Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 48


__ADS_3

Arkan masih tiduran dipangkuan Rea, sementara gadis itu sibuk dengan HP ditangannya. Laki-laki itu merasa diduakan dengan benda pipih ditangan kekasihnya, merebut benda itu kemudain meletakkannya sejauh tangannya yang dia luruskan diatas kasur.


"Eh bentar sayang, aku belum selesai membalas pesan," ucap Rea yang kaget karena benda itu langsung disambar dari tangannya.


"Sudah ingat manggil aku sayang lagi," goda Arkan.


"Tuh kan masih diingat-ingat, aku kira kita udah baikan dan melupakan kejadian itu. Apa kamu sekarang sedang cemburu dengan ponsel?" tanya Rea gantian menggoda kekasihnya itu.


Laki-laki itu kemudian bangun, duduk sambil menyilangkan kakinya didepan calon istrinya.


"Apa kamu membaca pesanku?" tanyanya.


"Pesan yang kamu bilang mau mengikhlaskan aku? apa kamu yakin bisa melakukannya?" tanya Rea sambil mendekatkan wajahnya ke wajah kekasihnya.


Arkan menggelengkan kepalanya, membuat gadis didepannya tertawa.


"Aku tidak ingin berpisah darimu, ayo kita menikah saja bulan depan," ucap Rea tiba-tiba.


"Kenapa? Tanggal pernikahan kita kan udah ditetapkan dan tinggal beberapa bulan lagi, apa kamu sudah tidak sabar tidur seranjang denganku?" goda Arkan lagi membuat gadis itu mencubit pahanya.


"Kamu pasti tidak akan percaya kalau aku bilang sebenarnya aku selalu takut kamu ninggalin aku, karena selama ini pasti kamu masih mengira cintamu bertepuk sebelah tangan."


"Hem, memang" jawab laki-laki itu.


"Kenapa kamu selalu mikir gitu sih? padahal aku juga udah bilang berkali-kali kalau aku mencintaimu, apa hatimu itu tidak bisa merasakan perasaanku, ha.. ha?" Rea menunjuk-nunjuk dada Arkan dengan jarinya.


Laki-laki itu hanya tersenyum kemudian menyambar bibir kekasihnya, Rea yang kaget sampai ambruk kebelakang, dan lagi-lagi mereka berciuman tapi kali ini Arkan membuatnya dengan gaya ala French kiss.


"Sayang, aku lupa sudah janji sama tante Maya untuk kembali ke rumah sakit menemaninya menjaga Elang," ucap Rea sedikit ragu sambil memandangi wajah kekasihnya yang masih mengunci dirinya dibawah badannya.


Arkan menggeser badannya kemudian berdiri turun dari ranjang.


"Ayo kita ke rumah sakit sama-sama, dua hari ini aku juga belum bertemu calon kakak iparku, calon adik ipar macam apa aku yang tidak membesuk menanyakan keadaan kakak yang sangat dicintai adik perempuannya," ucap Arkan sambil meletakkan sepatu didepan kaki Rea yang sudah hampir turun dari atas kasur.


"Kamu gitu ya masih suka nyindir-nyindir," ucap Rea sambil memakai sepatunya.

__ADS_1


"Kalau kamu kesindir berarti kamu benar mencintai Elang," jawab Arkan sambil merapikan bajunya didepan cermin.


"Aku mencintainya karena aku adiknya, sebenarnya aku lebih mencintai anak Om Andi, tapi entahlah laki-laki itu sepertinya selalu ragu ke aku."


"Anak om Andi yang mana? om Andi setauku punya dua anak," laki-laki itu tersenyum sambil menyambar kunci mobilnya dimeja rias yang baru dia beli untuk calon istrinya.


Mereka kemudian berjalan turun menuju mobil Arkan.


"Yang pertama lah, yang kalau lagi kesel suka nyindir-nyindir," ucap Rea sambil tersenyum ke arah kekasihnya.


"Sepertinya ini baru yang pertama kok, itupun karena aku benar-benar sakit hati." ucapnya serius.


"Ya sudah ayo buruan ke rumah sakit, biar hatimu juga bisa diperiksa," perintah Rea sambil menarik tangan calon suaminya itu keluar pintu rumah.


"Ciye yang ga sabar buat ketemu kakaknya," ledek Arkan lagi.


"Ciye yang lagi cemburu buta," balas Rea sambil masuk kedalam mobil.


Saat sampai dikamar kakaknya Rea mendapati Ken sedang berada disana masih menggunakan jas putih ciri khas seorang dokter, dia dan Arkan masuk menyapa Maya yang sedang duduk disofa sambil sibuk sendiri dengan ponselnya, Ken tersenyum ke arah mereka sambil berseloroh.


"Ciye yang mau nikah?"


"Hei Bu dokter, maaf kemarin tidak sempat menyapa dengan benar," Sapa Arkan sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman.


"Gimana tanganmu?" tanya Ken sambil menjabat tangan Arkan kemudian melihat luka jahitan ditangan laki-laki itu mengusapnya dengan jari tangannya membuat Rea sedikit melebarkan bola matanya.


"Banyakin makan putih telur biar lukanya cepet sembuh," ucap Ken sambil melihat ke arah Elang.


"Loe juga!"


Terdengar ketukan pintu, mereka melihat dokter Ranu masuk bersama seorang perawat, melihat Ken ada disana Ranu sedikit heran, sambil memeriksa Elang dia bertanya ke gadis itu.


"Ga ada pasien dok?"


"Aku ada praktik masih nanti jam delapan malam," jawab Ken.

__ADS_1


"Malam minggu besok jadikan kita pergi ?" tanya Ranu yang membuat semua orang memandang penasaran ke arah Ken, bertanya-tanya ada hubungan apa diantara mereka.


Kinanti sedikit kaget karena Ranu menanyakan hal itu didepan banyak orang, ia sebenarnya tidak ingin menjawab tapi merasa tidak enak hati kepada Ranu.


"Jadi, aku boleh ngajak teman kan?"


"Kalau ngajak teman namanya ga kencan donk dok," sahut si perawat yang datang bersama Ranu tadi, membuat laki-laki itu tertawa senang.


Ken hanya bisa menahan malu sambil berdehem dan menyibakkan rambutnya kebelakang, setelah memeriksa Elang dokter Ranu memberi saran soal kondisi Elang dan berkata kalau besok pasiennya itu sudah boleh pulang, kalimat dokter Ranu membuat Maya merasa lega dan tersenyum bahagia, tak terkecuali Rea yang juga sedang berada disana, gadis itu merasa beban dihatinya sedikit berkurang.


Tak lama setelah Ranu keluar bersama sang perawat, Ken juga berpamitan, tapi Rea dengan sigap menyodorkan HPnya ke arah gadis itu.


"Minta nomor HPmu ya!"


Ken tersenyum meraih HP Rea, kemudian mengetikkan nomornya disana.


"Aku masih ingat waktu SMA aku yang minta nomor HPmu duluan, sekarang gantian kamu yang minta nomorku lebih dulu," ucapnya sambil sibuk menekan satu persatu angka di HP itu.


"Siapa tau aku butuh konsultasi dengan dokter Ken soal reproduksi dan kehamilan," ucap Rea membuat Arkan tertawa sementara Elang terlihat heran.


"Kalau sama kamu konsultasinya di kafe aja ga perlu dirumah sakit," jawab Ken sambil menyerahkan HP itu ke pemiliknya.


Gadis itu menepuk kaki Elang sebelum pergi "Cepet sembuh ya!"


Kinanti lalu berjalan dan menyalami Maya yang terlihat berdiri untuk mengantar gadis itu keluar kamar.


"Wah Bro, kayaknya nasip loe emang selalu apes deh kalau urusan cewek, ada saingan berat kayaknya buat loe dapetin Ken," ejek Arkan.


"Tenang aja Mas Elang ntar gue bantu deh kalau emang pengen deketin Ken," tambah adiknya sambil memperlihatkan nomor Kinanti di layar HPnya.


"Semoga ga kena karma ya loe, karena gue tau dulu loe cuek banget sama dia pas SMA,dia pernah curhat kalau nembak loe berkali-kali tapi selalu loe tolak" ledek Arkan lagi.


"Eh sumpah ya loe, ga bakal gue restuin jadi adik ipar gue baru tau rasa," jawab Elang sedikit kesal.


"Jangan!" teriak Rea yang membuat dua laki-laki itu kaget.

__ADS_1


"Jangan coba-coba ga ngrestuin gue sama Arkan, gue ga bisa hidup tanpa ni laki," ucap Rea sambil bergelayut manja di lengan kekasihnya, membuat Arkan tersenyum senang sementara Elang hanya memalingkan mukanya melihat Rea memeluk mesra tunangannya.


"Move on Lang," bisiknya dalam hati.


__ADS_2