tiga jam saja."
Kalimat Arkan benar-benar membuat Rea merasa bersalah, Ia lalu naik ke atas ranjang duduk bersila disamping suaminya, menyalakan televisi sambil memakan buah apel yang dia bawa. Arkan tersenyum merebahkan badannya memandangi wajah sang istri yang tidak bisa dia lihat tiga hari ini meskipun hanya dari samping Arkan merasa bahagia.
"Aku merindukanmu, aku sangat mencintaimu," bisik Arkan.
Rea yang mendengar ucapan suaminya berhenti mengunyah apel yang berada di dalam mulutnya, Ia memalingkan wajah memandangi Arkan yang sebenarnya juga sangat dia rindukan. Arkan tersenyum ke arah istrinya tapi matanya sudah hampir terpejam, sepertinya efek dari obat alergi yang diminumnya sudah mulai bekerja.
Melihat sang suami sudah terlelap, Rea mulai mengoleskan salep ke tubuh Arkan yang terlihat berruam merah.
"Kamu pasti sengaja memakan udang, aku tau kamu tidak pernah ceroboh soal alergimu, apa hanya untuk mendapatkan perhatian dan maafku kamu sampai berbuat seperti ini, dasar!" Rea mencebikkan bibirnya kesal, sambil terus mengoleskan salep ke tubuh suaminya.
***
__ADS_1
Matahari sudah masuk menyinari villa yang bangunannya didominasi oleh kaca itu, tapi Arkan belum juga bangun, Rea sengaja tidak membuka gorden kamarnya karena merasa kasihan kepada laki-laki itu, sementara Elang dan Kinanti sudah pergi keluar villa sejak pagi, keduanya berkata ingin mencari sarapan khas Bali, padahal Rea tau kedua orang itu pasti ingin jalan-jalan dan berkencan.
Rea duduk di teras depan villa sambil berusaha mengenakan sepatu untuk pergi berolah-raga, bahkan untuk memakai sepatu saja dirinya sudah kesusahan, gadis itu terlihat bingung, dan saat sepatu itu berhasil masuk ke kakinya, mengikat tali sepatu seolah menjadi pekerjaan rumah selanjutnya.
Rea masih menunduk berusaha mengikat tali sepatunya saat Arkan tiba-tiba muncul dan langsung berlutut didepannya. Laki-laki itu kemudian meraih tali sepatu Rea, membentuk simpul ikatan lalu tersenyum memandang wajah sang istri.
Rea tiba-tiba merasakan jantungnya berdetak lebih cepat, ia sejenak memandangi wajah Arkan, wajah khas bangun tidur dari suami yang sebenarnya sangat dia sukai.
"Aduh!" pekik Rea saat mendapati bayi di dalam perutnya menendang.
Arkan menatap wajah sang istri cemas, namun ia langsung tersadar apa yang membuat istrinya sampai terkejut seperti itu, dari balik kaos putih ketat yang Rea kenakan ia melihat perut istrinya bergerak seperti gelombang. Arkan tertawa menggunakan kedua tangannya untuk memegang perut istrinya.
"Apa mereka baik-baik saja?"
"Kenapa tidak kamu tanyakan sendiri?" jawab Rea.
Arkan langsung menciumi perut istrinya, mengusapnya lembut penuh cinta. Seandainya sedang tidak dalam mode masih kesal mungkin gadis itu sudah memeluk suaminya sekarang, Rea benar-benar sudah tidak tahan untuk tidak memeluk laki-laki itu, tangannya sudah bergerak ingin membelai rambut Arkan namun dia urungkan, masih ada ego yang menahan hatinya untuk tidak melakukan itu.
Hening, hanya suara deburan ombak pantai yang terdengar dari kejauhan. Mereka membisu, Rea memilih memalingkan wajahnya mendengar kalimat yang keluar dari bibir suaminya, tapi kemudian ia menatap ke arah Arkan yang masih menempelkan bibir diperutnya.
"Apa kalian mau mama memaafkan papa kalian? beritahu mama kalau kalian ingin mama memberi papa kalian maaf," bisik Rea dalam hati, sebelah tangannya ia gunakan untuk menyentuh punggung tangan Arkan yang masih berada di perutnya.
"Jika mereka bergerak aku akan memaafkanmu, jika tidak aku tidak akan memberimu maaf," ucap Rea yang sebenarnya hanya ingin menggoda suaminya.
Mereka sama-sama menunggu, dan sepertinya Bubu dan Bebe tidak ada yang mau bergerak lagi, Rea sudah hampir berdiri tapi lengannya ditahan oleh sang suami.
"Biarkan aku berbicara pada mereka sekali lagi," pinta Arkan.
Rea melakukan apa yang suaminya inginkan, dalam hatinya ia bertekad akan berbaikan dengan Arkan dan membicarakan masalah mereka dengan kepala dingin meskipun bayi mereka tidak mau merespon sang papa lagi.
Namun, entah apa yang Arkan ucapkan, ia sepertinya hanya berbisik dalam hatinya sambil menciumi perut Rea, Namun sebuah gerakan dari bayi mereka muncul, membuat Rea tersenyum tapi dengan cepat menyembunyikannya dari Arkan yang langsung berdiri kegirangan saat bayinya memberi respon.
__ADS_1
"Berarti aku dimaafkan? iya kan?" tanya Arkan penuh harap memandang ke arah sang istri.
Rea hanya menganggukkan kepala, Arkan sudah hampir memeluk gadis itu, tapi kedua tangan yang sudah ia rentangkan dia tarik kembali melihat sang istri yang tidak tersenyum sama sekali. Rea memilih berdiri dari posisinya, membuat Arkan mengernyitkan dahi.
"Kamu masih belum bisa memberiku maaf," lirih Arkan.
"Apa kamu sudah baik-baik saja? mau menemaniku olah raga?" tanya Rea tanpa menjawab pertanyaan sang suami.
Arkan menganggukkan kepala, laki-laki itu berlari kegirangan masuk ke dalam kamar untuk berganti baju, Arkan terlihat memakai sebelah sepatunya sambil berjalan, membuat Ni Putu yang baru datang dan berbincang dengan Rea di depan pagar terlihat tertawa.
"Ga akan ditinggal mba Rea lagi kok mas," gurau Ni Putu. Wanita itu lantas masuk ke dalam villa setelah melihat pasangan suami istri itu pergi dari sana.
_
_
_
_
_
_
_
_
_
_
__ADS_1
Terima kasih untuk kalian yang terus mengikuti cerita ini, mohon maaf jika masih banyak kekurangan dalam menulis novel ini, Jangan lupa tinggalkan LIKE ❤ KOMEN 👄 dan RATE ⭐⭐⭐⭐⭐